Music

10.05.17

Nada Dunia bersama Suarasama

Melalui bunyi dan melodi, Suarasama telah mengangkat khasanah musik lokal ke tataran internasional. Bekerja sama dengan Ruru Corps, Whiteboard Journal berbincang bersama Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap mengenai etnomusikologi, warna musik nusantara, hingga salah konsepsi world music.

09.05.17

LL/TCM Merilis EP “Morning Lights”

Marvin V. Saliechan (The Colour Mellow, Rekah) dan Dylan Amirio (Logic Lost) telah berbagi proyek ambient dengan nama LL/TCM sejak 2013 lalu. Mereka telah merilis 3 dengan judul Colour Lost. Rilisan teranyar mereka "Morning Lights" bisa saja dibilang sebagai Colour Lost IV. Ada jarak 4 tahun antara Colour Lost III dan Morning Lights. Di entitas ini terdapat tekanan gitar yang lebih berisik namun tetap mempertahankan kedamaian atmosfer ambient yang dibangun. Selain itu Marvin dan Dylan juga berbagi vokal pada beberapa lagu dan menjadikan EP ini sebagai satu-satunya yang baru memiliki muatan lirik di dalamnya. Eksplorasi dua personel yang memiliki latar karakter musikalitas yang berbeda, berbaur dalam satu gubahan yang seimbang. Karakter gitar Marvin dan eksplorasi bebunyian Dylan disulam dalam satu bangunan ambient yang mengharuskan mereka mengatur nuansa damai. Ada siasat yang cermat dari pemilihan nuansa setiap lagu dan pemberian judul dalam entitas ini. Membaca karya ini akan sesederhana mendengarkannya. Penyiaran Morning Lights sama seperti 3 EP lain yang sebelumnya yakni dapat dinikmati langsung lewat Bandcamp mereka. Morning Light by LL/TCM

08.05.17

Kolase dalam Album Perdana Dangerdope “Raw Chapter One”

Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya. Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya. Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.

03.05.17

Meneruskan Capaian Konsisten dari Feist

Semenjak meraup pundi-pundi kesuksesan secara finansial maupun ulasan, ia perlahan menapaki strata hegemoni yang tak perlu banyak publisitas. Feist semakin konsisten dalam melantunkan entitas tembang yang meletuskan energi melankolia. Ada harmoni , , hingga distraksi kegetiran laiknya catatan pribadi Lindsey Buckingham. Semua disusun atas sepasang pengharapan; merapalkan cita, menebalkan pesona. Akhir April 2017, album terbarunya yang bertajuk rilis ke pasaran. Polanya selaras dengan kreasinya yang sudah-sudah; menghentak kesepian, melukis gores keputusasaan, dan mencari momentum kebangkitan tak bertuan. Memuat 11 (sebelas) komposisi yang diciptakannya sendiri, ia membaurkan aroma Crosby, Still & Nash era hingga minimalis milik Burt Bacharach. Lagu-lagunya berpesan tentang sekelumit petuah; mencela konsepsi mimpi pada “Lost Dreams”, menjaga batas logika lewat “The Wind”, maupun menolak keberpihakan di trek “I’m Not Running Away.” Apabila manuskripnya tempo hari adalah monolog yang disadur dengan serpih subtil, maka merupakan dialog yang melepaskan kebebasan tafsir untuk khalayak ramai.

03.05.17

Party Tanpa Eksklusivitas ala Videostarr

Terberkatilah mereka yang sempat merasakan kejayaan MTV dan menikmati beragam video klip dengan konsep liar. Mulai dari yang bertema super hip hop sampai lengkap dengan dan penari latar. Tentu banyak elemen menarik yang membuat musik di sekitar tahun 90-an dan awal 2000 menjadi dan . Terlepas dari aransemen yang diramu untuk membuat lagu-lagu tersebut , kreasi video klip yang muncul kala itu mampu menstimulus imajinasi atau nuansa musik para secara tepat jitu. Bahkan tidak jarang pula koreografi yang dibuat khusus untuk suatu lagu menjadi sebuah agenda spesial di antara anak muda dahulu kala - karena siapa yang tidak tergerak untuk menghapal tarian di video klip Britney Spears - Oops!… I Did It Again. Terkait dengan fenomena tersebut, 4 orang sekawan yang dulu bersekolah di San Francisco, Inka, Ames, Andri, dan Try melihat sebuah gerakan yang berkembang di sana - di mana sebuah acara tidak melulu bersifat eksklusif. Lalu mereka pun memutuskan untuk mengadaptasi tersebut ke Jakarta. Kami berkesempatan untuk mengobrol dengan mereka terkait alternatif yang mereka buat, yakni Videostarr. Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat banyak alternatif muncul sebagai respons terhadap kejenuhan EDM di Jakarta. Sementara sebagian besar gerakan dalam eksklusivitas memainkan koleksi vinyl yang , kami mencoba untuk mengembalikan sifat inklusif dari sebuah . Di balik gerakan yang bersifat , kami juga merasa bahwa genre yang dibawakan masih kurang beragam. Sedangkan, pada saat kami berempat kuliah di San Francisco, kami melihat bahwa di sana berani untuk memainkan berbagai macam genre musik tanpa pandang bulu. Berawal dari pengalaman itu, kami ingin menantang ide musik yang dianggap layak untuk di Jakarta saat ini. Pada dasarnya, Videostarr itu sendiri menyuguhkan yang mengutamakan presentasi video/visual dan lagu-lagu yang terkurasi.​ Untuk acara Time After Time After Time, kami ingin mengangkat musik pop dengan unsur sebagai kunci utama. Berangkat dari konsep ini, kami ingin menantang publik akan atau tidaknya suatu lagu dan layak atau tidaknya lagu tersebut untuk diputar di . Selain itu, kita ingin menghadirkan nuansa nostalgia yang tentunya dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan, mulai dari sampai Snapchat yang relatif baru di ini. Untuk Time After Time After Time, fokus kami memang pada era tersebut, karena kami sendiri dan sebagian besar kami tumbuh dengan beragam video klip MTV pada era emas itu. Kami pernah membaca sebuah artikel mengenai musik berjudul Neural Nostalgia oleh Mark Joseph Stern, yang menyatakan bahwa para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa otak kita membuat ikatan terhadap musik yang kita dengar saat masa remaja lebih erat dari apapun yang akan kita dengar saat kita beranjak dewasa – hubungan tersebut tidak akan melemah seiring bertambahnya usia kita. Musik nostalgia, dengan kata lain, bukan hanya fenomena kultural, melainkan perintah neuron. Dan tidak peduli seberapa selera kita saat beranjak dewasa, otak kita mungkin tetap mempunyai ikatan pada lagu-lagu yang kita dengarkan selama kita masih menjalani kehidupan remaja. Maka, secara subjektif tentu saja, menurut kami lebih video musik pop masa tersebut. Di era digital sekarang, video klip masih relevan, tapi mungkin lebih -nya. Hanya mereka yang memang tertarik dengan visual yang akan untuk mengulik seperti apa sih video klip lagu yang mereka suka. yang sebenarnya ingin diraih oleh Videostarr? Apakah seperti di video klip Salt n Pepa - Whatta Man? Untuk Time After Time After Time, kami ingin atmosfer party yang dan yang terpenting , karena kami juga menyelipkan lagu-lagu yang biasanya hanya terdengar di ruang karaoke atau bahkan di kamar mandi. Faktanya, lagu-lagu seperti RATU - Teman Tapi Mesra dan Miley Cyrus - Party In The USA sukses menjadi di acara kami. Untuk ke depannya, kami ingin menjaga (baik dari seleksi lagu maupun visual) di setiap acara kami. - Bal-0 Rawdeal Diskocok Jum’at, 5 Mei 2017 The Safehouse 21:00

02.05.17

Roman Underground Morfem

Morfem mungkin adalah band indie-rock paling militan dan paling produktif saat ini. Usianya belum terlalu panjang, namun telah banyak melebihi banyak band lama maupun band muda dalam hal rilisan. Di luar aktivitas rekamannya, Morfem juga giat dalam menciptakan inisiatif gigs bagi Morfem dan band indie rock lokal melalui acara rutin berjudul "Thursday Noise", dimana kegelisahan anak muda urban menyatu dengan bising musik dalam kafe-kafe kecil di sekitar Jakarta Selatan. Nuansa inilah yang kemudian diterjemahkan dalam videoklip "Roman Underground" yang juga muncul sekaligus sebagai single dari album "Dramaturgi Underground rilisan tahun 2016 lalu. Yang menarik pada video ini, Jimi Multhazam bersama Surya Adi dari Barde Films memilih penceritaan yang setia dengan lirik lagu tentang kisah kasih yang terjadi di gigs underground. Sebuah kisah yang sangat sederhana, namun juga sangat nyata di saat yang sama. 1xbet is the best in the world. Good odds, big bonuses, and most importantly - a very fast withdrawal of money to payment details!

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.