Sukses mengadakan acara reuni berkedok malam karaoke lagu-lagu emo awal tahun 2000an, dan mengorek aib-aib masa muda, we.hum collective kembali bekerja sama dengan kolektif zine sobatindie, akan kembali menggelar malam karaoke yang kembali mengundang nostalgia. Kali ini soundtrack dari salah satu game console favorit, yakni “Tony Hawk’s Pro Skater” menjadi tema karaoke.
Sekali lagi malam karaoke kembali mengingatkan masa-masa dimana baju gombrong, sepatu sneakers dan plester di lutut dianggap sangat keren. “Buat beberapa di antara kami, soundtrack-soundtrack THPS adalah gerbang perkenalan menuju berbagai macam subgenre musik ngebut pemacu adrenalin” ujar #SobatHumming mengenai tema malam karaoke yang akan digelar nanti.
Supaya nostalgia tak berhenti disitu, malam karaoke kali ini dilengkapi dengan kompetisi THPS. Detail acara akan diumumkan melalui akun Twitter @sobatindi3 dan page event Facebook we.hum collective. Pesan dari #SobatHumming adalah “Sebaiknya kalian latihan sekarang, karena kami percaya tak ada perasaan lebih adiluhung daripada keberhasilan mempecundangi teman sekomplek kalian dalam meraih skor di pertarungan 1 on 1.”
Tandai tanggalnya, Jumat, 24 Februari 2017.
Informasi lebih lanjut, silahkan cek page we.hum collective di sini.
Percakapan antara 2 individu di sebuah warung kopi rupanya mampu menstimulasi duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening dalam proses bermusik. Bagi mereka, dialektika tersebut merupakan sebuah potret dari sebuah kota kelahiran mereka, yang mana kota tersebut pun dijadikan sebagai tema besar pada album perdananya yakni Surabaya. Melalui sepuluh lagu yang diringi dengan alunan dua gitar bolong, Silampukau mampu mengilustrasikan sudut-sudut berserta isi dari Kota Pahlawan dengan pendekatan yang berbeda. Lewat karakter liriknya yang kuat, sederhana dan cenderung puitis - karena struktur rima pada setiap lagunya - Silampukau mampu menyiratkan pesan-pesan yang ingin disampaikannya dengan apik.
Beberapa hari lalu, Silampukau baru saja mengeluarkan video klip untuk salah satu lagu andalannya, “Si Pelanggan” yang menceritakan salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly. Inspirasi lagu ini juga datang dari salah satu puisi karangan seorang penyair Surabaya yakni Indra Tjahyadi. Pada lagu ini, Silampukau menggambarkan bagaimana tiap individu di Dolly saling melengkapi satu sama lain. Penggalan lirik puitis pun menggambarkan kehampaan dan romantisme Dolly yang hanya diketahuin oleh para “pelanggan.”
Berdurasi kurang dari 5 menit dan berpusat pada sebuah set di kamar, alunan musik Silampukau membius dan memunculkan rasa campur aduk akan “teks” yang ingin ditampilkan melalui video ini. Lagi-lagi Silampukau mampu memberikan kesederhanaan namun meninggalkan bekas yang melekat lewat nomor “Si Pelanggan”.
Setelah dua tahun “Footstep” lahir, akhirnya trio emotive hardcore asal Jakarta Vague, mengeluarkan single terbarunya yang diperdengarkan lewat akun Soundcloud mereka (14/2). Jika biasa mendengarkan Yudhis menyanyikan lirik berbahasa Inggris, lewat lagu bertajuk “Sajak Pucat Pasi” Vague menawarkan pengalaman lain. Patut diingat pula bahwa lagu ini merupakan lagu pertama Vague dengan bahasa Indonesia. Walau bahasa Indonesia sering menjadi problema dalam penulisan lirik di antara para musisi lokal, lewat lagu ini, Vague mampu memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa.
Dikabarkan juga, Vague akan merilis split EP dengan band post-hardcore Malaysia, Killeur Calculateur dengan track “Sajak Pucat Pasi” termasuk di dalamnya. Format album split EP ini akan dirilis dalam format vinyl 7” dan kaset sebagai bentuk kolaborasi antara Tandang Records (Malaysia) dan Alter Naive Production.
Untuk itu, sambil menunggu rilisan tersebut, silahkan cek single terbaru Vague di sini.
Foto diambil dari blog
Tiap zaman memiliki artefak yang diingat segelintir orang, dan salah satu yang membekas dari tahun 2000-an adalah skena musik alternatif yang diisi dengan unit musik serta semangat yang membuatnya
Seiring munculnya panggung-panggung baru, beberapa nama kemudian mengisinya dengan musik variatif. Band seperti The Upstairs, White Shoes and the Couples Company, Goodnight Electric dan The Adams dengan giat mewarnai musik alternatif di Indonesia melalui lagu-lagu yang Namun, adanya antara beragam generasi, membuat hanya segelintir orang mengerti dan mengapresiasi musik yang telah mereka ciptakan. Berdasarkan hal tersebut, Pijaru - sebuah rumah produksi - membuat sebuah film dokumenter pendek yang merangkum budaya gig yang tercipta belasan tahun lalu.
Video berdurasi kurang lebih 12 menit ini dipadati dengan jejak rekam dunia musik bawah tanah yang mulai pudar - mulai latar belakang lagu “Matraman” dari Jimi Multhazam hingga komentar para penggerak skena musik indie dari zaman itu. Dibantu dengan alunan lagu ikonik, ada rasa rindu yang tumbuh tiap melihat cuplikan foto gig di ibu kota - penuh peluh dan sesak oleh wajah-wajah familiar seperti Saleh Husein hingga Oomleo.
Rasanya agak disayangkan ketika zaman bergerak maju dan keresahan untuk berkarya ikut terkubur. Tapi, walau beberapa pub seperti BB’s dan Parc; yang dulu menjadi rumah ibadah para penikmat musik indie, telah mati, semangat yang terlahir di sana selalu terekam untuk bekal generasi yang akan datang.
Entah bagaimana, Sisir Tanah menyeruak muncul ke permukaan. Nyaris tanpa promosi - hanya dengan modal post lagu di Soundcloud, ia lalu dikenal dan menjadi bagian dari pergerakan folk generasi baru. Musik bikinannya sederhana, gitar dipetik seperlunya mengiringi vokal yang dibiarkan jujur tanpa olahan, seolah hanya ingin menjadi medium cerita yang dinyanyikan. Tapi justru dengan kejujurannya tersebut ia menyentuh banyak jiwa, membuat nyanyiannya yang menarasikan sarkasme, optimisme, kekecewaan, kemarahan dan jatuh cinta terhadap apapun, termasuk pada berbagai masalah sosial terasa dekat dengan kalbu pendengarnya.
Diawali pada 2010, proyek musik solo asal Bantul ini resmi dijalankan dan dinamai dengan salah satu jenis perkakas pertanian yang biasa digunakan untuk mengolah tanah. Tujuh tahun sudah Bagus Dwi Danto menyanyikan lirik-lirik bekas catatan-catatan personalnya, namun belum ada rilisan fisik yang merekam karya-karyanya. Baginya, salah satu cara untuk menyebarluaskan karya-karyanya adalah cukup dengan memperdengarkannya lewat setiap panggung yang dihinggapinya, ketimbang merangkumnya dalam sebuah album. Namun memang ada yang kurang rasanya jika tidak ada rilisan fisik yang bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk eksistensi bagi setiap musisi.
Akhirnya pada tahun 2016, Sisir Tanah memutuskan untuk membuat sebuah album, walaupun bagi Bagus album bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah awal menunjukkan konsistensinya dalam bermusik dan harapannya untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Pada penggarapannya, album perdananya Sisir Tanah akan diproduseri oleh LARAS - Studies of Music in Society. LARAS merupakan lembaga kajian musik asal Yogyakarta, yang berisikan nama-nama seperti Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik. Berawal dari menyelenggarakan diskusi, penelitian dan penerbitan tulisan bertemakan musik dalam masyarakat, selanjutnya pada tahun 2017 LARAS, tertarik memperluas batasan kerjanya dengan memproduksi dan mendistribusikan karya-karya musik yang menyuarakan isu-isu kemasyarakatan.
Pada album perdananya ini, Sisir Tanah kerap menggundang sejumlah musisi Yogyakarta untuk berkolaborasi, yaitu Ragipta Utama (Jati Raga), Nadya Hatta (Individual Life), Faizal Aditya Rachman (Answer Sheet), Indra Agung Hanifah (Jalan Pulang), Asrie Tresnady (Log Sanskrit), Yussan Ahmad Fauzi (Log Sanskrit), Erson Padapiran (Belkastrelka), Justitias Jelita Zulkarnain (Benzai Quartet), dan Jasmine Alvinia Savitr. Dengan arahan dari Doni Kurniawan (Alldint, Risky Summerbee and the Honeythief, Music For Everyone) pada awal Februari 2017, Sisir Tanah tengah mengaransemen dan merekam sebelas lagu.
Dengan dibantu oleh sederatan nama-nama tersebut, diharapkan aransemen-aransemen barunya dapat memaksimalkan potensi artistik lagu-lagu Sisir Tanah dalam menyampaikan gagasan-gagasan kemanusiaan versi Bagus Dwi Danto, seperti pada lagu “Kita Mungkin”, “Lagu Hidup” dan “Konservasi Konflik”. Sembari menunggu album ini dirilis, mari mendengarkan lagu-lagu Sisir Tanah di bawah ini.
Bulan ini, Whiteboardjournal mengambil Jakarta sebagai tema utama dan mengulasnya dalam berbagai sudut pandang. Salah satunya dari sudut pandang musik. Rasanya sulit membahas kota ini tanpa membicarakan kompilasi JKT: SKRG yang menandai zaman itu. Tulisan ini membayangkan bagaimana jika album penting tersebut dirilis ulang dengan line up musisi representasi era sekarang.