Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Sebelum perang dunia kedua, warga desa Sazovice sudah mendambakan gedung gereja yang baru. Setelah melewati banyak skenario-skenario sejarah yang membuat membangun gereja baru tidak memungkinkan, akhirnya rencana impian ini kembali lagi ke dalam benak cucu-cucu para warga desa. Dengan bantuan studio arsitektur asal Brno, Atelier Stepan, rencana kuno itu berhasil direalisasikan dengan dibangunnya gereja St. Wenceslas. Atelier Stepan mendesain dan membangun gereja berbentuk silinder ini dengan inspirasi dari gedung-gedung romawi kuno yang biasa disebut rotunda. Arah yang diinginkan oleh studio tersebut ingin menghilangkan unsur materi di dalam bangunan, di mana bangunan terlihat ringan dan abstrak. Desainnya yang modern sangat kontras dengan tujuan gedungnya yang konservatif, tetapi bukan berarti tidak menarik untuk para jemaat beribadah di dalam. Jika gereja kuno pada umumnya mempunyai banyak ornamen dan ukiran indah yang bercerita tentang Yesus Kristus, gereja St. Wenceslas tampil putih polos di setiap sudut. Sang arsitek, Marek Jan Stepan, berpendapat bahwa manusia sudah mempunyai banyak informasi tentang cerita-cerita keagamaan, dan menurut dia gereja lebih baik dibuat agar jemaat bisa lebih mudah mencari dirinya sendiri dengan berefleksi. Dengan desain yang polos, jemaat tidak akan merasakan distraksi apa-apa dan akan lebih fokus beribadah.
Di era industrial ini yang penuh dengan pencemaran lingkungan, konsep arsitektur hijau menjadi hal yang paling diinginkan untuk kebanyakan orang. Tidak beda dengan Panyaden International School, sebuah sekolah yang berada di Chiang Mai, Thailand. Karena latar belakang sekolahnya yang mempunyai prinsip Buddha, sekolah ini memegang etos hijau dan mengajarkan murid-muidnya untuk mencintai alam. Setelah bekerja sama dengan Chiang Mai Life Architects and Construction, sekolah ini berhasil membuat gedung aula serbaguna yang indah dan ramah lingkungan dengan bahan utama bambu Penempatan bambu sengaja dibangun renggang tidak rapat agar murid-murid bisa lebih merasakan koneksi mereka dengan alam melewati angin yang berhembus ke dalam. Bentuk utama dari aula ini dibuat menyerupai bunga lotus yang merupakan simbol kesucian. Walaupun mempunyai bentuk yang terkesan rentan, keunikan dari segi arsitekturnya membuat gedung ini menjadi penarik perhatian utama di dalam sekolah itu. Selain hijau dan menarik, fungsionalitas gedung ini tetap diutamakan. Aula ini mampu menerima kapasitas sebanyak 300 murid, dan biasa digunakan untuk banyak acara sekolah. Bagian tengah aula adalah lapangan olahraga multi fungsi yang bisa digunakan untuk basket, futsal, dan badminton. Aula ini juga memiliki panggung yang biasa digunakan untuk pementasan drama, sebuah tempat penyimpanan alat-alat olahraga yang tertutup, serta balkon untuk para penonton yang ingin mendapatkan sudut pandang yang berbeda.
Band pegangan John Dwyer, Oh Sees, terkenal karena konsep band tersebut yang tidak pernah konsisten. Sebelum ini, band alternative rock ini dikenal dengan nama Thee Oh Sees, OCS, Orinoka Crash Suite dan Orange County Sound. Selain itu dalam segi suara juga tidak pernah menemukan titik fokus. Musik Oh Sees beragam dari psychedelic rock 60-an hingga post-punk 80-an, berevolusi bolak-balik selama 20 tahun berdiri. Memang sebenarnya di balik tidak adanya konsistensi dari band ini, terdapat unsur kreativitas dan adaptasi. Tetapi untuk menentukan apakah Oh Sees sebenarnya tidak konsisten atau malah inovatif tetap tergantung pada setiap opini pendengarnya. Apapun kebenarannya, sepertinya pada album terbarunya Oh Sees lebih mengarah ke jalan yang inovatif. Berjudul Orc, album ini menunjukan lagi-lagi sebuah petualangan sonik dari John Dwyer dan teman-teman. Dengan menggunakan dua , seorang , serta John Dwyer sendiri yang memegang gitar dan , Oh Sees seperti ingin menggapai nuansa-nuansa baru. Perjalanan mereka dibuka dengan “The Static God”, sebuah yang meledak di hadapan para pendengarnya dengan musiknya yang cepat dan agresif. Musik garage-punk yang garang bersama vokal Dwyer yang menakutkan bekerja sama dengan baik, tetapi chorus beserta -nya bisa dibilang bagian terbaik dari lagu ini, membawa musiknya melayang sejenak setiap kali chorus dinyanyikan. “Animated Violence” mungkin yang paling menarik didalam Orc, di mana Oh Sees membawakan musik berat yang terinspirasi dari heavy metal tahun 80-an. Dari vokal Dwyer yang dimirip-miripkan dengan stereotip vokalis glam-rock pada saat itu, serta yang diisi dengan teriakan-teriakan genit ala KISS. Outro ‘genit’ itu akan kemudian disambungkan dengan selanjutnya, sebuah berdurasi sekitar 8 menit yang epik berjudul “Keys to The Castle.” Setelah “Keys to The Castle”, Orc baru memulai menunjukan wajah barunya. Dengan “Cadaver Dog” dan “Paranoise”, Oh Sees mencoba untuk menggapai musik yang lebih santai dan istirahat dari musik biasa mereka. Musik yang dibawakan mulai memelan dan melemah, tetapi tetap membawa suasana rock yang kental. Contoh terbaiknya seperti di lagu “Drowning Beast”, di mana tempo yang cepat bagai serigala mereka tukar dengan riff gitar dan drum yang pelan dan berat bagai gajah. Perubahan memang selalu menyulut sebuah diskusi, dan untuk sebuah grup band perubahan mempunyai konsekuensi yang tidak sedikit. Tetapi Orc menunjukan bahwa sebuah perubahan tidak selalu berbahaya, memberikan hasil yang bisa dinikmati oleh penggemar lama dan juga yang baru. Kesimpulannya, John Dwyer dan kawan-kawan lagi-lagi berhasil membuktikan bahwa berubah bukanlah hal buruk, mau itu dalam skala besar seperti perubahan suara atau hal minor seperti berubah nama.
Kuartet musik eksperimental asal Jepang, Saicobab, akan segera merilis album debut mereka yang sudah lama dinanti-nantikan pada tanggal 20 Oktober. Saicobab membawa musik yang terinspirasi dari musik tradisional Jepang, tradisional India, kerohanian, dan numerologi kuno. Ditemukan pada tahun 2001 oleh pemain Sitar Yoshita Daikiti dan vokalis serta multi-instrumentalis asal Boredom dan OOIOO, Yoshimi Yokota, grup ini sekarang digabungi oleh Akita Goldman dan Motoyuki Hamamoto Album debut mereka akan diberi nama Sab Se Paruni Bab, yang berarti “bayi perempuan yang paling kuno” dalam Bahasa Hindi. Saicobab sendiri terdiri dari dua kata dari bahasa Jepang, Saico yang artinya “paling kuno” dan Bab yang artinya “bayi.” Menurut unit ini, koneksi antara kedua nama itu adalah refleksi dari hubungan antara musik tradisional India dan Jepang. Hal ini yang membuat Saicobab terinspirasi dengan musik tradisional Jepang dan India, di mana mereka berencana membuat sebuah karya dengan kedua unsur tradisional itu di dalam ranah modern yang kreatif. Album ini direncanakan akan dirilis dalam bentuk CD dan vinyl format 2 x LP dengan tambahan gratis serta eksklusif lagu “AWAWAW” oleh Cevdet Erek. Untuk beberapa pertama bisa juga mendapatkan vinyl berwarna yang terbatas. Sab Se Paruni Bab akan dirilis secara lewat Thrill Jockey, dan sudah bisa di di sini.
Bermakna bukan berarti harus berlama-lama. Mungkin itu satu cara untuk merangkum kesan pertama setelah menyaksikan film singkat karya Norman McLaren ini. Sebuah pengisahan nan kreatif akan bahaya dari ‘perang saudara’, McLaren memang berhasil untuk memotret horror dan kengerian dari ego manusia yang berapi-api, yang selalu haus akan kemenangan dengan cara yang komedik dan ringan. Semula mungkin tidak terduga, namun penampakan pertama yang menggambarkan dua pemuda bertampang lugu menikmati bacaan di depan rumah masing-masing tidak memberikan pertanda akan kekerasan yang mewarnai adegan-adegan akhir film hingga berakibat fatal. Tanpa kata, namun kaya akan ekspresi dan gerak yang sesuai. Tidak butuh kontemplasi terlalu lama untuk bisa menemukan intisari dari semuanya. Bahwasanya ego dan keserakahan yang tidak bisa dikendalikan memang bisa menyulut api bunuh diri. Dan permusuhan yang paling fatal adalah permusuhan dengan yang terdekat. Siapa sangka dua pemuda lugu yang sedang secara innocent menikmati momen bersama kawannya di pekarangan ternyata bisa memberikan pelajaran singkat namun tuntas akan ‘kanibalisasi’ akibat hati yang terlalu tinggi. Sutradara: Norman McLaren Sinopsis: Dua orang tetangga mulai berebut tanaman yang tumbuh di antara kedua rumah mereka, yang berakibat fatal.
Seniman Ai Weiwei sudah tidak asing dengan masalah-masalah perbatasan dan imigran. Dari projek-projek aktivismenya saat ia membela para imigran Suriah dengan membuat hiasan Lotus dari pelampung di Vienna, hingga pengalaman pribadi dia sendiri saat ditahan dan diawasi oleh pemerintah Cina. Sekarang, Weiwei berencana untuk mengangkat masalah imigrasi Amerika Serikat-Meksiko dan tembok yang sedang di bangun Donald Trump. Sang seniman merencanakan sebuah proyek yang megah, dan kali ini lokasinya adalah satu kota New York. Dalam proyek yang bernama “Good Fences Make Good Neighbours”, Ai Weiwei berencana akan membuat karya seni yang terinspirasi dari pagar perbatasan, kandang, serta jeruji penjara. Karya seni tersebut direncanakan dibangun di daerah-daerah pusat seperti Central Park, Washington Square Park dan monumen Unisphere dengan ukuran yang menarik perhatian. Selain itu, di sepanjang jalan akan dipasang juga karya seni 2D dan 3D yang ikut serta menyebar kesadaran masyarakat tentang masalah perbatasan tersebut. Salah satu karya seni yang ia rencanakan adalah sebuah seni ukir raksasa dengan inspirasi pagar perbatasan yang akan diletakkan di tengah-tengah monumen di Washington Square Park. Pameran seni dengan skala sebesar ini sayangnya membutuhkan pendanaan yang banyak dan juga stabil. Maka dari itu Ai Weiwei bekerja sama dengan Public Art Fund dalam membuat sebuah akun penggalangan dana di Kickstarter.com. Dengan target 80.000 USD, kedua pihak berharap target ini sudah dicapai sebelum tanggal 21 September ini. Jika tidak, Weiwei dan Public Art Fund tidak akan melanjutkan proyek ini.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.