
Saat Mimpi Memiliki Rumah Semakin Jauh dari Jangkauan, Kesadaran Kolektif menjadi Satu-satunya yang Bisa Mewujudkannya
Dalam submisi Open Column ini, Ramadhan dan Balqist Aroma Bunga mengangkat bagaimana isu kepemilikan rumah, lingkungan, dan batu bara sama-sama berkelindan, dan salah satu cara kita meresponsnya adalah dengan kesadaran kolektif.
Words by Whiteboard Journal
“Gen Z tidak bisa beli rumah karena beli kopi setiap hari,” sebuah candaan yang lahir dari realitas bahwa kehidupan semakin unaffordable bagi generasi muda. Harga rumah yang tidak lagi realistis, biaya hidup yang terus meningkat, tapi upah yang kita dapatkan tetap stagnan, jauh dari kata cukup untuk mengejar kenaikan biaya hidup.
Di tengah kegagalan sistem ekonomi yang tak mampu menjamin kesejahteraan generasi mudanya, Gen Z bermanuver lewat side hustle, investasi, hingga frugal living. Semua demi bisa menabung dan menjaga secercah harapan akan stabilitas finansial ditengah sistem yang gagal.
Namun, uang yang dengan susah payah dikumpulkan dengan konsisten, naik transportasi umum walau desak-desakan, membawa bekal makan siang yang dimasak sendiri, hingga menahan diri dari hiburan kecil akhir pekan, justru digunakan oleh bank untuk mendanai batu bara. Ironis, memang. Bank yang secara sukarela kita pilih dan percayai untuk menabung demi masa depan, justru memperburuk masa depan yang sedang kita perjuangkan.
Seburuk apa batu bara untuk masa depan? Bagi Indonesia, industri batu bara berdiri di persimpangan jalan. Batu bara merupakan penopang utama perekonomian dan pemenuhan energi nasional. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri, dalam semester awal tahun ini, Indonesia memproduksi setidaknya 357,6 juta ton dan bisa memenuhi 45% kebutuhan listrik dunia melalui ekspornya. Berdasarkan Global Firepower, Indonesia juga menjadi produsen batu bara terbesar ketiga di dunia. Selain itu, International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa di Indonesia sendiri, lebih dari 60% listrik kita bersumber dari “emas hitam” ini.
Tapi jangan terkecoh, di balik kontribusi ekonomi dan energi yang besar, ada harga mahal yang harus dibayar. Dikenal sebagai sumber energi paling kotor, batu bara dapat menghasilkan emisi karbon dalam jumlah masif dan secara langsung mempercepat perubahan iklim. Bahkan, kandungan di dalam batu bara bisa menyebabkan hujan asam saat dibakar dan naik ke atmosfer. Dalam proses penambangan dan pengolahannya, industri batu bara bahkan kerap mencemari air bersih di sekitar yang digunakan warga untuk bertahan hidup; mencuci, mandi, hingga minum. Selain itu, abu terbang yang dihasilkan batu bara dapat menyerang pernapasan manusia, menyebabkan sesak nafas hingga kematian.
Sedihnya, meskipun dampak lingkungan hingga kesehatan yang disebabkan batu bara sangat destruktif, ternyata bank tempat kita menabung masih memilih untuk menyalurkan dana ke industri batu bara. Pertanyaannya, dengan dampak destruktif yang tak terbantahkan, masih relevankah berinvestasi di batubara?
Kekhawatiran ini sangat beralasan. Saat ini, produksi batu bara Indonesia jauh melebihi kebutuhan pasar. Tragisnya, prospek pasar di tahun 2025 terlihat sangat suram, dengan harga yang diperkirakan akan terus anjlok. Penurunan harga ini terjadi karena permintaan dari pembeli utama seperti Tiongkok dan India melemah, sebab mereka mulai beralih ke energi yang lebih bersih atau mencari batu bara dengan kualitas yang lebih unggul. Artinya, batu bara Indonesia kurang mampu bersaing di pasar global saat ini.
Di tengah pergeseran tren global yang beralih dari batu bara menjadi energi terbarukan, ditambah dengan kualitas batu bara yang tidak kompetitif, investasi batu bara tidak lagi relevan, bahkan berisiko menimbulkan kerugian besar hingga kebangkrutan yang berujung pada ketidakstabilan ekonomi.
Namun, pernahkah bank secara transparan menginformasikan bahwa mereka menyalurkan dana ke investasi yang destruktif dan beresiko besar ini? Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Enter Nusantara terhadap nasabah muda di wilayah Jabodetabek, 57% responden masih mendukung bank mereka untuk mendanai batu bara. Menariknya, 20% di antaranya mendukung tanpa alasan yang jelas, sementara sisanya beranggapan bahwa batu bara masih berperan penting bagi pembangunan dan kemajuan negara tanpa memahami risiko yang melekat di baliknya.
Fakta ini menunjukkan betapa minimnya transparansi dan edukasi publik terkait dampak nyata dari pendanaan batu bara. Dalam survei yang sama, mayoritas responden mengaku memperoleh informasi seputar pendanaan bank dari media sosial dan pemberitaan media massa. Sementara itu, hanya sekitar 4% yang menyebutkan laporan tahunan bank sebagai sumber informasi mereka.
Kontras dengan kekuatan besar yang dimiliki anak muda dalam mendorong perubahan, keterbatasan informasi menjadi tantangan utama bagi anak muda untuk berkontribusi, bahkan ketika menyangkut pilihan kita sendiri. Namun, justru karena keterbatasan informasi inilah, penting bagi anak muda untuk mulai menyadari dan memanfaatkan kekuatan kolektif yang kita miliki, bahwa suara dan pilihan finansial kita dapat menjadi alat nyata untuk mendorong perubahan.
Keterbatasan sebagai kekuatan, itulah realitas yang sedang kita hadapi. Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam menyalakan api perlawanan. Bahkan, kekuatan itu bisa lahir dari hal-hal kecil. Bagi anak muda, salah satu sumber kekuatan terbesar kita terletak pada solidaritas kolektif dan mandat moral untuk mendorong perubahan. Sebagai nasabah, anak muda memiliki kekuatan yang signifikan, melebihi peran tradisional sebagai konsumen.
Kita, sebagai anak muda, ternyata memegang kendali untuk memaksa bank-bank kesayangan kita berhenti mendanai proyek energi kotor, jelas terbukti bahwa suara kita sebagai nasabah dan warga negara sangatlah penting.
Saat banyak nasabah—terutama kita yang aktif menggunakan tabungan dan mobile banking—mulai mempertanyakan atau bahkan berpikir untuk menarik dana, hal ini menciptakan tekanan moral yang sangat kuat. Bank tahu, jika mereka kehilangan kepercayaan generasi muda, bisnis mereka di masa depan akan terancam. Ini merupakan kekuatan kita untuk menuntut bank lebih terbuka dan bertanggung jawab.
Anak muda tidak hanya terkejut dengan fakta pendanaan batu bara, tetapi juga siap untuk bertindak nyata. Setengah dari kita merasa bahwa anak muda punya peran besar dalam mendesak perubahan kebijakan di bank. Kesiapan ini diwujudkan dengan banyaknya yang bersedia menandatangani petisi atau membuat konten seru di media sosial untuk menyebarkan isu ini. Sebagai bukti nyata, petisi digital kampanye #BersihkanBankmu yang diinisiasi oleh Enter Nusantara berhasil menjaring ratusan tanda tangan, menunjukkan bahwa gerakan kita di dunia maya sangat efektif dalam membangun kesadaran publik yang lebih luas.
Kunci utama agar tuntutan kita didengar terletak pada cara kita berkomunikasi. Pertama, media sosial adalah medan perang kita, karena sebagian besar anak muda mengetahui isu pendanaan energi kotor ini justru dari sana. Oleh karena itu, kita harus membuat konten digital yang sederhana dan menarik, menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian kita seperti tabungan atau layanan digital, dengan tujuan bisa menggerakkan massa.
Kedua, kita harus menuntut langsung melalui aksi-aksi kreatif seperti kampanye #BersihkanBankmu dan dialog resmi dengan pihak bank, yang sudah terbukti berhasil membuat tuntutan kita didengar. Inti dari tuntutan kita selalu sama: hentikan pembiayaan batu bara, segera lakukan transisi energi, dan tingkatkan transparansi dari bank.
Lagu “Who Knows” dari Daniel Caesar yang belakangan ini populer dan sering kita dengar di media sosial, menjadi salah satu gambaran bagaimana masa depan menjadi misteri yang tidak dapat kita ketahui. We never really know what’s coming next. Menabung, menjadi salah satu modal terbesar kita sebagai anak muda untuk melalui masa depan yang sangat unpredictable. Dalam usaha menyelamatkan masa depan kita sendiri, biarlah pilihan lahir dari kesadaran, bukan dari informasi yang dibatasi.




