
Kau lahir tahun 2000. Tahun ini usiamu seperempat abad, dan kau menyaksikan hidup menjadi layu berguguran.
Dalam submisi Open Column ini, Rendy Manggalaputra menempatkan pembaca di barisan terdepan pengalaman warga yang digentayangi bayang-bayang Orde Baru, terlebih di mana hantunya terus bermunculan di tiap celah negara.
Words by Whiteboard Journal
Tabunganmu masih jauh dari saldo seratus juta. Membeli rumah adalah muskil dan menikah adalah angan yang berat. Penghasilanmu saja sudah habis untuk mencicil lapar. Sedang pikiranmu masih sibuk menyesap sisa-sisa kebebasan ideal yang menundamu pulang.
Gelar sarjana yang susah payah kau rengkuh ternyata tidak otomatis memudahkanmu di pasar kerja. Kau terbilang beruntung masih pindah berkala di beberapa proyek kontrak. Demi menambal kebutuhan, mau tidak mau, kau tabrak lembur dengan bekerja serabutan.
Rupanya keluargamu belum puas. Ayahmu bahkan mengutuk minatmu pada politik karena kebenciannya secara personal. Prinsip hidup yang jauh dari tabiat culas membuat puluhan tahun kariernya relatif stagnan.
Ibumu mati-matian membujukmu untuk mendaftar beasiswa dan melanjutkan sekolah di kampus negeri mana saja. Sama halnya dengan wasiat Kakekmu, dia berharap agar kau mengambil jalan hidup sebagai aparatur sipil negara. Tetapi, kau masih saja menolak meski hidupmu juga tidak lebih baik dari sekadar stabil dan sederhana.
Di tengah krisis perempat baya, kau malah memilih melambankan diri. Gangguan kecemasan membuatmu lebih peka terhadap kesehatan mental. Alih-alih terjebak tren swa-diagnosis, kau justru menyisihkan tabungan untuk mengakses mahalnya biaya profesional.
Kondisi jiwa berangsur membaik dan kau tampak berbenah. Sialnya, suara-suara sepertimu masih ditimpa oleh suara orang-orang lain di balik predikat generasional. Golongan yang serupa denganmu justru dijejali dengan berbagai label, atribusi, dan tuduhan.
Kau tersemat sebagai Z, lengkap dengan patologi turunannya. Roti lapis dan stroberi. Bahkan sedangkal-dangkalnya sebagai angkatan yang malas ataupun bebal.
Perkara manajemen stres, sebagian besar golonganmu akan dengan mudahnya diasumsikan menurut kurasi daftar putar yang berpacu di pelantang. Atau setidaknya kau akan dikira memulihkan diri di akhir pekan lewat liturgi rekreasi, nongkrong dan ngopi, atau sekadar mendekam seharian di kamar, menyendiri.
Kau dicetak sebagai produk industri pendidikan untuk berkompetisi menjadi nabi urban unggulan. Bukan tidak mungkin, yang kalah akan tersisih menjadi kelompok miskin baru. Tapi kau dengan peliknya menolak hidup sebagai perlombaan. Atau sebenarnya kau hanya menjeda giliran kalah, sebelum akhirnya dipaksa mengejar ketertinggalan dengan mengabdi sebagai birokrat atau korporat di penghujung batas usia.
Tentu saja ada rasa muak. Bagaimana mungkin seseorang dikotak-kotakkan secara mutlak. Kelelahan dan keletihan yang konstan pada akhirnya membuatmu luluh lantak.
Kau menyiasati stigmatisasi dengan mengakses laman alternatif demi keluar dari arustama. Meski masih menempuh babak meralat galat, kau sadar betul apa yang penting untuk dibuktikan: identitas yang autentik tidak melulu harus diberi nama.
Sebab, manusia tidak sesepele hasil algoritma, 16 tipe personalitas, penghakiman serampangan, atau semata asosiasi istilah-istilah yang mendadak viral. Bagimu, manusia hanyalah manusia, dengan kompleksitas yang absurd sekaligus apa adanya.
Kau lahir tahun 2000. Tahun ini usiamu seperempat abad. Dan kau melalui hidup dari sudut pandang yang berseberangan.
Hampir satu dekade kau hidup berjauhan dari keluarga. Di perantauan, kau kesulitan mencari tembok untuk bersandar, berkeluh kesah. Jangankan soal jaring pengaman, setiap harinya kau masih harus bergelut dengan beribu berita yang membuat kepalamu berputar.
Sialnya, kepalanmu juga ikut bergentar tak karuan. Kejadian di kantor polisi beberapa tahun lalu masih membayangimu berulang kali. Semua itu berawal dari gugusan api yang kau susun di beberapa sudut jalan. Atau ragam rupa kalimat yang kau sebar di media sosial. Kau memang meluapkan amarah, tetapi tidak berniat menyulut kekacauan.
Apapun alasannya, dua orang asing menangkapmu paksa di waktu sepertiga malam. Tanpa pendamping hukum, kau tetap diseret ke sel tahanan. Meski bukan pengalaman pertamamu di penjara, tetapi itu adalah masa mendekam yang terlama. Selama hampir tiga bulan, kau hanya berteman piring seng, lengkap dengan sajian ludah dan makian yang hambar.
Dari balik jeruji, kau melihat beberapa aparat menertawakanmu, yang paling nyaring berasal dari mereka yang seangkatan. Puluhan buku sitaan dibakar tepat di seberangmu. Kau pun dituduh makar hanya karena bacaan yang berkonotasi hitam.
Kau tak menyesal, mengingat kau memang tidak sepenuhnya bersalah, tetapi tidak seorang pun berani memberimu percaya. Beberapa hari kemudian, baru kau tahu kantor memecatmu, dan semuanya harus dilalui sendirian. Ayah dan Ibumu relatif hidup tenang, setidaknya sejak kau terpaksa bersumpah untuk tidak lagi berbuat onar.
Sementara itu, hubungan dengan satu-satunya saudaramu terhitung berjarak. Menurutmu, ia telah hidup nyaman dari hasil bekerja sebagai analis di badan usaha milik negara. Karena hal itu, kau enggan menurunkan ego untuk sekadar berkabar.
Seluruh keruntuhan itu masih langgeng dalam ingatanmu. Dan kau makin menyadarinya ketika derita yang konstan sering menimpa orang-orang lain belakangan ini. Kau hanya bisa bergeming. Sebab, di kota tempatmu kini bermukim, merantau lebih terasa seperti diasingkan. Seakan kau dikondisikan untuk meratapi nasib dan mendulang jera.
Setidaknya sejak tahun lalu, aksi massa terus terbit merespons pembiaran ketidakadilan. Nama-nama korban terus muncul tetapi hanya diperlakukan sebatas angka. Ironisnya, peristiwa itu selalu berlalu begitu saja. Jangankan pengakuan maaf, pemerintah juga tidak kunjung berpihak pada korban atau bertanggung jawab kepada tuntutan rakyat.
Kau ingat betul kabar tentang Affan yang dilindas rantis, juga Farhan dan Reno yang jasadnya ditemukan dalam kondisi terbakar dengan janggal. Atau cerita menakutkan lainnya tentang penangkapan acak dan sewenang-wenang seusai demonstrasi. Setelah semua kengerian itu, berbagai peraturan kebijakan yang kontra-rakyat tetap disahkan.
Belakangan, baru kau tahu kalau Soeharto, sang diktator, diangkat sebagai pahlawan nasional. Habis sudah harapanmu, bertahun-tahun lamanya kau belajar memperjuangkan keadilan, tapi semuanya hancur dalam setahun sang menantu menjabat. Dan kau melihat para penguasa merayakannya, mereka bilang, orang-orang yang menentang keputusan ini tidak mengerti jasa Bapak Pembangunan akibat tidak hidup di masanya; tidak tahu apa-apa.
Kau memang belum lahir saat itu, tetapi kau tumbuh dengan memahami bahwa bahasa selalu merekam penderitaan, bahkan lewat cerocos dan gurauan. Visual eyang yang diiringi dengan tulisan “Piye kabare? Enak Jamanku to?” kembali berseliweran di media massa. Respons kekecewaan yang khas juga mengudara lewat serbaneka konten satir-sarkas bertajuk “Begini amat hidup jadi Warga Negara Indonesia”.
Kau lahir tahun 2000. Tahun ini usiamu seperempat abad. Dan kau mengamini bahwa hidup seharusnya menjadi milik orang-orang yang kalah.
Saudaramu lahir dua tahun sebelum kau. Tepatnya di awal karier ayahmu sebagai aparatur sipil negara. Ia lahir prematur dan penggalan namanya diambil dari tajuk Reformasi ‘98.
Ibumu masih seumuranmu ketika melahirkannya. Tahun itu, rumah keluarga di Jawa Tengah hampir dibakar massa. Untungnya, dia telah lebih dulu menyusul ayahmu ke Sulawesi Tenggara.
Ayahmu mantan pekerja pabrik kayu. Saat seusiamu ia sudah memecat tiga ratus karyawan akibat tuntutan kerja sebagai kepala personalia. Ia membenci dirinya karena hal itu dan memutuskan ikut menganggur.
Kehidupan keluargamu yang miskin perlahan membaik. Semua itu berkat nasihat pensiunan tentara dengan pangkat rendahan. Kakekmu berhasil menjual mimpi tentang hidup yang stabil dan sederhana sampai akhirnya ayahmu ikut seleksi pegawai negeri sipil. Ia lolos dan membangun ulang kesejahteraan lewat serangkaian mutasi.
Saksi utuh orde baru yang tersisa di keluargamu tinggal nenekmu seorang. Hingga hari ini, dia masih mengagumi Soeharto dan mendongengkan kisah heroiknya di masa silam. Baginya, tanpa pemberian gelar pun, Soeharto sudah sejak lama menjadi pahlawan.
Kau tahu bahwa dengan memahami sejarah keluarga, sejatinya kau sedang menyintas di setiap lika-liku kekerasan sistemik yang diwariskan negara. Kau tahu betul bahwa hidupmu berkelindan erat dengan politik di masa lalu. Dan kau sadar bahwa gugurnya amanat reformasi tidak lepas dari hantu Orde Baru yang mewujud dalam tindak tanduk penguasa.
Kau memang tidak memiliki pengalaman di masa itu. Tetapi, kau bukan orang bodoh yang mengabaikan masa lalu bangsamu. Rupanya kau tidak puas dengan nasib buruk, dan mulai meniti keadilan dari pinggir, lewat membaca dan menulis untuk merawat ingatan.
Beberapa puisi kesaksian generasimu. Dan banyak prosa untuk mencekal kesialan. Sebab bertahan hidup adalah soal memperpanjang upaya menolak tunduk dan kalah.
Dua tahun lagi kau seumur Reformasi. Dan semoga kelak, kau memahaminya.
Hantu Orde Baru bukan sekadar metafora. Ia adalah sistem nilai yang masih bercokol menjadi parasit; lewat politik patronase, birokrasi yang patrimonial, sistem ekonomi yang timpang, kontrol terhadap ruang kebebasan, dan budaya bungkam yang dipaksakan. Ia adalah trauma kolektif yang terus diwariskan dari setiap orang tua ke setiap anak-anak.
Hantu itu menyelinap masuk lewat mimpi stabilitas yang dijual dengan semu. Memastikan kau terombang-ambing menyiasati hidup sebagai prekariat modern dengan definisi kesuksesan yang menyulitkan. Memaksamu membuka dilema bekerja untuk negara. Dan sekali lagi mewariskan jurang pemisah antara “yang di dalam” dengan “yang di luar”.
Kau memang tidak mengalami Orde Baru secara langsung, tetapi kau hidup dengan menanggung segala akibatnya. Mentalitas yang memuja stabilitas di atas keadilan, keseragaman di atas keberagaman, dan kepatuhan di atas kritik akan realitas.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana jika kau dan aku, keluarga kita, anak-anak kita, dan seluruh keturunan selanjutnya, tidak perlu lagi membunuh apa yang seakan telah dibunuh sebelumnya? Melainkan lebih dulu sadar bahwa upaya untuk membongkar kekalahan yang konstan dimulai dengan menyingkap makna di balik cerita sehari-hari yang tampak biasa.
Demikianlah, kerja-kerja perawatan hendaknya menjadi urusan bersama lewat ruang bersaksi yang saling menguatkan, berbagi sumber daya, dan secara kolektif mengobati luka di setiap patahan gerakan, celah-celah negara, dan kegagalan bangsa.




