visual art

20.07.17

Clock Map Knife Mirror oleh Gary Ross-Pastrana

Sebuah pameran yang digelar oleh ROH Projects ini menampilkan sederet hasil karya seniman Filipina, Gary Ross-Pastrana yang bertajuk Clock Map Knife Mirror dan mengeksplorasi makna dari sebuah ketidaksengajaan. Memperhatikan pajangan dari sejumlah karya Pastrana pada pandangan pertama mungkin memberi kesan keacakan yang sulit bisa berhubungan satu sama lainnya. Namun, jika ditelaah lebih jauh dengan memberikan perhatian lebih pada tiap bagiannya, mungkin ada benang merah yang bisa ditemukan. Ada sepotong marmer dengan sendok kayu yang disediakan untuk mengairinya. Ada setangkai bunga mawar di atas sebuah penyangga akrilik yang dihiasi serbuk glitter. Hingga sebuah lukisan piring retak di ruangan berbeda. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata marmer yang dialiri air tersebut ialah guna mempraktekkan sebuah teknik memotong marmer dari Tiongkok menggunakan air saja, yang memang membutuhkan waktu lama. Setangkai mawar tersebut ternyata dibuat dari kulit manusia yang mengelupas, yang dibumbui serbuk glitter guna melihat pengaruh riasan terhadap sel tubuh manusia. Dan lukisan piring pecah tersebut ternyata bukanlah piring pecah, melainkan piring yang ditempeli helaian rambut untuk bermain dengan persepsi penyimaknya. Satu karya yang mungkin langsung menyita perhatian ialah sebuah bagian kaca depan mobil yang sudah retak dan diselubungi dedaunan yang menjalar. Sebuah referensi dari sepotong buah pikiran Pastrana yang tertera di tembok di depan pintu masuk, yang menjelaskan ketersimaannya akan bagaimana sesuatu bisa ‘diambil’ kembali oleh alam, seperti sebuah mobil terbengkalai misalnya, yang keterbengkalaiannya menandakan kerusakan dan kehancurannya. Namun di waktu yang sama ketika kehancuran yang mungkin tidak direncanakan itu terjadi, sebuah permulaan baru bisa muncul darinya. Dan begitulah serangkaian karya Pastrana lainnya, yang tidak hanya kental dengan ketekunan Pastrana dalam bereksperimen dan cukup jenaka untuk mengecohkan pemahaman siapapun yang menerka maknanya, namun juga menunjukkan bagaimana banyak ketidaksengajaan yang bisa menghasilkan sebuah karya seni. Clock Map Knife Mirror pun ‘berkisah’ tidak hanya mengenai bagaimana seni bisa muncul dari elemen-elemen yang tidak diinginkan dan bahkan dihindari, namun juga bagaimana suatu kehancuran justru memampukan terjadinya suatu ‘perjalanan’ baru. - 14 Juli - 2 Agustus 2017 Selasa - Minggu, 11:00-19:00 ROH Projects Equity Tower 40E SCBD Lot 9 Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53 Jakarta

16.07.17

Sex Shop Turned Art Gallery

With a little dose of magic here and there, apparently what once used to be an illegal sex shop is able to turn into an aesthetic art gallery. Albeit measuring as a rather ‘efficient’ space at just 20 square meters, “Cut” definitely deserves recognition with its impressive room division and soothing choice of tones. Intended to provide space and create an exhibition place out of the town itself, this gallery invites artists in residence as a part of the annual Koganecho Bazaar in Japan. The gallery attempts to alter the perception of a hidden, negative activity into an open and positive one, and it’s certainly working. Persimmon Hills as the architect bureau responsible for the transition proves that a certain space’s soul heavily relies on the ambience and vibes associated with it. The wall dividing the two rooms of the gallery could almost be seen as an interpretation of how there are two sides to everything, including space, and it all depends on how one chooses to perceive it; positively or negatively. Art is supposed to be about the rebirth of many emotions, and the alteration of what once was a negative perception of “Cut” into a welcomed one certainly proves it. The redefinition of what once was, and what it has the opportunity to become just goes to show how art is all about a play on perception.

14.07.17

Gimme 5: Ratta Bill

Kebanyakan orang tahu Ratta Bill dari bandnya bernama Bedchamber, tapi mungkin sedikit yang tahu kalau dia juga adalah desainer grafis dan sudah pernah mendesain album sampai poster konser. Nah, pada Gimme 5 kali ini, kami menanyakan hal selain musik, yakni - tentu saja - 5 album yang cukup dalam menginspirasinya sebagai desainer grafis. Memang banyak seniman visual yang oke di Amerika dan Eropa, namun langkah menarik diambil oleh Flying Lotus saat ia justru memilih komikus horror Jepang Shintaro Kago untuk mengerjakan nya. Dengan gaya horornya yang dan , seakan , hasil benar-benar mengesankan dan dengan kesan yang ingin disampaikan oleh musiknya. Kalau di atas masih kurang, mungkin bisa cek bagaimana tiap disajikan dengan seri yang brutal di internet. Ini personal, tapi dari dulu saya memang mengagumi mbak Claire Boucher dengan segala ambisi dan idealisme yang ia tumpahkan pada proyek solo elektronik popnya, Grimes. Ia mempunyai visi artistik yang kuat, baik dari segi musik dan visual, dan untuk meraih ideal tersebut seringkali ia turun langsung untuk memproduksi karya-karyanya semuanya sendiri. Pada yang ia kerjakan ini, ia meminjam gaya horor Jepang () dengan layout yang menarik untuk merepresentasikan album kedua Grimes yang memiliki spektrum cukup luas baik dari segi referensi dan tema. Mari ambil waktu sejenak untuk mengapresiasi detail pada desain panel merahnya Parquet Courts adalah band art rock yang paling menarik saat ini. , lihat saja bagaimana musik mereka sangat selaras dengan yang dikerjakan sendiri oleh -nya, Andrew Savage. Artistik, , penuh humor dengan penataan yang seenaknya, seakan Savage sudah menelan semua materi kelas seni dan desain matang-matang untuk kemudian dimuntahkan lagi bersama Parquet Courts. Etos punk bermain tidak hanya pada musiknya, namun juga pada kontribusi nya. Seringkali karya terkesan membosankan, bahkan terasa sebagai jalan pintas karena malas menggali ide yang lebih dalam. Namun saya tidak bisa memungkiri betapa berhasilnya Rage Against The Machine memparodikan karya Love oleh Robert Indiana menjadi “Rage.” Sulit rasanya untuk menemukan band hardcore punk yang memiliki gaya visual sekuat Black Flag. Tema ofensif dan garis yang tegas, beberapa artwork hasil garapan Raymond Pettibon seperti Slip It In, Police Story dan Jealous Again benar-benar membentuk karakter Black Flag hingga menjadi band hardcore punk paling pada masanya. Kejanggalan proporsi yang menunjukkan bagaimana ia tidak pernah mengambil pendidikan seni justru membuat kesan karyanya semakin kuat sebagai salah satu representasi skena musik di Amerika era 80an, tapi tolong jangan bicarakan tentang dari album terakhir Black Flag.

28.06.17

Tom of Finland’s Take on Gay Pride

Homoerotic, gay pride, and celebration of sexuality are definitely the highlight of Nicola Formichetti’s Nicopanda with the Tom of Finland Foundation. The collaboration that launched in accordance with the NYC Pride LGBT March, accompanied with a look book that shows just how much the issue can be turned into a creative work of art, not only for gay men but also for anyone. The collaboration may also be a visual realization of how the taboo-ness of something homoerotic that is usually deemed as a controversial subject can actually be poured into a creative framework and turned into an enjoyable piece of art. Perhaps the work may also be seen as a fresh new intake on what would normally be considered ‘graphic’ or ‘sensual’ in terms of fashion illustrations, since the featured patches and tees embracing erect men would definitely be an interesting new sight for the eyes.

25.06.17

Gelanggang Olahraga dari Pierre Hyughe

Seni memang tak mengenal batasan. Ia dapat mendobrak sekat-sekat yang kiranya sulit diterobos demi mendapatkan esensi maupun filosofis kuat di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu subjek pameran Skulptur Projekte Munster; sebuah acara seni tahunan yang diinisiasi oleh Kasper Konig di Münster, Jerman berjudul After ALife Ahead karya seniman asal Prancis, Pierre Hyughe. Dalam karyanya, Hyughe membuat sesuatu yang besar, kompleks, dan rumit secara teknis maupun penyampaian pesan. Ia menyulap gelanggang olahraga yang tidak terpakai menjadi wahana kreasinya. Tak main-main bereksplorasi, Hyughe menempatkan semacam pusat pengembangbiakkan sel kanker dengan kumpulan kehidupan yang saling berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Walaupun terdengar mengerikan, nyatanya Hyughe juga menyertakan instrumen pengetahuan yang dapat diakses melalui aplikasi buatannya. Mulai sekedar mengetahui pola alami dalam spektrum akuarium, memonitori pergerakan bakteri, mengawasi tingkat karbondioksida, sampai memastikan data algoritma yang ia pasang guna mengukur tingkat vitalitas rata-rata maupun capaian informasi pada inkubator sel berjalan sedemikian rupa. Sebelumnya dalam documenta 13 dan Palais de Tokyo, Huyghe juga pernah bereksperimen dengan kegilaan seperti ini. Ia tak ragu mengelola interaksi algoritma dan sel kanker dalam pengendalian kecepatan replikasi. Selain itu, ia membangun lingkungan dengan patung berkepala lebah serta dua bulldog sebagai pusatnya lantas orang-orang mengelilinginya seolah sedang terjadi absurditas di depannya. Dengan After ALife Ahead Huyghe hendak menyampaikan isi pikirannya menyoal kehidupan dalam lingkup luas. Bahwasanya di balik proses yang melibatkan pelbagai perkakas berat serta formulasi sulit macam perhitungan dan lain-lain, kita, manusia, hanya bisa mengendalikan sebagian kecil dari inti kehidupan. Yang bisa kita lakukan hanya mencampurinya dengan teknologi atau mengintervensi dengan bumbu politis. Dua hal yang membuktikan jika semua tak berakhir baik-baik saja.

21.06.17

Seni dan Realita Virtual

Seni memang tidak bisa dikatakan sebagai suatu kesatuan yang tetap, tapi justru layak diapresiasi dengan kedinamisannya. Dinamika kontemporer dari senilah yang ingin ditunjukkan melalui seni Acute Art di Stockholm tahun ini, di mana beberapa seniman ternama seperti Marina Abramović, Jeff Koons, dan Olafur Eliasson berupaya menciptakan suatu realita virtual yang ditampilkan bagi masyarakat umum untuk menggugah pemahaman dan perasaannya melalui ilusi akan realita yang bertemakan eksistensi, perubahan iklim, dan pencarian pelangi di tengah rintik-rintik air. Bentuk seni baru ini memang bertujuan untuk membuat penikmatnya merasa seolah berada di tengah suatu ilusi akan realita yang digambarkan melalui sebuah alat interaktif. https://casinoreg.net provides inexperienced players with the most detailed casino FAQ virtual, menerima keberadaan dari ilusi realita yang disuguhi jenis seni seperti inilah yang justru berkesan, lebih dipahami, dan bisa tetap sebagai lebih dari sekadar pameran seni ‘asal lewat’ saja. Kehadiran pada Acute Art ini menjadi wujud nyata ketahanan seni di masa digital bahwa seni mampu progresif dalam merespon zaman - dan menggugah pikiran dan perasaan melalui realita yang diciptakannya sendiri.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.