Music

18.05.17

Seazoo, Musim Panas dan Harapan Bahagia

Menyambut hangatnya musim panas merupakan ritual wajib yang dilakukan bagi setiap orang tak terkecuali di Indonesia. Menyusun jadwal liburan, menentukan tempat vakansi, serta menimbang pelbagai kegiatan apa saja yang dilakukan adalah deretan contoh terkini. Asal bahagia, asal menarik tawa. Hal itu dipahami betul oleh Seazoo dengan melepas nomor baru yang menggambarkan kemeriahan pesta karnaval dan keceriaan pinggir pantai. Adalah “Roy’s World” yang menjadi tajuk lagu kuintet indie-pop dari Wales ini. Track sepanjang 3 menit tersebut menyediakan hal-hal yang bisa dinikmati; kocokan gitar jangly, liukan harmoni keyboard, sampai pukulan upbeat yang meriah. Hasilnya? “Roy’s World” dapat dipasang sembari bertukar cerita bersama kawan maupun menghabiskan siang yang terlampau sulit dilupakan. Seazoo memasukan “Roy’s World” dalam bagian album penuh yang rencananya dirilis di bulan Mei. Direkam pada jarak yang memisahkan antara studio rumah di sisi gunung Radnorshire dan bunker nuklir Wrexham, “Roy’s World” mengingatkan pada pesona Comet Gain, Hot Chip, maupun The Field Mice. Tapi yang terpenting: sertakan dalam usang dan putar kencang-kencang menuju medan penghiburan.

17.05.17

Seahoarse dan Debut yang Ditunggu

Kolibri Rekords dikenal sebagai salah satu label yang gencar mengenalkan musisi independen ke khalayak ramai. Berbasis di Jakarta, mereka konsisten memunculkan nama-nama baru yang patut diperhatikan. Tercatat ada Atsea, Bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, Low Pink, hingga Seahoarse. Masing-masing memiliki karakter dan warna yang beragam dan terpenting menunjukkan semangat muda-mudi untuk berkarya. Kali ini, kabar baik datang dari salah satu unit asuhan mereka; Seahoarse. Kuartet asal Yogyakarta yang digawangi oleh Gisela Swaragita (bas, vokal), Rudi Yulianto (gitar), Judha Herdanta (gitar), dan Aditya Putra (drum) tersebut dipastikan mengeluarkan debut album penuh bertajuk Magical Objects. Rencananya, Magical Objects akan dilepas di waktu terdekat dengan memuat total 10 (sepuluh) lagu di dalamnya. Demi memenuhi dahaga para pengikutnya, pihak Kolibri Rekords sudah menyiapkan pemesanan Magical Objects via online. Seperti dilansir pada situs resmi mereka, terdapat dua macam barang yang bisa didapatkan: CD bundle dan T-shirt bundle. Sedangkan batas akhir pemesanan dipatok tanggal 31 Mei 2017. Di lain sisi, Seahoarse juga telah melepaskan sebuah berjudul “Apprentice.” Berdurasi tiga sekian menit, nomor ini kental dengan irama surf-pop yang menyenangkan. Alunan gitar yang renyah, perpindahan yang asyik, serta ketukan yang sempurna untuk mengajak pemirsa larut menjadi ciri khas tersendiri; dan mungkin menggambarkan bagaimana Magical Objects nantinya. Apabila kondisi batin berada di ambang keterpurukan, putar “Apprentice” lalu biarkan keriaannya meresap di kepala.

17.05.17

Membaca Manusia dan Kemanusiaan dalam Humanz

Sudah beberapa minggu sejak Humanz dirilis dan diperdengarkan. Beberapa video animasi khas juga telah mewarnai kanal YouTube sebulan terakhir ini. Setiap telinga dan jiwa memiliki kesan masing-masing untuk memaknainya. Albarn dan Hewlett masih mengemas album Gorillaz seperti keseluruhan karya sebelumnya yang banyak menggaet banyak musisi dan talenta dari seluruh dunia. Album ini mencantumkan 24 nama kolaborator yang beberapa di antaranya adalah Vince Staples, Peven Everett, Popcaan,D.R.A.M., dan Jehnny Beth serta keterlibatan Noel Gallagher yang turut berbagi panggung dengan Albarn saat konser Gorillaz bulan lalu. Proyek musik Albarn dan Hewlett yang dimulai dari 2 dekade lalu seakan ingin mewujudkan gagasan yang mereka pertahankan untuk selalu menggiring barisan artis yang variatif. Setelah fantasi akan peperangan dan perilaku konsumerisme serta masyarakat dilukiskan oleh album The Plastic Beach, muatan gelap Humanz menarasikan perubahan politis dunia yang terkesan tersegregasi. Kurang lebih ketakutan Albarn saat Trump terpilih serta bangkitnya individualisme menjadi ironi yang nyata saat album ini dirilis. Lewat judulnya tertanam pesan tegas tentang manusia dan kemanusiaan yang kini menghadapi fase baru. Beberapa mungkin masih kecewa karena album ini nyatanya tidak menghadirkan nuansa musik yang menghasilkan kekuatan seperti pada dua album pertama mereka. Banyak yang mengharapkan Albarn mengambil porsi vokal dan menuangkan senandung yang layak dilagukan lagi seperti dalam salah satu lagu terbaik mereka ‘Feel Good Inc.’, tetapi nyatanya bangunan musik belasan tahun lalu itu tidak diulang. Di sinilah justru musikalitas dan muatan pesan yang Humanz emban mengambil jalan yang sama, menghentikan romantisisme dan melakukan transisi yang berarti. Masih ada beberapa nuansa lagu yang kuat seperti pada potongan lirik repetitif yang dinyanyikan Vince Staples dalam lagu Ascension. Bagi beberapa telinga yang terlalu akrab dengan nuansa Demon Dayz, jelas ada keraguan untuk menerima Humanz yang instrumen dan nuansa musiknya lebih Di luar musikalitasnya, muatan Gorillaz juga dapat dicermati lewat visual yang lebih sederhana. Mengambil video musik yang lebih canggih, dunia yang 2D, Murdoc, Russel, dan Noodle jalani dalam video lebih nyata dan dengan memberi visual keseharian tentang kota, masyarakat urban, dan fantasi sederhana akan rumah horor. Lebih jauh, masih ada edisi Deluxe Vinyl Box Set yang rencananya baru akan dirilis Agustus nanti, memuat beberapa lagu baru yang belum pernah didengarkan untuk menjadi tambahan pada album baru mereka ini. Lengkap dengan sebuah Artbook, bisa jadi kemasan ini nantinya memberi muatan tekstual yang mendukung pesan satir dari Humanz seperti saat merilis album pertama ketika mereka juga memuat sebuah buku berjudul Rise of The Ogre! yang menarasikan kisah fiksional para karakter Gorillaz.

16.05.17

Keintiman HAIM dan Polesan Paul Thomas Anderson

Dalam studio yang sepi, Danielle memainkan piano klasiknya. Tatapannya tenang seolah ia sudah bersiap menyalurkan emosinya sejak lama kala intonasinya perlahan menyibak kesunyian. Menjelang , Este mulai menimpali pondasi yang telah dirancang. Sedangkan Alana berupaya memenuhi bagiannya dengan kontemplasi distorsi yang minimalis sebelum akhirnya mereka menuntaskan klimaks; pukulan perkusi dan teriak pengharapan. Gambaran tersebut merupakan garis besar dari terbaru trio asal Los Angeles, HAIM yang berjudul “Right Now.” Selain memiliki karakter kuat, “Right Now” juga ditunjang secara sinematik oleh Paul Thomas Anderson (PTA). PTA dengan baik menangkap makna nada yang termaktub; menyoroti keintiman melalui sederhana selama hitungan menit berjalan. Tak lebih, tak kurang. “Right Now” menjadi bagian dari album penuh mereka bertajuk Something to Tell You yang rencananya akan dirilis pada bulan Juli mendatang. Memuat 11 (sebelas) nomor, HAIM masih membawa nuansa pop-rock yang menyegarkan. Jika dihitung, butuh waktu empat tahun untuk HAIM melepas rilisan kedua setelah Days Are Gone yang banjir pujian.

15.05.17

Seleksi Karya: XL Recordings

XL Recordings merupakan sebuah kolektif turunan Beggars Group yang didirikan Nick Halkes, Richard Russell, dan Tim Palmer pada tahun 1989. Sempat mengalami reformasi genre yang dibawa di awal kemunculan, mereka berhasil melewati lintasan zaman sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Melahirkan deretan musisi ikonik mulai dari The Prodigy, Radiohead, sampai Adele, berikut adalah beberapa album terbaik yang pernah dilahirkan XL Recordings.

10.05.17

That Fat Feline with Many Monikers

We had to conduct this in English because our long friend apparently speaks eloquently in this language. Continuing the hype of Defile for the past 4 episodes, this time the crew will visit Yogyakarta’s scene along with local heroes - Django, Android 18, Moustapha Spliff and not to forget to invite Ones, Ffonz and SKS to stomp the dance floor. For those who know better, Ffonz and Moustapha Spliff are pretty much the same person. But who is he and why he remains mysterious since the first time he got back to Indonesia? We got a chance to ask some fundamental questions to reveal who he is. Vinyl and cats? Let's start with cats. I basically grew up in a hippie-esque household where animals are able to come in and out as they pleased. Being Jakarta, these are mostly cats. So I always played with them as a kid. And when I was in Holland I used to cat-sit for friends before finally adopting a couple of cats myself. So yeah, there's this fascination from childhood. Plus they're strange and arrogant motherfuckers, something that weirdly endeared them to me. As far as records are concerned, I bought them out of necessity. Because it was cheap. Back in 2002-2004, after leaving Manchester to live in Holland, I found that most of the CDs I was looking for (mainly Dylan, Bowie, Pink Floyd, etc.) were going for 10-15-20 Euros each, which was expensive for a student who cleaned toilets for a living. LPs were going for around 5 euros and EPs were 1 or 2 euros. So yeah, it's an economical decision. Ffonz is me, the double F being a typo that I never seemed to bother getting rid of. Moustapha's my cousin from Istanbul. He came here a couple of years ago in a container ship transporting garden chairs. It just so happens that he likes psychedelic rock as well as his native Turkish joints and other middle-eastern crackers. Humphrey's an old neighbour of mine from when I was living in England, who moved to Jakarta a few months ago. He's a weird fellow. He considers marshmallows an aphrodisiac and likes to chirp like a bird every-time he's taking a dump. Ah Red Light Radio (RLR), one of the funnest times of my life. I was lucky because I was introduced to the guys who were running it (Orpheu de Jong and Hugo van Heijningen) just as they set up the station. I was invited as a guest for another RLR regular called Future Vintage to be interviewed and spin in conjunction with that Those Shocking Shaking Days comp.That was my first ever appearance on the station. Luck also had it that I was close friends with another RLR regular, Mark Cremins (aka Nose van Conk, Mark From Middlesex, Carl Cardigan), who was head distributor for Amsterdam's Rush Hour Records. Out of the blue he set up a slot for me at RLR, playing a jazz set with Mo Kolours. During that show Mark introduced me to Hugo and Orpheu, and being the nice souls they are, offered me a bi-weekly spot. Couldn't say no to that. And all those cats I mentioned above had an extreme diverse taste in music. From weird disco to bizarre spoken word records, greek electronica, various shades of hard rock/metal/psych/prog, middle-eastern folk and pretty much everything in between. Plus listening to the other slots on the station just added to that. So yeah of course it opened my eyes and ears. Interesting question as I never really pondered as to why. If I had to put my finger on it, I guess it's because I had a fascination with blues from a very early age. My dad used to play in blues bands so I was always drawn to the blue notes. I mean it's a style of music where the artists sounds sad and happy at the same time. How could you not love that? Jazz in particular has a strong blues influence, with many of early jazz records pretty much being sped up blues music with 4 pounds of swing added into it. Plus stuff by Louis Armstrong, W.C. Handy, King Oliver and the likes had the name 'blues' within their song titles. St. Louis Blues, Potato Head Blues, Aunt Hagar's Blues, etc. And that blues influence in jazz stayed pretty much up till the 60s. And all the other shades of Black American music I like, be it rhythm and blues, soul, funk, hip hop, disco, house, techno,etc. grew out of those two aforementioned genres. And what all these genres, from blues to techno and hip hop had in common was improvisation. Something else that attracted me from a very early age. The ideal party? One where punters don't ask the guy playing records to "put on some R&B" all the fucking time. - Sabtu, 13 Mei 2017 Taphouse Beer Garden, Yogyakarta 20:30 Django Android 18 Moustapha Spliff Guest appearance: Ffonz (W_Music) Ones (Casual Dance) SKS

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.