Music

14.04.17

Intimasi Album Telefone dari Noname

Album Telefone yang dirilis pertengahan tahun lalu oleh Noname memiliki residu gaung yang kuat dan membuat Fatimah Warner dianggap sebagai yang perlu diperhitungkan. Dalam pertamanya itu ia menggaet nama penting seperti Saba, Mick Jenkins, dan rapper muda lain yang dikenal dengan nama Chance. Lirik yang intim, bangunan musik sederhana dan kapasitas pendukung dalam Telefone jadi kesatuan yang harmonis dan menarik. Berangkat dari latar belakang tumbuh di lingkungan African-American di Chicago, lirik dalam Telefone menceritakan narasi yang sama dari sisi yang berbeda. Fatimah mengambil hubungannya dengan sang nenek dalam lagu ‘Reality Check’ dan dalam lagu ‘Bye Bye Baby’ ia mengangkat isu aborsi yang amat sensitif. Kurang lebih, Telefone menarasikan cerita suram perempuan lewat sudut pandang ibu dan nenek yang reflektif. Dalam berlagu, Fatimah terkesan berdansa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Ia fasih menarasikan lirik reflektif lewat lantunan rap yang tidak terlalu cepat namun dengan tekanan kata yang jelas. Berangkat lewat ketidakpercayadirian yang mungkin dialami oleh banyak perempuan kulit hitam di Amerika. Yang utama lewat liriknya, ia tidak menebar kebencian namun melagukan optimisme dan keindahan pada nostalgia yang liris.

12.04.17

Oscar Lolang Rilis Kaset ‘Epilogue’

Karma Records akan merilis ulang album pendek Oscar Lolang yang berjudul Epilogue ke dalam bentuk kaset. Rencananya rilisan baru tersebut khusus diproduksi untuk Record Store Day 2017 tanggal 21-22 April di Kuningan City, Jakarta. Sebelumnya, Epilogue yang dirilis dalam bentuk CD hanya berisikan 2 lagu dan untuk rilisan ulang dalam bentuk kasetnya akan ada 1 lagu baru. Lagu 'Little Sunny Girl' dan 'The Way She Does Things' akan ditemani lagu yang pernah direkam saat pengerjaan single perdana Oscar berjudul 'Barbara Allen'. Mini album epilog ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa Oscar mulai menulis lirik bermuatan romansa pada lagunya. Pada perhelatan Record Store Day 2017 nanti Oscar akan tampil sebagai pengisi acara dan akan membawakan materi mini album tersebut. Oscar berencana akan merilis album penuhnya pertengahan tahun ini. Beberapa lagu bocoran yang belum pernah diperdengarkan dan materi album barunya itu akan dipresentasikan Oscar pada Record Store Day nanti.

12.04.17

Opini Segar dari Maverick

Eklektik jadi 1 kata yang bisa menggambarkan EP Maverick terbaru yang bertajuk "Unpopular Opinion." Terdiri dari 6 dengan warna beragam, Wing Narada selaku sosok di balik ini menunjukkan bahwa dirinya berani mengemukakan opininya akan musik yang berputar di sekitarnya menggunakan segala - tak terkecuali meme yang sempat terkenal pada kurun waktu tertentu. Dibuka dengan "Opinion #1" yang diwarnai suara kendang dan terompet khas lagu India, Maverick membawa pendengar ke tengah perayaan holi penuh dengan warna psychedelic. Adapun selanjutnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya, namun berkat kepiawaian Wing yang juga dikenal sebagai , transisi antara terasa sangat halus. Terlihat jelas bahwa Wing memiliki referensi musik yang kaya dan mampu memilah suara untuk membuat sebuah komposisi yang jahat, sehingga membuat EP ini terasa segar namun memiliki kompleksitas tertentu. Sisipan bebunyian kendang dan dawai di antara terompet menjadi bukti jelas yang membuat "Unpopular Opinion" menawarkan keriuhan berbeda dari yang ada di muka umum. Secara keseluruhan "Unpopular Opinion" memiliki dualitas kental. Tentu untuk mereka yang menyukai alternatif, ini merupakan suatu harta karun. Dengar atau download EP-nya secara gratis di Bandcamp Maverick. Unpopular Opinions by Maverick

11.04.17

Suara-suara di Balik Defile Jilid 2

Jika sebelumnya Defile menampilkan roster yang memiliki ragam musik mulai dari funk, ambient hingga brazil, jilid kedua ini akan menawarkan selektor yang tidak kalah galak, lengkap dengan kehadiran Gerhan dari Akamady Records sebagai bintang tamu. Kami mendapat kesempatan untuk bertanya beberapa hal kepada salah satu selektor Defile #2, yakni Gonzo aka Duck Dive yang tidak hanya dikenal sebagai produser lagu, tapi juga aktif sebagai DJ. Mulai dari inspirasi musik hingga bagaimana ia meramu tiap lagu, terdapat jawaban bahwa misteri alam memiliki keharmonisan yang tidak dapat digambarkan, namun selalu memiliki daya tarik baginya. Duck Dive bermula dari kecintaan saya terhadap musik ambient/new age, sehingga membuat saya untuk memulai yang berbasis improvisasi. Dalam hal , unsur “improvisasi” juga sangat digunakan, sehingga membuat saya ingin mempelajari lebih dalam. Selain itu, saya sangat menyukai konsep bahwa pada dasarnya DJ hanya memperdengarkan musik-musik koleksinya, yang mana dari situ akan terlihat ciri khasnya, genre seperti apa spesialisasinya. Beberapa tahun belakangan ini saya banyak mengikuti mixtape dari beberapa DJ luar maupun lokal yang sangat saya gemari, dan hal itu memperkenalkan saya kepada banyak track luar biasa yang membuat saya ingin terus , karena tidak akan ada habisnya. Seru! setelah mulai sering menjadi DJ? Dalam proses pembuatan lagu Duck Dive di album-album sebelumnya, saya merekam masing-masing dari tiap lagu menggunakan 4-Track Cassette Recorder yang lalu saya dan EQ sederhana dengan Cubase. Belakangan ini penggunaan (synthesizer, drum machine, efek, dll.) masih mendominasi dalam produksi , tetapi tidak lagi menggunakan 4-Track Recorder karena saya lebih banyak beralih kepada Ableton Live untuk merekam sembari meramu -nya. Saya rasa bisa dibilang sedikit lebih , namun tidak mendominasi. Saya berharap beat akan menambah kompleksitas dari lagunya. Sebagai penghias, bukan pondasinya. Intinya, tidak akan terlalu jauh dari materi saya yang sebelumnya. Hanya akan diwarnai saja. Saya rasa alam masih menjadi inspirasi utama, karena sebagai penyelam kecintaan saya terhadap laut, jelas tidak akan pernah selesai. Selain itu, tema laut, sungai atau hutan juga sangat selaras dengan genre fusion/jazz/new age yang sangat saya sukai. Instrumental, simple namun kompleks, damai, membangkitkan imajinasi. Unsur alam memang bisa dibilang sudah mendarah daging dalam pembuatan lagu Duck Dive. Sejak kecil saya memang sudah mencintai lagu-lagu instrumental yang bernuansa alam seperti album-album jazz Pat Metheny, Chick Corea, hingga film-film dokumenter, program TV pendidikan, dan lain-lain. Saya paling menyukai tema laut, sungai dan hutan karena penuh dengan ketenangan namun mempunyai sisi misteri yang dalam. Belakangan ini saya banyak mengumpulkan album-album new age/jazz/electronica tahun 80-an dari Jepang seperti Yoshio Suzuki, Mu Project, Toshifumi Hinata, Joe Hisaishi. Saya ingin mengarahkan materi saya ke sana. Dentum Dansa Bawah Tanah dibuat berdasarkan sebuah keinginan untuk mendokumentasikan sebuah sisi lain dari dunia gemerlap malam, yaitu masa di mana para penghasil musik elektronik arus pinggir dalam negeri, produktif menghasilkan karya-karya yang orisinil dan berkualitas. Saya berharap ini dapat selalu mengabadikan semangat para penggiatnya dalam berkarya tanpa dipengaruhi apapun yang terjadi di industri musik besar dan menjadi sebuah monumen bersejarah bagi generasi-generasi berikutnya. Di lain sisi, kami menanyai kali ini, Gerhan, tentang pendapatnya akan musik bawah tanah dengan pengalamannya sebagai DJ dan kesempatan untuk melihat perkembangan di San Francisco serta tentang kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah. di San Francisco pada tahun 90-an serta bermain di beberapa tempat sejak itu. Bagaimana hal tersebut membentuk karakter musik Gerhan? Untuk dapat tinggal dan merasakan di era tersebut tentunya itu adalah salah satu unsur yang kuat dalam membentuk dasar karakter musik saya hingga seperti sekarang ini. . Sebagai DJ dan produser, bagaimana Gerhan menyikapi musik alternatif? Apakah hal tersebut memiliki stimulan lebih daripada musik non alternatif? Menurut saya semua musik adalah stimulan bagi siapa yang menyukainya. Jadi menurut saya selama musik itu bagus alternatif atau non alternatif mempunyai tingkat stimulan yang sama bagi saya. sekarang masih bersifat ? Ya, pasti masih ada yang bersifat . Tetapi tergantung dari pengertian itu sendiri. di Jakarta? Apakah sudah cukup representatif? Menurut saya sudah cukup baik. Tetapi ini hanya sebagian kecil saja yang baru tercakup, dan mungkin untuk yang berikutnya bisa lebih spesifik lagi dengan kurasinya. Menurut saya masih terlalu Semoga semakin banyak artis/musisi muda yang dapat melahirkan musik-musik baru yang berkualitas dari Jakarta (tertawa). - Kamis, 13 April 2017 Gueens Head 21:00 Harvy, Android 18, Django, Duck Dive Special guest: Gerhan (Akamady Records) Gratis

10.04.17

Jelajah Spektrum Warna Heals

Dengan hanya bekal satu lagu berjudul “Void”, Heals mengemuka menjadi salah satu yang paling ditunggu dari Bandung post-2010’an. Tapi tak ada heran disitu, karena secara disonan dan komposisi, Alyuadi beserta kawan-kawan muncul dan mengisi kekosongan di irisan antara fans shoegaze dan alt-rock yang ternyata cukup besar dalam jumlah penggemar. Dan tentu tak hanya itu, nyatanya mereka mampu mengisi ceruk tersebut dengan kualitas yang mencukupi - kalau bukan lumayan, buktinya bisa dilihat pada angka nyaris empat puluh ribu plays di track "Void" yang mereka unggah 21 September 2014. Tiga tahun berselang, Heals memperpanjang usia mereka dalam album penuh pertama berjudul “Spektrum”. Berisi 10 lagu, album ini memasukkan “Void” dan “Wave” yang sempat keluar sebagai pengisi penantian menuju album. Dirilis bersama record label senior, Fast Forward Records, album ini bisa didapatkan sejak Minggu, 9 April 2017 dalam bentuk fisik dan digital. Jika “Void” telah menempatkan titik yang cukup tinggi pada ekspektasi kualitas karya Heals, album ini menjawabnya hingga tandas. Heals mengambil jarak yang cukup signifikan dengan shoegaze/post-rock ala Bandung kebanyakan. Alih-alih mengawang, album ini banyak berisi lick tajam (bahkan beraroma techy di beberapa part) yang akan mendapat penjelasan saat melihat latar belakang personilnya yang juga bermain di proyek musik metal (Alyuadi bermain di Caravan of Anaconda dan Deathless, Octavia bermain di Worthless Unit). Dan dengan itu, “Spektrum” bergabung bersama "Saudade" dari Annie Hall yang cukup distingtif diantara tren crossover shoegaze yang cenderung gitu-gitu aja sekarang. Dengarkan albumnya berikut.

08.04.17

Pulang Kampung bersama Deugalih

Sejak pertama kali mendengar gubahan puisi "Buat Gadis Rasyid" dari Chairil Anwar yang diterjemahkan menjadi lagu yang indah oleh Galih di awal tahun 2000an, sulit untuk tidak tertarik dengan karya-karya lain bikinannya. Terasa ada nuansa grunge yang bersembunyi di balik serak tarikan suaranya, namun jelas jalan yang Galih ambil bukan untuk menjadi martir genre yang meneriakkan "grunge harga mati", ia memilih jalan yang lebih sunyi, namun memiliki jalan yang jauh lebih terang di hati. Alih-alih mengeksplorasi karakter suaranya yang seolah diimpor langsung dari Seattle, ia mendekatkan diri dengan tanah lahirnya, dan menyanyikan lagu tentang bumi yang menopang pijak kakinya. Setelah merilis album Deugalih and Folks di tahun 2015, akhirnya ada karya baru dari Galih. Kali ini ia tampil sendiri bersama gitarnya menyanyikan lagu-lagu yang ada di kepalanya. Ini jelas adalah hal yang patut dirayakan, karena memang sejatinya, kualitas terbaik Galih ada di saat-saat seperti ini. Tulus dan jujur yang merupakan warna terbaik darinya bisa lebih terasa, dan dengan itu, indah sekali lagi ada. Sebagai pembuka menuju album yang rencananya akan dirilis pada 22 April mendatang, Deugalih merilis satu lagu berjudul "Di Kampungku" yang mengingatkan pada lagu lagu Franky Sahilatua. Simak lagunya berikut:

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.