Music

06.06.17

Selentingan Ringan dari Basboi

Dunia hip hop lokal kiranya sedang menuju ke fase yang berkembang. Talenta-talenta baru bermunculan membawa karakter masing-masing. Ada yang mengusung konsep lama, membaurkan diri dengan musik terkini, hingga mengubah pakem secara drastis. Tak masalah. Semakin beragam, semakin menyenangkan. Salah satu yang patut diwaspadai adalah Baskara Rizqullah atau akrab disapa dengan Basboi. Selepas meluncurkan nomor-nomor bernas seperti “Night Drive”, “These Kids”, serta “Out of Words”, kini ia kembali datang memikul karya terbarunya; “Cozy.” Track “Cozy” bercerita tentang bagaimana Basboi menyikapi kehidupan yang harus ia hadapi dan betapa bersyukurnya ia dengan segala kenyamanan dalam hidupnya; mulai dari bertutur kata perihal kampung halaman di Medan hingga perasaan terhadap realita sekarang. “Cozy” tersusun atas dentuman contrabass yang menimbulkan nuansa pada beberapa bagian lagu (terutama di bagian intro) dan mengingatkan pendengar kepada musik-musik jazz-klasik pengiring film Whiplash sebelum berubah menjadi hip hop elektronik dengan aroma modern di bagian dan Lagu berdurasi 3 menit sekian detik ini menunjukan kemampuan Basboi dalam meramu adonan hip hop yang fresh. Sebagai pengingat, “Cozy” akan masuk dalam mini album Basboi bertajuk Night Drive yang rencananya rilis pada tahun ini.

05.06.17

Gerakan Kebebasan Buruh dalam Bingkai Visual Filastine

Duo peramu multimedia lintas negara yang terdiri dari Grey Filastine () dan Nova Ruth () seolah tak kehilangan ide untuk menyuarakan teriak perlawanan melalui medium karya. Pasca merilis tiga sajian audio-visual yang tersusun atas The Miner (Maret 2016), The Cleaner (Mei 2016), dan The Salarymen (Oktober 2016), kali ini Filastine kembali hadir bersama single terbarunya yang bertajuk “Los Chatarreros.” Video tersebut merupakan seri nomor empat dari Abandon; sebuah serial video musik yang mengambil tema utama tarian pembebasan dari kelas pekerja atau penindasan buruh. “Los Chatarerros” mengisahkan perjalanan pemulung besi tua yang hampir tiap malam menyisir sudut-sudut jalan Kota Barcelona. Berbekal troli usang, sang pemulung berjalan memburu rongsokan logam bekas, besi tua, hingga sampah-sampah perangkat keras yang teronggok di tempat umum. Pekerjaan yang kebanyakan dilakoni para imigran gelap dari Afrika ini berakhir di kala fajar menyingsing; ketika itu ia akan bergabung dengan para pemulung lainnya di sebuah kios besi tua untuk antri menjual hasil ‘panen’-nya. “Orang-orang (pemulung) seperti itu sebenarnya tersebar di mana-mana, namun seperti tak terlihat mata. Kehadiran mereka juga terbilang sangat aneh untuk citra Barcelona yang sering dicap sebagai kota yang trendi dan berbudaya,” ungkap Grey Filastine yang sudah bertahun-tahun tinggal di kota Barcelona. Abandon menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik—mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol. Terdapat suar perlawanan yang coba diterjemahkan Filastine ke dalam bentuk karya yang dapat disaksikan berbagai kalangan.

31.05.17

Kolaborasi Sejalur dari Ar&thvsa

Selepas merilis terakhirnya dua bulan silam, Andre& kembali hadir dengan anyar berjudul “Roadin.” Kali ini, ia turut serta mengajak Arethvsa yang mana juga pernah berkolaborasi dengannya di nomor “Softside of Love.” Pemilihan Arethvsa sebagai tandem Andre& bukan tanpa alasan. Selain memiliki vokal emas yang mengingatkan pada sosok Erykah Badu, pemikirannya juga menyumbang kontribusi dalam pengembangan lagu - di mana dalam proses pengerjaannya, Andre& memberikan beberapa potong kepada Arethvsa untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum Arethvsa mengisi bagiannya yang kental dengan nuansa 90’s RnB. Inspirasi pembuatan lagu pun “Roadin” berawal ketika Andre& sedang mengulik melalui mesin perangkat lunaknya. Dari situ ia merasa mendapati aliran ide yang banyak terlebih pasca mendengarkan lagu milik Joyce Wrice, “Rocket Science.” Kiranya, nomor-nomor tersebut mampu menjadi sebuah makanan pembuka sebelum menyantap sajian EP Andre& di bawah identitas Ar&thvsa.

30.05.17

Menghindari Depresi Bersama Kursus Fisika

Lagu dibuka dengan nuansa yang cukup gelap; tempo merayap, bayangan letupan distorsi, serta konstelasi memabukkan. Berselang kemudian, hentakan drum yang penuh presisi menemani transisi irama sekaligus mengajak telinga meluapkan kenikmatannya. Kira-kira seperti itu gambaran terbaru dari unit alternative-rock asal Yogyakarta, Kursus Fisika yang berjudul “Dye Your Hair, Don’t Die.” Dibentuk pada pertengahan 2016, Kursus Fisika menjadi nama yang tepat untuk merepresentasikan hari-hari seorang remaja sekolah yang bolos kelas kursus untuk ke studio musik dan memulai sebuah band. Namun alih-alih bicara tentang mata pelajaran yang membuat kepala mumet, unit ini merilis lagu dengan nuansa mengenai momen-momen depresi dalam kehidupan, serta menegaskan bahwa bunuh diri bukan jawaban yang dibutuhkan. Lewat lagu ini pula, unit ini menekankan anggapan ketimbang mengakhiri nyawa, mungkin mengecat rambut dengan warna-warna mencolok; yang dianggap sebagai pertanda seseorang mengalami sebuah fase menarik, dapat menjadi salah satu solusi.

29.05.17

The Breakfast Club dan Asupan Gizi di Waktu Pagi

Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club. Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan. Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala. Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan. https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub

21.05.17

Permainan Rima ala Alfabeta

Hip hop barangkali adalah subkultur yang dalam kurun waktu dekat bisa menelurkan banyak nilai dan simbol baru. Aplikasi musik, fashion, dan gaya hidup masyarakatnya yang terbuka menjadikan ruang ini seakan menerima apapun dan siapapun menjadi bagiannya. Dulu punk digadang-gadang sebagai budaya tandingan dari hip hop tapi nyatanya banyak juga yang mampu mengawinsilangkan mereka seperti apa yang dilakukan oleh Homicide. Tak jarang juga, beberapa yang tidak menawarkan gaya baru dalam hip hop hari ini justru menjadi penawar akan kerinduan pada bangunan beat yang sederhana namun menjelajah alam tekstual yang dulu menjadi kekuatan rap sebagai bagiannya. Tak banyak yang mengenal Alfabeta, satuan hip hop dari Ternate yang keriuhannya sudah ada sejak 2012. Sempat menelurkan album penuh berjudul Dream Rhyme Amazing atau yang biasa disingkat D.R.A., pada bulan April kemarin mereka meluncurkan EP berjudul Pancarima. Mengambil judul yang tegas dan menyindir, Alfabeta menekankan ‘rima’ sebagai kekuatan tekstual dari produk hip hop pada rilisan terbarunya. Rasanya sudah banyak wajah baru yang tampil hip hop namun terbata-bata saat menyusun rima, butuh waktu untuk wajah-wajah baru itu punya kualitas seperti Alfabeta. Mengambil bangunan dan beat beragam untuk setiap lagunya, 5 lagu mereka memberi variasi yang membuatnya mudah dinikmati. Yang menarik dari proyek baru mereka ini adalah hadirnya nama Senartogok, seorang vokalis folk yang juga banyak meremix beberapa lagu lintas-genre pada kanal YouTubenya. Senartogok campur tangan pada dua lagu dan salah satunya adalah pada lagu ‘Budi’ yang jika didengarkan dengan seksama terdapat sample lagu Tigapagi “Tangan Hampa Kaki Telanjang” yang petikan gitarnya diulang dan memberi nuansa nada pentatonik untuk mengiringi beat pada lagu. Jika produksi musik hip hop East Coast banyak mengemban sample tiupan terompet jazz, Alfabeta dengan cermat menggunakan elemen yang terasa lebih tradisional untuk mewarnainya. Ditambah muatan lirik yang penuh perhatian, bisa jadi Pancarima adalah rilisan hip hop dalam negeri terbaik menuju pertengahan tahun ini.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.