Semenjak meraup pundi-pundi kesuksesan secara finansial maupun ulasan, ia perlahan menapaki strata hegemoni yang tak perlu banyak publisitas. Feist semakin konsisten dalam melantunkan entitas tembang yang meletuskan energi melankolia. Ada harmoni , , hingga distraksi kegetiran laiknya catatan pribadi Lindsey Buckingham. Semua disusun atas sepasang pengharapan; merapalkan cita, menebalkan pesona.
Akhir April 2017, album terbarunya yang bertajuk rilis ke pasaran. Polanya selaras dengan kreasinya yang sudah-sudah; menghentak kesepian, melukis gores keputusasaan, dan mencari momentum kebangkitan tak bertuan. Memuat 11 (sebelas) komposisi yang diciptakannya sendiri, ia membaurkan aroma Crosby, Still & Nash era hingga minimalis milik Burt Bacharach.
Lagu-lagunya berpesan tentang sekelumit petuah; mencela konsepsi mimpi pada “Lost Dreams”, menjaga batas logika lewat “The Wind”, maupun menolak keberpihakan di trek “I’m Not Running Away.” Apabila manuskripnya tempo hari adalah monolog yang disadur dengan serpih subtil, maka merupakan dialog yang melepaskan kebebasan tafsir untuk khalayak ramai.
Terberkatilah mereka yang sempat merasakan kejayaan MTV dan menikmati beragam video klip dengan konsep liar. Mulai dari yang bertema super hip hop sampai lengkap dengan dan penari latar. Tentu banyak elemen menarik yang membuat musik di sekitar tahun 90-an dan awal 2000 menjadi dan . Terlepas dari aransemen yang diramu untuk membuat lagu-lagu tersebut , kreasi video klip yang muncul kala itu mampu menstimulus imajinasi atau nuansa musik para secara tepat jitu. Bahkan tidak jarang pula koreografi yang dibuat khusus untuk suatu lagu menjadi sebuah agenda spesial di antara anak muda dahulu kala - karena siapa yang tidak tergerak untuk menghapal tarian di video klip Britney Spears - Oops!… I Did It Again.
Terkait dengan fenomena tersebut, 4 orang sekawan yang dulu bersekolah di San Francisco, Inka, Ames, Andri, dan Try melihat sebuah gerakan yang berkembang di sana - di mana sebuah acara tidak melulu bersifat eksklusif. Lalu mereka pun memutuskan untuk mengadaptasi tersebut ke Jakarta. Kami berkesempatan untuk mengobrol dengan mereka terkait alternatif yang mereka buat, yakni Videostarr.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat banyak alternatif muncul sebagai respons terhadap kejenuhan EDM di Jakarta. Sementara sebagian besar gerakan dalam eksklusivitas memainkan koleksi vinyl yang , kami mencoba untuk mengembalikan sifat inklusif dari sebuah .
Di balik gerakan yang bersifat , kami juga merasa bahwa genre yang dibawakan masih kurang beragam. Sedangkan, pada saat kami berempat kuliah di San Francisco, kami melihat bahwa di sana berani untuk memainkan berbagai macam genre musik tanpa pandang bulu. Berawal dari pengalaman itu, kami ingin menantang ide musik yang dianggap layak untuk di Jakarta saat ini.
Pada dasarnya, Videostarr itu sendiri menyuguhkan yang mengutamakan presentasi video/visual dan lagu-lagu yang terkurasi. Untuk acara Time After Time After Time, kami ingin mengangkat musik pop dengan unsur sebagai kunci utama. Berangkat dari konsep ini, kami ingin menantang publik akan atau tidaknya suatu lagu dan layak atau tidaknya lagu tersebut untuk diputar di . Selain itu, kita ingin menghadirkan nuansa nostalgia yang tentunya dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan, mulai dari sampai Snapchat yang relatif baru di ini.
Untuk Time After Time After Time, fokus kami memang pada era tersebut, karena kami sendiri dan sebagian besar kami tumbuh dengan beragam video klip MTV pada era emas itu. Kami pernah membaca sebuah artikel mengenai musik berjudul Neural Nostalgia oleh Mark Joseph Stern, yang menyatakan bahwa para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa otak kita membuat ikatan terhadap musik yang kita dengar saat masa remaja lebih erat dari apapun yang akan kita dengar saat kita beranjak dewasa – hubungan tersebut tidak akan melemah seiring bertambahnya usia kita.
Musik nostalgia, dengan kata lain, bukan hanya fenomena kultural, melainkan perintah neuron. Dan tidak peduli seberapa selera kita saat beranjak dewasa, otak kita mungkin tetap mempunyai ikatan pada lagu-lagu yang kita dengarkan selama kita masih menjalani kehidupan remaja. Maka, secara subjektif tentu saja, menurut kami lebih video musik pop masa tersebut.
Di era digital sekarang, video klip masih relevan, tapi mungkin lebih -nya. Hanya mereka yang memang tertarik dengan visual yang akan untuk mengulik seperti apa sih video klip lagu yang mereka suka.
yang sebenarnya ingin diraih oleh Videostarr? Apakah seperti di video klip Salt n Pepa - Whatta Man?
Untuk Time After Time After Time, kami ingin atmosfer party yang dan yang terpenting , karena kami juga menyelipkan lagu-lagu yang biasanya hanya terdengar di ruang karaoke atau bahkan di kamar mandi. Faktanya, lagu-lagu seperti RATU - Teman Tapi Mesra dan Miley Cyrus - Party In The USA sukses menjadi di acara kami. Untuk ke depannya, kami ingin menjaga (baik dari seleksi lagu maupun visual) di setiap acara kami.
-
Bal-0
Rawdeal
Diskocok
Jum’at, 5 Mei 2017
The Safehouse
21:00
Morfem mungkin adalah band indie-rock paling militan dan paling produktif saat ini. Usianya belum terlalu panjang, namun telah banyak melebihi banyak band lama maupun band muda dalam hal rilisan. Di luar aktivitas rekamannya, Morfem juga giat dalam menciptakan inisiatif gigs bagi Morfem dan band indie rock lokal melalui acara rutin berjudul "Thursday Noise", dimana kegelisahan anak muda urban menyatu dengan bising musik dalam kafe-kafe kecil di sekitar Jakarta Selatan.
Nuansa inilah yang kemudian diterjemahkan dalam videoklip "Roman Underground" yang juga muncul sekaligus sebagai single dari album "Dramaturgi Underground rilisan tahun 2016 lalu. Yang menarik pada video ini, Jimi Multhazam bersama Surya Adi dari Barde Films memilih penceritaan yang setia dengan lirik lagu tentang kisah kasih yang terjadi di gigs underground. Sebuah kisah yang sangat sederhana, namun juga sangat nyata di saat yang sama. 1xbet is the best in the world. Good odds, big bonuses, and most importantly - a very fast withdrawal of money to payment details!
Setelah Bandung, tur musik Defile akan menyambangi Jawa Timur, tepatnya Surabaya untuk terus menyebarkan konsep versi Dentum Dansa Bawah Tanah. Kembali membawa Django, namun kali ini ditemani oleh Sattle dan Baldi. Keduanya dikenal membuat sebuah unit bernama Batas Echo yang sejauh ini telah mengeluarkan 2 versi re-edit di akun Soundcloud-nya. Kami berkesempatan mengobrol dengan Sattle sebelum ia tampil di Surabaya untuk menanyakan tentang monikernya dan konsep Batas Echo.
Tadinya cuma mau membedakan moniker saat bermain drum & bass bersama Javabass. Jujur secara arti sih ya tidak ada sesuatu yang ingin diutarakan, kecuali menurut pribadi saya lebih gampang diingat saja dengan nama itu.
dan lagu?
Proses kreatif bisa datang dari mana saja. Biasanya datang atas dasar ketertarikan suatu hal, misalnya ada periode di mana saya sedang suka musik tertentu. Maka daripada terpendam, ya apa salahnya ditulis? Minimal jadi dulu -nya. Kalau lagi rajin, bisa sampai selesai. Tapi kalau tidak selesai, juga tidak apa. Ya anggap saja itu bagian dari proses pembelajaran. Semakin kita mencoba banyak hal semakin pula kita tahu diri kita seperti apa.
Awalnya karena hubungan pertemanan yang berlanjut ke ide untuk membuat suatu proyek musik, serta kekaguman kami terhadap karya Harry Roesli dalam album "Harry Roesli '83" berjudul "Batas (Echoes 1)" yang menjadi inspirasi kami untuk membentuk Batas Echo. Berangkat dari keisengan kami dalam re-edit lagu Indonesia lama yang nanti mungkin berkembang menjadi bentuk karya lain. Itu juga kalau Tuhan memberkati (tertawa).
Konsep re-edit yang kami tawarkan sebatas ingin menggubah lagu Indonesia agar bisa dimainkan oleh DJ, pada khususnya. Sekilas memang tidak banyak yang berubah dari lagu aslinya - hanya sebatas . Mungkin tantangannya ialah bagaimana mendapatkan dari lagu yang bagus secara kualitas suara dan dalam hal ini re-edit menjadi sesuatu yang sensitif terkait dengan hak cipta. Tetapi kembali lagi ke tujuan awal, jadi tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang kami bisa lakukan untuk teman-teman agar bisa menikmati karya lama dari musisi Indonesia ke dalam dalam format re-edit.
Sangat antusias ketika menyambut tawaran dari pihak DDBT, karena ini bisa menjadi salah satu rekam jejak musik Indonesia; untuk lebih spesifiknya musik elektronik, setelah kompilasi Jakarta Movement yang sangat memorable bagi saya pribadi ketika pertama kali mendapatkan kasetnya.
-
Defile #4
Sabtu, 29 April 2017
The Goods Diner Surabaya
21:00
Django, Sattle, Baldi
Special guest:
Kylko, Sinatrya
Ada dua akhir pekan panjang yang akan datang di akhir April dan awal Mei ini. Momen-momen seperti ini adalah saat yang tepat untuk rehat sejenak dari aktivitas, sekaligus mendekatkan diri kembali pada keluarga dan kenyamanan yang sering terlupakan di antara keseharian. Berikut adalah beberapa musik pilihan yang bisa menemani saat-saat tersebut, beberapa di antaranya juga bisa didapatkan versi fisiknya di Records Store Day 2017.
Tak ada yang lebih indah daripada suasana sore akhir pekan dengan musik menenangkan sembari mengingat kembali masa kecil yang menyenangkan. Melalui cover Simon Garfunkel ini, Monita Tahalea memberikan lebih dari itu. Digarap bersama Indra Perkasa dari Tomorrow People Ensemble, terjemahan lagu klasik “Sound of Silence” ini menunjukkan potensi sejati yang dimiliki Monita, yang semoga akan bisa lebih kentara di materinya yang akan datang.
Jika ada yang menanyakan siapa yang bisa menjadi penerus Efek Rumah Kaca di masa yang akan datang, Moonbeams bisa menjadi salah satu kandidat terkuatnya. Muncul tanpa pretensi, dan dengan latar belakang yang cukup menarik (drummer Moonbeams juga bermain di unit powerviolence, Disfare), mereka menunjukkan potensi itu. “Coolibah ‘97” lagu terbaru mereka semakin menguatkan kesan tersebut, ada beberapa bagian yang mengingatkan pada lagu “Balerina”, dan yang menarik adalah Moonbeams tak literal dalam berkarya, di sana-sini, Moonbeams juga terasa seperti bentuk baru dari band indie lawas, Planetbumi. Dengan kombinasi menarik Efek Rumah Kaca dan Planetbumi, rasanya Bin Harlan, sosok indies yang menemukan Cholil dan kawan-kawan pasti bangga.
Dengan sedemikian banyak pantai yang dimiliki Indonesia, entah kenapa belum terlalu banyak band yang menjelajahi ombak dari genre surf-pop/pop. The Mentawais adalah salah satu yang berani melakukannya dan menghasilkan bebunyian instrumental indah sebagai hasil akhirnya. Dan jika hasilnya semenarik ini, di suatu sudut sana, Ratu Pantai Selatan pasti menyepakatinya.
Setelah rehat selama setahun, Ramayana Soul kembali untuk menyelesaikan hal-hal yang belum usai. Di pertamanya ini, psikedelia sekali lagi datang dengan balutan suasana yang sedikit lebih cerah, namun tetap kental dengan suasana spiritual.
--
Materi dari Moonbeams (Leeds Records), The Mentawais (Hujan! Rekords), dan Ramayana Soul (Pas Pas Records) dirilis dalam bentuk fisik pada Records Store Day 22 April 2017 ini. Mari mengisi liburan dengan mengunjungi toko musik independen lokal terdekat!
Tur mikro bawaan Dentum Dansa Bawah Tanah kembali hadir dan kali ini merajai kota Bandung. Defile terus menyebarkan semangat ala mereka dan membawa roster pilihannya dibarengi dengan nama-nama dalam skena sebagai bentuk kolaborasi guna menawarkan padanan seleksi lagu pemeriah lantai dansa.
Salah satu pengisi acara untuk Defile kali ini adalah Pujangga Rahseta aka Rhst aka Django. Hadir dengan banyak moniker dan afiliasi; mulai dari Divisi62, DEAD Records, Funkbox Records, hingga The Cru Creatives, Django memiliki ragam referensi musik yang patut diperhitungkan. Kami berkesempatan untuk bertanya tentang apa pembeda karakter antara monikernya serta bagaimana ia mendekonstruksi musik bersama Wahono dan RMP.
Berkembangnya selera saya awalnya berdasarkan sekadar biar terlihat keren dengar musik aneh di sekolah. Lalu belajar memadukan musik dengan runtutan tertentu untuk didengarkan sendiri, atau saat membuatkan mixtape untuk seseorang. Hal-hal klise tersebut yang akhirnya membuat saya eksplorasi musik yang bermacam-macam.
Sampai sekarang juga bereksplorasi masih menjadi utama saya. Akhirnya memutar musik sebagai DJ juga karena ingin memutar musik kesukaan pribadi untuk kalangan teman dekat. Kemudian setelah menemukan serunya sharing musik dengan orang lain lewat DJ set. Lalu jadi keterusan.
Pembedanya mungkin hanya di pendekatan, dan narasi yang ingin disampaikan lewat musik saja. Pendekatan saya kepada tiap moniker dan afiliasi mungkin lebih seperti mendalami peran. Django sendiri selalu suka musik yang mengandung unsur suara ketipang-ketipung dan dentam-dentum unik.
deck?
DIVISI62 terbentuk dari pembicaraan panjang di mana muncul ide-ide bersama. , label ini bertujuan untuk mencapai . Ketika tampil sebagai konstituen DIVISI62, seleksi saya akan mencoba mendekonstruksi ragam identitas musik dansa elektronik hingga tribal/etnik lokal dan global dengan interpretasi sendiri.
Judul Kamseng Riddim muncul karena waktu produksi trek tersebut, saya sedang menunggu datangnya pesanan bubur babi , cakwe, & ubur-ubur dari restoran Kamseng waktu dini hari. Begitu ceritanya.
yang ada dalam skena musik . Menurut Anda yang memiliki ketertarikan pada musik elektronik/dance, musik dance seperti apa yang belum diliput oleh Aldo; selaku inisiator, dan kawan-kawan?
Menurut saya, musik dalam skena musik yang belum diliput/masuk kompilasi ini masih banyak. Tapi keluasan dan kedalaman berdasarkan genre atau afiliasi bukanlah tujuan utama dari kompilasi ini.
Kompilasi ini adalah potret dari sebagian skena ini sekarang. Artefak skena musik dansa arus bawah tanah dengan menilik beberapa nama yang dipilih menurut preferensi si pembuat. Jadi kalau banyak yang merasa kurang terwakilkan, saya harap akan lebih banyak lagi yang tergerak untuk membuat hal yang serupa dan lebih baik. Biar makin seru.
-
Sabtu, 22 April 2017
Verde
21:00
Django, Harvy, Android 18
Special guest:
Herta (Scrubs) dan Bagvs (Roofless)
Gratis