Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Tahun ini adalah kali kedua upaya sebuah organisasi internasional asal Inggris, British Council dan Indonesia dalam mengadakan sebuah kegiatan berisikan kolaborasi antarbudaya dan beragam peluang pendidikan lewat acara yang diberi nama UK/ID Festival 2017. Festival ini merupakan bagian dari program tiga tahun “U.K/Indonesia 2016-2018” yang dikeluarkan pada kunjungan Presiden Jokowi ke Inggris pada April 2016. Kali ini dengan mengusung tema “Come Together,” UK/ID Festival 2017 akan melibatkan 32 seniman dan organisasi seni asal Indonesia serta 22 seniman asal Inggris. Latar belakang tema acara tahun ini adalah untuk merayakan keberagaman manusia yang bisa ditandai dengan adanya aneka ragam kebudayaan. Selain itu, “Come Together” dimaksudkan untuk memperlihatkan seperti apa esensi dari berbicara dan mendengarkan seseorang yang berasal dari berbagai dan nantinya juga akan turut melibatkan potensi-potensi kreatif dari teman-teman disabilitas. Pada festival sebelumnya, terdapat lebih dari 20 seniman asal Inggris dan Indonesia yang telah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu bulan di negara masing-masing untuk saling bertukar ide, mempelajari satu sama lain dan berkolaborasi. Nantinya, hasil dari proyek ini pun akan ditampilkan pada UK/ID Festival 2017 untuk menunjukkan seberapa luas dan banyaknya cara dan peluang bagi Inggris dan Indonesia untuk bekerja sama. Tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan berbagai macam program yang merupakan hasil peleburan antara kebudayaan Indonesia dan Inggris, lewat rangkaian acara seperti pertunjukan musik, pemutaran film, seni pertunjukan, pameran visual dan instalasi, lokakarya hingga diskusi panel. Festival ini diharapkan agar bisa menjadi tempat berkumpul untuk para sosok kreatif untuk bisa bertukar gagasan mau pun ide kreatif dan menciptakan berbagai peluang dan kemungkinan baru yang dapat mendukung hubungan antarbudaya. - 17 - 22 Oktober 2017 The Establishment SCBD Jakarta bit.ly/UKID2017
Rachel Whiteread dan pahatan-pahatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam budaya Inggris. Whiteread awalnya hanya seorang seniman yang terganggu saat sedang melakukan rutinitas pagi biasa, berubah total saat ia memutuskan untuk membuat pahatan mahakarya “House,” sebuah cor beton dalam rumah asli dengan tiga lantai. Karya tersebut menghebohkan seluruh Inggris pada tahun 1993 dan menyulut kontroversi. Selama 11 minggu “House” berdiri hingga akhirnya disetujui oleh dewan setempan bahwa karya ini harus dirobohkan, di mana di hari yang mengerikan itu Whitread sedang menerima Turner Prize. Cerita pendek itu adalah alasan kenapa Whiteread sangat dijunjung tinggi di skena seni kontemporer Inggris. Merayakan 25 tahun karya sang seniman, sebuah pameran akan diadakan di galeri Tate Britain yang menampilkan karya-karya legendarisnya serta yang belum pernah ditunjukkan. Beberapa dari kreasinya yang langsung menarik perhatian adalah sebuah cor beton berbentuk kandang ayam dan tangga. dalam pameran ini, Whiteread's Untitled (One Hundred Spaces), adalah sebuah instalasi yang sebenarnya sudah dibuat oleh sang seniman dari tahun 1995. Karya ini terdiri dari 100 cor resin berwarna bagian bawah sebuah kursi yang di bariskan dengan rapih di bagian selatan galeri.
Kareem Soenharjo adalah salah satu nama panas di skena musik hip hop Selain dikenal dengan banyak alias, ia juda salah satu penggerak utama kolektif hip hop Cul De Sac yang sedang ramai di skena lokal. Eksistensi Kareem selama ini memang terbukti lewat talentanya dalam memproduksi lagu dengan nama Yosugi yang sudah menarik perhatian banyak. Tetapi kali ini persona -nya - BAP. - baru saja menunjukkan giginya dengan merilis EP perdana yang berjudul “Belladonna.” BAP. seperti benar-benar meluapkan semua perasaan dan pikiran yang dipendam selama ini dalam “Belladonna.” Emosional dan intim, EP ini membuka sedikit celah ke dalam hidup seorang Kareem Soenharjo dan mempersilahkan siapapun untuk mengintip. Selain liriknya yang kuat, produksi musik yang baik juga memberikan kesegaran tersendiri. Ia terdengar lebih berjelajah di album ini lewat eksplorasi unsur-unsur trap, boom bap, jazz, funk, dan eksperimental. Trek yang paling bersinar dari album ini adalah “Heed,” dengan ala musik soul 70-an dan lirik yang halus tetapi juga tajam. BAP. mengawali lagu ini dengan paksaan untuk menyimak dirinya, secara instan menyadarkan pendengar dari alunan yang hipnotis. Seperti pada trek pembuka berjudul “Belladonna,” penyampaian dan BAP. yang mulus mengingatkan kepada Earl Sweatshirt dan Tyler, The Creator. Nadanya yang nestapa dibalut dengan dentuman hip hop inovatif terdengar segar dan tentu berhasil memberi kesan yang baik melalui EP perdananya. Namun, walau tidak sempurna, “Belladonna” bisa dihargai sebagai hal yang lebih dari sekadar EP perdana seorang Album ini merupakan curhatan terdalam seorang pemuda kepada hal yang paling dia pedulikan, yaitu musik. “Belladonna” sudah bisa di dengarkan secara online di Spotify dan Soundcloud, serta bisa dibeli di halaman Bandcamp BAP.
Setiap hari bisa dibilang semakin banyak musisi dengan talenta yang berpotensial muncul ke permukaan, dan itu semua terdukung oleh betapa mudahnya mendapatkan informasipada saat ini. Tetapi kenyataannya, berhasil muncul di permukaan masih awal dari perjalanan para Lalu apa yang dibutuhkan untuk menjamin kesuksesan karir mereka? “Archipelago Festival” pun hadir untuk berusaha menjawab pertanyaan itu. Berlangsung selama dua hari, pada tanggal 14-15 Oktober 2017 di Soehanna Hall, festival ini adalah sebuah dan festival yang mempunyai tujuan mulia sebagai wadah akselerasi musik lokal, juga ruang memperkenalkan musik-musik baru yang patut diberikan perhatian lebih. Acara ini digagas oleh dua kolektif asal Indonesia, Studiorama dan Sounds From The Corner (SFTC), yang akan membawa 15 topik pembahasan seputar infrastruktur musik di Indonesia. Pada tahun pertamanya, “Archipelago Festival” menawarkan topik bahasan yang mengulas sisi-sisi industri yang jarang diperbincangkan, mulai dari merchandise, fans, musik, hingga label rekaman. Festival ini juga menawarkan tiga panel istimewa, yakni Band & Brands, Indie Pioneers, dan Indonesian Pop Music. Pembicara yang hadir juga tidak main-main, dengan Guruh Soekarno Putra, Yockie Suryo Prayogo, Arian13, Andien Dipha Barus, dan puluhan lainnya. Assosiate Editor kami, Muhammad Hilmi pun ikut mengambil peran dalam salah satu panel diskusi yang membahas 3 venue musik dari beragam level di Jakarta. Selain itu akan ada juga penampilan dari artis-artis baru terbaik dari dalam dan luar negeri, seperti rapper grime asal Inggris Afrikan Boy, produser elektronik muda Chloe Martini dari Polandia, unit hip hop lokal terpanas, Onar, dan band psychedelic kebanggaan Negeri Jiran, Ramayan. Lewat acara ini, Studiorama dan SFTC lagi-lagi menunjukan bahwa mereka serius dalam mendukung artis-artis baru ranah lokal yang bertalenta, dan festival ini bisa dibilang usaha paling ambisius bagi kedua kolektif. Tapi tentu saja siapa yang mau kehilangan kesempatan untuk belajar langsung dari Sukarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo? Kita hanya bisa berharap bahwa “Archipelago Festival” akan membawa pengaruh yang besar dalam lingkup musik Indonesia, serta semakin mendorong kemunculan bakat-bakat yang masih mencari pijakannya dalam industri musik lokal. Belum terbayang akan seberapa kaya obrolan serta perspektif yang akan ditampilkan di festival ini? Berikut adalah video yang dibuat oleh SFTC bersama Guruh Soekarno Putra dan Yockie Suryo Prayogo. - 14-15 Oktober 2017 Soehanna Hall The Energy Building SCBD, Lot 11A Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
Video teranyar Radiohead, “Lift” dari album OKNOTOK - edisi 20 tahun OK Computer - memperlihatkan sang vokalis Thom Yorke terjebak dalam elevator menuju antah berantah, dengan kantung plastik di kedua tangannya, dan orang-orang berperilaku aneh yang masuk silih berganti. Disutradarai oleh Oscar Hudson, video ini menyuguhkan visual yang lebih sederhana dari video-video Radiohead sebelumnya, tapi tetap memiliki plot twist seperti video-video klasiknya. Menarik, karena adegan di video ini diadaptasi secara terang-terangan dari lirik lagunya: Pada awal tahun, gitaris Radiohead Ed O’Brien mengungkapkan alasan “Lift” tidak dimuat di OK Computer. Ia menyatakan pada BBC 6 Music, jika lagu tersebut dimuat di album, Radiohead akan berada di jalur yang berbeda pada waktu itu, dan memungkinkan mereka untuk menjual lebih banyak album. OK Computer tidak pula bisa menyerupai Jagged Little Pill, album Alanis Morissette di tahun 1995; Banyak tekanan yang dialami Radiohead ketika “Lift” masuk rekaman.
Pernahkah sekali berpikir tentang sejarah sebuah tomat yang terjual di toko swayalan terdekat? Ilha das Flores, atau “Isle of Flowers” dalam inggris, adalah sebuah film pendek yang menceritakan tentang hal itu. Bagaimana perjalanan sebuah tomat dari proses pemetikan hingga tujuan terakhirnya, dan anehnya film ini bukan untuk yang mudah tersinggung atau yang berpikiran pendek. Berbentuk dokumenter pendek, film ini menjelaskan ceritanya dengan dipimpin seorang narator bernada mati yang bisa dibilang ekuivalen dari anak kecil yang baru saja mengenal Wikipedia. Jika di kronologiskan, menonton film ini pada awalnya akan membawa tawa karena lelucon-leluconnya yang sedikit berani, lalu dilanjutkan dengan rasa kesal, lalu marah karena gambar-gambar yang menyinggung, tetapi diakhiri dengan rasa empati yang dalam. Perasaan terakhir akan dirasakan penonton saat mengetahui apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Jorge Furtado, yaitu tentang kenyataan strata sosial dan cara manusia memperlakukan sesama manusia. Sebuah kisah yang sebenarnya ironis dan menyayat hati namun dibalut dengan keacakan dan humor. Yang membuat pengungakapan terakhir ini lebih menggagetkan adalah bagaimana narator menyebalkan tadi akan membuat penonton linglung dengan memutar-mutar informasi yang diberikan. Walaupun aneh, bermain dengan pikiran dan emosi telah membuat penonton terus-menerus melekatkan mata mereka dalam pencarian arti yang terkandung di dalam film yang sangat serampangan ini, dan saat penonton akhirnya tahu mereka tidak akan kecewa. Sutradara: Jorge Furtado Sinopsis: Seorang narator yang senang melenceng menceritakan kisah sejarah tomat dengan pesan moral yang dalam.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.