Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
di YouTube tanpa tujuan sering kali berakhir dengan satu video yang menyenangkan, dan ini yang terjadi pada saya saat menemukan Rude Ruth, kolaborasi antar penyanyi Margaret Glaspy dan gitaris Julian Lage. Diawali dengan mendengarkan lagu "Katonah", kombinasi antara suara Glaspy yang menawan, kelihaian permainan gitar Lage, dan melodi sekaligus lirik "Katonah" yang menyentuh membuat penemuan ini menjadi sebuah pada akhir pekan kemarin. Margaret Glaspy adalah asal California yang telah pindah ke New York City setelah sekolah di Berklee College of Music. Sebagai musisi solo, dia telah merilis beberapa EP, dan album pertamanya, Emotions and Math, mendapatkan berbagai ulasan yang baik dari media musik (Pitchfork memberi album ini 7.7 - lumayan). Julian Lage adalah seorang gitaris dan komposer yang beberapa tahun ini menjadi sosok favorit untuk banyak penggemar jazz. Seorang Lage di umur 13 telah tampil untuk Grammy Awards, dan sepanjang karirnya (sekarang dia berumur 29) telah bermain dengan musisi terkenal seperti Gary Burton dan Jim Hall. Suara Margaret Glaspy sangatlah menawan. Karakter suaranya yang dan kadang terdengar serak membuat nyanyiannya seakan-akan datang dari seseorang yang telah melewati pengalaman hidup panjang dan penuh dengan warna. Berkat suaranya yang khas dan lirik deskriptif yang ia buat, "Katonah" menjadi salah satu nomor yang mengharukan. Digabung dengan keahlian Julian Lage dalam memetik gitar telecaster-nya dan sedikit pengaruh dari Chet Atkins, Rude Ruth pun menjadi duo yang menyajikan musik kental dengan nuansa Amerika melalui lagu-lagu pop-folk mereka. Sayangnya, video kolaborasi mereka di-post dua tahun lalu, dan karena kedua musisi ini baru merilis album solo pada tahun ini, sepertinya tidak akan ada rilisan dari mereka dalam format Rude Ruth dalam waktu dekat. Setidaknya kita bisa menonton permainan mereka dalam video yang ada.
Tak salah menempatkan Collapse sebagai salah satu rilisan yang layak tunggu di tahun 2016. Resmi rilis pada awal Oktober 2016 ini, Ep Grief dari Collapse yang berisi 5 lagu keluar dan memuaskan espektasi. Percampuran indie-rock dan alternatifnya pas, dan tepat guna. Packaging edisi kasetnya yang juga menarik melengkapi rilisan ini menjadi salah satu rilisan penting di tahun 2016. -- Dapatkan Collapse - Grief melalui Royal Yawns atau WR Store.
Pengarsipan seringkali dianggap sepele oleh segelintir orang, padahal kegiatan ini dapat mempermudah kategorisasi suatu hal yang terkait dengan momen. Foto merupakan salah satu bentuk pengarsipan yang sebenarnya sudah pernah menjadi bagian dari rutinitas kita. Dengan kembali menggerakkan pengarsipan dan menikahkannya dengan perkembangan teknologi, Lokananta, dan studio musik milik pemerintah, meluncurkan perpustakaan digital untuk koleksi arsip musiknya melalui situs http://www.lokanantamusik.com/ pada Februari 2016 yang lalu. Mengingat Lokananta sebagai pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956, adalah hal wajar jika akhirnya mereka ingin mengukuhkan segala musik yang mereka rilis dalam bentuk digital. Awalnya berlokasi di Solo, Jawa Tengah, kini Lokananta dapat diakses dengan mudah melalui internet. Adapun koleksi piringan hitam dan kaset yang berjumlah lebih dari 40.000 nantinya akan diubah menjadi musik digital lengkap dengan album album hingga penjelasan album. Selain merilis perpustakaan digital, sebuah buku hasil riset tiga penulis yakni Dzulfikri Putra Malawi, Fakhri Zakaria, dan Syaura Qotrunadha; yang hanya dicetak sebanyak 500 eksemplar, juga akan melengkapi proyek sebagai bentuk nyata kerjasama Perum Percetakan Negara Republik Indonesia Cabang Surakarta “Lokananta” dengan Lokananta Project. Proyek yang didukung Djarum Foundation ini, diharapkan dapat mempermudah alur informasi mengenai kiprah Lokananta dalam industri musik Indonesia serta perannya sebagai produsen ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia, lagu-lagu pop lama termasuk di antaranya lagu-lagu keroncong, bahkan rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno kepada generasi hari ini hingga akan datang.
Label muda produktif asal Jakarta, Kolibri Records merilis video musik untuk rilisan terbarunya, Low Pink. Lagu yang dipilih adalah "Phases" yang juga merupakan judul EP dari Low Pink. Disutradarai oleh Ratta Bill (vokalis Bedchamber, sekaligus owner dari label ini), pendekatan yang diambil agak mengingatkan pada video Gizpel - Zittau yang mereka rilis sebelumnya. Menampilkan model yang juga sekaligus personil Low Pink ketika live, Phases bermain-main dengan white space, tone warna khas filter social media, dan gerakan minimal nan awkward, seolah berusaha menerjemahkan potongan lirik "I am my limitless efforts, my worst mistakes" dalam bentuk visual. Dan, bersamaan dengan dirilisnya video ini, Kolibri Records juga mengumumkan jadwal tur yang akan dijalani oleh Low Pink menuju enam kota di pulau Jawa (Bogor, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang) pada 15-22 Oktober 2016. -- Dapatkan EP Low Pink dan rilisan Kolibri lainnya di sini.
Sejujurnya, Bandempo adalah band yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah berulang kali mendengar lagunya, dan menemukan Bandempo menjadi nomor satu di 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 versi Jakarta Beat, paham itu tak kunjung datang, bahkan justru bingung yang menyerang. Secara musik jelas mereka bukan tipe yang mudah bersahabat dengan kuping, sound rekaman mereka seperti direkam langsung dari amplifier studio latihan di pinggiran kota yang dihasilkan dari alat murahan dan efek gitar seadanya. Belum lagi mengenai cara menyanyi Anggun Priambodo yang jauh dari kata merdu, bahkan band sekolahan level SMP pun memiliki vokalis yang lebih enak dengar dibanding Anggun yang bernyanyi seolah enggan beranjak menuju akil baligh, meskipun ia telah sunat tiga kali. Dosisi tinggi absurditas pada lirik mereka jelas tak membantu. Maka, ketika Elevation Records mengumumkan bahwa mereka akan merilis reissue album satu-satunya dari diskografi Bandempo yang dulu dirilis pada tahun 2000, bingung itu kembali melanda. Buat apa merilis ulang sebuah album yang tak jelas jeluntrungannya ketika sekarang ada banyak sekali band baru yang menawarkan musik yang lebih menarik di telinga? Ternyata, layaknya pertanyaan penting lainnya, jawaban atas kebingungan itu datang pada saat yang tak terduga. Datang tanpa ekspektasi pada pesta rilis album vinyl reissue yang berlangsung pada 2 Oktober 2016, di Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Bandempo membuktikan diri sebagai band yang memiliki kualitas tersendiri. Kalau boleh menganalogikan, Bandempo memiliki perspektif yang mirip dengan Sutadji Calzoum Bachri, sastrawan nyeleneh yang mengobrak-abrik makna dan struktur puisi yang umum ditemui. Dengan gayanya sendiri, Sutardji membebaskan kata-kata, di tangannya puisi lebih dari sekedar indahnya persajakan dan rima, puisi karya Sutardji adalah karya instalasi yang melihat lebih dalam dari sekedar makna yang ada pada setiap kata (simak puisi karya Sutardji disini). Puisi bikinannya, bebas dari kungkungan makna leksikal, hingga tak jarang terdengar mirip seperti mantra. Malam itu, Anggun melakukan hal yang sama. Alih-alih bernyanyi, ia nyaris terdengar seperti sedang merapalkan mantra. Bersama rekan setimnya, Anggun mengobrak-abrik kaidah musik yang ada di kepala semua penontonnya. Dalam hal ini, musik Bandempo pun membebaskan diri dari makna leksikal, bahwa lirik tak harus gamblang maknanya, dan tentang terminologi genre yang tak lebih dari omong kosong belaka. Karena, indie-rock jelas tak akan cukup merangkum kombinasi nyanyian "biri-biri terbanglah tinggi", diantara irama musik yang kadang berisik, kadang berdendang, dan seringkali kekanakan itu. Penampilan Bandempo pada acara tersebut - tanpa atau dengan kostum ala Afrika itu, seolah menjelaskan mana posisi yang mereka ambil (entah sengaja atau tidak) melalui musik yang mereka mainkan. Jika sekali lagi boleh membandingkan, kalau Efek Rumah Kaca mungkin adalah personifikasi karya Chairil Anwar dalam bentuk musik, maka Bandempo jelas sekali adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dua-duanya memiliki sumbangsih yang jelas pada kesusastraan lokal, dan dua-duanya dihargai sebagai sosok yang penting. Dan, dengan begitu, Elevation Records sekali lagi membuktikan tajamnya pengamatan mereka tentang musik baik yang harus diabadikan dalam bentuk rilisan. -- Vinyl Bandempo reissue bisa didapatkan di High Fidelity Jakarta, Omuniuum dan Kineruku Bandung atau via mail order ke elevation1977@gmail.com.
Karya kolaborasi adalah hal yang menarik. Diluar hasil akhirnya, interaksi antar 2 sosok, yang berusaha untuk saling mengisi satu sama lain selalu memiliki daya tarik tersendiri. Untuk sebuah projek musik berjudul "Seasons", Ben Wendel, musisi jazz asal Kanada, menciptakan 12 komposisi untuk berkolaborasi dengan 12 musisi berbeda. Ben Wendel adalah seorang komposer musik dan musisi (saksofon, piano, bassoon) juga merupakan personil grup Kneebody, telah mendapat nominasi Grammy Awards. Sebagai musisi solo, ia juga tampil sebagai sideman atau band-leader untuk musisi terkenal seperti Snoop Dogg, Ignacio Berroa, Daedelus, dan Taylor Eigsti. Sepanjang tahun 2015, setiap bulan Ben Wendel mengarang sebuah komposisi yang dibuat untuk musisi tertentu. Menurut websitenya, dia menulis lagu duet yang dibuat spesifik untuk musisi-musisinya dan instrumen yang mereka mainkan. Dari gitaris Julian Lage, pemain trompet Ambrose Akinmusire, sampai pemain piano Aaron Parks, setiap komposisi disesuaikan menurut permainan musisi dan karakter instrumen yang dimainkan. Duet-duet yang dibuat semua merupakan karya orisinil, namun mengangkat beberapa tokoh yang mempengaruhi Ben Wendel, seperti Tchaikovsky dan lagu "I'll Remember April" karya Gene de Paul. Di lagu-lagu yang mereka mainkan, terasa pengaruh musik klasik dan jazz, dan juga dari permainan musisinya. Yang paling menarik dari kolaborasi-kolaborasi ini tentunya adalah interaksi permainan antar musisi. Meski duetnya diciptakan oleh Ben Wendel, ada keberagaman yang menarik pada permainan instrumen kolaboratornya. Mulai dari permainan drum Eric Harland yang penuh dengan aksen, sampai permainan piano Shai Maestro yang mengayun. Karakter permainan musisi tamu memberi warna yang beragam pada projek "Seasons". Bisa dilihat dari video-videonya pula, permainan Ben Wendel sendiri juga terpengaruh oleh karakter dan interaksi musisi tamunya. Hal ini membuat "Seasons" seri yang menarik, karena meskipun komposisi lagunya datang dari satu kepala, kobinasi hasik permainan yang terjadi membuat setiap sesi momen jadi spesial. Lokasi-lokasi permainan kolaborasi juga menjadi nilai plus. Dari club jazz, ruangan kosong, sampai ke ruang tamu sebuah apartemen, suasana setiap sesi berbeda dan menambah atmosfir kepada kolaborasinya. Untuk membaca mengenai "Seasons" dan menonton semua videonya, klik disini.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.