Music

14.10.16

Low Pink – Phases (Official Video)

Label muda produktif asal Jakarta, Kolibri Records merilis video musik untuk rilisan terbarunya, Low Pink. Lagu yang dipilih adalah "Phases" yang juga merupakan judul EP dari Low Pink. Disutradarai oleh Ratta Bill (vokalis Bedchamber, sekaligus owner dari label ini), pendekatan yang diambil agak mengingatkan pada video Gizpel - Zittau yang mereka rilis sebelumnya. Menampilkan model yang juga sekaligus personil Low Pink ketika live, Phases bermain-main dengan white space, tone warna khas filter social media, dan gerakan minimal nan awkward, seolah berusaha menerjemahkan potongan lirik "I am my limitless efforts, my worst mistakes" dalam bentuk visual. Dan, bersamaan dengan dirilisnya video ini, Kolibri Records juga mengumumkan jadwal tur yang akan dijalani oleh Low Pink menuju enam kota di pulau Jawa (Bogor, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang) pada 15-22 Oktober 2016. -- Dapatkan EP Low Pink dan rilisan Kolibri lainnya di sini.

13.10.16

Bandempo dan Dekonstruksi ala Sutardji Calzoum Bachri

Sejujurnya, Bandempo adalah band yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah berulang kali mendengar lagunya, dan menemukan Bandempo menjadi nomor satu di 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 versi Jakarta Beat, paham itu tak kunjung datang, bahkan justru bingung yang menyerang. Secara musik jelas mereka bukan tipe yang mudah bersahabat dengan kuping, sound rekaman mereka seperti direkam langsung dari amplifier studio latihan di pinggiran kota yang dihasilkan dari alat murahan dan efek gitar seadanya. Belum lagi mengenai cara menyanyi Anggun Priambodo yang jauh dari kata merdu, bahkan band sekolahan level SMP pun memiliki vokalis yang lebih enak dengar dibanding Anggun yang bernyanyi seolah enggan beranjak menuju akil baligh, meskipun ia telah sunat tiga kali. Dosisi tinggi absurditas pada lirik mereka jelas tak membantu. Maka, ketika Elevation Records mengumumkan bahwa mereka akan merilis reissue album satu-satunya dari diskografi Bandempo yang dulu dirilis pada tahun 2000, bingung itu kembali melanda. Buat apa merilis ulang sebuah album yang tak jelas jeluntrungannya ketika sekarang ada banyak sekali band baru yang menawarkan musik yang lebih menarik di telinga? Ternyata, layaknya pertanyaan penting lainnya, jawaban atas kebingungan itu datang pada saat yang tak terduga. Datang tanpa ekspektasi pada pesta rilis album vinyl reissue yang berlangsung pada 2 Oktober 2016, di Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Bandempo membuktikan diri sebagai band yang memiliki kualitas tersendiri. Kalau boleh menganalogikan, Bandempo memiliki perspektif yang mirip dengan Sutadji Calzoum Bachri, sastrawan nyeleneh yang mengobrak-abrik makna dan struktur puisi yang umum ditemui. Dengan gayanya sendiri, Sutardji membebaskan kata-kata, di tangannya puisi lebih dari sekedar indahnya persajakan dan rima, puisi karya Sutardji adalah karya instalasi yang melihat lebih dalam dari sekedar makna yang ada pada setiap kata (simak puisi karya Sutardji disini). Puisi bikinannya, bebas dari kungkungan makna leksikal, hingga tak jarang terdengar mirip seperti mantra. Malam itu, Anggun melakukan hal yang sama. Alih-alih bernyanyi, ia nyaris terdengar seperti sedang merapalkan mantra. Bersama rekan setimnya, Anggun mengobrak-abrik kaidah musik yang ada di kepala semua penontonnya. Dalam hal ini, musik Bandempo pun membebaskan diri dari makna leksikal, bahwa lirik tak harus gamblang maknanya, dan tentang terminologi genre yang tak lebih dari omong kosong belaka. Karena, indie-rock jelas tak akan cukup merangkum kombinasi nyanyian "biri-biri terbanglah tinggi", diantara irama musik yang kadang berisik, kadang berdendang, dan seringkali kekanakan itu. Penampilan Bandempo pada acara tersebut - tanpa atau dengan kostum ala Afrika itu, seolah menjelaskan mana posisi yang mereka ambil (entah sengaja atau tidak) melalui musik yang mereka mainkan. Jika sekali lagi boleh membandingkan, kalau Efek Rumah Kaca mungkin adalah personifikasi karya Chairil Anwar dalam bentuk musik, maka Bandempo jelas sekali adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dua-duanya memiliki sumbangsih yang jelas pada kesusastraan lokal, dan dua-duanya dihargai sebagai sosok yang penting. Dan, dengan begitu, Elevation Records sekali lagi membuktikan tajamnya pengamatan mereka tentang musik baik yang harus diabadikan dalam bentuk rilisan. -- Vinyl Bandempo reissue bisa didapatkan di High Fidelity Jakarta, Omuniuum dan Kineruku Bandung atau via mail order ke elevation1977@gmail.com.

29.08.16

Demi Musik Terus Berbunyi

Melihat lebih dekat pada inisiatif musik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengetahui mengenai bagaimana semangat Do it Yourself dijaga dan terus dikembangkan meski kadang banyak aral yang menghadang.

26.08.16

Mengenal Sunmantra

Sebuah band berisi dua orang; Bernardus Fritz Adinugroho dan Jonathan Pardede, yang memiliki ketertarikan dalam musik elektronik ini sudah menjajal beberapa panggung di ibu kota. Melihat gerak geriknya yang , bukan berarti performa Sunmantra patut dipertanyakan. Melayangkan kekaguman atas aransemen yang mereka buat, bisa jadi salah satu bentuk apresiasi musik, namun rasanya menggerakkan tubuh sembari menikmati alunan dentum dansa menjadi pilihan terbaik. Kami mendapat kesempatan untuk mengetahui latar belakang atas berdirinya Sunmantra dengan berbincang bersama Bernardus Fritz Adinugroho. Intinya karena kami mau buat sesuatu yang belum pernah dilakukan. Dulu, kami tergabung dalam Black Mustangs yang notabene band. Setelah vakum, akhirnya saya dan Jojo memutuskan untuk buat sesuatu yang , itulah yang membuat kami memilih jenis musik ini, selain memang kami berdua lagi mengulik musik elektronik. Sebenarnya Sunmantra itu sampai sekarang adalah duo, cuma lebih . Ke depannya, kami tidak menutup kemungkinan juga untuk berkembang ke area yang lebih kolektif, karena kami selalu ingin buat sesuatu yang untuk membantu proses kreatif kami. dalam musik kalian, dari mana pengaruh musik yang didapat ketika meracik karakter Sunmantra? Banyak hal yang mempengaruhi kami, karena kami banyak medengarkan musik techno, acid house dan deep house. Nah, dari ketiga genre itu, kami campur terus dan jadilah musik Sunmantra, dan juga belakangan ini kami lagi banyak menonton film sci-fi dan giallo, lagunya kami ambil dari genre tersebut. EP selanjutnya, kami akan lebih instrumental. Karena tanpa vokal, yang kami mau adalah atau dari karakter instrumen yang kami pakai. Sebenarnya kami lebih eksperimen ke arah . Kami lagi banyak merekam ulang aransemen yang sudah jadi, agar karakter suaranya sesuai dengan apa yang kami inginkan.

15.08.16

Seleksi Karya: FFWD Records

FFWD Records (Fast Forward Records) dikenal salah satu representasi record label independen di Indonesia. Berbasis di Bandung, label yang lahir pada tahun 1999 ini telah mengkurasi musisi pilihan dengan karakter kuat. Bisa dibilang juga melalui rosternya, FFWD cukup berperan dalam membentuk musik independen lokal. Berikut adalah 8 rilisan FFWD Records yang patut didengar dan dikoleksi.

07.06.16

De La Soul Returns with New Album in August

I don’t think anything could possibly go wrong when badass hip hop unit De La Soul dropped the hottest single of the upcoming album earlier this month. Clearly they keep us who are not patient, waiting for their much-anticipated crowd-funded album, “And the Anonymous Nobody” with the release of 4-track EP called “For Your Pain & Suffering.” Taking hints as much as possible, they know how to market their electrifying songs within kink and nostalgic nuance over narrative package. It took quite a long time for them to mix up some good beats and catchy lyrics as 2012 was the last time they proceed some serious tunes and even visited Jakarta for quick reppin style. The comeback album is fresher than ever with Snoop Dogg is recruited to complement the funky number “Pain” that has gospel-like tone. If Snoop’s low-key vocal haven’t gotten you hooked, the trio has come up with lined-up feature guest appearances from David Byrne, Damon Albarn, Little Dragon, 2 Chainz, Usher and more for this album. What makes it even fun and beguiling is, if you check their latest track via official website, you’ll end up playing interactive lyric video game where you; the player, must maneuver a man holding a microphone away from lyrics and random objects that gradually slide fast across the screen to punch in over 1000 score. Suffice to say, after all this tease, I guess we need to wait a couple of months again before taking laidback time off with soulful songs made outta love by De La Soul.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.