
The Shape of 2026 To Come Proyeksi, Harapan, Prakiraan Tren dan Harapan yang Bisa Kita Jelang di Tahun 2026
Kami mengajak beberapa teman dan sosok yang kami kagumi karyanya untuk berbagi gagasan tentang apa yang sekiranya bisa patut diperhatikan di 2026.
Words by Whiteboard Journal
Illustrations: Riezky Hana Putra, Tegar Bayu, M. Ilham (Acho)
Rasanya nggak ada habisnya dalam menyayangkan segala yang telah terjadi di 2025. Rasa kekalahan politik yang nggak pernah jauh dari keseharian, sampai bagaimana kemanusiaan kita perlahan-lahan direnggut oleh akal imitasi. Sampai-sampai mulai besar dipertanyakan apakah ‘selamat’ masih tepat untuk diucapkan dalam menyambut tahun baru.
Tapi, di tengah ujian tiada henti itu, rupanya kita masih menemukan cara-cara lain untuk tidak kehilangan taji di koridor kita masing-masing—fashion dan human crafts, ruang publik dan kekotaan, sampai dalam usaha merawat intelektualitas kita sebagai manusia. Sebagian besar dari prediksi ini kita percayai ada di 2026, dan kita masih bisa menyatakan prediksi-prediksi ini dengan sama-sama percaya.
Kami mengajak beberapa teman dan sosok yang kami kagumi karyanya untuk berbagi gagasan tentang apa yang sekiranya bisa membuat kita bisa tetap menjelang waktu-waktu mendatang dengan harapan baik – sebuah hal yang jadi gaib di tahun 2025.
Jadi, selamat tahun baru?

Fauzia Evanindya
Arsitek, FFFAAARRR
Bagi saya dunia desain arsitektur dan interior beberapa tahun ke belakang ini sangat menarik; ada dinamika kontras yang signifikan antara generasi muda dan para pendahulunya. Berbeda dengan generasi di atas saya yang banyak berselancar di arus arsitektur modern dan berpangku pada presisi sebagai harga diri dan arsitektur sebagai profesi yang suci, anak-anak muda Gen Z dan Zillenial yang mulai berpraktik desain secara independen menghadirkan nuansa baru; estetika ketidaksempurnaan, penyerapan referensi visual yang berakar pada tren media sosial, sembari melihat arsitektur dengan lebih rileks.
Hal ini terasa signifikan di ekosistem desain interior, namun arsitektur yang merupakan profesi lebih formal dan kompleks mengadaptasi tren ini secara perlahan. Dengan banyaknya arsitek yang juga mengerjakan desain interior komersial sepertinya cepat atau lambat kecenderungan ini juga akan sampai kesana. Batas-batas yang semakin pudar antar pekerja kreatif ini juga akan mempengaruhi keprofesian arsitektur. Akan semakin banyak arsitek yang mengerjakan proyek di luar lingkup pemahaman bangunan konvensional. Sepertinya arsitek perlu lebih resilien dan responsif terhadap perubahan-perubahan ini.
Di 2026 dan tahun-tahun ke depan, generasi muda akan semakin matang dan kekerabatan antar pekerja kreatif kian mendekat. Generasi yang lebih tua juga akan semakin terbuka dengan perkembangan zaman. Seiring dengan kecakapan desainer-desainer muda dalam membaca dan memahami media sosial, rasanya akan tumbuh kebijaksanaan untuk memahami hal-hal yang fundamental. Dilengkapi dengan keberanian mereka untuk bersuara dan berkolaborasi, saya optimis ekosistem arsitektur dan interior di Indonesia akan semakin baik di 2026.
Adythia Utama
Sutradara/Musisi
Tahun 2026 sepertinya dari segi film atau musik bakalan lebih banyak ekspresi marah-marah, salah satunya karena kemajuan teknologi (baca: AI) yang bikin rate bayaran para pekerja di belakang layar makin jeblok. Selain itu, juga rasanya akan banyak yang semakin jengah dan akhirnya ikut mengkritisi pemerintah.
Jika ada yang bisa menjadi hal yang menarik dan membuat kita jadi sedikit optimis adalah tren olahraga yang cukup banyak di tahun 2025. Penasaran apalagi yang akan jadi besar setelah lari, padel. Tren olahraga ini juga menarik, karena bisa juga dilihat sebagai cara dari warga untuk tetap waras di antara berbagai hal yang terjadi di dunia belakangan ini.
Wiliam Reynold
Aktivis Urban, Urun Daya Kota
Urbanisasi akan semakin terjadi, tapi ini bukan hanya soal wilayah “mengkota”, tetapi juga dari kepekaan dan daya kritis warga yang perlahan peka mendorong pemenuhan hak mobilitas, lingkungan optimal, kelayakan huni (ruang dan unsur pendukung), hingga ruang publik yang aman dan nyaman. Tentu dibarengi dengan kesadaran ada inklusivitas di dalamnya.
Semua itu, dapat dilihat dengan eksistensi berbagai medium yang membahas kota (media, komunitas, bahkan lembaga) secara akseleratif pada kota-kota.
Ini jadi pesan, bahwa warga (terutama kaum muda) tidak ingin jadi penonton. Ruang urun daya yang bermakna ke depan jadi sesuatu yang dinilai keharusan, bukan sebatas kesempatan. Maka, momentum ini penting bagi pengelola kota untuk bisa “menjemput”-nya.
Studio Pancaroba
Kolektif Seni
Pada 2026, dapat diprediksi bahwa aktivisme dan desain akan bergerak menjauh dari ekspresi simbolik menuju praktik yang bersifat fungsional dan tertanam dalam kehidupan sehari-hari (harusnya). Aktivisme tidak lagi tampil sebagai peristiwa atau kampanye, melainkan sebagai rangkaian keputusan desain kecil yang memungkinkan orang bertahan, berjejaring, dan menghindari kontrol, sering kali tanpa label politik yang eksplisit. Desain akan lebih sering hadir sebagai alat, protokol, dan sistem terbuka ketimbang sebagai visual yang ingin dipamerkan. Yang akan bertahan bukan karya yang paling terlihat, tetapi yang paling bisa digunakan, direplikasi, dan disalahgunakan oleh komunitas di luar niat pembuatnya.
Irma Hidayana
Pemerhati Gizi dan Pangan
Soal urusan terkait kesehatan dan gizi, sebutlah Makan Bergizi Gratis (MBG), sepertinya tidak akan terlalu banyak perubahan yang bakal ada di Tahun 2026. Tapi melihat turunnya kasus keracunan MBG dalam dua bulan menjelang tutup tahun 2025, memberi secercah harapan perbaikan. Namun, kalau melihat tren bagaimana MBG dijalankan beserta dimensi masalah kompleksnya, sepertinya kita akan berputar-putar dalam isu yang itu-itu saja, tanpa ada kejelasan penyelesaian yang fundamental. Jadi di 2026 agak musykil mengharapkan MBG dijalankan dengan setara. Misalnya, mereka yang tinggal di daerah pelosok atau 3T, kaum miskin, dan yang mengalami gizi buruk diberikan keutamaan mendapat menu yang benar-benar bergizi, sehat, nggak pake makanan olahan (ultra processed). Jadi bisa tepat sasaran, nggak ngasal pukul rata. Nah yang nggak ngasal ini namanya mengikuti prinsip kesehatan masyarakat yang bernama distributive justice. Persis seperti sila kelima Pancasila kita, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Kapan ya bisa terwujud?
Ibrahim Soetomo
Penulis/Kurator
Tanpa bermaksud mewakili seluruh perkembangan kesenian yang ada, atau meng-endorse nama-nama yang saya sebut di sini, bagi saya 2026 adalah tahun untuk sejumlah babak baru.
Sejak Q4 2025, kita sebenarnya sudah mengantisipasi beberapa perhelatan seni besar di 2026 yang memulai arahan baru. Di ranah fair, misalnya, kita akan menyaksikan Art Jakarta Papers 2026 yang mendorong pasar karya seni berbasis kertas. Sementara itu ARTJOG di Jogja akan memulai trilogi barunya, Ars Longa Trilogia, yang tampaknya berfokus menghadirkan seniman generasi “baru” (Y dan Z). Tak lupa, ada sejumlah galeri yang akan terlibat di fair-fair internasional.
Jakarta Biennale, dengar-dengar, akan hadir lagi dengan meneruskan metode penyelenggaraan kolektif melalui serangkaian majelis—inisiatif baru yang dimulai di 2024. Kita menanti-nanti implementasi dan evaluasinya di gelaran 2026.
Di 2025, saya juga cukup banyak melihat seniman, kolektif, kurator, manajer dan penulis kelahiran generasi Y dan Z yang karya-karyanya mengesankan, menyegarkan, dan di luar prediksi. Kemunculan mereka didukung oleh ekosistem seni yang terberi (given) dari generasi pelaku seni sebelumnya, maupun ekosistem yang mereka buat secara mandiri/berbasis akar rumput. Saya yakin kita akan terus melihat hal-hal ini di 2026.
Teddy W. Kusuma
Penulis/Pengelola POST Bookshop & Press
Seperti tahun-tahun yang berlalu, 2026 akan berjalan cepat, tahu-tahu lewat, walau di antaranya hidup juga kerap terasa dijalani dengan merangkak di tengah dunia yang terbakar dan berisik. Tahun depan politisi masih akan mengurusi dirinya sendiri saja dan warga dipaksa untuk bertahan, menerima untuk dibodoh-bodohi, walaupun (ini yang melegakan) selalu akan ada yang melawan sebisanya, atau memelihara api perlawanan itu – sekecil apa pun. Di dunia perbukuan, api itu masih akan dinyalakan, dan dipelihara. Karya yang mengajak kita merawat ingatan masih akan terus muncul dan dibaca, karya yang lahir dari penggalian arsip dan ingatan, juga rasa marah, untuk melawan narasi sejarah yang dipaksakan penguasa. Karya yang akan masuk ke ruang-ruang baca warga untuk membantu memberi kekuatan, juga memelihara harapan, hingga tiba waktunya kobaran perlawanan makin besar.
Pembaca pun akan semakin kritis terhadap apa itu karya bagus, terhadap nilai-nilai yang dibawa sebuah karya. Pembaca akan semakin haus akan ragam bacaan juga alternatif-alternatif di mana bacaan itu diperoleh. Buku-buku pilihan juri sastra tak selalu lebih menarik dari zine, atau tulisan di Substack, atau karya lama yang sempat dilupakan, atau penulis yang lahir dari komunitas terdekat masing-masing pembaca. Dan ini akan membuat ekosistem semakin meriah, toko-toko buku yang lebih dulu berdiri akan semakin ditantang konsistensi dan suaranya, yang baru akan bermunculan memberi energi segar dan harapan. Tahun 2026 masih akan diisi kemurungan dan rasa tak berdaya, dan warga hanya akan menaruh harapan pada satu sama lain. Semoga dunia buku masih bisa menjadi bagian dari ruang untuk saling menjaga, yang turut memelihara harapan. Atau setidaknya, itu yang sama-sama kita upayakan.

Dimas Arya
Aktivis Kemanusiaan, KontraS
Berdasarkan catatan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), tahun 2025 adalah katastrofe (kiamat) untuk demokrasi dan hak asasi manusia. highlight of the year di tahun 2025 adalah banyaknya kebijakan yang tidak berpihak rakyat, pesta elit lewat sejumlah usulan kebijakan seperti kenaikan tunjangan untuk anggota DPR, program Danantara dan Makan Bergizi Gratis yang rawan menjadi bancakan elit, obral gelar pahlawan dan tanda kehormatan yang tidak tepat, militerisme yang menguat dan represi negara terhadap rakyat yang melakukan protes. Tahun 2026, situasi di seputar kerja penyelanggara negara masih akan diprediksi tidak ada perbaikan dan akan terus menghasilkan sejumlah katastrofe-katastrofe lainnya. Hal ini mengacu pada tidak jelasnya agenda penyelenggara negara dalam memperkuat pilar demokrasi dan penegakan hukum (KUHP dan KUHAP yang banyak diprotes publik akan berlaku pada tanggal 2 Januari 2026). Tapi, seperti kata Mocca dalam lagunya, “There is a Light at the end of Tunnel”, kehidupan demokrasi yang lebih baik akan bertumpu pada gerakan warga dibanding menunggu penyelenggara negara, tumpuan kekuatan kritis warga dan juga keberanian untuk menyampaikan protes terhadap kebijakan yang jelek akan menjaga lilin demokrasi menyala terus di Indonesia.

Ratta Bill
Graphic Designer, Tiny Studio
Kita akan melihat lebih banyak pengolahan AI dalam industri yang semakin bikin kita menghargai hal-hal yang analog. Dengan ramainya AI di ranah digital dan komersil, kita mungkin akan membuka ruang lebih untuk mengulik printmaking dan arts & crafts serta merayakannya seperti apa yang terjadi di ADGI Design Week dan Press Print Party. Dari sisi medium, penambahan transum yang proper (meski ya ampun telat sekali) di Jakarta juga membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi desain grafis untuk keluar dari layar kaca dan kembali ke ruang publik.
Ade Putri Paramadita
Food Storyteller
Berbarengan dengan peningkatan kegiatan fisik dan pengetahuan mengenai kehidupan yang lebih sehat, akan bermunculan usaha kuliner dengan menjual santapan berbahan “real food”. Gerai makanan sehat tak lagi terbatas pada salad, tapi juga termasuk kios pembuat jamu dari bahan segar.
Walaupun pergerakan restoran fine dining sedang banyak disorot, toh minat pasar yang lebih luas tetap terbidik oleh makanan yang tergolong comfort food. Pop-up di berbagai tempat termasuk di spot-spot non-resto akan lebih banyak, dan mungkin mulai banyak dilakukan oleh para persona yang tak memiliki latar belakang F&B, tapi punya ide kreatif atau berbasis passion terhadap kuliner.
Antonia Timmerman
Jurnalis
Kayaknya 2026 bakal jadi tahun penuh paradoks: di satu sisi AI dan otomatisasi akan makin dijejalkan di mana-mana terutama di sektor kreatif dan intimacy, tapi sebaliknya tren back-to-humanness, slowness, dan pentingnya proses bakal meningkat juga.
Kita udah liat backlash iklan McDonald’s yang pakai AI generatif. Sebaliknya, proses pembuatan intro AppleTV yang susah-susah pakai efek praktikal dipuji dan dianggap valuable. Dunia menyambut album Rosalia dan single-nya RAYE yang penuh dengan maximalism dan complex layers. Penjualan media fisik terus meningkat.
Buatku itu semua tanda bahwa orang mulai merasa kebanyakan algoritma, efisiensi, dan otomatisasi justru bikin jiwa kita kosong. Kita mulai rindu ke-berantakan-nya manusia. Bukan sekadar nostalgia, kita juga ingin punya agensi lebih dalam kurasi dan kepemilikan karya yang kita suka.
Kayaknya 2026 penuh paradoks: AI dan otomatisasi akan makin dijejalkan, terutama di sektor kreatif dan intimacy, tapi tren back-to-humanness, slowness, dan pentingnya proses bakal meningkat juga. Kita mulai rindu ke-berantakan-nya manusia.
Kareem Soenharjo
Musisi/Seniman
Because of how vast the internet is and how open kids are nowadays about what they like, I think it’s going to be easier for the younger generation to make music, and find their community, and in return find a successful trajectory in their career. But I also feel that we’re entering an era of mindless consumption that prioritizes aesthetics more than anything, which might result in a music culture that’s heavy in optics and empty of sincerity, meaning, and historical context. If we don’t do anything about it, we could be on our way to a musical desert that lacks any weight to it. I guess you can apply this to any sort of creative sector as well.
Teuku Reza Fadeli
Historian/Lecturer
By 2026, it’ll feel strange if culture talk doesn’t include the environment. Climate stress will shape everyday taste, what we wear, how we move, what we eat, and where we hang out. Learning (including higher education) will likely become more personalised, which may push a counter-mood too. I suspect we’ll see more “grounded” culture like local materials, repair, reuse, and slower forms of mobility, tied to place and everyday local experience.
Mawarid Rolansyah & Yori Atira
Founders of Lunch for My Husband
Our perspective has always been shaped through the eyes of home cooks and curious visitors, people who genuinely enjoy witnessing the exponential growth of Jakarta’s F&B scene. Despite rapid shifts in consumer behavior, ongoing economic pressures, and the undeniable influence of digital culture, there is a renewed sense of intention and momentum, from micro-scale operators to large establishments alike. Ideas are becoming more thoughtful, ingredients more central, and there is a healthier balance between ideals and market realities. This shift has had a positive impact from the customer’s point of view: consumer tastes are evolving rapidly, and people are increasingly willing to try something new, as long as to a certain extent, still remain within their comfort or familiar zone. The landscape is more competitive than ever, yet remarkably collaborative at the same time. Even amid economic uncertainty, people continue to seek small luxuries. The “lipstick effect” is very much alive within the F&B sector, driving demand for offerings that feel premium yet accessible. This is less about indulgence but more about emotional reward and personal experiences. Consumers are looking for comfort that doesn’t derail their budgets with over the top premium ingredients and limited-edition items, but elevated everyday dishes, and flavors rooted in warm nostalgia. While it is difficult to predict how the F&B industry will evolve in 2026 due to economic intangibility, we strongly believe that more cooks, chefs, and establishments will place greater emphasis on intention behind each creation, often within smaller-scale settings. We anticipate more concise menus that change seasonally, clearer and more distinct concepts, and dishes that use fewer ingredients but execute them with precision and care. This intentionality will extend beyond the plate, influencing spatial design, graphic identity, and how each establishment positions itself as a brand. All of these point toward a future that feels deeply considered and genuinely exciting. 2026 is something to look forward to.
Novi Sri
Yoga Instructor/Trail Runner
Wellness will shift from optimization to devotion. Less about performance, metrics, and “results that you can screenshot.” Running and yoga will become a way to regulate the nervous system, a self-care routine, the ritual, presence, feeling and meaning. In 2026, the new luxury would be “Elegant Wellness,” it’s about choosing with intention, moving without proving, practicing without being perceived, and choosing self-devotion over self-optimization. We want wellness that fits into our life, not something that reorganizes it.
Raynard Randynata
Founder of Drunk Dad
Less baggy pants. We’ve been seeing tons of barrel pants in 2025. (I think it’s time to give them some rest too and opt for a more tailored silhouette.)
Interesting hats, such as pillbox and bonnet.
More animal prints. We saw leopard and deer were making a comeback. Expect to see more polkadot-adjacent animal prints too.
Textures! Interesting laces, daring fur. Things that are more tactile and have a multi sensory approach. AI has made some things feel flat. It will be interesting to see fashion adapt to the time, and hopefully by producing more creations that showcase the human crafts at the forefront.
Trisnaharti
Founder of ÉGON
Twinning becomes part of the expression. By 2026, as Gen Alpha enters their teenage years, “CUTE” and unnecessary objects begin to matter in a different way…it moves freely across timelines. More weirdly, functional items, especially bags — do too 🧬 We will see more people reading in silence and exchanging journals. That would be so fun: finding your sister, not AI (I hope).
Winner Wijaya
Filmmaker, Director of NGGAK!!! (2025)
Kalau perfilman mungkin tahun depan streaming platform berlangganan makin tidak populer atau bahkan ditinggalkan, pembajakan dan penonton film di bioskop lebih banyak.
Penonton sudah semakin bosan dengan film-film komersil yang penulisan dan produksinya diarahkan oleh “board meetings”, film-film dengan tema unik bisa jadi lebih populer.
Sehubungan dengan semakin tertindasnya rakyat Indonesia, sepertinya film-film independen indonesia akan lebih beragam, marah, liar, dan menyegarkan.
Syarafina Vidyadhana
Cultural Researcher, Co-Founder of Cahyati Press
For 2026, I’m rooting for the return of intellectualism, even if it risks pretension. No more sweetness packaged as depth, but real, distilled genius. The past few years have been marked by a fixation on narrating the self to the point of annihilation. I get it: when the state is rotten, the self can feel like the only thing left to govern. But the result is excessive introspection—so much that even pop stars write Substack. We need *our* poets back at work, and people having great sex and taking to the streets again. Less explanation, more risk. Technique, play, precision. Language that returns us to the body and humanity—delicious, sexy, vengeful—ready to drag us out of the padel court and back onto the street.



