Music

23.12.16

Senyawa Tanah Air Konser Review

Sesaat sebelum Senyawa tampil di Konser Tanah Air, Rully Shabara dan Wukir Suryadi tampak sedikit tegang. Meski masih ada senyum saat bertukar sapa dengan teman dan tim produksi di belakang panggung, kecemasan itu sulit disembunyikan dari raut muka mereka. Ini sebuah reaksi yang cukup menarik, band sebesar Senyawa yang telah menjelajahi berbagai panggung besar di Jepang, Amerika hingga Eropa, dan telah tampil bersama musisi terbaik dunia tampak saat akan tampil di kampung halamannya. Di sisi lain, ini juga merupakan reaksi yang sangat bisa dimaklumi. Adalah wajar untuk merasakan tekanan lebih saat tampil di depan sosok-sosok terdekat. Layaknya seorang anak yang tiba-tiba kesulitan beraksi di panggung saat melihat orang tuanya di barisan penonton. Mungkin karena hawa dingin Gedung Kesenian Jakarta, mungkin akibat hangat sorot cahaya, cemas yang tadi menghiasi roman Rully dan Wukir lenyap tak berbekas saat keduanya menjadi dua raja di pertunjukan malam itu. Tegang yang tadi menghiasi muka, digantikan dengan tajam sorot mata dan permainan tanpa cela yang memukau semua pengunjungnya. Memainkan set yang cukup panjang, sekitar dua jam dengan satu kali jeda, Senyawa seakan datang layaknya jejaka terbaik desa yang pulang dari perantauan dengan cerita dan pengalaman yang membanggakan bagi semua. Tampil terakhir di Jakarta sekitar setahun yang lalu, malam itu mereka seolah mengingatkan kembali mengenai kualitas yang mereka miliki, serta kemungkinan-kemungkinan baru yang telah mereka jelajahi. Merinding datang sejak Wukir memainkan nada pertama dari bambunya. Set dimulai dengan Wukir dan Rully yang tampil dari belakang sebentang layar putih dengan sorotan lampu dari sisi belakang. Gerak-gerik mereka kemudian tampil dalam bayangan serupa wayang yang hidup melalui deru dan denting instrumen utama Senyawa: bambu wukir. Disini pengunjung diajak untuk tenggelam dalam suara dan tarian bayangan penuh disonan. Dan, melalui bayangan yang saling tumpang tindih itu, sosok Wukir dan Rully menyatu dalam satu imaji entitas yang tak bisa lebih akurat lagi daripada kata ini: “Senyawa”. John Doran dari The Quietus menyebut Senyawa sebagai dan melihat penampilan keduanya malam tadi, pernyataan John Doran tadi nyaris terasa sebagai Karena nyatanya Senyawa tak hanya bisa tampil gigantik dan meledak-ledak, kadang mereka bisa menjelma menjadi entitas yang liat dan menelusup relung dengan desir suara dari instrumen Wukir dan merdu suara Rully. Sebelum kemudian mereka merobohkannya dalam sekejap melalui suara perkusif dan racauan bernada rendah - juga teriakan - dari kerongkongan Rully. Secara teknis, kefasihan Rully untuk menyanyi dalam berbagai tangga nada dan gaya, serta kemampuan Wukir dalam memainkan pelbagai instrumen malam kemarin menjadi kejutan yang menyenangkan. Jika biasanya musisi eksperimental cenderung identik dengan bising melulu dan disonan yang tak jarang mengganggu (dan dengan begitu beberapa akan menganggapnya hanya asal berisik dan lantang), “Konser Tanah Air” adalah sebuah wacana yang bagus mengenai bagaimana musik eksperimental akan menemukan bentuk terbaiknya jika dimainkan oleh mereka yang paham betul dan menguasai instrumennya. Rully yang dulu dikenal merupakan sosok terdepan dalam eksplorasi vokal menunjukkan bagaimana ia tak henti berkembang. Saat berteriak, ia mampu menahan nada dan nafas panjang seolah ia merupakan vokalis band metal kawakan. Saat bernyanyi, ia bisa menembus nada rendah dan tinggi dengan mudahnya, seolah ia merupakan titisan diva pop kenamaan. Wukir pun setali tiga uang, selain takjub yang selalu muncul setiap kali ia menelurkan nada dari instrumen buatannya, ia juga menunjukkan bahwa merdu juga bisa muncul dari permainannya. Salah satu contoh sempurna dari kepiawaian keduanya muncul pada lagu dari Semenanjung Balkan yang mereka nyanyikan. Ada tiga instrumen yang dimainkan oleh Wukir malam itu. Ketiganya menjadi penanda tiga sesi yang Senyawa mainkan. Yang pertama adalah instrumen utama Senyawa, bambuwukir. Yang kedua adalah instrumen baru yang merupakan hasil modifikasi dari “Garu”, alat pembajak sawah yang biasa digunakan di pedesaan. Yang ketiga adalah “Suthil”, spatula dengan tambahan senar. Pada dasarnya prinsip kerja ketiga instrumen ini tak jauh berbeda, tapi suara yang dihasilkan sangat berwarna. Meski kalau disuruh memilih, Senyawa tetap tampil paling paripurna dengan instrumen aslinya, bambu wukir. Beberapa akan menyandingkan Senyawa dengan band eksperimental asal Jepang, beberapa akan teringat dengan musik raksasa post-rock Godspeed You! Black Emperor, ada pula yang akan membandingkan mereka dengan Swans, tapi yang jelas, Senyawa hari itu menjadi diri mereka sendiri, dan itu sangat-sangat cukup. -- Konser Tanah Air berlangsung tepat pada hari yang sama dimana hari ibu dirayakan, dan tiga jam menuju acara, diantara ketegangan di belakang panggung, Rully mengunggah sebuah doa yang mengharukan pada ibunya, “Ibu, malam ini anakmu akan konser tunggal di Ibukota Tanah Air, di yang membanggakan. Semoga Engkau merestui. Selamat Hari Ibu, ini kadoku untukmu!”. Dan, melalui dari seluruh pengunjung yang datang dari seluruh pengunjung, tegang dan doa Rully terbayarkan, jika bukan terlampaui berkali lipat. Karena dari muka puas semua pihak yang menjadi saksi, bangga jelas tak hanya akan datang di hati Ibu Rully Shabara, karena malam itu, Senyawa jelas merupakan salah satu hal terbaik yang pernah lahir dari bumi Indonesia, tanah air Wukir Suryadi dan Rully Shabara. -- Terima kasih kepada G Production beserta seluruh tim Konser Tanah Air yang telah mewujudkan sebuah konser penting dalam sejarah musik lokal. Di luar segala kejadian menyesakkan yang terjadi di tahun 2016, konser Sinestesia dari Efek Rumah Kaca yang membuka tahun, dan konser Tanah Air yang menutup tahun sejatinya merupakan bukti bahwa kita harusnya menyambut 2017 dengan harapan dan suka cita.

16.12.16

Inisiatif Berbuah Dokumentasi Underground Dance Music

Sebuah inisiatif akan muncul ketika seseorang merasa terganggu atau terpukau atas apa yang ia rasakan. Itulah yang menjadi latar belakang dibentuknya kompilasi “Dentum Dansa Bawah Tanah”, berisi unit musik di Jakarta yang merepresentasikan warna-warna Kecintaan Aldo Ersan terhadap musik dan keinginan untuk mendokumentasikan skena musik elektronik di Jakarta, telah mendorong dirinya untuk mengumpulkan nama-nama yang telah membuat lantai dansa ramai untuk mengeluarkan sebuah rilisan di bawah naungan labelnya, Pepaya Records. Dirilis bersama Studiorama, kompilasi kaset dan video clip bersama unit independen lainnya ini mengantarkan 14 unit musik dalam album ke masyarakat. Pepaya Records mencetak kompilasi ini dalam bentuk CD bersama label DeMajors yang akan dirilis tanggal 18 Desember mendatang bersamaan dengan perhelatan bulanan Superbad. Kami mendapat kesempatan untuk berbincang sesaat dengan Aldo dan David Tarigan dari DeMajors untuk membahas mengenai kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah dan perspektif yang muncul dari pendengar musik. Dasarnya adalah pengamatan; lebih mudah dilakukan ketika tidak fokus berusaha menjadi yang diperhatikan. Yang jelas, proses mengamatinya tidak dilakukan melalui akses internet saja, saya datang ke pesta dan menyaksikannya secara langsung. Mengidentifikasi kolektif atau komunitas yang cocok, lalu ngobrol dengan teman untuk memperkaya pertimbangan menentukan musisi yang dianggap dapat mewakili. Setelah itu, saya sebisa mungkin memastikan setiap sub-genre yang related terwakili dengan porsi yang pas. Salah satu yang paling seru adalah menyaksikan Ffonz (Moustapha Spliff) lengkap dengan dua turntable dan deretan piringan hitam memutar musik jazz berisik semalam suntuk di Tree House. Kini tempat itu sudah tutup. Banyak musisi dalam album kompilasi DDBT yang bermukim dan cukup sering berkegiatan di luar Jakarta Selatan, misalnya Django dan John van der Mijl bermukim di Jakarta Pusat, Duck Dive tinggal di Rawamangun, Bernardus Fritz dari Sunmantra dari Sunter, serta Sattle yang sering bolak-balik Bandung-Jakarta. Saya bahkan tinggal dan berkegiatan di bilangan Jakarta Pusat. Sampul album dipotret oleh Moses Sihombing dari puncak Monas kemudian disunting sambil makan rawon di Cut Meutia. Terus kenapa jadi “selatan” ya? Mungkin saja pendapat ini muncul dari perspektif tata ruang wilayah kota. Restoran/lounge/bar/klab malam terpopuler dan hip belakangan ini tumbuh subur di wilayah Jakarta Selatan. Venue-venue tadi adalah tempat dimana musik sidestream bahkan underground biasanya dibiarkan untuk diputar dan dimainkan, itupun tidak semuanya. Yang mungkin terlewat adalah kenyataan bahwa crowd-nya macam-macam, ada pekerja kantoran asal Bekasi atau Bintaro yang menunggu macet, slacker tajir yang tinggal di apartemen Pakubuwono, bahkan anak kolong dari Kelapa Gading. Kalian pernah dengar istilah funky kota (funkot) kan? Mungkin juga pendapat ini muncul dengan proses yang sama dengan berkembangnya isitilah funkot; sebagai musik yang biasa diputar di klab malam bilangan Kota. Mengejutkan juga melihat musik di era internet masih dieratkan dengan lokasi geografis tertentu. Saya membayangkan banyak hal; dari nuggets, chicago house hingga madchester. Saat itu, Edwin (Babibuta Film) dan saya menyetel materi musik DDBT dengan peranti audio Kinosaurus. Saya punya keinginan teaser video album DDBT dibuat oleh Edwin karena dia figur yang esoteric. Selesai mendengar DDBT, Ia justru memilih lagu untuk dibuatkan video musik dan menyarankan untuk mencari sutradara/video maker lain untuk membuat video musik bagi masing-masing lagu. Metode ini berlangsung seterusnya, mendengarkan musik bersama sutradara/video maker pilihan (ada yang bertemu langsung ada yang melalui surel), lalu mereka memilih lagu yang yang mereka mau buatkan video musiknya. Yang saya sayangkan adalah Tumpal Tampubolon menolak ikut membuat video musik untuk proyek DDBT. Visinya adalah mendokumentasikan secuil masa. Situasi mungkin bisa dikaji lewat musik, tapi lanskap visual membuat semuanya semakin jelas. Dalam video musik DDBT kita bisa menyaksikan perempatan by pass, gambaran party muda-mudi sadar kultur/mode terkini, unjuk rasa kaum religi tertentu dengan jumlah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, kondisi ibu kota negara tetangga, hingga kondisi Sumba yang masih jauh tertinggal dari Jakarta. Semuanya dengan satu latar waktu: pertengahan 2010-an. Dalam beberapa kesempatan, teman menceritakan soal-soal terkait kenalan mereka yang mengetahui, melihat, atau mendengar Dentum Dansa Bawah Tanah. Kadang ditemukan juga di social media. Isi responnya tidak saya hapalkan. Secara kuantitatif, kaset pita sebanyak 200 itu terjual habis dalam waktu 1 bulan. Bisa jadi kalian merasa demikian. Individual Distortion, Radioage, Kracoon, dan kawan-kawan sudah punya wadah yang rekat, scene-nya bahkan sudah dibuatkan film dokumenter. Musik sejenis yang dimainkan Animalism, Bottlesmoker, dan kawan-kawan lebih cocok dipresentasikan di panggung-panggung musik hidup. Menurut kalian apakah Space System dan Voyagers of Icarie mau menyahut jika saya sapa? Sedangkan, mayoritas roster kompilasi DDBT belum pernah menelurkan rilisan apalagi dalam format fisik. Jika tidak dibiasakan, rekaman fisik yang berisi musik sejenis DDBT ini selamanya akan menjadi langka—bukannya tidak ada—di Indonesia karena DDBT bukan yang pertama. Terlepas dari itu semua, sebuah album musik—bahkan kompilasi sekalipun—sebaiknya tidak didominasi oleh turbulensi. Lagipula judul albumnya kan Dentum Dansa Bawah Tanah. Kalo muda-mudi dewasa ini memang suka berdansa mengikuti irama house, beginilah house ala DDBT. Saya pikir jelas bedanya. Seperti gerombolan sirkus, kaum ini berpindah-pindah tempat mengikuti ke mana party sejenis diadakan untuk menikmati alternatif. Alternatif dari apa? Tuhan memberkati ala Djakarta Warehouse Party. Proyek ini belum sepenuhnya rampung. Format cakram padat punya menambah luas akses dan distribusi proyek DDBT maka berlakulah asas kausalitas. Materi yang sudah ada sekarang—kurasi unit musik, lagu, dan video musik—perlu dipresentasikan lebih lanjut dalam kegiatan, format, jenis, dan/atau wilayah lainnya. Musik yang memiliki selalu menarik dan membuat penasaran untuk dinikmati. Kami selalu berusaha membagi apa yang kami suka dan yakini untuk dapat dialami oleh banyak orang, dan sudah pasti, membagi musik yang kami anggap bagus. Dentum Dansa Bawah Tahan tidak hanya menawarkan musik, tapi juga cerita serta ekspresi dari apa yang terjadi saat ini di dunia elektronik kota Jakarta dan kompilasi ini sungguh layak dijadikan pengantar bagi sesuatu yang harus diketahui oleh lebih banyak orang. Kami akan selalu berhubungan dengan Pepaya Records untuk membicarakan segala macam kemungkinan yang bisa dihasilkan. di Jakarta/Indonesia dan bagaimana Dentum Dansa Bawah Tanah menampilkan karakter tersebut? Dentum Dansa Bawah Tanah tentu berhasil menggambarkan apa yang terjadi di skena elektronik; Jakarta khususnya, saat ini. Jadi, dari yang abstrak, tekstural, Selatan (hahaha) hingga pemompa berjejak Jakarta-Kota (hahaha). Semuanya terwakili di sini, jadi, ini mungkin bisa dibilang khas kota besar ya. - Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah Minggu, 18 Desember 2016 20:00 Jaya Pub Jl. MH Thamrin No. 12 Jakarta

14.12.16

Geliat Unit Underground Dance Jakarta

Setelah pesta peluncurannya, kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah pada Cassette Store Day beberapa waktu lalu, tidak hanya mempertunjukkan penampilan dari para unit musik yang terlibat, tapi juga menjadi sebuah penanda bahwa 14 unit musik yang dikurasi oleh Pepaya Records ini mampu merepresentasikan bagaimana musik elektronik bawah tanah saat ini. Tidak selesai sampai di situ, kompilasi sekali lagi akan mengadakan sebuah gelaran, berkolaborasi bersama sebuah gig rutin yang telah mendokumentasikan scene musik di Indonesia, yakni Superbad. Pada kesempatannya, Whoosah, Future Collective, dan Sumantra menjadi 3 dari 14 nama dari kompilasi ini yang akan bermain di Jaya Pub pada 18 Desember 2016 nanti. Kami berkesempatan untuk berbincang dengan mereka untuk menanyakan proses kreatif dalam menyiapkan kontribusi ke dalam kompilasi serta penampilan mereka untuk akhir minggu ini. Berawal dari perbincangan hangat antara dua orang (Sawi Lieu & Tida Wilson), yang akhirnya terus berkembang menjadi sebuah grup musik. Untuk kami konsep “future” adalah berkembangnya teknologi dari masa ke masa, sebagai contoh adalah MIDI. Kami selalu bertukar referensi musik sebelum membuat lagu baru. Saling berkomentar juga salah satu proses kreatif dan eksperimentasi untuk kami. Kami mencoba menggunakan segala hal yang kami bisa dalam hal ini. “Vista Panoramica” tadinya ingin menjadi seperti soundtrack film soft porn dari Italy, dengan alunan suara vocal ala Edda Dell’Orso. Tetapi hal ini tak pernah terjadi. Untuk sementara persiapan kami adalah latihan membawakan beberapa karya lama dan baru. Awalnya saya memang suka dengar lagu elektronik, terutama hip hop. Lalu karena ketertarikan tersebut, saya jadi penasaran dengan para produser lagu hip hop dan bagaimana mereka membuat sebuah beat. Dari situ, lambat laun saya belajar sendiri untuk membuat beat. Karena saya suka buat sample lagu, jadi biasanya dimulai dengan mendengar lagu. Bila ada lagu yang pas, saya buat sample dan kotak-katik sendiri, lalu jadilah sebuah lagu. Kadang-kadang bisa juga inspirasi datang ketika saya sedang mendengar lagu dari produser lain yang membuat saya mulai kotak-katik program sampai jadi lagu. Saya memang waktu itu lagi ingin membuat beat hip hop dari lagu-lagu yang biasanya dipasang di elevator. Saya menemukan lagu yang pas, lalu saya buat sample dan jadilah “Elevator Music.” Yang paling sulit dalam proses membuat lagu adalah membuat judulnya, makanya judulnya straightforward sekali - “Elevator Music”. Sejujurnya saya masih baru sekali dengan scene musik di Jakarta, tetapi menurut observasi saya scene musik di Jakarta itu sangat hidup. Hampir tiap minggu ada acara yang selalu ramai dan produser-produser dalam kotanya juga sangat banyak. Persiapan khusus untuk acara Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah nanti, adalah SP404 dan beat-beat pilihan yang akan saya mainkan nanti. Selamat berdansa. Dance musik itu merupakan hal yang belum pernah kami buat sebelumnya. Pada awalnya kami memang cuma penasaran dengan cara membuat musik ini karena progresi nada dan pattern-nya lumayan berbeda dengan yang pernah kami lakukan saat membuat lagu dalam guitar-driven band. Intinya kami jadi merasa tertantang untuk belajar memproduksi sesuatu yang fresh, karena kami memang ingin mencoba untuk terus berkembang. Esensi yang kami lakukan saat proses membuat musik di Sunmantra adalah kami berusaha agar tidak mengulang kembali hal-hal yang pernah kami lakukan dalam proses pembuatan. Dalam setiap lagu kami usahakan ada unsur-unsur suara yang berbeda, sehingga hal itu memacu kami untuk selalu berinovasi dalam proses produksi. Sebenarnya subjek dari “Silver Ray” sendiri adalah kami sendiri yang di sini berusaha menghilangkan kebiasaan lama dalam membuat musik demi suatu karya yang lebih baik ke depannya. Musik yang ditampilkan menurut kami sangat beragam ya warnanya, semuanya punya karakter masing-masing. Keren sekali. Kalau kondisi memungkinkan, kami akan tampil dalam format band untuk sekali lagi, dan membawakan lagu baru dengan elemen yang lebih organik. - Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah Minggu, 18 Desember 2016 20:00 Jaya Pub Jl. MH Thamrin No. 12 Jakarta

06.12.16

Debut Album Rusa Militan Coming on Solstice 2016

Setelah lima tahun kemunculannya, band asal Bandung yang memperkenalkan diri sebagai band medieval-folk, Kamis 1 Desember 2016 mengunggah debut album perdana mereka. Berbeda dengan andalannya “Senandung Senja” dan “Black Sun”, melalui video berdurasi kurang dari satu menit yang diunggah pada kanal YouTube mereka, selain memperlihatkan penggarapan album, juga memperdengarkan musik dengan nuansa neo-psikadelia. Hal ini ditunjukkan dengan dominasi permainan synthesizer dan sound yang lebih bulat. Direncanakan Rusa Militan akan merilis 10 lagu pada album ini. Dengarkan single Rusa Militan di sini

05.12.16

Konser Tunggal Perdana Senyawa di Tanah Air

Duo eksperimental asal Yogyakarta; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, yang dikenal dengan Senyawa akan menggelar konser tunggal pertamanya di Indonesia. Dikenal berkat format musik yang tiada duanya, mereka berhasil membawa elemen dan semangat musik tradisional dalam kerangka musik modern ke dunia internasional. Berkat instrumen musik yang dibuat sendiri oleh Wukir, bebunyian yang hadir untuk mengiringi ragam frekuensi dari vokal Rully pun memiliki karakter kuat, sehingga mampu membedakan Senyawa dengan musisi lain dari seluruh dunia. Adanya komposisi unik yang mereka hasilkan, membuat unit ini mampu berbagi panggung dan berkolaborasi dengan sejumlah nama penting seperti Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Bon Iver. Kristi Monfries selaku manajer Senyawa mengatakan, “Kini, akhirnya Senyawa akan menggelar konser tunggal untuk pertama kalinya di tanah air, membawakan repertoar penuh yang mencerminkan progresi musik mereka selama ini dengan layak.” Mengambil dua judul lagu Senyawa, “Tanah" dan "Air,” konser yang diadakan oleh G Production ini, akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini dipilih berkat kualitas akustik yang besar sehingga Senyawa dapat mempresentasikan sejarah musik mereka dan mengajak penonton ke dalam perjalanan bunyi melalui perkembangan mereka sebagai unit musik. Dengan tata lampu minimalis serta gagasan menarik untuk menampilkan nomor-nomor dari Senyawa, konser ini akan menjadi penutup tahun yang berbeda. - Kamis, 22 Desember 2016 19:00 Gedung Kesenian Jakarta Tiket: Early bird Rp. 125.000 (berlaku sampai 21 Desember 2016) di Ruru Shop dan Omuniuum On the spot Rp. 175.000 Informasi lengkap, silakan ke www.gproduction.co.id/senyawa

01.12.16

Mencari Anomali dari Musik Populer Bersama Dekadenz

Seolah tak pernah puas, muda-mudi yang bergelut di Indonesia terus mencari warna baru di lantai dansa. Setelah sekian banyak kolektif yang bermunculan dengan karakter masing-masing, sebuah inisiatif muncul dari 3 orang musisi dan asal Jakarta, untuk membuat Dekadenz - wadah bagi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan Adalah Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto yang bergerak bersama atas nama kolektif Dekadenz ini. Dalam eksekusinya, acara yang mereka gelar selalu hadir dengan nuansa ala yang disinari cahaya merah. Walau berlandaskan Electronic Body Music (EBM), nomor-nomor industrial, DIY dan turut mewarnai episode Dekadenz. Kami berkesempatan untuk mengobrol dan menanyakan dekadensi yang mereka tawarkan untuk dance di Indonesia. Kesamaan visi dalam musik. -nya musik. Genre musik yang disukai kami banyak yang sama dan bisa dieksplorasi untuk dijadikan kolektif di Jakarta. Musik-musik dansa selama 30 tahun terakhir yang tidak populer, terasa absurd karena ritma etniknya yang terus berganti dan akhirnya bisa dimainkan oleh kita, orang Indonesia. Dan cara kami menyuarakan musik yang mencerminkan hidup sehari-hari di Jakarta. dan warna sendiri. Apa yang membedakan Dekadenz dengan kolektif yang lain? Tiap kolektif punya warna musik yang berbeda-beda dan semua punya prinsip musik masing-masing. Dekadenz menyukai unsur musik gelap dan suara kasar dari analog atau synth dengan paduan unsur perkusi tropikal. Yang membedakan kami dengan yang lainnya mungkin adalah kombinasi dari latar belakang kita masing-masing. Tapi secara lagu-lagu yang kami mainkan cenderung lebih bernuansa setidaknya menurut saya. Selain dari musik, kami juga berusaha kolaborasi dengan musisi dan yang sejalan dengan konsep kami. dalam musik dan acara yang kalian buat. Konsep apa yang kalian ingin berikan dalam tiap Dekadenz? kalau kata Ridwan (tertawa). Dan suasana di ruangan gelap bercahaya merah yang seru! Konsep kolaborasi setiap Dekadenz lebih enak kalau ada hal-hal tersebut. Adit paling bisa jelasin nih (tertawa). Semangat untuk memainkan musik yang lebih baru dan aneh (tertawa). Musik-musik yang lebih susah diterima oleh anak muda mungkin? Kiri yang dimaksud adalah genre generalisasi di musik yang lebih komposisinya lebih eksperimental. atau dari talenta lokal. Apakah dengan banyaknya variasi dalam kalian kesulitan dalam mengkurasi bakat-bakat yang sejalan dengan Dekadenz? tapi sebisa mungkin kami kurasi dengan baik, dengan harapan, adanya Dekadenz bisa menjadi medium atau inspirasi ke yang lain. Kami berharap akan lebih banyak lagi menemukan talenta-talenta muda lokal yang bisa kami ajak kerja sama. Bertukar pikiran dalam membuat suatu karya adalah hal yang seru. Podcast yang mengundang band atau produser lokal untuk memainkan lagu yang ‘Dekadenz’ menurut versi mereka. Juga mengeluarkan banyak Dekadenz edit. https://www.mixcloud.com/dekadenz/

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.