Tiap zaman memiliki artefak yang diingat segelintir orang, dan salah satu yang membekas dari tahun 2000-an adalah skena musik alternatif yang diisi dengan unit musik serta semangat yang membuatnya
Seiring munculnya panggung-panggung baru, beberapa nama kemudian mengisinya dengan musik variatif. Band seperti The Upstairs, White Shoes and the Couples Company, Goodnight Electric dan The Adams dengan giat mewarnai musik alternatif di Indonesia melalui lagu-lagu yang Namun, adanya antara beragam generasi, membuat hanya segelintir orang mengerti dan mengapresiasi musik yang telah mereka ciptakan. Berdasarkan hal tersebut, Pijaru - sebuah rumah produksi - membuat sebuah film dokumenter pendek yang merangkum budaya gig yang tercipta belasan tahun lalu.
Video berdurasi kurang lebih 12 menit ini dipadati dengan jejak rekam dunia musik bawah tanah yang mulai pudar - mulai latar belakang lagu “Matraman” dari Jimi Multhazam hingga komentar para penggerak skena musik indie dari zaman itu. Dibantu dengan alunan lagu ikonik, ada rasa rindu yang tumbuh tiap melihat cuplikan foto gig di ibu kota - penuh peluh dan sesak oleh wajah-wajah familiar seperti Saleh Husein hingga Oomleo.
Rasanya agak disayangkan ketika zaman bergerak maju dan keresahan untuk berkarya ikut terkubur. Tapi, walau beberapa pub seperti BB’s dan Parc; yang dulu menjadi rumah ibadah para penikmat musik indie, telah mati, semangat yang terlahir di sana selalu terekam untuk bekal generasi yang akan datang.
Entah bagaimana, Sisir Tanah menyeruak muncul ke permukaan. Nyaris tanpa promosi - hanya dengan modal post lagu di Soundcloud, ia lalu dikenal dan menjadi bagian dari pergerakan folk generasi baru. Musik bikinannya sederhana, gitar dipetik seperlunya mengiringi vokal yang dibiarkan jujur tanpa olahan, seolah hanya ingin menjadi medium cerita yang dinyanyikan. Tapi justru dengan kejujurannya tersebut ia menyentuh banyak jiwa, membuat nyanyiannya yang menarasikan sarkasme, optimisme, kekecewaan, kemarahan dan jatuh cinta terhadap apapun, termasuk pada berbagai masalah sosial terasa dekat dengan kalbu pendengarnya.
Diawali pada 2010, proyek musik solo asal Bantul ini resmi dijalankan dan dinamai dengan salah satu jenis perkakas pertanian yang biasa digunakan untuk mengolah tanah. Tujuh tahun sudah Bagus Dwi Danto menyanyikan lirik-lirik bekas catatan-catatan personalnya, namun belum ada rilisan fisik yang merekam karya-karyanya. Baginya, salah satu cara untuk menyebarluaskan karya-karyanya adalah cukup dengan memperdengarkannya lewat setiap panggung yang dihinggapinya, ketimbang merangkumnya dalam sebuah album. Namun memang ada yang kurang rasanya jika tidak ada rilisan fisik yang bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk eksistensi bagi setiap musisi.
Akhirnya pada tahun 2016, Sisir Tanah memutuskan untuk membuat sebuah album, walaupun bagi Bagus album bukan sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah awal menunjukkan konsistensinya dalam bermusik dan harapannya untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Pada penggarapannya, album perdananya Sisir Tanah akan diproduseri oleh LARAS - Studies of Music in Society. LARAS merupakan lembaga kajian musik asal Yogyakarta, yang berisikan nama-nama seperti Rizky Sasono (Risky Summerbee and the Honeythief), Leilani Hermiasih (Frau), Michael H. B. Raditya, Irfan R. Darajat (Jalan Pulang), serta Heditia S. Damanik. Berawal dari menyelenggarakan diskusi, penelitian dan penerbitan tulisan bertemakan musik dalam masyarakat, selanjutnya pada tahun 2017 LARAS, tertarik memperluas batasan kerjanya dengan memproduksi dan mendistribusikan karya-karya musik yang menyuarakan isu-isu kemasyarakatan.
Pada album perdananya ini, Sisir Tanah kerap menggundang sejumlah musisi Yogyakarta untuk berkolaborasi, yaitu Ragipta Utama (Jati Raga), Nadya Hatta (Individual Life), Faizal Aditya Rachman (Answer Sheet), Indra Agung Hanifah (Jalan Pulang), Asrie Tresnady (Log Sanskrit), Yussan Ahmad Fauzi (Log Sanskrit), Erson Padapiran (Belkastrelka), Justitias Jelita Zulkarnain (Benzai Quartet), dan Jasmine Alvinia Savitr. Dengan arahan dari Doni Kurniawan (Alldint, Risky Summerbee and the Honeythief, Music For Everyone) pada awal Februari 2017, Sisir Tanah tengah mengaransemen dan merekam sebelas lagu.
Dengan dibantu oleh sederatan nama-nama tersebut, diharapkan aransemen-aransemen barunya dapat memaksimalkan potensi artistik lagu-lagu Sisir Tanah dalam menyampaikan gagasan-gagasan kemanusiaan versi Bagus Dwi Danto, seperti pada lagu “Kita Mungkin”, “Lagu Hidup” dan “Konservasi Konflik”. Sembari menunggu album ini dirilis, mari mendengarkan lagu-lagu Sisir Tanah di bawah ini.
Bulan ini, Whiteboardjournal mengambil Jakarta sebagai tema utama dan mengulasnya dalam berbagai sudut pandang. Salah satunya dari sudut pandang musik. Rasanya sulit membahas kota ini tanpa membicarakan kompilasi JKT: SKRG yang menandai zaman itu. Tulisan ini membayangkan bagaimana jika album penting tersebut dirilis ulang dengan line up musisi representasi era sekarang.
Label independen muda asal Jakarta, Kolibri Rekords akan menggelar pertamanya di dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung pada tanggal 28 & 29 Januari mendatang. Pada -nya, Kolibri Rekords akan menyajikan penampilan dari band-band yang sudah dirilis seperti bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, dan Lowpink, sekaligus memperkenalkan jagoan barunya yakni dua band asal Yogyakarta, Grrrl Gang dan Seahoarse.
Dengan dirilisnya pertama bertajuk "Bathroom", sekumpulan pelajar yang memainkan musik indiepop/garagepop dan memperkenalkan diri sebagai Grrrl Gang ini resmi bergabung dengan Kolibri Rekords bulan Desember lalu dan sedang mempersiapkan rilisan mini berisikan tiga lagu. Tidak lama setelahnya, di bulan Januari, Seahoarse kemudian juga resmi bergabung dengan Kolibri Rekords, dan tengah menyiapkan album perdananya yang dijadwalkan akan dirilis dalam waktu dekat. Seahoarse merupakan kuartet dreampop kawakan berisikan nama-nama yang sudah tidak asing di skena independen lokal Yogyakarta. ini akan menjadi penampilan perdana Seahoarse dan Grrrl Gang di Bandung, dan yang kedua kalinya di Jakarta.
Selain itu, selama dua hari ini, Kolibri Rekords berkolaborasi bersama Norrm dengan menjadi edisi ketiga gelaran rutinnya pada “Spasial Edition” dan bersama salah satu Toko Misteri. Yang menarik lainnya, bagi 25 penonton pertama di masing-masing kota akan mendapatkan satu CD kompilasi yang dicetak terbatas dan tidak dijual. Informasi lengkap pembelian tiket, peta lokasi acara, lagu keenam band, dan sebagainya dapat diakses melalui: kolibrirekords.com/birdsout.
-
WHO LET THE BIRDS OUT?
kolibri rekords
bedchamber / Gizpel / Grrrl Gang
Kaveh Kanes / Low Pink / Seahoarse
Saturday, 28 Jan 2017
Spasial - Jl. Gudang Selatan 22, Bandung
3PM
IDR 50,000
Sunday, 29 Jan 2017
Toko Misteri - Jl Falatehan 68 Melawai, Jakarta Selatan
3PM
IDR 40,000 / IDR 100,000 3
Bekerja sama dengan G Production, Senyawa menampilkan konser yang menutup tahun 2016 dengan penuh kesan. Diantara persiapan mereka di belakang panggung, Whiteboard Journal mengobrol bersama Rully Shabara dan Wukir Suryadi mengenai pencapaian global mereka, eksplorasi diri, eksotisme dan makna dari lagu-lagu mereka.
Every year is a good year for music. While releasing a brand new mixtape every Tuesday and Friday, the W_Music team has been listening and jamming to a bunch of new releases this year. From seasoned vets to exciting newcomers, 2016 has given us a whole lot of great music, so it is only right that our team share some of their favorites. From pop, rock, dance to hip hop, here are the W_Music team's favorite songs of 2016.
Listen to the mixtape and read about why we enjoy the music below!
01. L.A. Salami - I Wear This Because Life Is War
This London-based band has the attitude and energy of Black Lips playing blues with tinge of folk and lots of indie feel.
02. Weyes Blood - Generation Why
Her vocal has that 70's quality that reminds you of Stevie Nicks living in the present day reflecting and longing for the bygone.
03. Princess Nokia - Tomboy
Her roots as a female Afro-Nuyorican reflects on her strong lyrics supporting womanhood as well as various elements in her music and aesthetics.
01. Touché Amoré - Eight Seconds
I will remember 2016 as a year where death took charge. From the death of sense in the Trump’s victory, the death of humanity in our country, to the passing of world’s finest people (RIP Carrie Fisher & Leonard Cohen). Touché Amoré’s “Eight Seconds” from their album Stage Four (great album BTW) is the perfect manifestation of this sense, it tells a story about how the vocalist, Jeremy Bolm dealt with the demise of his mother in a heartfelt melody and forthright lyrics. Damn you, 2016.
02. Julien Baker - Ballad of Big Nothing
I never really into Elliot Smith’s murky songs, but this version of Julien Baker stole my attention right away on my first listen. There’s nothing really special about Julien Baker music, she plays a typical singer/songwriter song with dreamy electric guitar - a common format. But there’s something inside her that makes her every notes and word grope to your deepest thought. It’s her sincerity that makes her song resonates, and this song is the perfect example of it.
03. Collapse - Given
This probably my most played songs (and album) in 2016. Dika’s guitar-driven springtime shoegaze with a '90s alt-rock sensibility fits with a lot of moment and deadline that I have to face this year. Certainly one of the best album in 2016.
01. Bullion - Never Is the Change (12" Take)
Completely different style from Bullion's regular sound, fetching more of the 4x4 beats but not wandering too far from the complexity of Bullion's usual rhythm and sound.This sounded like CAN getting together with KRAFTWERK for that night at the dingy rave party. Bliss!
02. TCP - A Voice Across The Nile (Moscoman Rework)
The DISCO HALAL wave of exotic middle eastern dance tunes getting a much deeper treatment from the new-comer MOSCOMAN. Bass, synth and far out vibraphone sounds made this track scream out among MOSCOMAN's other gems he dished out this year.
03. MOOD HUT- Better
This is probably my best for 2016, fresh take on my favourite Gladys Knight and the Pip's - It's better than a good time by this Canadian native. Disco at it's glory with melodic euphoria all over this track. The injection of modern bass and synth creates a new form of summer tune!
01. Julian Lage - Persian Rug
Julian Lage is one of my favorite guitarists alive today. His ability to maneuver around the fretboard is jaw-dropping, but what I love most about his playing is how accessible it is, and "Persian Rug" really highlights it. The quickest ditty from his latest album, "Archlight", Lage takes on a Telecaster and picks his way through a happy country-like tune. From the most simple phrases to the most complex, all of his melodies are memorable and makes you want to whistle along with it.
02. Big Thief - Vegas
I was instantly hooked to "Vegas" by Big Thief when the guitar came in, and fell in love with it when Adrianne Lenker started singing. Introduced as a love song in one of their live performances, "Vegas" is a track that tugs at the heart strings without being overly dramatic, with lyrics that carries a nostalgia of one moment in a relationship.
03. Jeff Parker - Here Comes Ezra
I don't really know how to explain why I enjoy this song so much. When I first heard Jeff Parker's latest album, "New Breed," this wasn't the first song I enjoyed. As a matter of fact, this was the 4th song that drew my attention, but it is the song that I keep coming back to. All instruments seem to focus on the rhythm, and the song sounds very simple and spacious before ending in a climax of horns. It's a song that I've repeatedly played on the car stereo after work this year.
01. Mall grab - I Just Wanna
I've been pretty much hovering around dance-oriented music for the past 2-3 years and stumbled upon so many great acts and Mall Grab happens to be one of them. Still relatively young, full of energy & rawness. Straight up attacking hi-hat & soulful sample for house addicts. I just can't, stop, nodding my head.
02. Turnstile - Come Back for More
I knew that once Nonstop Feeling hit the market, it will conquer the world. Turnstile has proven to be one of the hardest working contemporary hardcore bands today with relentless tour schedule & such. Through this brand new EP, they're not afraid to express their obsessive love for the 90s and it's shown blatantly in this song, of course in a solid & good way. Dance hard or die.
03. Danny brown - Really Doe (ft ab-soul, kendrick lamar & earl sweatshirt)
Fuck me. This track off atrocity exhibition is a testament of Danny Brown's darker aesthetic. Combining a nostalgic bopping boom-bap beats over tight verses from familiar parties (ab-soul, kendrick lamar as well as earl sweatshirt), really doe takes us further into a bleak vision inside the mind of a bruiser brigade.
01. Danny Brown - Really Doe
I’ll keep this one simple. The LA trio of K-Dot, Ab Soul and Earl Sweatshirt all trade verses with Mr. Brown on top of a post-apocalyptic boombap beat with an insane chime of mysterious origins going on in the background. Surely a winner.
02. Keita Sano - Explosion
This 12” released on New York’s Mister Saturday Night is pure filth. Nearly 12 minutes of unadulterated funk and disco soaked house just seems to go on forever and I always have the urge to repeat it as soon as it ends.
03. Floating Points - Kuiper
Sam Shepherd, the record label owner, DJ, producer and holder of a PhD in neuroscience released Kuiper to sort of complement his mind blowing full-length LP Eleania. His band goes through this 18-minute adventure by taking out everything in their arsenal: broken beat, leftfield jazz, krautrock, psych rock and shoegaze to name just five.