Tren datang dan pergi, yang tinggal adalah dedikasi. Inilah yang menjadikan Saturday Night Karaoke berada pada posisi yang berbeda diantara band sejenis. Ia telah memulai perjalanannya sebelum pop-punk meledak, dan saat perhatian publik mulai teralihkan, ia tak beranjak dan justru semakin memperdalam eksistensinya melalui karya yang secara konsisten terus lahir. Mereka juag tak pernah tergoda untuk memainkan versi populer dari musik yang mereka dalami, dan setia pada varian musik yang dimainkan oleh idola mereka. Sebuah totalitas yang mungkin akan membuat Milo Aukerman dan Mikey Erg bangga.
Terakhir, mereka dikabarkan akan mengunjungi negeri yang juga menjadi inspirasi utama para personilnya, Jepang. Trio asal Bandung ini akan mengunjungi area Kanto, Honshu selama sepekan. Ini merupakan sebuah hal yang sepertinya telah lama dipersiapkan, karena dalam single yang dirilis pada pertengahan tahun lalu, Saturday Night Karaoke memasukkan satu lagu berbahasa Jepang. Dan untuk menyambut sekaligus merayakan tur ini, mereka merilis videoklip berjudul, “Bertemu”. Yang menarik di dalam video ini, SNK mengundang seniman visual, Rega Ayunda untuk berperan sebagai vokalis/gitaris yang bernyanyi di beberapa tempat dengan nuansa yang mengingatkan pada suasana kota Tokyo (meski sebenarnya shooting dilakukan di Jakarta-Bandung).
Mungkin cuma ada dua yang benar-benar mendunia melalui karya. Mereka adalah Senyawa dan Suarasama. Tanpa banyak bicara, dan fokus pada kualitas karya, keduanya mengundang perhatian sekaligus apresiasi dari berbagai penjuru dunia. Setelah Senyawa mengunjungi Jakarta pada akhir tahun 2016, kini giliran Suarasama yang membawa musiknya ke ibukota. Dalam acara yang digagas oleh RRREC Fest dan Gudang Sarinah Ekosistem, Irwansyah Harahap, Rithaony Hutajulu beserta kolaboratornya di Suarasama akan berbagi panggung bersama Bin Idris dalam gelaran berjudul RRREC Fest SHOWCASE #2. Digelar di Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem pada Jumat, 24 February 2017 mulai pukul 8 malam, tentunya acara ini akan menampilkan kualitas yang tak biasa.
Ditemui beberapa saat sebelum tampil Bang Iwan dan Kak Ritha tampak santai sembari mengobrol bersama Indra Ameng dan beberapa teman lain. Sehari sebelumnya, Suarasama tampil bersama Nasida Ria di Masjid Istiqlal dalam rangka revitalisasi Masjid Istiqlal. Disana mereka tampil di depan Menteri Agama, “Beliau kaget kalau ternyata ada grup musik seperti ini di Indonesia. Dan beliau merencanakan suatu saat akan mengadakan festival musik Islami yang berskala lebih besar” ujar Ritha.
“Kita akan membawakan lagu dari album Timeline, Fajar di Atas Awan juga beberapa lagu yang rencananya masuk album baru. Lagu baru akan menyasar gaya musik folk. Di Gudang Sarinah materi-materi tersebut akan dibawakan oleh tiga generasi personil Suarasama. Mulai dari personil awal hingga personil anyar yang baru tiga kali bermain bersama,” cerita Irwansyah. Bagi Suarasama sendiri, penampilan di Gudang Sarinah nanti merupakan pengalaman yang seru, “Selalu asyik bisa memainkan musik di berbagai dimensi. Bisa berkomunikasi dengan berbagai lini publik dengan bahasa musik, ini adalah hal yang menjadi energi bagi saya pribadi,” tambahnya.
--
RRREC Fest x Gudang Sarinah Ekosistem
Present
RRREC Fest SHOWCASE #2
Friday, 24 February 2017
8 – 10.15 PM
at Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem
Jl. Pancoran Timur 2 No.4, Pancoran
Jakarta Selatan
Featuring:
SUARASAMA
and
BIN IDRIS
Doors Open 7.30 PM
Ticket:
Pre Sale: IDR 50k at RURU Shop
WA: 081290362655, E: Rurushop6@gmail.com
At the event: IDR 75k
Venue capacity: 350 persons
Memperkenalkan diri sebagai Dekadenz, sebuah kolektif dance music asal Jakarta yang beranggotakan Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto mengabarkan bahwa mereka telah merilis sebuah podcast series bertajuk “Themes for Divided Tribes”. Di dalamnya terdapat sembilan nama (termasuk Dekadenz) dari para DJ juga music selector yang berasal dari berbagai macam kolektif musik, seperti Belda Farika (Never Too Disco), Dr. Satomata, Negative Lovers, Swarsaktya, Gerhan a.k.a Komodo (Akamady Music) serta Sostenes 'Ones' Alfonsos (Casual Dance).
Dalam salah satu wawancaranya Dekadenz menyampaikan bahwa podcast series ini memang telah dipersiapkan sejak tahun lalu, selain itu mereka pun juga tengah menyiapkan proyek lainnya berupa track-track Dekadenz edit. Lewat Dekadenz, Ojon, Adit dan Ridwan pun mencoba memperkenalkan karakter musik mereka sebagai dance music yang cenderung bernuansa gelap. Dengan suara kasar dari analog drum machine atau synth dan paduan unsur perkusi tropikal, membuat Dekadenz memiliki konsep party versinya sendiri. Hal tersebut dapat tergambar melalui musik pada podcast series ini, yang secara tidak langsung memotret atmosfer party ala bunker bawah tanah yang penuh peluh.
Sukses mengadakan acara reuni berkedok malam karaoke lagu-lagu emo awal tahun 2000an, dan mengorek aib-aib masa muda, we.hum collective kembali bekerja sama dengan kolektif zine sobatindie, akan kembali menggelar malam karaoke yang kembali mengundang nostalgia. Kali ini soundtrack dari salah satu game console favorit, yakni “Tony Hawk’s Pro Skater” menjadi tema karaoke.
Sekali lagi malam karaoke kembali mengingatkan masa-masa dimana baju gombrong, sepatu sneakers dan plester di lutut dianggap sangat keren. “Buat beberapa di antara kami, soundtrack-soundtrack THPS adalah gerbang perkenalan menuju berbagai macam subgenre musik ngebut pemacu adrenalin” ujar #SobatHumming mengenai tema malam karaoke yang akan digelar nanti.
Supaya nostalgia tak berhenti disitu, malam karaoke kali ini dilengkapi dengan kompetisi THPS. Detail acara akan diumumkan melalui akun Twitter @sobatindi3 dan page event Facebook we.hum collective. Pesan dari #SobatHumming adalah “Sebaiknya kalian latihan sekarang, karena kami percaya tak ada perasaan lebih adiluhung daripada keberhasilan mempecundangi teman sekomplek kalian dalam meraih skor di pertarungan 1 on 1.”
Tandai tanggalnya, Jumat, 24 Februari 2017.
Informasi lebih lanjut, silahkan cek page we.hum collective di sini.
Percakapan antara 2 individu di sebuah warung kopi rupanya mampu menstimulasi duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening dalam proses bermusik. Bagi mereka, dialektika tersebut merupakan sebuah potret dari sebuah kota kelahiran mereka, yang mana kota tersebut pun dijadikan sebagai tema besar pada album perdananya yakni Surabaya. Melalui sepuluh lagu yang diringi dengan alunan dua gitar bolong, Silampukau mampu mengilustrasikan sudut-sudut berserta isi dari Kota Pahlawan dengan pendekatan yang berbeda. Lewat karakter liriknya yang kuat, sederhana dan cenderung puitis - karena struktur rima pada setiap lagunya - Silampukau mampu menyiratkan pesan-pesan yang ingin disampaikannya dengan apik.
Beberapa hari lalu, Silampukau baru saja mengeluarkan video klip untuk salah satu lagu andalannya, “Si Pelanggan” yang menceritakan salah satu lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly. Inspirasi lagu ini juga datang dari salah satu puisi karangan seorang penyair Surabaya yakni Indra Tjahyadi. Pada lagu ini, Silampukau menggambarkan bagaimana tiap individu di Dolly saling melengkapi satu sama lain. Penggalan lirik puitis pun menggambarkan kehampaan dan romantisme Dolly yang hanya diketahuin oleh para “pelanggan.”
Berdurasi kurang dari 5 menit dan berpusat pada sebuah set di kamar, alunan musik Silampukau membius dan memunculkan rasa campur aduk akan “teks” yang ingin ditampilkan melalui video ini. Lagi-lagi Silampukau mampu memberikan kesederhanaan namun meninggalkan bekas yang melekat lewat nomor “Si Pelanggan”.
Setelah dua tahun “Footstep” lahir, akhirnya trio emotive hardcore asal Jakarta Vague, mengeluarkan single terbarunya yang diperdengarkan lewat akun Soundcloud mereka (14/2). Jika biasa mendengarkan Yudhis menyanyikan lirik berbahasa Inggris, lewat lagu bertajuk “Sajak Pucat Pasi” Vague menawarkan pengalaman lain. Patut diingat pula bahwa lagu ini merupakan lagu pertama Vague dengan bahasa Indonesia. Walau bahasa Indonesia sering menjadi problema dalam penulisan lirik di antara para musisi lokal, lewat lagu ini, Vague mampu memperlihatkan kemampuannya dalam berbahasa.
Dikabarkan juga, Vague akan merilis split EP dengan band post-hardcore Malaysia, Killeur Calculateur dengan track “Sajak Pucat Pasi” termasuk di dalamnya. Format album split EP ini akan dirilis dalam format vinyl 7” dan kaset sebagai bentuk kolaborasi antara Tandang Records (Malaysia) dan Alter Naive Production.
Untuk itu, sambil menunggu rilisan tersebut, silahkan cek single terbaru Vague di sini.
Foto diambil dari blog