Video menjadi medium yang ikut mengembangkan subkultur musik pop pada dekade 90-an hingga medio 2000-an lewat pengaruh MTV yang diadaptasi di banyak negara. Adalah The Jadugar, sebuah proyek dari duo videomaker yang banyak membuat video klip untuk beberapa unit musik dalam negeri sidestream maupun mainstream saat itu. Henry “Betmen” Foundation dan Anggun Priambodo berbagi bingkai dalam karya video musik mereka yang terkesan kitsch dengan banyak memproduksi elemen sederhana.
Tidak dapat disangsikan dua album terdahulu mereka Wolfgang Amandeus Phoenix (2009) dan Bankrupt! (2013) mempunyai afeksi luar biasa. Tur dunia yang padat, single menduduki hingga mengisi festival-festival besar di penjuru dunia. Dari band indie yang hanya bisa memuja Cassius beralih menjadi salah satu pesona di jagat permusikan.
Namun setiap kesuksesan memiliki konsekuensi tersendiri. Kebosanan dan pelbagai sikap yang sering diejawantahkan sebagai macetnya inspirasi menjangkiti kuartet asal Versailles tersebut. Suka tak suka, produksi karya harus dihentikan sementara waktu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk melepas album terkini yang bertajuk “Ti Amo.”
Tiga nomor dikeluarkan sekaligus guna menjaga antusias lahirnya nuansa menyegarkan. Adalah “J-Boy”, “Ti Amo”, dan “Goodbye Soleil” yang didapuk Phoenix selaku senjata andalan. Secara garis besar, musikalitas mereka tak berubah banyak kecuali nada-nada mayor yang mendominasi lanskap notasi. Ketukan yang elegan, maupun permainan gitar repetitif masih menguasai papan teknis Thomas Mars, Deck d’Arcy, Laurent Brancowitz, dan Christian Mazzalai.
Munculnya album ini membawa angin sejuk tentang pertemuan yang diidam-idamkan sejak lama; musim panas, roman bahagia, atau kerinduan tak berbalas. Phoenix terlahir kembali seperti era French pop yang memenuhi seleksi lagu di Cherie FM atau Radio Nova dan sesuai judul albumnya, tiap lagu yang ada di dalamnya membuat pendengar ingin menghujani mereka dengan kata “ti amo.”
Arif Ramly adalah seorang pria muda Malaysia yang menghidupkan di skena musik independen Malaysia bersama yang band sempat ia manajeri, juga melalui aktivitasnya di The Wknd. Selepas menyantap nasi lemak dan nasi Kelantan di sebuah kedai di Jalan Indera Mahkota, Kuantan, kami menyodorkan banyak pertanyaan kepada Arif Ramly di kedai buku/musik miliknya, Coastal Store.
Dunia hip hop lokal kiranya sedang menuju ke fase yang berkembang. Talenta-talenta baru bermunculan membawa karakter masing-masing. Ada yang mengusung konsep lama, membaurkan diri dengan musik terkini, hingga mengubah pakem secara drastis. Tak masalah. Semakin beragam, semakin menyenangkan. Salah satu yang patut diwaspadai adalah Baskara Rizqullah atau akrab disapa dengan Basboi. Selepas meluncurkan nomor-nomor bernas seperti “Night Drive”, “These Kids”, serta “Out of Words”, kini ia kembali datang memikul karya terbarunya; “Cozy.”
Track “Cozy” bercerita tentang bagaimana Basboi menyikapi kehidupan yang harus ia hadapi dan betapa bersyukurnya ia dengan segala kenyamanan dalam hidupnya; mulai dari bertutur kata perihal kampung halaman di Medan hingga perasaan terhadap realita sekarang.
“Cozy” tersusun atas dentuman contrabass yang menimbulkan nuansa pada beberapa bagian lagu (terutama di bagian intro) dan mengingatkan pendengar kepada musik-musik jazz-klasik pengiring film Whiplash sebelum berubah menjadi hip hop elektronik dengan aroma modern di bagian dan
Lagu berdurasi 3 menit sekian detik ini menunjukan kemampuan Basboi dalam meramu adonan hip hop yang fresh. Sebagai pengingat, “Cozy” akan masuk dalam mini album Basboi bertajuk Night Drive yang rencananya rilis pada tahun ini.
Duo peramu multimedia lintas negara yang terdiri dari Grey Filastine () dan Nova Ruth () seolah tak kehilangan ide untuk menyuarakan teriak perlawanan melalui medium karya. Pasca merilis tiga sajian audio-visual yang tersusun atas The Miner (Maret 2016), The Cleaner (Mei 2016), dan The Salarymen (Oktober 2016), kali ini Filastine kembali hadir bersama single terbarunya yang bertajuk “Los Chatarreros.”
Video tersebut merupakan seri nomor empat dari Abandon; sebuah serial video musik yang mengambil tema utama tarian pembebasan dari kelas pekerja atau penindasan buruh. “Los Chatarerros” mengisahkan perjalanan pemulung besi tua yang hampir tiap malam menyisir sudut-sudut jalan Kota Barcelona. Berbekal troli usang, sang pemulung berjalan memburu rongsokan logam bekas, besi tua, hingga sampah-sampah perangkat keras yang teronggok di tempat umum. Pekerjaan yang kebanyakan dilakoni para imigran gelap dari Afrika ini berakhir di kala fajar menyingsing; ketika itu ia akan bergabung dengan para pemulung lainnya di sebuah kios besi tua untuk antri menjual hasil ‘panen’-nya.
“Orang-orang (pemulung) seperti itu sebenarnya tersebar di mana-mana, namun seperti tak terlihat mata. Kehadiran mereka juga terbilang sangat aneh untuk citra Barcelona yang sering dicap sebagai kota yang trendi dan berbudaya,” ungkap Grey Filastine yang sudah bertahun-tahun tinggal di kota Barcelona.
Abandon menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik—mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol. Terdapat suar perlawanan yang coba diterjemahkan Filastine ke dalam bentuk karya yang dapat disaksikan berbagai kalangan.
Selepas merilis terakhirnya dua bulan silam, Andre& kembali hadir dengan anyar berjudul “Roadin.” Kali ini, ia turut serta mengajak Arethvsa yang mana juga pernah berkolaborasi dengannya di nomor “Softside of Love.”
Pemilihan Arethvsa sebagai tandem Andre& bukan tanpa alasan. Selain memiliki vokal emas yang mengingatkan pada sosok Erykah Badu, pemikirannya juga menyumbang kontribusi dalam pengembangan lagu - di mana dalam proses pengerjaannya, Andre& memberikan beberapa potong kepada Arethvsa untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum Arethvsa mengisi bagiannya yang kental dengan nuansa 90’s RnB.
Inspirasi pembuatan lagu pun “Roadin” berawal ketika Andre& sedang mengulik melalui mesin perangkat lunaknya. Dari situ ia merasa mendapati aliran ide yang banyak terlebih pasca mendengarkan lagu milik Joyce Wrice, “Rocket Science.” Kiranya, nomor-nomor tersebut mampu menjadi sebuah makanan pembuka sebelum menyantap sajian EP Andre& di bawah identitas Ar&thvsa.