W_LIST: Best Local Music of 2025 So Far
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Sebagai salah satu sutradara Hollywood yang tidak asing lagi karyanya di dunia layar lebar, Woody Allen tidak jarang menuai pujian maupun kritikan atas filmnya yang kental dengan ciri khasnya; di mana ia sendiri pun hampir selalu mengambil peran, yakni kisah-kisah dengan nuansa lighthearted dan komedi yang dibumbui dengan gaya quirky.
Sulit tidak menyebut nama Prabu Pramayougha saat membicarakan pop punk lokal. Melalui salah satu bandnya, Saturday Night Karaoke, ia menunjukkan bagaimana pop punk harusnya dimainkan: dengan penuh senang-senang. Beberapa waktu lalu, Saturday Night Karaoke memutuskan untuk menempatkan akhiran di perjalanannya, sebuah penutup yang manis setelah sejumlah album menawan, serta tur impian ke Jepang. Pada edisi Gimme 5 ini, kami mengundang Prabu untuk memilih lima lagu dari salah satu ikon pop punk, Descendents. Album "Milo Goes To College (MGTC)" emang rilisan yang paling bagus dari mereka menurut saya. Salah satu elemen di album ini adalah permainan bass dari Tony Lombardo (bassist pertama Descendents) yang super melodik (bahkan lebih nge- daripada gitarnya) dan hampir semua lagu di album ini diisi sama kelas wahid dari dia. Lagu ini contohnya. Semua personil seperti menghantam langsung karakter unik masing-masing instrumennya termasuk lirik kesal-tapi-sebenarnya-galau dari Bill Stevenson pas masih remaja di lagu ini sangat mematenkan posisi Descendents sebagai band punk yang (Cupu di bahasa Sunda) pada zamannya Di album "I Don`t Wanna Grow Up," mereka mulai main lebih nge-pop dibanding album MGTC plus keluarnya gitaris Frank Navetta - yang biasanya menulis dan main lagunya yang mulu - dari Descendents & masuknya Ray Cooper berpengaruh juga dalam musikalitas di album ini. Sebenarnya banyak kandidat lagu-lagu nge-pop di album ini, tapi "Christmas Vacation" benar-benar jadi pondasi awal lagu-lagu mid-tempo dengan progresi gitar yang agak miring tapi tetap nggak tuh! Album dengan materi edan dari mereka. Edan dalam artian beneran gila. Thrash, pop punk sampai experimental ada di satu album ini. Ada satu "lagu" isinya kentut semua. Di sini mereka mulai bikin lagu lebih humoris - yang sebenernya kebanyakan - dan malahan beberapa lagu yang makin nge-pop juga, seperti "Sour Grapes" atau "Get the Time," bahkan ada Beach Boys terselip satu buah. Tapi ya lagu ini sih yang paling berkesan. Gitar ke mana, bass ke mana, drum ke mana tapi tetap bagus! Album "ALL" kalo didengerin pas ALL (band setelah Descendents bubar di 1987, cuma ganti vokalis ) formasi awal pas Dave Smalley jadi vokalis rilis album "Allroy For Prez" malah terdengar jadi albumnya ALL. Masuknya Karl dengan Stephen banget ke musik Descendents yang sebelumnya agak sederhana, jadi tidak sederhana. gitar yang dan naik turun ke kunci mana mulai keliatan di album ini. Tapi ada 2 lagu yang berkesan buat saya, "Coolidge" dan "Pep Talk." Dua lagu itu masih ngasih kesan kalo Descendents masih band yang sama, yang masih ngepop. Cuma secara lirik & komposisi, "Coolidge" ini paling nempel. Kalo kamu pas sekolah ngerasa dijauhin karena jadi diri sendiri, (dan menurut orang-orang itu nggak banget) lagu ini buat kamu. Akhirnya Descendents masuk label juga di tahun 1996. Epitaph rilis album "Everything Sucks" yang sekaligus jadi momen reuni mereka setelah bubar sebelumnya. Materi di album ini mulai lebih "megah" secara komposisi juga lebih tenang dibanding "Enjoy" atau "ALL." Lagu "Sick-O-Me" ini malah bikin kangen lagu-lagu mereka di album-album sebelumnya. Cepat, nge-pop dan tentunya progresi yang agak : di album ini juga vokal Milo yang paling enak selama dia main di Descendents
Duto Hardono adalah salah satu seniman dan juga edukator berbasis di Bandung yang mengeksplorasi sound dan waktu dalam berkarya. Whiteboard Journal menemuinya di rumah sekaligus studio untuk membahas looping study, silence sebagai sound hingga eksperimentasi seni.
Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Blackhand Design dari Bandung yang memposisikan desain grafis sebagai bagian dari masyarakat.
Adhyatmika alias Mika adalah lokal yang telah menghasilkan beberapa film pendek, salah satunya adalah "Masih Belajar." Film ini menjadi salah satu dari enam pemenang kompetisi tahunan Democracy Video Challenge (DVC), di Amerika Serikat pada 2010. Terlepas dari kecintaannya terhadap film; baik membuat maupun menonton, musik menjadi hal kedua yang ia nikmati, terutama The Beatles. Cek 5 lagu The Beatles pilihannya pada episode Gimme 5 kali ini! Pada tahun 1966, generasi Bunga belumlah dimulai, dan generasi baru mencoba-coba marijuana. John Lennon dan Paul McCartney bertaruh untuk membuat lagu dengan komposisi sekompleks mungkin dengan seminim mungkin. Paul menulis Paperback Writer, John menulis lagu ini, Rain. Inovasi The Beatles dimulai dari era ini, eksperimentasi teknik perekaman, pengunaan efek hingga penggunakan video sebagai media promosi 20 tahun sebelum MTV lahir! Musisi britpop berutang budi pada lagu ini. Selipkan Rain di yang berisi "Live Forever," "High and Dry," atau "Bittersweet Symphony," Anda tidak akan menyangka Rain berumur 30 tahun lebih tua. Kegemaran Liam Gallagher menyanyikan lirik bisa jadi dimulai karena lagu ini. Dan, tolong, dengarkan suara bass-nya. Menggangap Paul Mccartney hanya seorang penulis lagu cengeng adalah sebuah penghinaan yang hakiki. Oh ya, Ringo memilih Rain sebagai permainan drum terbaiknya! Proto-punk, proto-grunge, sebelum proto-proto lainnya, The Beatles menaikan volume amplifier ke angka 11 dan menghasilkan bunyi distorsi yang lazim kita dengar di skena Seattle tahun 90-an, bahkan Dave Grohl sendiri pernah lagu ini. Band yang lebih medioker mungkin akan mencari ketenaran dengan model lagu seperti ini, tapi bagi The Beatles, Hey Bulldog hanyalah iseng di studio. John iseng memainkan riff di piano, Paul iseng mengguguk ketika sesi rekaman, dan George iseng mengotak-atik untuk menghasilkan distorsi gitar yang menjadi pondasi bagi banyak genre musik di kemudian hari. Mungkin itu sisi terbaik tentang lagu ini, dan mungkin juga tentang perjalanan The Beatles secara keseluruhan. Eksperimentasi. Untuk apa membuat sesuatu yang sudah pernah kita buat sebelumnya? The Beatles mulai beranjak tua, merefleksikan ketenaran dan mencari arti kehidupan. Mereka muak menjadi yang menyanyikan lagu-lagu cinta dan mulai menulis lirik dengan tema serius. John, khususnya, mulai gelisah dengan arti hidup. Melankolis. Pergulatan batin John tercermin di lagu “Nowhere Man” atau “In My Life,” di mana John mencoba menemukan kembali akar masa kecilnya di Liverpool, dan di Norwegian Wood, yang mungkin adalah lagu tentang perselingkuhan paling manis yang pernah diciptakan. Haruki Murakami menulis sebuah novel yang terinspirasi lagu ini dan menangkap esensi melankolia dengan sempurna. Norwegian Wood mengingatkan Anda pada gengaman tangan seorang wanita disuatu sudut kenangan yang mungkin tak akan pernah anda kunjungi lagi. Seperti rindu, John Lennon menuliskannya dengan sempurna, Sering terdengar di acara reuni orang tua sampai anak SMA yang baru belajar bermain gitar. yang membuat berdansa, lirik tentang menggoda wanita, keriaan masa muda, apa lagi yang Anda cari? Pattie Boyd pastilah seorang wanita yang cantik jelita. Dua gitaris terhebat sepanjang masa mencoba merebut hatinya dengan menulis dua lagu paling romantis dalam sejarah musik rock. Eric Clapton menulis "Wonderful Tonight' dan George Harrison menulis “Something.” George pertama kali bertemu Pattie di lokasi film “A Hard Days Night,” romansa terpercik di antara mereka, dan pada tahun 1966 mereka menikah. Tahun 1977 mereka memutuskan untuk bercerai, dan dua tahun kemudian, Eric Clapton, sahabat baik George, menikah dengan Pattie. George si pendiam adalah sebuah enigma. Entah apa yang dirasa ketika sahabatnya menikahi mantan istri yang juga dewi inspirasinya. Tapi setidaknya Frank Sinatra, yang sering mengira lagu ini ditulis oleh Lennon - McCartney, mempunyai definisi sempurna tentang lagu ini,
Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.