Lagu dibuka dengan nuansa yang cukup gelap; tempo merayap, bayangan letupan distorsi, serta konstelasi memabukkan. Berselang kemudian, hentakan drum yang penuh presisi menemani transisi irama sekaligus mengajak telinga meluapkan kenikmatannya. Kira-kira seperti itu gambaran terbaru dari unit alternative-rock asal Yogyakarta, Kursus Fisika yang berjudul “Dye Your Hair, Don’t Die.”
Dibentuk pada pertengahan 2016, Kursus Fisika menjadi nama yang tepat untuk merepresentasikan hari-hari seorang remaja sekolah yang bolos kelas kursus untuk ke studio musik dan memulai sebuah band. Namun alih-alih bicara tentang mata pelajaran yang membuat kepala mumet, unit ini merilis lagu dengan nuansa mengenai momen-momen depresi dalam kehidupan, serta menegaskan bahwa bunuh diri bukan jawaban yang dibutuhkan.
Lewat lagu ini pula, unit ini menekankan anggapan ketimbang mengakhiri nyawa, mungkin mengecat rambut dengan warna-warna mencolok; yang dianggap sebagai pertanda seseorang mengalami sebuah fase menarik, dapat menjadi salah satu solusi.
Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club.
Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan.
Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala.
Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan.
https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub
Hip hop barangkali adalah subkultur yang dalam kurun waktu dekat bisa menelurkan banyak nilai dan simbol baru. Aplikasi musik, fashion, dan gaya hidup masyarakatnya yang terbuka menjadikan ruang ini seakan menerima apapun dan siapapun menjadi bagiannya. Dulu punk digadang-gadang sebagai budaya tandingan dari hip hop tapi nyatanya banyak juga yang mampu mengawinsilangkan mereka seperti apa yang dilakukan oleh Homicide. Tak jarang juga, beberapa yang tidak menawarkan gaya baru dalam hip hop hari ini justru menjadi penawar akan kerinduan pada bangunan beat yang sederhana namun menjelajah alam tekstual yang dulu menjadi kekuatan rap sebagai bagiannya.
Tak banyak yang mengenal Alfabeta, satuan hip hop dari Ternate yang keriuhannya sudah ada sejak 2012. Sempat menelurkan album penuh berjudul Dream Rhyme Amazing atau yang biasa disingkat D.R.A., pada bulan April kemarin mereka meluncurkan EP berjudul Pancarima. Mengambil judul yang tegas dan menyindir, Alfabeta menekankan ‘rima’ sebagai kekuatan tekstual dari produk hip hop pada rilisan terbarunya. Rasanya sudah banyak wajah baru yang tampil hip hop namun terbata-bata saat menyusun rima, butuh waktu untuk wajah-wajah baru itu punya kualitas seperti Alfabeta.
Mengambil bangunan dan beat beragam untuk setiap lagunya, 5 lagu mereka memberi variasi yang membuatnya mudah dinikmati. Yang menarik dari proyek baru mereka ini adalah hadirnya nama Senartogok, seorang vokalis folk yang juga banyak meremix beberapa lagu lintas-genre pada kanal YouTubenya. Senartogok campur tangan pada dua lagu dan salah satunya adalah pada lagu ‘Budi’ yang jika didengarkan dengan seksama terdapat sample lagu Tigapagi “Tangan Hampa Kaki Telanjang” yang petikan gitarnya diulang dan memberi nuansa nada pentatonik untuk mengiringi beat pada lagu.
Jika produksi musik hip hop East Coast banyak mengemban sample tiupan terompet jazz, Alfabeta dengan cermat menggunakan elemen yang terasa lebih tradisional untuk mewarnainya. Ditambah muatan lirik yang penuh perhatian, bisa jadi Pancarima adalah rilisan hip hop dalam negeri terbaik menuju pertengahan tahun ini.
Menyambut hangatnya musim panas merupakan ritual wajib yang dilakukan bagi setiap orang tak terkecuali di Indonesia. Menyusun jadwal liburan, menentukan tempat vakansi, serta menimbang pelbagai kegiatan apa saja yang dilakukan adalah deretan contoh terkini. Asal bahagia, asal menarik tawa. Hal itu dipahami betul oleh Seazoo dengan melepas nomor baru yang menggambarkan kemeriahan pesta karnaval dan keceriaan pinggir pantai.
Adalah “Roy’s World” yang menjadi tajuk lagu kuintet indie-pop dari Wales ini. Track sepanjang 3 menit tersebut menyediakan hal-hal yang bisa dinikmati; kocokan gitar jangly, liukan harmoni keyboard, sampai pukulan upbeat yang meriah. Hasilnya? “Roy’s World” dapat dipasang sembari bertukar cerita bersama kawan maupun menghabiskan siang yang terlampau sulit dilupakan.
Seazoo memasukan “Roy’s World” dalam bagian album penuh yang rencananya dirilis di bulan Mei. Direkam pada jarak yang memisahkan antara studio rumah di sisi gunung Radnorshire dan bunker nuklir Wrexham, “Roy’s World” mengingatkan pada pesona Comet Gain, Hot Chip, maupun The Field Mice. Tapi yang terpenting: sertakan dalam usang dan putar kencang-kencang menuju medan penghiburan.
Kolibri Rekords dikenal sebagai salah satu label yang gencar mengenalkan musisi independen ke khalayak ramai. Berbasis di Jakarta, mereka konsisten memunculkan nama-nama baru yang patut diperhatikan. Tercatat ada Atsea, Bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, Low Pink, hingga Seahoarse. Masing-masing memiliki karakter dan warna yang beragam dan terpenting menunjukkan semangat muda-mudi untuk berkarya.
Kali ini, kabar baik datang dari salah satu unit asuhan mereka; Seahoarse. Kuartet asal Yogyakarta yang digawangi oleh Gisela Swaragita (bas, vokal), Rudi Yulianto (gitar), Judha Herdanta (gitar), dan Aditya Putra (drum) tersebut dipastikan mengeluarkan debut album penuh bertajuk Magical Objects. Rencananya, Magical Objects akan dilepas di waktu terdekat dengan memuat total 10 (sepuluh) lagu di dalamnya.
Demi memenuhi dahaga para pengikutnya, pihak Kolibri Rekords sudah menyiapkan pemesanan Magical Objects via online. Seperti dilansir pada situs resmi mereka, terdapat dua macam barang yang bisa didapatkan: CD bundle dan T-shirt bundle. Sedangkan batas akhir pemesanan dipatok tanggal 31 Mei 2017.
Di lain sisi, Seahoarse juga telah melepaskan sebuah berjudul “Apprentice.” Berdurasi tiga sekian menit, nomor ini kental dengan irama surf-pop yang menyenangkan. Alunan gitar yang renyah, perpindahan yang asyik, serta ketukan yang sempurna untuk mengajak pemirsa larut menjadi ciri khas tersendiri; dan mungkin menggambarkan bagaimana Magical Objects nantinya. Apabila kondisi batin berada di ambang keterpurukan, putar “Apprentice” lalu biarkan keriaannya meresap di kepala.
Sudah beberapa minggu sejak Humanz dirilis dan diperdengarkan. Beberapa video animasi khas juga telah mewarnai kanal YouTube sebulan terakhir ini. Setiap telinga dan jiwa memiliki kesan masing-masing untuk memaknainya.
Albarn dan Hewlett masih mengemas album Gorillaz seperti keseluruhan karya sebelumnya yang banyak menggaet banyak musisi dan talenta dari seluruh dunia. Album ini mencantumkan 24 nama kolaborator yang beberapa di antaranya adalah Vince Staples, Peven Everett, Popcaan,D.R.A.M., dan Jehnny Beth serta keterlibatan Noel Gallagher yang turut berbagi panggung dengan Albarn saat konser Gorillaz bulan lalu. Proyek musik Albarn dan Hewlett yang dimulai dari 2 dekade lalu seakan ingin mewujudkan gagasan yang mereka pertahankan untuk selalu menggiring barisan artis yang variatif.
Setelah fantasi akan peperangan dan perilaku konsumerisme serta masyarakat dilukiskan oleh album The Plastic Beach, muatan gelap Humanz menarasikan perubahan politis dunia yang terkesan tersegregasi. Kurang lebih ketakutan Albarn saat Trump terpilih serta bangkitnya individualisme menjadi ironi yang nyata saat album ini dirilis. Lewat judulnya tertanam pesan tegas tentang manusia dan kemanusiaan yang kini menghadapi fase baru.
Beberapa mungkin masih kecewa karena album ini nyatanya tidak menghadirkan nuansa musik yang menghasilkan kekuatan seperti pada dua album pertama mereka. Banyak yang mengharapkan Albarn mengambil porsi vokal dan menuangkan senandung yang layak dilagukan lagi seperti dalam salah satu lagu terbaik mereka ‘Feel Good Inc.’, tetapi nyatanya bangunan musik belasan tahun lalu itu tidak diulang. Di sinilah justru musikalitas dan muatan pesan yang Humanz emban mengambil jalan yang sama, menghentikan romantisisme dan melakukan transisi yang berarti. Masih ada beberapa nuansa lagu yang kuat seperti pada potongan lirik repetitif yang dinyanyikan Vince Staples dalam lagu Ascension. Bagi beberapa telinga yang terlalu akrab dengan nuansa Demon Dayz, jelas ada keraguan untuk menerima Humanz yang instrumen dan nuansa musiknya lebih
Di luar musikalitasnya, muatan Gorillaz juga dapat dicermati lewat visual yang lebih sederhana. Mengambil video musik yang lebih canggih, dunia yang 2D, Murdoc, Russel, dan Noodle jalani dalam video lebih nyata dan dengan memberi visual keseharian tentang kota, masyarakat urban, dan fantasi sederhana akan rumah horor. Lebih jauh, masih ada edisi Deluxe Vinyl Box Set yang rencananya baru akan dirilis Agustus nanti, memuat beberapa lagu baru yang belum pernah didengarkan untuk menjadi tambahan pada album baru mereka ini. Lengkap dengan sebuah Artbook, bisa jadi kemasan ini nantinya memberi muatan tekstual yang mendukung pesan satir dari Humanz seperti saat merilis album pertama ketika mereka juga memuat sebuah buku berjudul Rise of The Ogre! yang menarasikan kisah fiksional para karakter Gorillaz.