Profesi sebagai aktor tak menutupi keingintahuan Nicholas Saputra untuk mengeksplorasi beragam tempat lewat traveling. Kami mewawancarai Nicholas Saputra di sela kesibukannya untuk bertanya tentang responsible travel dan proyeknya bersama Angki Purbandono yang dipamerkan di Art Jog 2017.
Two seemingly contradicting topics that aren’t supposed to be naturally related to one another. However, Japanese artist Yuki Kobayashi begs to differ by using sports as a platform for his art on sexuality. Believing that sports is an area where there are still constant racial and gender stereotypes, Kobayashi attempts to lead his audience into thinking of the body just as it is, not as a subject of classification by gender-divided clothes. He explains, “Let's just see it as a real body – this is what you’re hiding under the clothes you choose. It's a body and you can't choose how you're born. That's your original skin.”
Kobayashi also believes that sexuality should be more irrelevant in sports. Explorative and experimental as he is, he tries to challenge ideas that the mind has on the body through wearing female clothes for his art inhibition. Perhaps many would wonder, wouldn’t that turn him into some sort of a cross dresser? Wouldn’t it decrease his masculinity to some extent? And more similar questions that like it or not, becomes proof that society is still unable to separate one’s sex with simply their preferences; the clothes they choose to wear, the way they choose to behave, how they choose to engage in romantic and sexual relationships. On the contrary to these biases, Kobayashi believes that the body’s sex would not go through any change regardless of the gender that has been assigned to the clothes that the body wears. Therefore, he tries to explore any possibilities of clothes being more neutral, especially in sports.
His point may be proven relevant in a society where the human body is often not seen as an example of raw, natural product of biology. But rather, the body becomes a subject of a certain boy/girl label that further dictates how the body should behave. The question then remains; can society free its mind and begin to release the human body from the binding chains of gender classifications?
Maybe in our reality today, the thought of entering a world without capitalism becomes outrageous, ridiculous even. But the mere thought and wonder of what the world would actually be like without it is just what the Museum of Capitalism in Oakland, California is trying to evoke through its exhibitions. Regarding the mission of the museum itself, its statement is the following, “Much of the evidence of capitalism is either eroding over time or simply not known or easily accessible to the public. Our ambition is to connect and integrate these many efforts before the evidence is erased forever.”
The establishment of the museum perhaps is heavily influenced by a statement from British political theorist Alex Callinicos, who suggested that one day there would be a museum to memorialize capitalism, just as we have museums of apartheid and communism today while speaking on a panel. By touring the museum, visitors may find thought-evoking installations regarding the current world’s primary economic system. Take for instance an interactive installation by Christy Chow (a Hong Kong artist) where visitors are given glimpses of the step-by-step process of garment assembling in a Chinese factory through a video while they run on a treadmill. Another installation is a massive piece of steel container as part of a sculpture by Gabby Miller (a Vietnamese-American artist). The message behind the installation is to remind visitors how container ship shipments from Oakland to Vietnam played a huge role during the Vietnam War.
The main idea of the museum is to simply make capitalism recognizable to the visitors. According to the curators, nowadays capitalism is so often performed that it becomes ubiquitous and invisible. And apparently ironically, the only way to make people aware of the fact is by presenting the possibilities of a world without it.
Dalam ajang Venice Biennale 2017 bulan lalu, perupa asal Inggris, Damien Hirst menampilkan pameran karyanya yang diberi judul “Treasure from The Wreck of The Unbelievable’s”. Ia menampilkan karya-karya barunya dalam sebuah balutan pameran temuan ekspedisi, lengkap dengan sebuah video dokumenter seolah-olah Hirst mengangkat artefak-artefak tersebut dari dalam lautan. Dalam pameran yang dilangsungkan di Punta Della Dogana itu karya Hirst seperti mengubah pameran karya seni rupa menjadi eksibisi artefak kuno. Beberapa patung ditampilkan lengkap dengan “sisa” koral yang masih menempel seperti salah satu patung yang ia beri judul “Cronos Devouring his Children” Sempat tak melakukan pameran selama hampir 10 tahun, Hirst membuka ruang diskursus yang baik untuk merespon kesenian kontemporer dengan proses arkeologis yang dilakukan untuk menerjemahkan peninggalan peradaban.
Hirst mengeksplorasi berbagai teknik dan material seperti logam dari berbagai unsur yang ia tampilkan seperti seolah-olah perhiasan yang sudah tenggelam dan menjadi semacam harta karun. Usahanya ini membuka ruang wacana tentang apa yang disebut sebagai karya seni kontemporer dengan sesuatu seperti “harta karun”. Keduanya memiliki nilai dan tentunya “harga” yang juga hampir sama.
Menuju akhir penutupan pameran, ada satu isu kalau Hirst melakukan cultural appropriation atau mengambil dan mengakui sautu bentuk kesenian dengan menampilkan sebuah karya yang Hirst beri judul “Golden Heads (Female)” yang mengimitasi bentuk patung yang berasal dari Nigeria. Victor Ehikhamenor, seorang seniman dari Nigeria yang datang melihat karya tersebut langsung mengunggah foto karya dan memberi tambahan “the British are back for more!”. Menurutnya Hirst tak memberi pengetahuan yang layak mengenai Ife, bentuk kesenian patung kepala manusia dari Nigeria yang dengan khas memberi tekanan garis pada kontur wajah patung. Patung Ife adalah produk kebudayaan orang Yoruba dari Nigeria dan saat kolonialisasi Inggris di Nigeria berlangsung, beberapa patung tersebut ada yang dibawa dan disimpan di The British Museum.
Apa yang Hirst tampilkan pada showcase ini adalah koleksi karya yang dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan di banyak penjuru dunia dan pada kurun kesejarahan yang panjang. Koleksi karya Hirst ini merespon peninggalan peradaban dan pada patung “Golden Heads (female)” Hirst mengambil material emas untuk membalut patung yang sebelumnya dalam produk Ife menggunakan perunggu. Lewat sentimen seorang seniman asal Nigeria yang merasa kebudayaannya diambil oleh Hirst itu timbul satu pertanyaan: “Sejauh apa seni kontemporer bisa merespon bentuk dan nilai kebudayaan tertentu?”
Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu.
Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat.
Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah.
Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.
Sudah lebih dari 5 dekade yang lalu, Luciano Benetton mendirikan Benetton Group dan mulai melakukan proyek kesenian besar yang Ia beri nama Imago Mundi atau Image of The World. Ia telah mengumpulkan lebih dari 2000 lukisan dari perupa di seluruh dunia.
Dalam proyek dokumentasi seni rupa tersebut, secara kasar Imago Mundi ingin menjadikan seni rupa sebagai medium demokrasi dan globalisme. Luciano Benetton dalam buku katalog pameran mengemukakan bahwa Indonesia kaya akan regionalisme dan keberagaman. Dalam usaha menonjolkan keberagaman ekspresi seni rupa, terlintas cerminan kekayaan budaya Indonesia dalam 200 lukisan bebas dari 200 perupa di seluruh Indonesia dalam ukuran medium yang sama.
Khusus untuk sebuah edisi koleksi dari Indonesia tahun ini, ia memberi judul Indonesia: Islands of Imagination. Koleksi tersebut menghimpun lebih dari 200 perupa Indonesia dari berbagai umur dan latar belakang lain. Pameran karyanya telah berlangsung pada 12 November akhir tahun lalu di Bentara Budaya Bali, 28 Desember di Bentara Budaya Yogyakarta, dan tanggal 11 April lalu di Bentara Budaya Jakarta.