Sebuah band berisi dua orang; Bernardus Fritz Adinugroho dan Jonathan Pardede, yang memiliki ketertarikan dalam musik elektronik ini sudah menjajal beberapa panggung di ibu kota. Melihat gerak geriknya yang , bukan berarti performa Sunmantra patut dipertanyakan. Melayangkan kekaguman atas aransemen yang mereka buat, bisa jadi salah satu bentuk apresiasi musik, namun rasanya menggerakkan tubuh sembari menikmati alunan dentum dansa menjadi pilihan terbaik. Kami mendapat kesempatan untuk mengetahui latar belakang atas berdirinya Sunmantra dengan berbincang bersama Bernardus Fritz Adinugroho.
Intinya karena kami mau buat sesuatu yang belum pernah dilakukan. Dulu, kami tergabung dalam Black Mustangs yang notabene band. Setelah vakum, akhirnya saya dan Jojo memutuskan untuk buat sesuatu yang , itulah yang membuat kami memilih jenis musik ini, selain memang kami berdua lagi mengulik musik elektronik.
Sebenarnya Sunmantra itu sampai sekarang adalah duo, cuma lebih . Ke depannya, kami tidak menutup kemungkinan juga untuk berkembang ke area yang lebih kolektif, karena kami selalu ingin buat sesuatu yang untuk membantu proses kreatif kami.
dalam musik kalian, dari mana pengaruh musik yang didapat ketika meracik karakter Sunmantra?
Banyak hal yang mempengaruhi kami, karena kami banyak medengarkan musik techno, acid house dan deep house. Nah, dari ketiga genre itu, kami campur terus dan jadilah musik Sunmantra, dan juga belakangan ini kami lagi banyak menonton film sci-fi dan giallo, lagunya kami ambil dari genre tersebut.
EP selanjutnya, kami akan lebih instrumental. Karena tanpa vokal, yang kami mau adalah atau dari karakter instrumen yang kami pakai.
Sebenarnya kami lebih eksperimen ke arah . Kami lagi banyak merekam ulang aransemen yang sudah jadi, agar karakter suaranya sesuai dengan apa yang kami inginkan.
FFWD Records (Fast Forward Records) dikenal salah satu representasi record label independen di Indonesia. Berbasis di Bandung, label yang lahir pada tahun 1999 ini telah mengkurasi musisi pilihan dengan karakter kuat. Bisa dibilang juga melalui rosternya, FFWD cukup berperan dalam membentuk musik independen lokal. Berikut adalah 8 rilisan FFWD Records yang patut didengar dan dikoleksi.
I don’t think anything could possibly go wrong when badass hip hop unit De La Soul dropped the hottest single of the upcoming album earlier this month. Clearly they keep us who are not patient, waiting for their much-anticipated crowd-funded album, “And the Anonymous Nobody” with the release of 4-track EP called “For Your Pain & Suffering.” Taking hints as much as possible, they know how to market their electrifying songs within kink and nostalgic nuance over narrative package.
It took quite a long time for them to mix up some good beats and catchy lyrics as 2012 was the last time they proceed some serious tunes and even visited Jakarta for quick reppin style. The comeback album is fresher than ever with Snoop Dogg is recruited to complement the funky number “Pain” that has gospel-like tone. If Snoop’s low-key vocal haven’t gotten you hooked, the trio has come up with lined-up feature guest appearances from David Byrne, Damon Albarn, Little Dragon, 2 Chainz, Usher and more for this album.
What makes it even fun and beguiling is, if you check their latest track via official website, you’ll end up playing interactive lyric video game where you; the player, must maneuver a man holding a microphone away from lyrics and random objects that gradually slide fast across the screen to punch in over 1000 score. Suffice to say, after all this tease, I guess we need to wait a couple of months again before taking laidback time off with soulful songs made outta love by De La Soul.
Ramayana Soul, sebuah band yang mengusung jenis musik psychedelic blues yang cukup menarik perhatian banyak orang mendapatkan kesempatan untuk merilis LP 12’ bersama label rekaman asal Jepang, GuruGuru Brain yang dikenal dengan apresiasi akan musik underground di Asia. Band yang hadir dengan komposisi menarik dan konsep ala kehidupan di tahun 1960 ini telah mendapat respons baik dari orang-orang yang cinta dengan musik yang dapat bercerita dengan atau bahkan tanpa lirik.
Menggunakan sitar sebagai salah satu instrumen yang membuat Ramayana Soul memiliki posisi mencolok dibanding musisi lain, lagu-lagu yang dihasilkan seringkali memiliki nafas psychedelic yang kental seakan mendengarkan Ravi Shankar versi rock ‘n’ roll atau Kikagaku Moyo yang bisa membebaskan pendengar dalam menilik musiknya. Tabla seringkali mengisi aransemen yang dijahit dengan lirik dekat penonton melalui alunan vokal seperti chanting lagu India namun tetap menjejakkan eleman lokal dalam pilihan diksi yang mengemas cerita dengan apik.
Dengan keunikan yang terus terlihat dalam tiap performa mereka, GuruGuru Brain kemudian mengajak mereka untuk bergabung dalam label dengan LP “Sabdatanmantra” sebanyak 350 keping. Setelah menampilkan albumnya di akun Bandcamp GuruGuruBrain sejak April lalu, respon yang didapat sangatlah baik dimana kemudian hari sebuah pesta untuk merayakan pesta rilisnnya LP ini di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran Jakarta pada 14 Mei 2016 bekerja sama dengan Ruang Rupa, RURU Gallery, RURU Radio dan RURU Shop. Ramayana Soul akan membawakan beberapa materi baru album kedua untuk pertama kalinya di sini sekaligus menjual LPnya. Selain itu, band indie legendaris Karon N Roll dan The Lampu akan mengisi acara untuk memeriahkan pesta yang akan digelar mulai jam 18:30. Siapkan tarian dan bebaskan jiwa raga akhir pekan ini!
-
Sabtu, 14 Mei 2016
18:30-23:00
HTM IDR 25,000
Gudang Sarinah Ekosistem
Jl. Pancoran Timur II No.4
Pancoran
Jakarta
Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.”
Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata.
Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik.
Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya. Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.
Henry Irawan adalah seorang seniman yang telah menjelajahi berbagai medium dalam karyanya. Dikenal sebagai Henry “Betmen” Foundation, ia telah menciptakan musik, video musik dan beberapa karya lain yang cukup khas. Whiteboardjournal mengunjungi kediamannya untuk berbincang mengenai medium berkarya, karakter ciptaannya dan film panjang sebagai obsesi terbarunya.