Heri Pemad adalah salah satu motor penggerak kancah seni rupa Indonesia yang berkecimpung di bidang art management. Bersama Heri Pemad Art Management, ia secara konsisten menghelat pameran seni rupa kontemporer akbar berskala internasional yang sudah berlangsung selama 9 tahun (sebelumnya bernama Jogja Art Fair). Whiteboard Journal berkesempatan untuk berbincang dengan Heri Pemad perihal kondisi seni rupa dan infrastrukturnya di Indonesia, serta kelangsungan Art Jog mendatang.
Salah satu sosok yang terkenal di dunia manga, Gosho Aoyama adalah pengarang salah satu serial yang paling sukses di dunia, yaitu Detective Conan. Selama 22 tahun, kisah detektif dan misteri ini sudah mencapai 90 volume, diterjemahkan dalam 21 bahasa, dijadikan serial televisi, dan 20 film-panjang. Kami berkesempatan untuk berbicara dengan Gosho Aoyama di antara kesibukan beliau di Singapore Writers Festival.
Entah disengaja atau tidak, gelaran Weekend Exhibition yang digelar di Dia.Lo.Gue. Artspace pada 28 September 2016 hingga 30 September 2016 kemarin terasa seperti tempat dimana publik disuguhi karya seniman muda yang merepresentasikan bentuk seni terkini. Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun masing-masing menunjukkan kekuatan karakter masing-masing melalui karya yang mereka tampilkan disana. Dari persilangan realita dan fantasi warna-warni khas Tontey, dunia imajiner dari Kendra Ahimsa, hingga tebal-tipis goresan yang membentuk indah lukisan Eko Bintang, Weekend Exhibition menjadi platform bagi emerging artists untuk memperlihatkan concern serta kegelisahan masing-masing terhadap khalayak luas. Dan dengan begitu, sekali lagi Dia.Lo.Gue. membuktikan dedikasi mereka untuk tumbuh kembang dan terus lahirnya karya baru di ranah lokal.
Setelah meraih pujian dan penghargaan di event Unknown Asia 2016 yang berlangsung di Osaka beberapa waktu lalu, delegasi Indonesia, Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun merayakan sekaligus memamerkan karya mereka kepada publik lokal pada pameran yang bertajuk "Weekend Exhibition". Bertempat di Dia.Lo.Gue. Artspace, pameran ini akan dibuka pada Jum'at, 28 September 2016. Pameran akan berlangsung hingga 30 September 2016.
--
Weekend Exhibition:
with Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun .
Weekend Exhibition is initiated by Dia.Lo.Gue in order to extend and share the work of creators to broader audiences. Sharing knowledges through presentations, lecturers, workshops, performances.
This first edition is focused on the seven Indonesia representatives at the latest UNKNOWN ASIA ART EXCHANGE 2016 Osaka. The participants are Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun. Presenting the works that previously previewed last month in Herbis Hall Osaka.
The opening exhibition will be held on Friday, 28 October 2016 on 18.00 PM. There might be a secret performance happen on this day too!
In the following day Saturday, 29 October 2016 the artists will available in Dia.Lo.Gue to present their work in person.
28th October 2016 - Sunday 30th October 2016.
Venue:
Dia.Lo.Gue Artspace
Jl. Kemang Selatan 99 a
Jakarta 12730
Friday, October 28 2016
18.00 PM Opening Party and a secret performance
Saturday, October 29 2016
11.00 - 20.00 PM During this session the artist will available to present their work in present. Also, there might be a secret performance on this day.
15.00 PM Artist Talk
17.00 PM Special performance by CRAYOLA EYES
Sunday, October 30 2016
08.00 AM – 18.00 PM Last chance to see the artists' work.
Should you require more informations please contact us to info@dialogueartspace.com
See you at the #weekendexhibition at @dialogue_arts
Musik menjadi salah satu alat untuk membuat seseorang menemukan dirinya yang terdalam. Bernafaskan beberapa elemen yang membangun sebuah musik menjadi sebuah suguhan manusiawi lengkap dengan rasa dan karsa, mereka yang lihai dalam bermusik memiliki sensibilitas yang tinggi. Adalah Efek Rumah Kaca (ERK), sebuah unit lokal yang perlahan menjadi penggerak batin dan aksi publik dalam beberapa tahun ini melalui lirik kuat dan vokal lirih akan situasi Indonesia.
Setelah merilis album terbarunya “Sinestesia” beberapa bulan lalu, Cholil dan kawan-kawan sekali lagi membawa musik merakyat dengan mengajak kontribusi publik dalam memproduksi sebuah visual untuk melengkapi salah satu lagu dalam album tersebut, yaitu “Biru.” Di sini, ERK bekerja sama dengan kolektif berbasis di Jakarta, Cut and Rescue yang dikenal sporadis dan eksperimental dalam mengolah ide menjadi karya seni menggunakan perspektif modern akan konsep audiovisual.
Lintas medium menjadi poin yang ditekankan dalam proyek ini. Publik diminta untuk memberikan sebuah interpretasi personal akan musik yang telah diciptakan ERK ke dalam bentuk video dengan konsep bebas dan seliar mungkin. Video bisa merupakan interpretasi tentang warna biru atau tentang dua bagian lagu “Biru” (Pasar Bisa Diciptakan, Cipta Bisa Dipasarkan).
Dengan memberi batas waktu unggahan video sampai tanggal 30 Juni 2016, siapapun dapat berpartisipasi dalam projek klip video ini dengan cara mengunggah video berdurasi 5 hingga 15 detik di Instagram dengan menggunakan tagar #klipERKbiru #erkXcutandrescue atau mengirimkan file video tersebut ke .
Pameran biasa dibuat untuk dijadikan ajang untuk menunjukkan hasil karya seniman serta menikmati seni dan unjuk gigi dalam menganalisis karya dengan referensi masing-masing. Tak jarang, saat berkunjung ke galeri pun ada rasa riang bisa mendapat background atau konten foto yang pas untuk Instagram ataupun bertemu dengan kurator muda untuk tukar pikiran. Tapi semua hal di atas beda kesannya saat mengunjungi pembukaan pameran “Ruang Tunggu” di Edwin’s Gallery yang memiliki konsep unik.
Diundang dengan poster di media sosial yang mengatakan kalau pameran ini mengajak publik untuk mencari kegiatan yang asyik selain main handphone saat menunggu, sebuah pancingan yang menggelitik rasa penasaran. Apalagi seniman yang diajak dikenal memakai medium beragam dalam berkarya. Kejutan datang bertubi-tubi saat pembukaan, karena publik diajak masuk ke dalam ruang pameran yang kosong. Sesaat terpikir kalau pengunjung memang diajak menunggu untuk sebuah pertunjukan seni di tengah ruangan berdinding putih. Tapi tak lama, para seniman, Ardi Gunawan, Lala Bohang, Emte, Ari Dina Krestiawan, Azer dan Vera Lestafa bersama-sama pengunjung mendokumentasikan ekspresi dan momen pameran yang hanya digelar satu malam itu.
Ada nyinyir dan ironi dalam pameran ini. Handphone yang di media publikasi disarankan untuk tidak digunakan, justru mengisi kekosongan waktu dan ekspektasi publik yang datang ke pameran. Tak perlu waktu lama untuk menunggu satu per satu handphone terangkat untuk berfoto atau chatting mengabari teman bahwa pameran ini sungguh aneh. Konsep pameran yang memiliki periode semalam saja ini secara tidak langsung menyinggung budaya pembukaan pameran yang biasa dituju orang untuk sekadar bersosialisasi dan melupakan karya seni yang tersortir dan terpampang di dinding galeri. Nyatanya, memang selama ini apa yang ditawarkan di luar galeri saat malam pembukaan justru menarik massa lebih banyak, mulai dari beberapa band hingga kudapan dan minuman yang terus dihidangkan hingga tengah malam. Tapi khusus malam itu, galeri disulap jadi ruang peristiwa dan pengunjung menjadi objek sekaligus subjek seni, serta seniman berperan sebagai moderator akan pameran disposable. Pembukaan pameran telah menjadi inti acara, dalam arti seutuhnya.
Kejutan terakhir membuat pengunjung menunggu lebih lama lagi. Ternyata karya memang sudah disiapkan, namun pengunjung harus menunggu karena seniman akan mengirimkan karyanya melalui paket yang akan dikirim dalam estimasi waktu 7 hari yang tentu membuat kami tak sabar melihat seperti apa dimensi karya yang akan kami terima. Walau tidak bisa melihat instalasi Ardi Gunawan akan barang di sekitar area galeri atau gambar-gambar estetik di dalam galeri, pameran ini memberikan rona baru akan eksklusifitas karya seni yang biasanya hanya bisa disentuh oleh kolektor.
Pameran ini mungkin sebenarnya masih berlangsung sampai karya tersebut jatuh di tangan kami. Karena sampai sekarang kami, masih menunggu. Mungkin ini tantangannya untuk membuat fase menunggu ini jadi lebih menarik.
Foto oleh Panji Purnama Putra