oleh: Muhammad Faisal
Andika Surya dikenal sebagai gitaris dari unit chaotic-hardcore, ALICE dan kini dengan moniker barunya, Collapse yang bermain indie/alternative rock. Namun ternyata di luar itu, Dika menggemari musik buatan Frank Ocean. Kali ini, melalui Gimme Five, Andika menuturkan lima lagu terbaik Frank Ocean versinya. Berikut adalah daftar lengkapnya.
Setelah melihat tweet dari Tyler The Creator yang merekomendasikan lagu ini, saya langsung dengerin dan ini lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta sama album Blond(e). Aransemennya lembut, part pianonya hypnotize banget. Saya repeat 8-10 kali sebelum move on ke lagu berikutnya. Dan hanya Frank Ocean yang bisa memanggil Beyonce untuk dijadikan backing vocal di lagu ini. Bagian lagu hanya layer-layer suara latar saja, gak terlalu dipaksakan namun on point. Di samping itu otak di balik lagu ini adalah Pharrell jadi gak diragukan lagi kualitasnya
Klasik. Biasanya akan terasa aneh untuk pengalaman pertama kali mendengarkan lagu Frank Ocean, namun setelah yang kedua kali akan bikin ketagihan; apalagi opening piano + beats-nya buat saya itu memorable banget, dan ending di verse bagian 1 itu ngena banget. Di samping itu Frank Ocean mereferensikan sutradara favorit saya, Gaspar Noe di lirik verse bagian 1. Lagu ini pun menjelaskan mengenai sexual identity dia.
Pertama kali denger lagu ini saya skip karena terlalu stagnan. Tapi setelah diulang-ulang saya makin suka dan ternyata letak keindahannya itu ada di kestagnanan itu sendiri, plus liriknya yang kuat. Entah kenapa secara emosional saya terkoneksi dengan lagu ini. Oiya, jangan lupakan kalo lagu ini adalah lagu putus cintanya dia dengan seorang model. Emo shit.
Pertama kali dikenalkan sama Frank Ocean ya lewat lagu ini. Lagu yang membuat saya jatuh cinta sama dia. Yang bikin saya melongo dan melamun yaitu dari departemen liriknya yang deep banget; ketika dia melakukan sebuah pengakuan pada supir taksi di kursi belakang taksi mengenai cinta dia dengan seorang pria yang bertepuk sebelah tangan.
Lagu ini dibagi menjadi 3 bagian yang nuansanya berbeda-beda. Di verse bagian 2 adalah part paling ajaib dari lagu ini. Ketika beat switch drop saya langsung merinding. Dan di sini Frank Ocean benar-benar explore sampai struktur lagu dan beat yang non-tradisional. Menurut saya ini lagu paling powerful di album Blond(e) dari segi musikalitas dan lirik.
Nardwuar, the infamous Canadian interviewer meets with Indonesia’s viral rap sensation Rich Chigga to talk about rubik’s cubes, his neighbor’s goats, his former child-star sister, and finally his escalating carrier. By also presenting the teenaged Indonesian rapper with various gifts from a gangster-style ring to a record of tracks from Indonesian retro musicians, Nardwuar takes viewers to a deeper and more personal side of Rich Chigga.
Nardwuar's comedic approach and sudden burst of questions and information on the rapper’s previously unknown personal details certainly compliments Rich Chigga’s rather chilled and cool persona. Rich Chigga also explains his preference to rap in English rather than Indonesian, since he feels that it’s a better way of expressing things. Even so, the rocketing rapper’s constant gain of attention through the Internet still undoubtedly does one hell of a job bringing the Indonesian music scene into worldwide recognition.
Namanya mungkin hanya diketahui segelintir orang. Tapi yang ia keluarkan mampu membuat siapapun yang baru mendengarnya merasa "terangkat." Mungkin ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan rasa yang dimaksud, tapi jika ingin dipaksakan, sesungguhnya efek yang ditimbulkan para generasi hip hop sekarang - salah satunya Joe Million - tidak bisa dideksripsikan secara ajeg.
yang tergabung dalam trio Medium Rare ini baru saja mengeluarkan materi baru yang diberi judul "Ia Nanti." Menggunakan buatan produser asal Medan, Drop D Soundz dan lirik deksriptif tentang kebiasaan orang-orang yang cuma omong doang - respon klise seperti "iya iya, nanti ya" - lingkungan sekitar Joe sampai kebosanan hidup di kota.
Terasa kurang 'jalanan'? Video yang dibuat untuk melengkapi lagu ini diambil di tengah BKT (Banjir Kanal Timur) lengkap dengan dari David Yoku aka AYAW dan kemunculan , seperti JuTa dan Asto Panjaitan. Oh, buat para , tentu tahu betapa padatnya BKT pada malam hari dengan adanya pasar kaget. Ya, berantakan, tapi Joe bisa mengubahnya jadi Parc 19 - setidaknya di liriknya.
Karya terkini dari rock Individual Distortion ini telah dirilis secara digital pada 5 Juli melalui situs Bandcamp-nya. Sebuah hasil imajinasi yang diharapkan dapat menunjukkan sisi lain dari Individual Distortion sebagai sebuah hembusan nafas segar dari nuansa yang tidak dapat ditemukan di album-album sebelumnya. Selain mencakup beberapa karya orisinil dari Individual Distortion, “Irrelevant” juga berisi sebuah lagu dari band asal Amerika Serikat Snapcase yang bertajuk “Twentieth Nervous Breakdown”.
Dalam “Irrelevant” dapat ditemukan berbagai cerita dari Individual Distortion, seperti "The Witching Hour of Jakarta" yang menjadi tajuk bagi sebuah potret akan Jakarta sendiri. Diwarnai dengan kekelaman akan sisi gelap dari Jakarta, karyanya satu ini tentunya menjadi salah satu bukti bahwa “Irrelevant” tetap akan menjadi relevan bagi audiens. "The Witching Hour of Jakarta" dan beberapa tajuk lainnya menjadi sebuah pendatang baru bagi skena musik Indonesia yang mungkin dibutuhkan bagi para pencari orisinalitas dan eksplorasi akan sisi yang gelap dari realita sehari-hari.
Irrelevant by Individual Distortion
After 25 years of being in the rap-game limelight, Snoop Dogg certainly made a statement that he’s still not going anywhere anytime soon. With Neva Left, he shows the world just how he still has it going on, and that age certainly is never going to be a stopper for his edge and mark in the industry.
While containing some reminiscence of his old glory days through his street-style rhymes and the nostalgic record cover of him back in ’93, Snoop Dogg manages to keep it fresh by not giving in to the perhaps common temptation among aged rappers to try really hard to sound young or dodging his age. Perhaps this is how he still wins a place within the audience’s hearts; let’s face it, nobody wants to hear a cringe-worthy or try-too-hard attempt of sounding like a cool old guy. It can be heard just how he still has his boogie on in "Bacc in da Dayz," and how he’s able to incorporate his concerns on current social issues on "Lavender (Nightfall Remix)." Through the bounce of the playful beats and fresh lyrical intakes, Snoop Dogg certainly reminded his audience why he’s still so relevant.
Overall, Neva Left is definitely Snoop Dogg’s proof that despite the common misconceptions, age is but a number in the rap game, as long as you’ve got the right moves to stay on track. 25 years into the scene and still sounding fresh as always, Snoop Dogg really ‘neva left’ and won’t be leaving anytime soon.
A picture is worth a thousand words. In the case of Kendrick Lamar’s new video for "Element," perhaps the moving imagery that are based on the works of photojournalist Gordon Parks is worth more than just words; they’re worth emotions. The video definitely went the extra mile to create an accurate visualization of Element’s lyrics, which are the further exploration of the dynamics of black communities in the US.
The use of Parks’ iconic photographs (such as the row of black nuns dressed in white) could only be done justice by the lyrics. Through this song, the messages and emotions behind Park’s photographs are witnessed to come to live—of course, one of the reasons being that the photographs are shown to be not motionless and lively. But moreover, the emotions behind the photographs are emphasized along with Elements, with the words morphing together with the imageries, creating a whole new perspective on the issue while also keeping the feel of the rawness and originality of the images.
With the ever-evolving concepts for his recent videos, Kendrick Lamar presents his audience with this aesthetic piece of ‘moving’ tribute to the black culture. And this song definitely does justice not only in addressing sensitive social issues, but also bringing Parks’ imageries into notice to celebrate its emotions and presence of identity.