
Bagi Penyintas Bencana, Peristiwa Kehilangan Tak Mungkin Sederhana
Dalam submisi Open Column ini, Asri Widayati menuliskan bagaimana dampak dari bencana tidak bisa diukur dari angka saja, selagi menyorot runtuhnya rencana masa depan para penyintas yang kerap luput dari perhatian.
Words by Whiteboardjournal
Kurang lebih dua tahun silam ketika saya memutuskan untuk menulis kisah dari lima orang Jatiwangi, Jawa Barat, yang kehilangan rumah akibat relokasi paksa di bawah rezim Orde Baru, saya mendapatkan satu kesimpulan yang sangat ironis, “perasaan kehilangan tempat tinggal, berpisah dengan tetangga, teman, sekalipun telah terjadi hampir dua dekade lamanya, perasaan itu tetap mengendap dalam benak mereka hingga kini.”
Artinya, perasaan kehilangan tidak mudah hilang; ia dapat menembus ruang dan waktu. Kisah ini mengemuka salah satunya pada interlokutor berusia 59 tahun bernama Kemuning, seorang guru yang hampir pensiun dan mengalami secara langsung relokasi paksa akibat pembangunan kilang minyak milik negara tahun 1995.
Pada 2024 di Jatiwangi, saya mengobrol dengan Kemuning di rumah relokasinya. Selain ia bercerita tentang ikan belanak kesukaan, yang mudah didapatkannya di estuari–pertemuan sungai dan laut–yang dekat dengan rumah lamanya, Kemuning juga fasih betul menyebutkan waktu ultimatum perusahaan migas milik negara, yang hadir demi memperingatkan tetangganya agar segera pergi dari desa.
“Ultimatum dari Exor dari awal September, 16 September 1995 desa harus kosong, harus meninggalkan desa,” ujar Kemuning.
Tanpa aba-aba, tak sedikit pun mengeluarkan kata-kata yang berhubungan dengan kehilangan, Kemuning merangkum sendiri kisah yang dialaminya, “Saya merasa kehilangan,” katanya. Lantas mengapa perasaan kehilangan bisa menjerat seseorang dengan begitu lama? Hingga Kemuning pun begitu fasih mengingatnya hingga tua?
***
Secuplik bagian dari tulisan tesis itu, kini justru mengingatkan saya pada bencana yang bertubi-tubi melanda negeri ini; banjir dan longsor sangat parah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang mulai menghantam pada akhir November 2025. Dan baru-baru ini, gempa besar dengan magnitudo 7.7 skala richter di Flores, yang bahkan pada 16 Agustus 2026 tercatat real-time hingga pukul 07.00 WIB oleh BMKG Sikka, masih terjadi gempa bumi susulan sebanyak 731 kali. Dua bencana besar yang sama-sama menghasilkan perasaan kehilangan yang sangat dalam bagi para penyintas bencana. Namun, apakah bencana besar ini akan serupa memberikan luka kehilangan yang panjang dan lama?
Hadirnya Ketidakpastian Pasca-Bencana Melanda
Berkali-kali saya membolak-balik buku untuk memahami jenis perasaan kehilangan seperti apa yang biasanya dialami oleh orang-orang yang kehilangan rumah dan sanak saudara karena penggusuran atau relokasi paksa. Meski saya belum menemukan referensi yang mirip dengan realitas tersebut, namun penjelasan yang cukup mendekati dituliskan oleh seorang antropolog bernama Frida Hastrup yang elaborasinya berangkat dari peristiwa bencana tsunami besar di Tamil Nadu, India tahun 2004 silam. Pada titik inilah, saya justru dapat mulai memahami bencana dari perspektif antropologi ketidakhadiran (anthropology of absences).
Hastrup (2010) memulai ceritanya dengan mengisahkan para penyintas tsunami yang mengajaknya berkeliling ke tempat-tempat yang sangat mereka kenal, meski lokasi-lokasi itu telah tersapu tsunami. Hastrup juga ditunjukkan berbagai barang-barang yang sebetulnya tak lagi berfungsi, namun masih disimpan para penyintas bencana di pengungsian. Meski tak lagi dapat dipulihkan, namun bagi mereka, barang itu berfungsi karena kehadirannya. Barang-barang masa lampau yang kemudian dibawa ke kehidupan mereka lebih lanjut. Barang-barang yang menurut Hastrup memantik “antisipasi” di tengah kehidupan penyintas tsunami yang kini menjadi tidak pasti.
Ketika bencana tsunami tiba-tiba datang menghancurkan rumah tersebut, maka tahapan-tahapan pembangunan rumah itu turut hancur juga.
Bagi warga Tharangambadi di Tamil Nadu, India, tsunami adalah bencana yang baru pertama kali mereka alami. Namun, pasca tsunami melanda, kehidupan mereka tidak lagi sama. Pasca-tsunami, mereka hidup di ambang ketidakpastian, masa lalu yang menjerat mereka di masa kini; kehilangan rumah, sanak saudara karena dihantam tsunami. Sekaligus, hidup di masa depan yang tak menentu, karena mereka meyakini tsunami di masa depan berpotensi besar akan kembali datang.
Itu mengapa, bagi penyintas bencana, hidup dalam ketidakpastian hampir menjadi kepastian yang harus dicecap. Sama persis yang dirasakan oleh para penyintas banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Mengutip salah satu laman berita BBC Indonesia (12/08/2026), warga bernama Rahmudin Amara, penyintas banjir dan longsor di Aceh Tengah rela untuk pergi ke tempat lebih tinggi seperti gunung saat hujan besar mendera, meski waktu telah menunjukkan pukul 1 malam sekalipun. Rahmudin Amara menyebutnya sebagai trauma, namun realitas ini juga menggambarkan rasa aman yang telah berubah wujud menjadi kerentanan dan ketidakpastian hidup pasca-bencana.
Menghafal betul tempat-tempat yang pernah dihantam tsunami oleh warga Tharangambadi, India, serta mengamati dengan seksama tanda-tanda kedatangan banjir seperti yang dilakukan oleh penyintas bencana longsor dan banjir di Aceh ketika hujan besar mendera, menandakan bahwa pasca bencana, kehidupan yang pasti bagi mereka hari ini telah absen. Terlebih, di bawah rezim pemerintahan yang telah gagal memberikan rasa aman, dengan terbukti tidak pernah menetapkan bencana ekologis di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai bencana nasional hingga saat ini.
Bagi Neil Smith, geografer, akademisi Marxis, sekaligus penulis There is no such a thing as a natural disaster (2006) memahami, bahwa pemerintah yang tidak memberikan rasa aman, lamban memberikan bantuan, dan bahkan berseloroh bahwa situasi bencana terkendali padahal yang terjadi sebaliknya, ia menyebut realitas tersebut sebagai cocooned ruling class comradery; penguasa yang hidup dalam kepompong solidaritas kemewahan dan kekuasaannya sendiri, terpisah dari masyarakatnya secara umum, dan mengamankan kelompoknya semata.
Patahnya Rencana-Rencana Masa Depan Akibat Bencana
Bencana seperti gempa bumi mulanya memang dianggap sebagai proses alam murni “semata”. Namun, situasi itu dapat berubah menjadi “bencana”—bukan lagi bencana alam, tergantung pada kalkulasi ekonomi, sosial, dan politik seperti tingkat kerentanan, kesiapan dan respons pemerintah, hingga proses pemulihannya. Sederhananya, ketika bencana melanda lokasi tertentu di mana terdapat sejarah manusia bermukim di dalamnya, pada titik itulah proses alam yang membahayakan tidak lagi dapat dikatakan “bencana alam”. Bencana atau bukan, kata Neil Smith, pada akhirnya tergantung pada lokasinya.
Retaknya rumah dapat berarti pula retaknya rencana pembangunan rumah.
Baru-baru ini, 15 Agustus 2026, gempa besar yang melanda Flores dan sekitarnya tengah terjadi. Kerusakan masif pada bangunan dan fasilitas publik berlangsung, korban jiwa berjatuhan, dan ribuan penyintas lainnya terpaksa mengungsi karena ratusan gempa susulan masih terjadi. Berbagai pemberitaan berseliweran menginfokan berton-ton bantuan telah mulai didistribusikan oleh pemerintah dengan segera ke NTT.
Kesigapan yang masih menjadi tanda tanya dan belum terpecahkan, karena lebih cepat dibandingkan bencana besar yang terjadi sebelumnya.
Meski demikian, bala bantuan yang diberitakan masih berupa angka. Tampaknya, angka tetap akan menjadi primadona untuk dilaporkan ke publik. Walaupun kembali pada kisah Hastrup, hal-hal yang terlewat didalami ketika para penyintas tsunami di Tharangambadi merasakan kehilangan rumah, sanak saudara, ataupun terpaksa sebagian besar bangunan rumah hancur, adalah di saat yang sama, mereka tengah kehilangan rencana masa depan, yang bahkan tak dapat dikalkulasikan dengan angka.
Pemangku terkait pasca-bencana terjadi sangat mungkin akan sibuk menghitung kerusakan, mendata jumlah rumah hancur dan roboh. Namun, bagi para penyintas bencana, kehilangan rumah dapat berarti pula kehilangan rencana masa depan. Mirip seperti sebagian besar rumah tangga di Indonesia, rumah di Tharangambadi dibangun dengan bertahap; dapat mula-mula dari pondasi rumah, tembok, kemudian atap. Ketika bencana tsunami tiba-tiba datang menghancurkan rumah tersebut, maka tahapan-tahapan pembangunan rumah itu turut hancur juga.
Begitu pun ketika orang tua kehilangan anak saat bencana melanda. Bukan sekadar fisik anak itu yang hilang. Namun, rencana membesarkan anak, rencana pendidikan anak, hendak disekolahkan di mana, dan berbagai rencana orang tua lainnya untuk anak tersebut turut lenyap. Tentu, hal ini persis seperti yang dialami oleh para penyintas bencana gempa bumi Flores. Tak jarang mereka membangun rumah secara bertahap. Runtuhnya rumah seketika, artinya roboh pula rencana pembangunan rumah tersebut selanjutnya. Retaknya rumah dapat berarti pula retaknya rencana pembangunan rumah.
Hal tersebut dialami oleh seorang asisten rumah tangga (ART) asal NTT–yang diceritakan oleh seorang pengguna media sosial Threads (pemberi kerjanya)—baru-baru ini yang terpaksa harus kehilangan rumah yang baru selesai dibangun satu bulan sebelum gempa melanda. ART tersebut bekerja merantau di Jakarta, yang salah satunya demi membangun rumah tersebut. Dan karena bencana, impian memiliki rumah di kampung halaman yang telah direncanakan bahkan mulai diwujudkan setahun terakhir dengan seketika lenyap.
Artinya, bagi para penyintas relokasi paksa maupun penyintas bencana, perasaan-perasaan kehilangan pada akhirnya, sama-sama dapat berlangsung sangat panjang dan lama. Karena membangun ulang rencana masa depan tidak cukup dengan waktu yang sebentar saja.




