photography

08.06.17

Redefining Masculinity as Lensed by Cecilie Harris

British photographer Cecilie Harris tries to evoke new thoughts from society of what it means to be masculine, and to be a boy that fits the criteria of being a man. Through her popular biannual print publication entitled “Boys By Girls,” Harris attempts to present visualization of boys in what she considers their natural ‘colors’ or identities. The aim of these visualizations is to present male figures as personal as possible, without making them look any less than a man no matter their nature. The emphasis of the publication would also be on ‘the female gaze’, on how female photographers may dismantle the already existing gender binaries through the way they choose to capture their subjects. With the evolving recognition of women’s equal rights to men, and women’s position in the modern society becoming more considerable than they were just decades before, there may also be a shift in the general perception of women, whose socially-assigned characteristics and traits may not be considered as weak or embarrassing for men to also adopt as they used to be. Thomas Brodie-Sangster, one of the public figures photographed for this publication agrees with this thought as he stated that, “Every male has a feminine side.” In its efforts to present more redefinitions of manhood, the publication also feature Solomon Golding, a gay, black male ballet dancer from London, along with a gay couple who’d met in an LGBT support group. It becomes more and more apparent how, the definitions of manhood, to figuratively illustrate it, doesn’t only consist of a range of certain dark, strong toned colors. It consists of the entire color spectrum. And perhaps, in all the focus and concentration society places on how there should be a redefinition of what it means to be a woman (i.e. being a woman doesn’t necessarily mean you should be able to cook, do house chores, have babies), we have disregarded any possibility of the need to redefine what it means to be a man. After all, man or woman, whatever our race, whomever we choose to love, whatever we decide to do with our bodies, and however we choose to celebrate ourselves, we are all a part of a grand color spectrum called life.

17.04.17

Emansipasi Visual Perempuan

Dari, untuk, oleh, dan soal perempuan. Begitulah kira-kira menjelaskan buku Girl on Girl: Art and Photography in the Age of Female Gaze karya jurnalis seni, Charlotte Jansen. Buku yang berisikan wawancara dengan 40 fotografer perempuan di 17 negara ini dibuat untuk merespon tumbuh pesatnya jumlah fotografer perempuan di dunia selama lima tahun terakhir. Jansen menjelaskan bahwa foto yang dibuat oleh perempuan bukan sekadar narasi visual pembanding dari yang sudah dikonstruksi sebelumnya oleh kaum Adam. Akan tetapi buku ini juga dibuat untuk memperkaya ide mengenai ragam bentuk perempuan dan menumbuhkan empati akan kesetaraan gender. Isu yang dibawa beragam. Mulai dari eksotifikasi tubuh perempuan di Brazil Utara oleh para kolonial barat karya fotografer Turki Pinar Yolacan, kritik akan pandangan orientalis para pelukis Eropa terhadap perempuan Arab karya Lalla Essaydi, kritik terhadap kapitalisme barat yang berusaha menyamaratakan identitas perempuan karya Yvonne Todd, sampai bagaimana fotografer perempuan sering kali tidak dianggap serius oleh klien seperti yang dialami fotografer Jepang Monika Mogi. Jansen pun menyatakan bahwa usaha pemberdayaan perempuan oleh para fotografer dalam bukunya ini, tidak hanya dilakukan melalui pesan visual di depan lensa, namun juga melalui pendekatan terhadap subjek yang dilakukan para fotografer perempuan. Fotografer yang diwawancarainya cenderung memiliki kedekatan yang lebih dengan subjeknya yang membuat mereka terus mencari tahu dan mencoba memahami cerita dari para subjeknya sehingga memberikan kenyamanan bagi perempuan-perempuan yang menjadi modelnya.

11.04.17

Potret Hubungan Manusia dan Hewan dalam ‘A Trunk and other Tails’

Sebuah visual yang dihasilkan oleh foto dapat merepresentasikan obyek dan menjadi medium komunikasi-naratif. Dalam sebuah pameran fotografi berjudul ‘A Trunk and other Tails’, Dilla Djalil-Daniel berusaha menceritakan kisah 4 hewan yang menjadi ‘alat’ manusia. Masing-masing mewakili tempat yang ia kunjungi dan masyarakat yang berhubungan langsung dengan hewan-hewan tersebut. Dalam karya visualnya tersebut ia menghadirkan potret anjing sebagai gembala, gajah dan keledai yang menjadi alat angkut, dan hidup orang utan di penangkaran. Dilla Djalil menghadirkan cerita hewan dan para pengasuhnya pada setiap bingkai yang ia pamerkan, lengkap dengan ilustrasi musik yang menggunakan biola dan denting piano liris serta ruang khusus yang menampilkan visualisasi video siluet naratif dengan narator seorang anak perempuan. Mengambil nuansa hitam-putih di setiap gambar dan mengutip Robert Frank pada catatan di katalognya, Dilla Djalil ingin memberi tekanan tentang harapan dan keputusasaan. Hewan-hewan tersebut mengalami ketergantungan dan sudah menjadi bagian hidup masyarakat yang berhubungan dengannya. Dengan cermat, Dilla menangkap kegiatan memberi makan, mengembangbiakkan, dan kegiatan lain yang mencerminkan kehidupan masyarakat dengan hewan peliharaannya pada satu simbiosis yang kompleks. Rencananya, keuntungan dari pameran dan penjualan photobook akan disumbangkan ke beberapa yayasan di 4 negara yakni Friends of Asian Elephants, Yayasan IAR Indonesia, Animals Nepal, dan Mdzananda Animal Clinic. Venue: Dia.Lo.Gue Artspace Jl. Kemang Selatan 99 a Jakarta 12730 Exhibition Period (Open for Public) 30 Maret – 16 April 2017 9:30 - 18:00

02.02.17

Dokumenter Fotografi Musik bersama IROCKUMENTARY.CLUB

IROCKUMENTARY.CLUB adalah sebuah situs yang digagas oleh kolektif fotografi yang sudah hampir 9 tahun menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa penting dan perkembangan musik Tanah Air. Selain mengkhususkan diri pada dokumentasi musik, IROCKUMENTARY.CLUB juga bertujuan untuk mempromosikan dan memperlihatkan bagaimana deretan hasil karya fotografi dari para fotografer berbakat. Tidak hanya sebagai situs fotografi saja, IROCKUMENTARY.CLUB juga berencana untuk menciptakan sebuah karya kolektif yaitu phodiography (yang merupakan bentuk interpretasi fotografer mengenai sebuah lagu), zine, lokakarya dan pameran. Setelah acara pertamanya yakni diskusi belajar membaca buku foto yang berkolaborasi dengan The Photobook Club Jakarta, IROCKUMENTARY.CLUB kembali mengadakan sebuah diskusi fotografi bertema dokumenter musik. Bersama dengan Perguruan Menengah Omni, IROCKUMENTARY.CLUB juga akan melakukan sebuah lokakarya yang melibatkan para pesertanya untuk ikut serta mengabadikan momen-momen penting dalam perhelatan musik Syarikat Dagang Edisi Bandung: Bottlesmoker X Stars And Rabbit yang digagas oleh Omuniuum dan Ruru Shop. Para peserta lokakarya diberikan kesempatan untuk menjadi fotografer resmi yang kemudian karyanya akan dipublikasikan pada situs IROCKUMENTARY.CLUB. Lokakarya ini terbatas untuk 5 orang, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 150.000,-. Sedangkan diskusi fotografi dokumenter musik tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum. Kedua acara ini akan berlokasi ditempat yang sama yakni di Omnispace, Bandung, dan akan diadakan pada tanggal 4-5 Febuari 2016. Oleh Agung Hartamurti & Haviz Maulana Bersama Rony Ariyanto Nugroho (Pewarta Foto Harian Kompas) Sabtu, 4 Februari 2017 Pukul 19.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum Pemateri: Agung Hartamurti & Haviz Maulana Minggu, 5 Februari 2017 Pukul 10.00 - selesai Omnispace, Omuniuum Building, Level 3, Jl. Ciumbuleuit No. 151B, Bandung 40141 Terbatas untuk lima peserta Biaya: Rp 150.000,-

09.01.17

Retrospeksi: Agan Harahap

Sebuah foto bisa saja memiliki sebuah pesan, namun respons dan interpretasi yang muncul tidak mengenal batas. Menggunakan teknologi dalam proses kreatif, Agan Harahap menjadi salah satu seniman monumental di Indonesia. Melihat kuatnya ekspresi dan pesan yang hadir di dalam karyanya, menjadikan ekspresi sebagai landasan penting dalam menciptakan regenerasi dalam subkultur di Tanah Air.

13.12.16

Potret Kemanusiaan Dalam Zona Konflik

Mendengar kata kemanusiaan, timbul sebuah relativitas yang dapat mencerminkan sifat manusia jika dihadapi dengan situasi tertentu. Ketika ranah konflik yang padat dengan permasalahan terkait bencana dan perang, kemanusiaan menjadi hal langka untuk memenuhi hak-hak mereka. Banyaknya konflik yang mendera tempat-tempat seperti Aleppo hingga Sierra Leone, membuat beberapa belahan dunia dipenuhi dengan penyintas yang membutuhkan pelayanan medis secara layak. Berangkat dari hal tersebut, sebuah lembaga independen bernama Medecins Sans Frontieres (MSF) dibangun untuk mengumpulkan relawan dan dokter-dokter guna memberikan pelayanan medis layak kepada para penyintas di berbagai belahan dunia. Aksi yang mereka tawarkan tidak hanya terbatas pada hal berbau medis, tapi juga keberadaan mereka di antara para penyintas memberikan support mental yang dibutuhkan untuk mendorong semangat hidup. Setelah berdiri selama puluhan tahun di lebih dari 60 negara, MSF kini ingin mengajak semua orang untuk merasakan perjalanan dan kenyataan yang dialami oleh pasien, pekerja medis, serta masyarakat di dunia lewat pameran foto bernama “No Borders.” Lewat instalasi foto dari fotografer ternama, pameran ini tidak hanya memberikan gambaran situasi yang dialami para penyintas untuk hidup layak, tapi juga informasi mendetail mengenai apa saja hal-hal yang mereka lewati dan alami untuk mendapatkan hak mereka sebagai manusia. Bertempat di Grand Indonesia, pameran ini tiap harinya dihadiri oleh staf lapangan MSF dari Indonesia yang akan menjelaskan detail informasi mengenai isu-isu tertentu. Selain on-site staf, film-film yang menceritakan konflik di beberapa tempat juga akan diputar, serta diskusi dengan travel writer, dokter MSF dan fotografer Reuters hingga Getty Images. Lewat foto-foto dan data yang terpajang di pameran ini, pengunjung dapat memahami kehadiran MSF di antara mereka yang menjadi shelter bagi mereka yang didera bencana kemanusiaan, tanpa melihat ras, agama maupun politik tiap orang. 8-18 Desember 2016 11:00-21:00 Grand Indonesia West Mall, Lantai 5 Jl. M.H. Thamrin No. 1 Jakarta http://msf-seasia.org/indonesia

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.