Music

28.04.17

Konsep Musik Versi Sattle

Setelah Bandung, tur musik Defile akan menyambangi Jawa Timur, tepatnya Surabaya untuk terus menyebarkan konsep versi Dentum Dansa Bawah Tanah. Kembali membawa Django, namun kali ini ditemani oleh Sattle dan Baldi. Keduanya dikenal membuat sebuah unit bernama Batas Echo yang sejauh ini telah mengeluarkan 2 versi re-edit di akun Soundcloud-nya. Kami berkesempatan mengobrol dengan Sattle sebelum ia tampil di Surabaya untuk menanyakan tentang monikernya dan konsep Batas Echo. Tadinya cuma mau membedakan moniker saat bermain drum & bass bersama Javabass. Jujur secara arti sih ya tidak ada sesuatu yang ingin diutarakan, kecuali menurut pribadi saya lebih gampang diingat saja dengan nama itu. dan lagu? Proses kreatif bisa datang dari mana saja. Biasanya datang atas dasar ketertarikan suatu hal, misalnya ada periode di mana saya sedang suka musik tertentu. Maka daripada terpendam, ya apa salahnya ditulis? Minimal jadi dulu -nya. Kalau lagi rajin, bisa sampai selesai. Tapi kalau tidak selesai, juga tidak apa. Ya anggap saja itu bagian dari proses pembelajaran. Semakin kita mencoba banyak hal semakin pula kita tahu diri kita seperti apa. Awalnya karena hubungan pertemanan yang berlanjut ke ide untuk membuat suatu proyek musik, serta kekaguman kami terhadap karya Harry Roesli dalam album "Harry Roesli '83" berjudul "Batas (Echoes 1)" yang menjadi inspirasi kami untuk membentuk Batas Echo. Berangkat dari keisengan kami dalam re-edit lagu Indonesia lama yang nanti mungkin berkembang menjadi bentuk karya lain. Itu juga kalau Tuhan memberkati (tertawa). Konsep re-edit yang kami tawarkan sebatas ingin menggubah lagu Indonesia agar bisa dimainkan oleh DJ, pada khususnya. Sekilas memang tidak banyak yang berubah dari lagu aslinya - hanya sebatas . Mungkin tantangannya ialah bagaimana mendapatkan dari lagu yang bagus secara kualitas suara dan dalam hal ini re-edit menjadi sesuatu yang sensitif terkait dengan hak cipta. Tetapi kembali lagi ke tujuan awal, jadi tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang kami bisa lakukan untuk teman-teman agar bisa menikmati karya lama dari musisi Indonesia ke dalam dalam format re-edit. Sangat antusias ketika menyambut tawaran dari pihak DDBT, karena ini bisa menjadi salah satu rekam jejak musik Indonesia; untuk lebih spesifiknya musik elektronik, setelah kompilasi Jakarta Movement yang sangat memorable bagi saya pribadi ketika pertama kali mendapatkan kasetnya. - Defile #4 Sabtu, 29 April 2017 The Goods Diner Surabaya 21:00 Django, Sattle, Baldi Special guest: Kylko, Sinatrya

21.04.17

Empat Lagu untuk Merayakan Panjang Akhir Pekan

Ada dua akhir pekan panjang yang akan datang di akhir April dan awal Mei ini. Momen-momen seperti ini adalah saat yang tepat untuk rehat sejenak dari aktivitas, sekaligus mendekatkan diri kembali pada keluarga dan kenyamanan yang sering terlupakan di antara keseharian. Berikut adalah beberapa musik pilihan yang bisa menemani saat-saat tersebut, beberapa di antaranya juga bisa didapatkan versi fisiknya di Records Store Day 2017. Tak ada yang lebih indah daripada suasana sore akhir pekan dengan musik menenangkan sembari mengingat kembali masa kecil yang menyenangkan. Melalui cover Simon Garfunkel ini, Monita Tahalea memberikan lebih dari itu. Digarap bersama Indra Perkasa dari Tomorrow People Ensemble, terjemahan lagu klasik “Sound of Silence” ini menunjukkan potensi sejati yang dimiliki Monita, yang semoga akan bisa lebih kentara di materinya yang akan datang. Jika ada yang menanyakan siapa yang bisa menjadi penerus Efek Rumah Kaca di masa yang akan datang, Moonbeams bisa menjadi salah satu kandidat terkuatnya. Muncul tanpa pretensi, dan dengan latar belakang yang cukup menarik (drummer Moonbeams juga bermain di unit powerviolence, Disfare), mereka menunjukkan potensi itu. “Coolibah ‘97” lagu terbaru mereka semakin menguatkan kesan tersebut, ada beberapa bagian yang mengingatkan pada lagu “Balerina”, dan yang menarik adalah Moonbeams tak literal dalam berkarya, di sana-sini, Moonbeams juga terasa seperti bentuk baru dari band indie lawas, Planetbumi. Dengan kombinasi menarik Efek Rumah Kaca dan Planetbumi, rasanya Bin Harlan, sosok indies yang menemukan Cholil dan kawan-kawan pasti bangga. Dengan sedemikian banyak pantai yang dimiliki Indonesia, entah kenapa belum terlalu banyak band yang menjelajahi ombak dari genre surf-pop/pop. The Mentawais adalah salah satu yang berani melakukannya dan menghasilkan bebunyian instrumental indah sebagai hasil akhirnya. Dan jika hasilnya semenarik ini, di suatu sudut sana, Ratu Pantai Selatan pasti menyepakatinya. Setelah rehat selama setahun, Ramayana Soul kembali untuk menyelesaikan hal-hal yang belum usai. Di pertamanya ini, psikedelia sekali lagi datang dengan balutan suasana yang sedikit lebih cerah, namun tetap kental dengan suasana spiritual. -- Materi dari Moonbeams (Leeds Records), The Mentawais (Hujan! Rekords), dan Ramayana Soul (Pas Pas Records) dirilis dalam bentuk fisik pada Records Store Day 22 April 2017 ini. Mari mengisi liburan dengan mengunjungi toko musik independen lokal terdekat!

20.04.17

Dentum Unik Django untuk Defile #3

Tur mikro bawaan Dentum Dansa Bawah Tanah kembali hadir dan kali ini merajai kota Bandung. Defile terus menyebarkan semangat ala mereka dan membawa roster pilihannya dibarengi dengan nama-nama dalam skena sebagai bentuk kolaborasi guna menawarkan padanan seleksi lagu pemeriah lantai dansa. Salah satu pengisi acara untuk Defile kali ini adalah Pujangga Rahseta aka Rhst aka Django. Hadir dengan banyak moniker dan afiliasi; mulai dari Divisi62, DEAD Records, Funkbox Records, hingga The Cru Creatives, Django memiliki ragam referensi musik yang patut diperhitungkan. Kami berkesempatan untuk bertanya tentang apa pembeda karakter antara monikernya serta bagaimana ia mendekonstruksi musik bersama Wahono dan RMP. Berkembangnya selera saya awalnya berdasarkan sekadar biar terlihat keren dengar musik aneh di sekolah. Lalu belajar memadukan musik dengan runtutan tertentu untuk didengarkan sendiri, atau saat membuatkan mixtape untuk seseorang. Hal-hal klise tersebut yang akhirnya membuat saya eksplorasi musik yang bermacam-macam. Sampai sekarang juga bereksplorasi masih menjadi utama saya. Akhirnya memutar musik sebagai DJ juga karena ingin memutar musik kesukaan pribadi untuk kalangan teman dekat. Kemudian setelah menemukan serunya sharing musik dengan orang lain lewat DJ set. Lalu jadi keterusan. Pembedanya mungkin hanya di pendekatan, dan narasi yang ingin disampaikan lewat musik saja. Pendekatan saya kepada tiap moniker dan afiliasi mungkin lebih seperti mendalami peran. Django sendiri selalu suka musik yang mengandung unsur suara ketipang-ketipung dan dentam-dentum unik. deck? DIVISI62 terbentuk dari pembicaraan panjang di mana muncul ide-ide bersama. , label ini bertujuan untuk mencapai . Ketika tampil sebagai konstituen DIVISI62, seleksi saya akan mencoba mendekonstruksi ragam identitas musik dansa elektronik hingga tribal/etnik lokal dan global dengan interpretasi sendiri. Judul Kamseng Riddim muncul karena waktu produksi trek tersebut, saya sedang menunggu datangnya pesanan bubur babi , cakwe, & ubur-ubur dari restoran Kamseng waktu dini hari. Begitu ceritanya. yang ada dalam skena musik . Menurut Anda yang memiliki ketertarikan pada musik elektronik/dance, musik dance seperti apa yang belum diliput oleh Aldo; selaku inisiator, dan kawan-kawan? Menurut saya, musik dalam skena musik yang belum diliput/masuk kompilasi ini masih banyak. Tapi keluasan dan kedalaman berdasarkan genre atau afiliasi bukanlah tujuan utama dari kompilasi ini. Kompilasi ini adalah potret dari sebagian skena ini sekarang. Artefak skena musik dansa arus bawah tanah dengan menilik beberapa nama yang dipilih menurut preferensi si pembuat. Jadi kalau banyak yang merasa kurang terwakilkan, saya harap akan lebih banyak lagi yang tergerak untuk membuat hal yang serupa dan lebih baik. Biar makin seru. - Sabtu, 22 April 2017 Verde 21:00 Django, Harvy, Android 18 Special guest: Herta (Scrubs) dan Bagvs (Roofless) Gratis

20.04.17

Record Store Day Indonesia 2017

Tahun ini adalah tahun ke-10 Record Store Day (RSD) dirayakan di Indonesia. Mengingat riuhnya RSD tahun lalu yang sempat di gelar di belasan kota di Indonesia, tahun ini perayaan tersebut kembali digelar di beberapa kota. Tak hanya itu, para musisi dan studio rekaman terkait ramai-ramai bersiap meluncurkan rilisan fisik terbatas khusus Record Store Day tahun ini. Salah satu yang menarik adalah The Brandals yang merilis album The Best lewat submisi para penggemar untuk memberi masukan 12 lagu terbaik The Brandals versi mereka. Nantinya album tersebut akan ditambah 1 lagu baru yang akan menjadi single untuk album baru mereka. Selain itu masih banyak nama lama yang merilis ulang album mereka dalam bentuk baru maupun para pendatang yang memberanikan diri merilis sendiri album atau single mereka untuk RSD tahun ini. RSD tahun ini dilangsungkan di 23 tempat di 18 kota, berisikan puluhan rilisan khusus dan puluhan penampil yang terlibat serta dengan durasi serta jadwal yang bergiliran, Record Store Day tahun ini akan terasa lebih meriah dari RSD tahun lalu. Berikut adalah jadwal perhelatan Record StoreDay di masing-masing kota serta rilisan khusus yang dipersiapkan pada perhelatan tahun ini. - Wee & Co, Palu - Kiputih Satu, Bandung - Kuningan City P7, Jakarta - Pasar Santa, Jakarta - Blom M Square, Jakarta - Lokasuara, Batam - Anonimo, Coffee, Medan - Castel Distric, Bekasi - Rumah Budaya Prof. Soeroso, Yogyakarta - MX Mall, Malang - Black Cup Coffee House & LUBU Store, Manado - Hardcore Mayhem, Padang - Popscene, Tasikmalaya - Semut Cooke, Pekanbaru - A Bar - Aston Imperium, Pekanbaru - Rumah Kelinci, Bandung - Pasar Santa, Jakarta - Blom M Square, Jakarta - Blackbox Cafe & Resto, Banjarmasin - Aiola Eatery, Surabaya - Gedung Sentral Yamaha Markoni, Balikpapan - Lokananta, Solo - Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar - Bingen Record Store, Palembang - Bongkis, Mataram - The Gang of Harry Roesli - Philosophy Gang (Vinyl) - Adhi Rahman & Compadres - Cerah (CD) - Oscar Lolang - Epilogue (Kaset) - Glaskaca - Staedig E.P. (CD) - Pillo - Belia (CD) - The Brandals - The Best - Payung Teduh - Live & Loud (Kaset) - Nonanoskins - Ricochet Baby (Kaset) - Bottlesmokers - Slow Mo Smile (Kaset) - Makassar Rocksteady - Shake Your Body (CD) - The Mentawais - Surfin Java (Kaset) - Tikam - Jurnal Amarah (CD) - Murphy Radio - Naftalena - Shewn - At Home Drowning - Purpla - Superealita - Kompilasi Rock in Celebes - Costaroy - Double Single (Kaset) - Alice - Konsorsium Humaniora (Kaset) - Petaka - Live at Extreme Moshpit (Kaset) - Indigo Moire - Perth (Kaset) - Hira - Solitude (CD) - Ayu Anjani - The 1Step (CD) - Weekend Roll - 2.5 (CD) - Scarhead Barricade - Earth (CD) - PI G Face Joe - Maling (CD) - The Tetz - Menelan Jangi (Kaset) - Pelteras - Meranggas/Pusaran (Kaset) - Various Artists - Sub-Ordinat Musika (CD) - Various Artists - Trust Yourself, Realize! (CD) - Water Slide - Asa (CD) - 70 Soc - Electric Love (Kaset & CD) - Norr Frygt - Introduction (CD) - Mocca - Mini Album (Kaset) - Gerram & Terapi Urine - Poranda (Split Kaset) - Under The Big Bright Yellow Sun - Painting of Life (Kaset) - Kompilasi Apokaliptape (Kaset) - The S.I.G.I.T - Visible Idea of Perfection (Vinyl) - Deugalih - Tanahku Tidak Dijual - Hellsoil - In Grind we Bong - Strider - Defishit Moral (Kaset) - Bangkai - Re-Emotional Conform - DOM 65 - Greatest Pledge Articles (Vinyl) - Zoo - Prasasti (Vinyl) - Shaggydog - Putra Nusantara (Vinyl) - Rain in Summer - Discordant Anthem From The Gutter (CD) - (((...))) - s / t (CD) - Death Vomit - Eternally Deprecated (Kaset) - Kompilasi Arpappel (CD) - Kompilasi Sounds from Sulawesi (CD) - Kompilasi Riverstone (CD) - To Die ! - Live (Kaset) - Kompilasi Jogja Records Store Club (Kaset) Untuk lebih lanjut mengetahui kabar terkini mengenai perhelatan Record Store Day di seluruh Indonesia, silakan kunjungi linimasa Instagram Record Store Day Indonesia.

18.04.17

ECLIPSED by Parahyangan Fair 2017

Gelaran tahunan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali hadir dan kali ini mengusung tema Eclipsed. Masih mengangkat kolaborasi sebagai aksi utama di balik acara ini, Parahyangan Fair mengajak seluruh komposer dan penampil dari segala jurusan di UNPAR. Namun, kali ini Parahyangan Fair tidak hanya fokus pada subkultur Bandung, tapi juga membuka pintu kepada sosok kreatif di Jakarta untuk berkontribusi. Hadir dengan konsep wadah kreatif, acara ini menghadirkan deretan hiburan mulai dari visual art, fotografi, film dan tentunya musik - dengan penampil antara lain, Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind. Untuk mengangkat subkultur film, Gianni Fajri pun didaulat sebagai bintang tamu. Akan ada yang akan memutar film-film karya mahasiswa UNPAR serta para kontributor. Lalu ada pula penampilan kolaboratif antara mahasiswa dan musisi lokal sebagai bentuk kreasi baru yang ditampilkan hanya pada acara ini. Adanya yang besar mengizinkan pengunjung untuk berkarya langsung di tempat, layaknya melukis di kanvas bekas. Adapun yang akan tersebar di area Bumi Sangkuriang selaku , akan menyediakan alat-alat berkarya yang bisa digunakan pengunjung untuk membuat sesuatu dan di bawa pulang sebagai memento. - Senin, 24 April 2017 15:00 - selesai Bumi Sangkuriang, Bandung Tiket bisa dibeli online di https://goo.gl/forms/AnHqf1dVTgXSEAHu1 atau http://goers.co/eclipsed-parahyanganfair

16.04.17

Kejujuran Mac DeMarco lewat “On the Level”

Mac DeMarco mengajak pendengarnya berkontemplasi melalui single ketiganya tahun ini, “On the Level”. Bersamaan dengan lagu ini, terdapat dua lagu yang ia rilis sebelumnya, yakni “This Old Dog” dan “My Old Man” sebagai bentuk refleksi atas hubungannya dengan keluarga, terutama sang Ayah. Namun, jika dalam kedua lagu tersebut DeMarco lebih banyak menyuarakan kemarahannya, “On the Level” bicara mengenai penerimaan diri. Kombinasi pengulangan chorus bagai mantra dan buaian melodi synth yang kental kemudian menghipnotis pendengar untuk masuk lebih dalam merenungi dirinya sendiri. Ia berbicara mengenai melalui untaian kalimat Hadir dengan lirik dan melodi serupa dengan “Chamber of Reflection” dari album Salad Days, adalah lumrah jika kita menganggapnya sebagai kelanjutan cerita personal dari DeMarco akan kesendiriannya. Hal tersebut membuat This Old Dog menjadi sebuah album baru darinya yang patut ditunggu untuk didengar kala dalam perjalanan panjang.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.