Sebuah gambaran akan mimpi buruk yang mungkin tidak akan menggerogoti jiwa kita dengan keresahan atau ketakutan setelah ‘bangun’ darinya. Namun, mimpi buruk tersebut hanya akan membuat kita berpikir dan bahkan terinspirasi. Melalui perilisan terbarunya "Hidup di Mimpi Buruk," Matter Mos mencoba menyuguhkan audiens dengan eksplorasi pribadinya mengenai mimpi buruk.
Yang bisa dikatakan unik dari hasil eksplorasi Matter Mos ini adalah interpretasinya akan mimpi buruk terinspirasi dari lukisan Guernica karya Pablo Picasso. Guernica sendiri adalah sebuah ilustrasi tentang kehancuran dan kekacauan dan gambaran akan kehidupan hari ini. Best Crypto Casino . It has everything you need to know about cryptocurrency, like news, live prices, crypto gambling, bitcoin casinos, and more
Setiap musisi memerlukan wadah untuk menyalurkan hasrat kreatifnya di luar proyek utama yang sedang dijalani. Selain untuk mencegah kebosanan akut karena bertemu dengan pola itu-itu saja, juga untuk memacu daya inovasi bersangkutan ke titik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alhasil, banyak musisi yang membentuk proyek sampingan untuk sebatas bersenang-senang, mencari sisi lain, atau mungkin meneruskan keseriusan.
Hal tersebut rupanya dipahami betul oleh Francois J. Bonnet; musisi multitalenta asal Prancis yang dikenal sebagai pemegang kendali artistik Groupe De Recherches Musicales. Memanfaatkan momentum dan waktunya di luar proyek utama, ia merilis tiga buah komposisi (“Edelweiss”, “Glass Flowers”, serta “Oread”) yang menandai kemunculan album berikutnya.
Dalam proses kreatifnya, Bonnet menggunakan identitas pseudonym Kassel Jaeger. Sebelumnya ia tercatat sudah menelurkan seri album berjudul Fragments yang terdiri atas Fragments – Collected Sounds from Deserted Places, Fragments II – Collected Refrains from Lost Thought, dan satu lagi bakal dilepas di tahun 2018. Ketiga rilisan tersebut hanya dipublikasikan secara digital.
Komposisi yang diciptakan Bonnet merupakan lanskap penuh perenungan. Ia membangun nuansa kosong, sepi, kemudian mengisinya dengan melodi abstrak. Kekuatannya adalah keheningan-keheningan yang saling bergelantungan. Tak ada batasan, tak ada penyekat. Hanya Bonnet dan hantu-hantu bebunyian yang berpacu untuk disatukan di kepalanya.
Dibentuk pada tahun 2004, Beach House perlahan menapaki jalan keberhasilan yang teratur. Duo yang digawangi oleh Victoria Legrand dan Alex Scally ini bisa dibilang konsisten dalam merilis karya. Jika Anda perhatikan sejak 2006—katakanlah tiap dua tahun sekali—mereka pasti mengeluarkan album; mulai dari Beach House (2006), Devotion (2008), Teen Dream (2010), Bloom (2012), hingga Depression Cherry serta Thank Your Lucky Stars yang dilepas bersamaan di 2015.
Hampir keseluruhan album mendapatkan respon positif; kecuali Bloom yang agak kehilangan arah dan beruntung diselamatkan hadirnya track bernilai tinggi macam “The Hours” atau “Other People.” Tak kaget memang karena Beach House senantiasa berpegang teguh pada prinsip mematenkan dream pop yang elegan dan tak tergoda memindahkan haluan genre untuk sebatas menjustifikasi kemampuan.
Sampai akhirnya di tahun 2017, mereka kembali mengeluarkan rilisan dalam bentuk kompilasi bertajuk B-Side and Rarities yang rencananya dipublikasikan 30 Juni mendatang. Terdapat sepasang komposisi baru yang salah satunya berjudul “Chariot.” Bagian menarik, dalam video musik “Chariot”, Beach House mengangkat montase mengenai keluarga Kennedy dan pelbagai footage perjalanan dinas maupun rekreasi presiden fenomenal Amerika Serikat tersebut.
Vokal Victoria memenuhi ruang imajinasi dengan pengaturan loop yang sedemikian rupa. Ritme berjalan lambat seolah The Beach House menyediakan waktu kepada penonton untuk menyaksikan babak demi babak seorang Kennedy. Pelan, pelan, dan pelan layaknya cerita pengantar tidur yang dipaparkan malam hari. Tanpa kita sadari, di bawah atap gedung sinema dan layar proyektor, Beach House berhasil menyentuh sisi emosional perihal kehilangan.
Japanese producer-turned recording artist Keigo Oyamada, better known as Cornelius, recently dropped a video for Sometime/Someplace. In this other peek into his latest album Mellow Waves, he takes viewers into a ‘dive’ in a world of his creation, where he’s seemingly floating into space in mellow and transcendent bass tunes.
Often described as experimental with his music, Cornelius is perhaps proving it to be true with the depths taken into creating another ‘world’ with Sometime/Someplace. With the beats, the bass, all with a touch of his Shibuya flare, Cornelius is definitely prepping the audience to welcome his fresh come back after over a decade of break.
Could an artist loose the vibes of his musical distinction after a significant number of published albums or records? Are those just other words for losing inspiration? As a part of the audience, we may not have the answer. All that we may know is that we might just not be ready for Childish Gambino to leave us hanging for good.
Donald Glover, who is better known in the music industry as Childish Gambino, announced recently at the Governor’s Ball that his next album might be his last. Stating that his continuation in the music industry would no longer be ‘necessary’, he felt he wouldn’t want to compromise his ‘punk’ approach to creating music after the successful rise of Awaken My Love, which is what continuing his persona as Childish Gambino might just do. According to Glover,
Perhaps Glover is acting smart and efficient by leaving the stage for good at the peak of Childish Gambino’s fame. He said, Redbone may have gotten many hooked to Gambino’s chill, laid-back yet electrifyingly addicting takes on being “punk”. But perhaps, this way of quitting his musical persona may just allow Glover to keep with him the remains of Gambino’s golden days as what will forever be known of Childish Gambino in his audience’s memories. After all, we will never look back and point at him as “that one-time wonder that people just wasn’t interested in listening to anymore.”
Video menjadi medium yang ikut mengembangkan subkultur musik pop pada dekade 90-an hingga medio 2000-an lewat pengaruh MTV yang diadaptasi di banyak negara. Adalah The Jadugar, sebuah proyek dari duo videomaker yang banyak membuat video klip untuk beberapa unit musik dalam negeri sidestream maupun mainstream saat itu. Henry “Betmen” Foundation dan Anggun Priambodo berbagi bingkai dalam karya video musik mereka yang terkesan kitsch dengan banyak memproduksi elemen sederhana.