Matematika
Lagu-lagu band pilihan dengan nuansa math dan prog.
Showing 764 results for words by:
Lagu-lagu band pilihan dengan nuansa math dan prog.
Get to know more about dangdut.
Something to be excited about if you live in the Jakarta area, Smart Dialogue returns this 20th at Dia.Lo.Gue! Smart Dialogue is a creative market hosted by Dia.Lo.Gue where you can find all sorts of one of a kind items, many of them handcrafted by the artists themselves. Each Smart Dialogue is paired up with an exhibition, and this time it will be a Graphic Design-themed show. Enjoy the work of 68 Indonesian graphic design companies and studios in the exhibition, and enjoy the creative market at Smart Dialogue #10: “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival! -- Smart Dialogue #10: “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival PASAR SENI & DESAIN 30 creative products, such as: stationary, product design, arts, fashion, jewelry, food and beverages and more 20, 21 & 22 may 2016 EXHIBITION 68 Indonesia Graphic Design Company & Studio 20 may - 12 june 2016 DESIGN TALK 28 may, 4 & 11 june 2016 • UnKnown Asia Economic opportunities in the field of graphic design into to global market Sabtu, 28 Mei 2016 at 3 - 6 pm Presenter & Reviewer: Yoshihiro Taniguchi (FM802 http://funky802.com/ / digmeout https://www.digmeout.net/) Hiroaki Shono (ASIAN CREATIVE NETWORK http://acn.link/ / ubies http://ubies.net/). VENUE dia.lo.gue jl kemang selatan 99a jakarta 12730 Nowadays, graphic design effectively craft visual messages out of creative ideas that blends well into the everyday life. Graphic design not only produces visually pleasing products, but is also persuasive functionally, meanwhile its results are often underestimated. Why don’t we pause, review and celebrate graphic design’s processes and creative works? Through smArt dialogue “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival, a collaboration of Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), Dia.Lo.Gue, ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) and DGI (Desain Grafis Indonesia), we invite public to celebrate and enjoy graphic design in any kind of forms. Presenting a curated exhibition of works by Indonesian’s graphic designers, an art market or ‘pasar seni’ showcasing products made by Indonesian graphic designers, live performances, talkshows, and more! supported by Artmax Magazine, Grafis Masa Kini, Info DKV, Jakartabeat, JJK, HangOut Indonesia, Home and Décor Indonesia Magazine, InDesign Indonesia Magazine, Kopi Keliling, Kreavi, Livingetc Indonesia Magazine, Manual, Masterpiece Magazine, NYLON Indonesia Magazine, Qubicle, Smooth FM, SUB Cult, Virgin Radio Jakarta, Whiteboard Journal
Just hit the play button n enjoy.
Ini bukan pertama kali Tame Impala, band asal Australia yang mengusung genre psychedelic bermain di Jakarta. Lima tahun yang lalu, Kevin Parker dan kawan-kawan telah menyapa penggemar di Indonesia. Jum’at kemarin, 29 April 2016, cuaca yang sedikit pengap tak mengurungkan niat para pecinta musik yang datang dengan gaya hippie untuk berbondong-bondong ke Parkir Selatan Senayan dan menyaksikan Tame Impala yang pertama atau mungkin kedua kalinya. Tame Impala yang membuka tur dunia “Currents” sejak awal tahun ini, memasukkan Jakarta sebagai kota terakhir di Asia dimana tak hanya menghidupkan suasana konser malam itu, tapi juga semangat yang terpancar dari panggung. Konser yang dibuka oleh Barasuara sekitar jam 19:00 dengan enerjik mengangkat atmosfer di tempat yang tadinya masih lowong menjadi penuh ke depan panggung, setelah Iga cs menghantarkan lagu-lagu mereka. Tak lama setelah itu, sekitar jam 20:15, orang-orang dengan jas putih layaknya peneliti sibuk mempersiapkan instrumen untuk Tame Impala hingga layar di panggung menampilkan visual magnetik berupa lingkaran hijau yang diiringi dengan musik mendebarkan, Kevin muncul dengan baju bergaris-garis menyapa sekitar 5000 penonton yang sedari tadi tak sabar menonton mereka. Kejutan bermunculan tanpa menunggu hingga klimaks acara, dimana pada lagu berikutnya, confetti berterbangan ke arah penonton yang terkejut dengan aksi yang disiapkan oleh kiosPLAY selaku promotor. Set list berisi 17 lagu yang disiapkan memang fluktuatif, namun tak jarang penonton sibuk menikmati suasana dengan memejamkan mata, bahkan memakai kacamata 3D untuk mendapatkan visualisasi maksimal, apalagi di lagu “Mind Mischief” yang dimainkan setelah “Let It Happen” dari album “Currents.” Sekitar 90 menit Kevin mempersembahkan penampilan memukau dan falsetto tanpa cela, hingga lagu “Apocalypse Dreams” yang didapuk menjadi penutup membuat penonton berteriak “Encore!” Kevin pun kembali muncul dengan lagu meriah bermandikan confetti, “Feels Like We Only Go Backwards.” Sebelum Kevin pamit, ia terus mengatakan bahwa dirinya berkeringat “in a good way!,” katanya. “NPSOM” kali ini benar-benar menjadi lagu terakhir dari Tame Impala dan penonton bubar dengan perasaan puas namun ketagihan karena kombinasi visual dan sound memikat menutup Jum’at malam mereka dengan sempurna.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan film dari deretan film yang akan diputar di festival Europe on Screen 2016. Dikenal sebagai festival tahunan yang memutarkan beragam jenis film di beberapa kota besar di Indonesia, tahun ini Europe on Screen tak hanya menghadirkan film-film box office tapi juga arthouse yang menarik untuk disimak.