21.10.16

Menghirup Hawa Wangi Bin Idris

Entah darimana, selalu ada kedalaman tersendiri dari karya ciptaan Haikal Azizi. Di Sigmun, permainan gitar dan lengking suaranya mengangkat level unit ini dari Bandung, menjadi salah satu band penting di scene lokal, jika bukan internasional. Begitu pula ketika ia meninggalkan pedal distorsi dan menukarnya dengan psikedelia pada proyek musik solonya. Dengan moniker Bin Idris, manuver Haikal sering tak terkira, ia bisa tiba-tiba bertempur di tengah medan perang pada "Mahabarata", namun ia juga bisa merayakan melankolia seperti yang ia nyanyikan di "Weird People". Ketika label Orange Cliff mengumumkan bahwa Bin Idris akan segera mengeluarkan album penuh, ini jelas merupakan kabar gembira. Dan, single pertama yang dipamerkan memiliki segalanya untuk membuktikan bahwa ini akan menjadi salah satu album yang layak untuk diantisipasi. Berjudul "Dalam Wangi", Haikal Azizi kali ini memainkan gitar dengan jauh lebih sederhana dari apa yang ia biasa lakukan, dan memutuskan untuk bermain-main dengan harmonisasi vokal yang meruang untuk menciptakan sebuah lagu sederhana yang mengingatkan pada lagu-lagu rohani era lama - sebuah tema yang juga, entah darimana, selalu ada dari karya ciptaan Haikal Azizi. Ikuti sosial media Orange Cliff untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai rilisan ini.

21.10.16

Seeing Words

Tahun 2016 adalah tahun yang membanggakan bagi Indonesia, dimana budaya bangsa mendapat apresiasi dari khalayak internasional. Salah satunya melalui Frankfurt Book Fair yang menjadikan Indonesia sebagai Guest of Honor, dimana sastra dan literatur lokal diapresiasi dan mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkannya pada book fair terbesar di dunia ini. Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) turut menjadi bagian usaha membawa nama bangsa pada publik dunia di acara ini dengan mempersembahkan "Seeing Words", sebuah eksibisi yang mengeksplorasi cara pandang terhadap buku dalam perspektif desain. Dengan treatment visual yang baru, Adam Mulyadi (Egghead Branding), Zinnia Nizar (Ampersand studio), Adityayoga (Inlander Design Buro), Ismiaji Cahyono & Citra Lestari (Sun Visual), Andi Rahmat (Nusae Studio), Andrew Budiman (Butawarna); Cecil Mariani, Eric Wijaya (ThinkingRoom), Fergie Tan & Yusuf Asikin (Brownfox studio), Gumpita Rahayu (Formika Studio), Jefferson & Kristin Monica (Feat Studio) memikirkan cara baru untuk menciptakan bahasa visual yang lebih universal untuk menikmati kajian yang ada di dalam buku. -- “Last year we introduce 17.000 islands of imagination to showcase Indonesia’s creative imagination as guest of honor, and the results is beyond our imagination…This year we are fortunate to celebrate and showcase one out of the 17.000 imaginations, the first collective graphic design exhibition from ADGI at International level”. – Quoted Emir Hakim, Exhibition Director & Business Development Director of ADGI. Seeing Words examines the importance of this visual-textual relationship that grew in importance as literacy grew within the publishing realm. As much as image and word were linked, both part are equally important as forms of communication. Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism. Seeing Words is a visual interpretation of selected Indonesian Authors that considers highly individual’s manifestations of language, dialogue, and words in contemporary visual artworks produced by members of The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI). Throughout the exhibition words is denied its interpretive, explicatory, or narrative function. Instead the works in the exhibition embrace language's more permeable state: its elasticity, its penchant for questions, subtexts and double meanings. Exploring language's limits and limitations the works in Seeing Words are often highly emotive; as visually translated from the literary works, they embrace questions of politics, sexuality, identity, race, and idealism. The exhibition of Seeing Words in Frankfurt Book Fair 2016 is collaboration between The Indonesian Graphic Designers Association (ADGI) and The Indonesian National Book Committee supported by Indonesia Ministry of Education & Culture alongside with BEKRAF (The Indonesian Agency for Creative Economy). Seeing Words opens today on the 19th of October 2016 at Indonesia National Stand Hall 4.0, at Frankfurt Book Fair, Frankfurt, Germany. _ SEEING WORDS Exhibition Director Emir Hakim Design Curator Zinnia Nizar Exhibition Designer Max Suriaganda Dede Chaniago Promotion Imaduddin Muhammad ADGI – The Indonesian Graphic Designer Association

19.10.16

Mengabadikan Zaman bersama Garna Raditya

Semarang sering luput dari radar youth culture yang terjadi di seputaran Indonesia. Padahal, di dalamnya juga terjadi pergolakan dan semangat yang sama dari anak-anak mudanya. Garna Raditya adalah salah satu sosok penting yang menghidupkan scene Semarang melalui aktivitasnya sebagai gitaris di dua band legendaris Semarang, AK//47 dan OK Karaoke. Whiteboard Journal berbicara dengan Garna yang kini tinggal di Amerika mengenai albumnya, serta pentingnya perkembangan literasi.

18.10.16

Out Now: Collapse – Grief (EP)

Tak salah menempatkan Collapse sebagai salah satu rilisan yang layak tunggu di tahun 2016. Resmi rilis pada awal Oktober 2016 ini, Ep Grief dari Collapse yang berisi 5 lagu keluar dan memuaskan espektasi. Percampuran indie-rock dan alternatifnya pas, dan tepat guna. Packaging edisi kasetnya yang juga menarik melengkapi rilisan ini menjadi salah satu rilisan penting di tahun 2016. -- Dapatkan Collapse - Grief melalui Royal Yawns atau WR Store.

14.10.16

Low Pink – Phases (Official Video)

Label muda produktif asal Jakarta, Kolibri Records merilis video musik untuk rilisan terbarunya, Low Pink. Lagu yang dipilih adalah "Phases" yang juga merupakan judul EP dari Low Pink. Disutradarai oleh Ratta Bill (vokalis Bedchamber, sekaligus owner dari label ini), pendekatan yang diambil agak mengingatkan pada video Gizpel - Zittau yang mereka rilis sebelumnya. Menampilkan model yang juga sekaligus personil Low Pink ketika live, Phases bermain-main dengan white space, tone warna khas filter social media, dan gerakan minimal nan awkward, seolah berusaha menerjemahkan potongan lirik "I am my limitless efforts, my worst mistakes" dalam bentuk visual. Dan, bersamaan dengan dirilisnya video ini, Kolibri Records juga mengumumkan jadwal tur yang akan dijalani oleh Low Pink menuju enam kota di pulau Jawa (Bogor, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang) pada 15-22 Oktober 2016. -- Dapatkan EP Low Pink dan rilisan Kolibri lainnya di sini.

13.10.16

Bandempo dan Dekonstruksi ala Sutardji Calzoum Bachri

Sejujurnya, Bandempo adalah band yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah berulang kali mendengar lagunya, dan menemukan Bandempo menjadi nomor satu di 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 versi Jakarta Beat, paham itu tak kunjung datang, bahkan justru bingung yang menyerang. Secara musik jelas mereka bukan tipe yang mudah bersahabat dengan kuping, sound rekaman mereka seperti direkam langsung dari amplifier studio latihan di pinggiran kota yang dihasilkan dari alat murahan dan efek gitar seadanya. Belum lagi mengenai cara menyanyi Anggun Priambodo yang jauh dari kata merdu, bahkan band sekolahan level SMP pun memiliki vokalis yang lebih enak dengar dibanding Anggun yang bernyanyi seolah enggan beranjak menuju akil baligh, meskipun ia telah sunat tiga kali. Dosisi tinggi absurditas pada lirik mereka jelas tak membantu. Maka, ketika Elevation Records mengumumkan bahwa mereka akan merilis reissue album satu-satunya dari diskografi Bandempo yang dulu dirilis pada tahun 2000, bingung itu kembali melanda. Buat apa merilis ulang sebuah album yang tak jelas jeluntrungannya ketika sekarang ada banyak sekali band baru yang menawarkan musik yang lebih menarik di telinga? Ternyata, layaknya pertanyaan penting lainnya, jawaban atas kebingungan itu datang pada saat yang tak terduga. Datang tanpa ekspektasi pada pesta rilis album vinyl reissue yang berlangsung pada 2 Oktober 2016, di Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Bandempo membuktikan diri sebagai band yang memiliki kualitas tersendiri. Kalau boleh menganalogikan, Bandempo memiliki perspektif yang mirip dengan Sutadji Calzoum Bachri, sastrawan nyeleneh yang mengobrak-abrik makna dan struktur puisi yang umum ditemui. Dengan gayanya sendiri, Sutardji membebaskan kata-kata, di tangannya puisi lebih dari sekedar indahnya persajakan dan rima, puisi karya Sutardji adalah karya instalasi yang melihat lebih dalam dari sekedar makna yang ada pada setiap kata (simak puisi karya Sutardji disini). Puisi bikinannya, bebas dari kungkungan makna leksikal, hingga tak jarang terdengar mirip seperti mantra. Malam itu, Anggun melakukan hal yang sama. Alih-alih bernyanyi, ia nyaris terdengar seperti sedang merapalkan mantra. Bersama rekan setimnya, Anggun mengobrak-abrik kaidah musik yang ada di kepala semua penontonnya. Dalam hal ini, musik Bandempo pun membebaskan diri dari makna leksikal, bahwa lirik tak harus gamblang maknanya, dan tentang terminologi genre yang tak lebih dari omong kosong belaka. Karena, indie-rock jelas tak akan cukup merangkum kombinasi nyanyian "biri-biri terbanglah tinggi", diantara irama musik yang kadang berisik, kadang berdendang, dan seringkali kekanakan itu. Penampilan Bandempo pada acara tersebut - tanpa atau dengan kostum ala Afrika itu, seolah menjelaskan mana posisi yang mereka ambil (entah sengaja atau tidak) melalui musik yang mereka mainkan. Jika sekali lagi boleh membandingkan, kalau Efek Rumah Kaca mungkin adalah personifikasi karya Chairil Anwar dalam bentuk musik, maka Bandempo jelas sekali adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dua-duanya memiliki sumbangsih yang jelas pada kesusastraan lokal, dan dua-duanya dihargai sebagai sosok yang penting. Dan, dengan begitu, Elevation Records sekali lagi membuktikan tajamnya pengamatan mereka tentang musik baik yang harus diabadikan dalam bentuk rilisan. -- Vinyl Bandempo reissue bisa didapatkan di High Fidelity Jakarta, Omuniuum dan Kineruku Bandung atau via mail order ke elevation1977@gmail.com.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.