Gelaran tahunan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali hadir dan kali ini mengusung tema Eclipsed. Masih mengangkat kolaborasi sebagai aksi utama di balik acara ini, Parahyangan Fair mengajak seluruh komposer dan penampil dari segala jurusan di UNPAR. Namun, kali ini Parahyangan Fair tidak hanya fokus pada subkultur Bandung, tapi juga membuka pintu kepada sosok kreatif di Jakarta untuk berkontribusi.
Hadir dengan konsep wadah kreatif, acara ini menghadirkan deretan hiburan mulai dari visual art, fotografi, film dan tentunya musik - dengan penampil antara lain, Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind. Untuk mengangkat subkultur film, Gianni Fajri pun didaulat sebagai bintang tamu.
Akan ada yang akan memutar film-film karya mahasiswa UNPAR serta para kontributor. Lalu ada pula penampilan kolaboratif antara mahasiswa dan musisi lokal sebagai bentuk kreasi baru yang ditampilkan hanya pada acara ini. Adanya yang besar mengizinkan pengunjung untuk berkarya langsung di tempat, layaknya melukis di kanvas bekas. Adapun yang akan tersebar di area Bumi Sangkuriang selaku , akan menyediakan alat-alat berkarya yang bisa digunakan pengunjung untuk membuat sesuatu dan di bawa pulang sebagai memento.
-
Senin, 24 April 2017
15:00 - selesai
Bumi Sangkuriang, Bandung
Tiket bisa dibeli online di
https://goo.gl/forms/AnHqf1dVTgXSEAHu1 atau http://goers.co/eclipsed-parahyanganfair
Mac DeMarco mengajak pendengarnya berkontemplasi melalui single ketiganya tahun ini, “On the Level”. Bersamaan dengan lagu ini, terdapat dua lagu yang ia rilis sebelumnya, yakni “This Old Dog” dan “My Old Man” sebagai bentuk refleksi atas hubungannya dengan keluarga, terutama sang Ayah. Namun, jika dalam kedua lagu tersebut DeMarco lebih banyak menyuarakan kemarahannya, “On the Level” bicara mengenai penerimaan diri.
Kombinasi pengulangan chorus bagai mantra dan buaian melodi synth yang kental kemudian menghipnotis pendengar untuk masuk lebih dalam merenungi dirinya sendiri. Ia berbicara mengenai melalui untaian kalimat
Hadir dengan lirik dan melodi serupa dengan “Chamber of Reflection” dari album Salad Days, adalah lumrah jika kita menganggapnya sebagai kelanjutan cerita personal dari DeMarco akan kesendiriannya. Hal tersebut membuat This Old Dog menjadi sebuah album baru darinya yang patut ditunggu untuk didengar kala dalam perjalanan panjang.
Album Telefone yang dirilis pertengahan tahun lalu oleh Noname memiliki residu gaung yang kuat dan membuat Fatimah Warner dianggap sebagai yang perlu diperhitungkan. Dalam pertamanya itu ia menggaet nama penting seperti Saba, Mick Jenkins, dan rapper muda lain yang dikenal dengan nama Chance.
Lirik yang intim, bangunan musik sederhana dan kapasitas pendukung dalam Telefone jadi kesatuan yang harmonis dan menarik. Berangkat dari latar belakang tumbuh di lingkungan African-American di Chicago, lirik dalam Telefone menceritakan narasi yang sama dari sisi yang berbeda. Fatimah mengambil hubungannya dengan sang nenek dalam lagu ‘Reality Check’ dan dalam lagu ‘Bye Bye Baby’ ia mengangkat isu aborsi yang amat sensitif. Kurang lebih, Telefone menarasikan cerita suram perempuan lewat sudut pandang ibu dan nenek yang reflektif.
Dalam berlagu, Fatimah terkesan berdansa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Ia fasih menarasikan lirik reflektif lewat lantunan rap yang tidak terlalu cepat namun dengan tekanan kata yang jelas. Berangkat lewat ketidakpercayadirian yang mungkin dialami oleh banyak perempuan kulit hitam di Amerika. Yang utama lewat liriknya, ia tidak menebar kebencian namun melagukan optimisme dan keindahan pada nostalgia yang liris.
Karma Records akan merilis ulang album pendek Oscar Lolang yang berjudul Epilogue ke dalam bentuk kaset. Rencananya rilisan baru tersebut khusus diproduksi untuk Record Store Day 2017 tanggal 21-22 April di Kuningan City, Jakarta.
Sebelumnya, Epilogue yang dirilis dalam bentuk CD hanya berisikan 2 lagu dan untuk rilisan ulang dalam bentuk kasetnya akan ada 1 lagu baru. Lagu 'Little Sunny Girl' dan 'The Way She Does Things' akan ditemani lagu yang pernah direkam saat pengerjaan single perdana Oscar berjudul 'Barbara Allen'. Mini album epilog ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa Oscar mulai menulis lirik bermuatan romansa pada lagunya.
Pada perhelatan Record Store Day 2017 nanti Oscar akan tampil sebagai pengisi acara dan akan membawakan materi mini album tersebut. Oscar berencana akan merilis album penuhnya pertengahan tahun ini. Beberapa lagu bocoran yang belum pernah diperdengarkan dan materi album barunya itu akan dipresentasikan Oscar pada Record Store Day nanti.
Eklektik jadi 1 kata yang bisa menggambarkan EP Maverick terbaru yang bertajuk "Unpopular Opinion." Terdiri dari 6 dengan warna beragam, Wing Narada selaku sosok di balik ini menunjukkan bahwa dirinya berani mengemukakan opininya akan musik yang berputar di sekitarnya menggunakan segala - tak terkecuali meme yang sempat terkenal pada kurun waktu tertentu.
Dibuka dengan "Opinion #1" yang diwarnai suara kendang dan terompet khas lagu India, Maverick membawa pendengar ke tengah perayaan holi penuh dengan warna psychedelic. Adapun selanjutnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya, namun berkat kepiawaian Wing yang juga dikenal sebagai , transisi antara terasa sangat halus.
Terlihat jelas bahwa Wing memiliki referensi musik yang kaya dan mampu memilah suara untuk membuat sebuah komposisi yang jahat, sehingga membuat EP ini terasa segar namun memiliki kompleksitas tertentu. Sisipan bebunyian kendang dan dawai di antara terompet menjadi bukti jelas yang membuat "Unpopular Opinion" menawarkan keriuhan berbeda dari yang ada di muka umum.
Secara keseluruhan "Unpopular Opinion" memiliki dualitas kental. Tentu untuk mereka yang menyukai alternatif, ini merupakan suatu harta karun.
Dengar atau download EP-nya secara gratis di Bandcamp Maverick.
Unpopular Opinions by Maverick
Jika sebelumnya Defile menampilkan roster yang memiliki ragam musik mulai dari funk, ambient hingga brazil, jilid kedua ini akan menawarkan selektor yang tidak kalah galak, lengkap dengan kehadiran Gerhan dari Akamady Records sebagai bintang tamu. Kami mendapat kesempatan untuk bertanya beberapa hal kepada salah satu selektor Defile #2, yakni Gonzo aka Duck Dive yang tidak hanya dikenal sebagai produser lagu, tapi juga aktif sebagai DJ. Mulai dari inspirasi musik hingga bagaimana ia meramu tiap lagu, terdapat jawaban bahwa misteri alam memiliki keharmonisan yang tidak dapat digambarkan, namun selalu memiliki daya tarik baginya.
Duck Dive bermula dari kecintaan saya terhadap musik ambient/new age, sehingga membuat saya untuk memulai yang berbasis improvisasi. Dalam hal , unsur “improvisasi” juga sangat digunakan, sehingga membuat saya ingin mempelajari lebih dalam. Selain itu, saya sangat menyukai konsep bahwa pada dasarnya DJ hanya memperdengarkan musik-musik koleksinya, yang mana dari situ akan terlihat ciri khasnya, genre seperti apa spesialisasinya. Beberapa tahun belakangan ini saya banyak mengikuti mixtape dari beberapa DJ luar maupun lokal yang sangat saya gemari, dan hal itu memperkenalkan saya kepada banyak track luar biasa yang membuat saya ingin terus , karena tidak akan ada habisnya. Seru!
setelah mulai sering menjadi DJ?
Dalam proses pembuatan lagu Duck Dive di album-album sebelumnya, saya merekam masing-masing dari tiap lagu menggunakan 4-Track Cassette Recorder yang lalu saya dan EQ sederhana dengan Cubase. Belakangan ini penggunaan (synthesizer, drum machine, efek, dll.) masih mendominasi dalam produksi , tetapi tidak lagi menggunakan 4-Track Recorder karena saya lebih banyak beralih kepada Ableton Live untuk merekam sembari meramu -nya. Saya rasa bisa dibilang sedikit lebih , namun tidak mendominasi. Saya berharap beat akan menambah kompleksitas dari lagunya. Sebagai penghias, bukan pondasinya. Intinya, tidak akan terlalu jauh dari materi saya yang sebelumnya. Hanya akan diwarnai saja.
Saya rasa alam masih menjadi inspirasi utama, karena sebagai penyelam kecintaan saya terhadap laut, jelas tidak akan pernah selesai. Selain itu, tema laut, sungai atau hutan juga sangat selaras dengan genre fusion/jazz/new age yang sangat saya sukai. Instrumental, simple namun kompleks, damai, membangkitkan imajinasi.
Unsur alam memang bisa dibilang sudah mendarah daging dalam pembuatan lagu Duck Dive. Sejak kecil saya memang sudah mencintai lagu-lagu instrumental yang bernuansa alam seperti album-album jazz Pat Metheny, Chick Corea, hingga film-film dokumenter, program TV pendidikan, dan lain-lain. Saya paling menyukai tema laut, sungai dan hutan karena penuh dengan ketenangan namun mempunyai sisi misteri yang dalam. Belakangan ini saya banyak mengumpulkan album-album new age/jazz/electronica tahun 80-an dari Jepang seperti Yoshio Suzuki, Mu Project, Toshifumi Hinata, Joe Hisaishi. Saya ingin mengarahkan materi saya ke sana.
Dentum Dansa Bawah Tanah dibuat berdasarkan sebuah keinginan untuk mendokumentasikan sebuah sisi lain dari dunia gemerlap malam, yaitu masa di mana para penghasil musik elektronik arus pinggir dalam negeri, produktif menghasilkan karya-karya yang orisinil dan berkualitas. Saya berharap ini dapat selalu mengabadikan semangat para penggiatnya dalam berkarya tanpa dipengaruhi apapun yang terjadi di industri musik besar dan menjadi sebuah monumen bersejarah bagi generasi-generasi berikutnya.
Di lain sisi, kami menanyai kali ini, Gerhan, tentang pendapatnya akan musik bawah tanah dengan pengalamannya sebagai DJ dan kesempatan untuk melihat perkembangan di San Francisco serta tentang kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah.
di San Francisco pada tahun 90-an serta bermain di beberapa tempat sejak itu. Bagaimana hal tersebut membentuk karakter musik Gerhan?
Untuk dapat tinggal dan merasakan di era tersebut tentunya itu adalah salah satu unsur yang kuat dalam membentuk dasar karakter musik saya hingga seperti sekarang ini.
. Sebagai DJ dan produser, bagaimana Gerhan menyikapi musik alternatif? Apakah hal tersebut memiliki stimulan lebih daripada musik non alternatif?
Menurut saya semua musik adalah stimulan bagi siapa yang menyukainya. Jadi menurut saya selama musik itu bagus alternatif atau non alternatif mempunyai tingkat stimulan yang sama bagi saya.
sekarang masih bersifat ?
Ya, pasti masih ada yang bersifat . Tetapi tergantung dari pengertian itu sendiri.
di Jakarta? Apakah sudah cukup representatif?
Menurut saya sudah cukup baik. Tetapi ini hanya sebagian kecil saja yang baru tercakup, dan mungkin untuk yang berikutnya bisa lebih spesifik lagi dengan kurasinya. Menurut saya masih terlalu
Semoga semakin banyak artis/musisi muda yang dapat melahirkan musik-musik baru yang berkualitas dari Jakarta (tertawa).
-
Kamis, 13 April 2017
Gueens Head
21:00
Harvy, Android 18, Django, Duck Dive
Special guest: Gerhan (Akamady Records)
Gratis