
Merebut Kembali Cara Memaknai Seni Pertunjukan di Luar Nilai Hiburannya lewat Pesta Boneka
Dalam submisi Open Column ini, Dzulfikri Putra Malawi merespons tema “Holding Hands” di Pesta Boneka 2026 yang, selain memperkaya pemaknaannya terhadap seni pertunjukan boneka, juga mengajarkan keluarga kecilnya bahwa bergandengan tangan itu lebih dari melangkah dengan kecepatan yang sama.
Words by Whiteboardjournal
Sehari sebelum keberangkatan kami sekeluarga ke Yogyakarta atas niatan menghadiri Pesta Boneka, saya dibayang-bayangi oleh perasaan yang kurang begitu nyaman. Hingga mempengaruhi keputusan untuk mengganti moda transportasi. Dari roadtrip dengan kendaraan pribadi jadi beralih menumpang sepur.
Tentu ketiga anak kami menyambut riang. Sebab perjumpaan dengan rangkaian lokomotif ini sudah terpaut setahun lebih. Rindunya ada. Selain itu, waktu tiba di Yogyakarta jadi lebih cepat. Harapannya bisa menonton lebih banyak pertunjukan di Pesta Boneka.
Kenyataannya tak semulus yang diangankan. Tiga lelaki bocah gen alpha ini punya energi ekstra untuk menentukan keinginannya sendiri begitu sampai di kota tujuan. Ini jadi salah satu tantangan. Kebesaran hati dan talenta menjadi luwes sedang diuji (kembali). Menegakkan peran utama orang tua: membersamai keinginan mereka. Satu masih ingin goleran di hotel, satunya lagi ingin berenang, satunya lagi mau lebih lama di playground. Ditambah ketiganya tumben banget pules tidur siang.
Saya jadi teringat tema Pesta Boneka yang tahun ini sudah sepuluh kali digelar selama dua dekade Papermoon Puppet Theatre berdiri, yakni “Holding Hands”. Hanya dua suku kata tapi punya spektrum makna yang sangat luas.
Saya dan istri juga anak-anak sudah “bergandengan tangan” sepakat untuk mensukseskan rencana trip keluarga kali ini. Tapi ternyata tak sesederhana itu. Ini refleksi buat kami, sebuah ajakan adalah amalan yang cukup mudah diucapkan tapi belum tentu selaras dalam perjalanannya.
Saya melihat, Pesta Boneka begitu personal bagi Papermoon. Simpul-simpul harapan dan cita-cita seni teater boneka yang dibangun sejak dimulainya Pesta Boneka dari tahun 2008 dalam sebuah program residensi sederhana bersama empat negara, kini tumbuh secara organik menjadi salah satu festival teater boneka independen yang cukup diperhitungkan dalam kancah seni teater boneka internasional.
Festival dua tahunan ini kemudian menjadi sebuah ruang perjumpaan lintas budaya bagi seniman teater boneka antar negara. Tahun ini terseleksi dan terkumpul 33 grup, 193 seniman dari 24 negara yang ikut terlibat sejak 6–11 Oktober 2026 di Kampoeng Media, Yogyakarta.
Niatan yang sulit dan kompleks jika tidak dilakoni dengan istiqomah dan kerelaan yang teramat besar. Sampai di titik ini, bergandengan tangan memang menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi semuanya serba mandiri. Saya melihat betul bagaimana Papermoon berupaya menjadi tuan rumah yang baik bagi para seniman yang diundang hingga penonton yang membeli tiket. Semua terlihat ramah. Tak segan menyapa dan mempersilahkan kami yang datang untuk menikmati rangkaian pertunjukan hingga workshop.
Kami yang baru perdana datang ke Pesta Boneka akhirnya berhasil merapat di hari ketiga dan keempat. Dua pertunjukkan masih bisa kami nikmati bersama. Satu dari Swedia dengan grup bernama Mimteatern yang membawakan kisah tentang sebuah evolusi kehidupan. Dan satu lagi dari Belanda bernama Studio Figur.

3 films about Mahdi Karira, a puppeteer in Gaza. (Image via Pesta Boneka)

Block Theatre by KO-KOO-MO. (Image via Pesta Boneka)

Leaves Alive - Ephemeral Shadow Puppets From Nature by Anna Bailey. (Image via Pesta Boneka)

Maati Katha (Earth Stories) by TRAM ARTS TRUST. (Image via Pesta Boneka)
Dari penampilan Mimteatern yang begitu ekspresif, tak ada narasi yang gamblang disajikan namun terasa begitu mudah dicerna. Ketiga anak kami bahkan anteng hingga usai dan begitu menikmati tanpa bertanya, “Bapak, kapan ini selesai?” atau rujukan seperti, “Bapak, aku udah bosen, ayo kita pulang.”
Mereka ikut tertawa, bertanya kepada saya dan ibunya sepanjang pertunjukkan sebagai bentuk interaksi atas antusiasme yang tetap terjaga sepanjang pertunjukkan. Bahkan anak yang sulung menunggu sesi tanya jawab tiba di ujung penampilan, ia penasaran dari mana ide pertunjukan barusan hadir.
Memaknai pertanyaannya, jelas ia berhasil teresonansi. Muncul rasa penasaran tentang gagasan kenapa karya itu tercipta. Sang sutradara bilang, karyanya lahir dari membaca penelitian-penelitian tentang alam semesta sebagai sebuah siklus kehidupan. Dan kita ada di dalamnya.
Sementara, Studio Figur mencoba menyajikan babak-babak yang penuh narasi dan dialog. Relevansinya lebih khusus, tentang postkolonialisme. Jelas, Belanda dengan Indonesia punya memori kolonialisme yang erat. Bagi saya, akhirnya Pesta Boneka menjadi medium yang sangat cocok untuk mendistribusikan pemikiran-pemikiran soal kritik terhadap relasi kuasa hingga beragam sistem warisan yang berkelanjutan meskipun negara jajahannya sudah merdeka.
Pagi hari berikutnya, workshop membuat monster kecil jadi daya tarik yang tak terbendung bagi anak-anak kami. Mereka berhasil bangun lebih pagi dan bergegas menuju Pesta Boneka untuk segera bergabung menciptakan topeng dari kardus. Imajinasi mereka tertuang di sana. Dua anak kami ikutan, sementara yang bontot lebih gemar mencari minuman dingin. Yogyakarta sedang terik-teriknya memang.
Sementara di sisi lain, para seniman dari berbagai negara ini diminta untuk memasak makanan khas wilayah mereka masing-masing untuk disuguhkan kepada pengunjung yang hadir. Ini persis seperti acara masak-masakan saat kita bertamu. Ada yang bilang potluck. Ada juga yang menyebutnya botram. Intinya semua makanan yang hadir untuk dinikmati dan disyukuri bersama. Bukan untuk dinilai enak atau tidak. Guyub.
Dua aktivitas di Minggu pagi tersebut sangat intim dan bersahaja. Tidak ada istilah bule dan mental inlander hadir di sana. Hanya lewat ekosistem seni kita bisa terasa sejajar dengan negara lain. Bener gitu kan?
Tak ada yang sia-sia di sana. Semuanya berjalan dengan penuh makna. Segala yang diupayakan dari sebuah studio seni pertunjukkan boneka terus bergerak dengan terarah dan penuh rasa cinta di dalamnya. Sungguh terasa. Apa mungkin karena terbawa energi dari anak-anak kecil yang sangat riang gembira? Entahlah.
Di level ini, saya melihat boneka tak hanya sekadar hiburan dan aksi kritik yang biasa-biasa saja. Tapi memang membawa imajinasi yang sangat liar namun begitu dekat dengan memori masa kecil kita. Bayangkan saja, sebuah parade monster bisa dilakoni seantusias itu oleh anak-anak. Dan bagi orang tua yang menyertainya, mereka juga bisa ikut mengeluarkan imajinasi monsternya. Artinya, ini membuktikan sisi kekanak-kanakan selalu ada dalam jiwa manusia, berapa pun usianya. Dan itu tak mengapa.
Atau sebuah narasi dan kisah-kisah yang dibangun, diceritakan, dan disuguhkan dengan beragam upaya artistik mampu menyesap jauh ke dalam pikiran kita yang berusaha memaknainya sebagai hal baik atau buruk. Penetrasi reflektif yang paling halus untuk mengetuk hati manusia.
Setelah ini, pulang dari Pesta Boneka dan menjalani rutinitas harian berikutnya akan menambah pekerjaan rumah kami sebagai orang tua untuk memberikan pemahaman agar kita tak hidup sia-sia. Maka, memiliki kesadaran untuk memaknai segala hal menjadi terasa begitu penting.

Image via Pesta Boneka.

Image via Pesta Boneka.

Image via Pesta Boneka.

Image via Pesta Boneka.
Baik Mimteatern dan Studio Figur mencoba menyajikan hal yang relevan bagi manusia. Tanpa mengurangi kemampuan artistik dari masing-masing penampil. Membawa banyak pesan reflektif yang ketika sampai di rumah, kita diajak berpikir kembali dari apa yang sudah kita tonton tadi di Pesta Boneka.
Dalam pertunjukan mereka, ada dua persamaan yang identik. Yaitu layar dan bayang-bayang. Tentu, ingatan saya sebagai orang Indonesia otomatis tertuju pada wayang. Sebuah seni pertunjukan tertua di Nusantara. Tersohor dengan medium yang digunakan para Wali Songo dalam syiar islam dan erat kaitannya dengan perjalanan spiritual manusianya.
Pesta Boneka ibarat menjadi salah satu dari perjalanan manusia itu sendiri. Dari bayang-bayang menuju cahaya. Layaknya orang-orang di keheningan dengan daya khayalnya yang kemudian ingin lebih merasakan manfaat dari apa yang sudah dibangun dan dicita-citakan menuju kesadaran kualitas spiritual yang lebih baik lagi agar bisa hidup untuk menghidupi lewat seni.
Sejarah mencatat, sebagaimana keindahan dalam sebuah seni dibuat menjadi inklusif oleh sistem Wali Songo agar seluruh rakyat bisa menikmati. Salah satunya lewat kesenian wayang yang tak terpisahkan menjadi bagian dari seni pertunjukan boneka.
Bagi saya, “Holding Hands” bukan hanya soal menguatkan daya kolektif dalam mewujudkan penguatan ekosistem seni pertunjukan boneka. Tapi lebih dalam lagi hingga pencapaiannya kepada kualitas spiritual yang lebih baik.
Lewat wayang kita memahami bahwa kehidupan di dunia itu adalah sifat yang paling rendah. Bayangan dari cahaya. Dua anasir dari unsur kehidupan. Bagaimana kita bisa menjalankan refleksi diri atau mengaji diri.
Namun ironisnya, di tengah-tengah para seniman di pertunjukan boneka hadir dengan keseriusan makna, justru kita diterpa oleh realitas pertunjukkan wayang yang kini sarat akan hiburan semata. Posisi sinden yang kini menghadap penonton hingga organ tunggal yang mengiringi. Bahkan ada jam-jam tertentu khusus untuk menghibur masyarakat di tengah-tengah pertunjukan. Sampai akhirnya semua dianggap biasa saja karena pembiaran. Namun seorang Romo Kiai Jadul di Kali Opak bilang, “Mungkin itu bentuk (symptom) keputusasaan masyarakat, saat eksistensinya tidak lagi dianggap oleh penguasa, maka mereka melakukan hal-hal yang menerjang aturan, bahkan tak mau diatur, untuk menjaga kewarasan yang kian rapuh demi keseimbangan diri di tengah kebudayaan yang dipenuhi unsur ketimpangan ekstrim.”
Maka tak berlebihan bila Pesta Boneka menjadi simpul yang mampu menghubungkan kembali urat-urat pemaknaan kita dalam melakoni kehidupan. Rasanya terlalu dangkal bila hanya menikmati sisi artistik dan ekspresi dari para seniman boneka lintas negara dan benua ini.
Terhibur sudah pasti. Tapi membawa sesuatu yang berarti juga mesti. Saya dan istri belajar bahwa bergandengan tangan bukan berarti harus melangkah dengan kecepatan yang sama atau memiliki keinginan yang seragam. Justru dalam perbedaan itulah kami belajar menyesuaikan diri, menyelaraskan kembali ekspektasi, memberi ruang, dan yang terpenting tetap bisa berjalan bersama sebagai keluarga yang utuh. Apa pun situasinya.




