Music

18.07.17

Merayakan Sisi Sentimentil Big Thief dalam Capacity

Jika ada yang mampu menggabungkan pesona Interpol, The Fleetwood Mac, sampai Wilco dalam satu waktu, maka kuartet indie-rock asal Brooklyn bernama Big Thief adalah jawabannya. Berlebihan? Mungkin saja. Akan tetapi tahan segala keraguan dan segera dengarkan saja keseluruhan lagu mereka. Terlebih pada Masterpiece (rilis di tahun 2016) yang menunjukan bahwa kualitas mereka memang berbahaya. Kali ini, di album terbarunya bertajuk Capacity, Big Thief menampilkan kesan berbeda. Apabila di Masterpiece mereka menumpahkan keresahannya secara kolektif, di Capacity porsi sang vokalis Adrianne Lenker lebih mencolok. Hampir semua lagu mengisahkan guratan kegundahannya; depresi, ingatan masa kecil, hingga relasi dua kutub yang membingungkan. Dibalut begitu personal ditambah capaian vokalnya yang getir sekaligus lantang membuat kita berasa mendengarkan jalinan cerita satir. Lagu-lagu terbaik Capacity dapat disimak lewat “Great White Shark” yang penuh kontemplasi, “Mythological Beauty” yang membaurkan distorsi kasar bersama lirik sensitif, atau “Black Diamonds” yang sarat penyesalan di samping menyimpan harapan layaknya nostalgia. Baik Buck Meek, Max Oleartchik, maupun James Krivchenia kiranya sepakat membuat komposisi yang proporsional guna menemani letupan emosional Lenker merupakan prioritas. Dan hal tersebut berhasil dituntaskan. Capacity adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan Big Thief pasca melepas Masterpiece. Mereka tak terjebak melankolia ketika meramu hal-hal bersifat pribadi dalam naungan mesin efek, melodi minimalis, hingga gebukan drum yang teratur. Rasanya tak terlampau terkejut tatkala di masa depan mereka meraih nama besar karena dua hal utama sudah dilakukan; album berbobot serta konsistensi tiada bertepi.

17.07.17

Menggali Lebih Jauh Project ••|||

Jika kita menyimak adanya segala dinamika dan perkembangan yang mewarnai skena musik Indonesia, maka akan sulit untuk mengabaikan munculnya sebuah tren kolektif baru yang mulai marak penikmatnya dari berbagai kalangan lokal. Kolektif asal Bali, Project23 menjadi salah satu kolektif baru yang muncul dengan cerita menarik. Hadir dengan konsep ‘menyembunyikan’ siapa sebenarnya wajah dan identitas di balik semua talenta yang akan ditampilkan, proyek ini mencoba menyuguhkan suatu pendekatan baru dalam menilai suatu karya secara objektif. Project23 juga akan menjadi suatu eksplorasi berbagai lapisan genre musik yang mewarnai skena lokal, termasuk melodisasi dari sebuah suara. Dengan munculnya suatu keresahan akan adanya sebuah diskoneksi dari segala unsur kreativitas lokal yang memerlukan sebuah payung pemersatu, kelahiran konsep unik inipun dibarengi rencana merutinkan proyek besarnya, dan beberapa proyek dari waktu ke waktu di seluruh Indonesia. Lebih lanjut lagi, Project23 mencoba mengembangkan massanya untuk menyediakan suatu wadah demi meningkatnya rekognisi akan talenta lokal. Lewat berkreasi dalam berbagai bentuk aktivitas unik guna menciptakan suatu gerakan dan budaya kreatif yang baru, kolektif ini memberikan ruang gerak bagi talenta-talenta lokal yang tersembunyi dan membesarkannya di skena lokal. Project23 akan mengadakan installment pertamanya berupa pada 2 September mendatang dengan menampilkan segelintir musisi elektro dan DJ lokal seperti Zat Kimia dan Pariwisatan. Facebook Instagram

17.07.17

Ragam Ekspresi dalam Hip Hop

Setelah mengalami masa kejayaan di tahun 90-an, hip hop kembali menyemarakkan skena musik Indonesia. Hadir dengan warna baru dan didukung dengan tren subkultur yang ada, hip hop hari ini mampu merepresentasikan para emerging artist yang ingin menyuarakan kegundahan dan menunjukkan passion dalam bentuk karya padat referensi.

16.07.17

Menebak Montase The National

Adegan dibuka dengan perputaran sosok anak kecil berambut pendek di bawah pantulan warna biru yang berlumur putih abu-abu. Sejurus kemudian, vokal Matt Berninger masuk secara perlahan ditemani ketukan Bryan Devendorf yang repetitif. Seperti biasanya, tekstur suaranya begitu berat dan cenderung datar namun di lain sisi menyimpan kharisma yang dalam. Lantas aliran rock yang sedikit mengalir setelahnya. Kira-kira seperti itu gambaran video klip terbaru dari The National yang bertajuk “Guilty Party.” Track tersebut merupakan salah satu komposisi yang terdapat di album baru mereka, Sleep Well Beast. Didominasi yang cukup abstrak dan bergerak cepat di tengah sirkulasi seorang bocah hingga sepetak lapangan membuat “Guilty Party” seakan menyembunyikan banyak tafsir. Entah, hanya Berninger yang paham. Rencananya, album Sleep Well Beast akan dirilis pada 8 September 2017. Memuat 12 nomor, The National menggandeng label 4AD sebagai partner pendistribusian. Namun pertanyaannya; apakah Sleep Well Beast bakal berujung layaknya Alligator (2005) yang penuh intimasi atau justru berpendar bak High Violet (2010) yang tak tertebak? Kiranya kita semua musti sabar hingga beberapa bulan ke depan.

15.07.17

Jazz dari Negara Matahari Terbit

Apabila di wilayah barat kita mengenal pianis jazz semacam Bill Evans, Herbie Hancock, atau Thelonius Monk yang tersohor dengan nama besarnya, maka di kawasan Asia khususnya Jepang, sosok Ryo Fukui tak dapat dipisahkan dari telinga penikmat jazz kebanyakan. Kualitasnya jangan disangsikan. Jemarinya bebas berkehendak menguasai tiap bongkah tuts berwarna hitam putih dan menari lincah di atasnya. Selama perjalanan bermusiknya, Ryo telah mengeluarkan lima buah album; Scenery (1976), Mellow Dream (1977), My Favourite Tune (1995), In New York (dibuat bersama Leroy Williams dan Lisle Atkinson pada 1999), serta A Letter from Slowboat (2015). Catatan di atas tergolong sedikit untuk ukuran pianis legenda sepertinya. Namun percayalah, keseluruhan karyanya adalah tonggak penting bagi perkembangan musik jazz di Jepang. Dari kelima albumnya, Scenery dirasa menjadi titik monumental. Baik aransemen maupun instrumentasi yang ia gubah terdengar orisinil. Dibuat kala Ryo berumur 22 tahun, Scenery menggambarkan kejeniusannya dalam meramu komposisi jazz standar yang tak sebatas berpatokan pada notasi umumnya. Sesekali ia mengikuti arus ketika memainkan “It Could Happen To You” dan tak jarang pula ia meluapkan keliarannya tatkala mementaskan “Scenery.” Meskipun keenam nomor di Scenery menarik disimak, bertajuk “Early Summer” tetap menyuguhkan atensi tersendiri di samping performa menakjubkan. sepanjang 11 menit ini membuktikan kapasitas seorang Ryo Fukui di mana ia menumpahkan segala rupa variasi dalam wujud kentalnya progresifitas di balik aroma blues hingga samba. Mendobrak batasan demi menciptakan sekelumit keindahan memang perlu; dan Ryo Fukui sukses melakoninya.

15.07.17

Promosi Kerukunan dari Bin Idris

Suatu karya memang pasti memiliki makna. Entah terinspirasi dari apa dan dimaksudkan untuk mengilustrasikan apa, pasti makna itulah menjadi kunci penentu karakter dari suatu karya. Melalui yang belum lama dirilisnya, Haikal Azizi alias Bin Idris memiliki alasannya tersendiri untuk menyentuh isu sosial yang dirasa relevan kini. ‘Berbagi bumi, berbagi matahari’ seperti yang ia nyanyikan dalam “Rukun Warga,’ memang bermaksud membawa makna perdamaian. Dengan alunan latar yang ringan dan dengan suara vokalnya sendiri yang menggema, pemaknaan di balik lagu ini memang dirancang untuk mengejar relevansi dalam realita kini. Melalui “Rukun Warga” juga Bin Idris mencoba untuk berkomunikasi dengan realita, untuk menciptakan sebuah dialog yang mempromosikan kerukunan dan mengembalikan sebuah sensasi ‘damai’ yang mungkin kini mulai sulit untuk dirasa. Dilengkapi dengan ilustrasi fotografi oleh Wahyudi Onggo yang diambil di tengah euforia demo Hari Buruh, lagu tersebut benar-benar menjadi sebuah karya bermakna yang secara akurat memampangkan sebuah potret sosial.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.