Adegan dibuka dengan perputaran sosok anak kecil berambut pendek di bawah pantulan warna biru yang berlumur putih abu-abu. Sejurus kemudian, vokal Matt Berninger masuk secara perlahan ditemani ketukan Bryan Devendorf yang repetitif. Seperti biasanya, tekstur suaranya begitu berat dan cenderung datar namun di lain sisi menyimpan kharisma yang dalam. Lantas aliran rock yang sedikit mengalir setelahnya.
Kira-kira seperti itu gambaran video klip terbaru dari The National yang bertajuk “Guilty Party.” Track tersebut merupakan salah satu komposisi yang terdapat di album baru mereka, Sleep Well Beast. Didominasi yang cukup abstrak dan bergerak cepat di tengah sirkulasi seorang bocah hingga sepetak lapangan membuat “Guilty Party” seakan menyembunyikan banyak tafsir. Entah, hanya Berninger yang paham.
Rencananya, album Sleep Well Beast akan dirilis pada 8 September 2017. Memuat 12 nomor, The National menggandeng label 4AD sebagai partner pendistribusian. Namun pertanyaannya; apakah Sleep Well Beast bakal berujung layaknya Alligator (2005) yang penuh intimasi atau justru berpendar bak High Violet (2010) yang tak tertebak? Kiranya kita semua musti sabar hingga beberapa bulan ke depan.
Apabila di wilayah barat kita mengenal pianis jazz semacam Bill Evans, Herbie Hancock, atau Thelonius Monk yang tersohor dengan nama besarnya, maka di kawasan Asia khususnya Jepang, sosok Ryo Fukui tak dapat dipisahkan dari telinga penikmat jazz kebanyakan. Kualitasnya jangan disangsikan. Jemarinya bebas berkehendak menguasai tiap bongkah tuts berwarna hitam putih dan menari lincah di atasnya.
Selama perjalanan bermusiknya, Ryo telah mengeluarkan lima buah album; Scenery (1976), Mellow Dream (1977), My Favourite Tune (1995), In New York (dibuat bersama Leroy Williams dan Lisle Atkinson pada 1999), serta A Letter from Slowboat (2015). Catatan di atas tergolong sedikit untuk ukuran pianis legenda sepertinya. Namun percayalah, keseluruhan karyanya adalah tonggak penting bagi perkembangan musik jazz di Jepang.
Dari kelima albumnya, Scenery dirasa menjadi titik monumental. Baik aransemen maupun instrumentasi yang ia gubah terdengar orisinil. Dibuat kala Ryo berumur 22 tahun, Scenery menggambarkan kejeniusannya dalam meramu komposisi jazz standar yang tak sebatas berpatokan pada notasi umumnya. Sesekali ia mengikuti arus ketika memainkan “It Could Happen To You” dan tak jarang pula ia meluapkan keliarannya tatkala mementaskan “Scenery.”
Meskipun keenam nomor di Scenery menarik disimak, bertajuk “Early Summer” tetap menyuguhkan atensi tersendiri di samping performa menakjubkan. sepanjang 11 menit ini membuktikan kapasitas seorang Ryo Fukui di mana ia menumpahkan segala rupa variasi dalam wujud kentalnya progresifitas di balik aroma blues hingga samba. Mendobrak batasan demi menciptakan sekelumit keindahan memang perlu; dan Ryo Fukui sukses melakoninya.
Suatu karya memang pasti memiliki makna. Entah terinspirasi dari apa dan dimaksudkan untuk mengilustrasikan apa, pasti makna itulah menjadi kunci penentu karakter dari suatu karya. Melalui yang belum lama dirilisnya, Haikal Azizi alias Bin Idris memiliki alasannya tersendiri untuk menyentuh isu sosial yang dirasa relevan kini. ‘Berbagi bumi, berbagi matahari’ seperti yang ia nyanyikan dalam “Rukun Warga,’ memang bermaksud membawa makna perdamaian.
Dengan alunan latar yang ringan dan dengan suara vokalnya sendiri yang menggema, pemaknaan di balik lagu ini memang dirancang untuk mengejar relevansi dalam realita kini. Melalui “Rukun Warga” juga Bin Idris mencoba untuk berkomunikasi dengan realita, untuk menciptakan sebuah dialog yang mempromosikan kerukunan dan mengembalikan sebuah sensasi ‘damai’ yang mungkin kini mulai sulit untuk dirasa. Dilengkapi dengan ilustrasi fotografi oleh Wahyudi Onggo yang diambil di tengah euforia demo Hari Buruh, lagu tersebut benar-benar menjadi sebuah karya bermakna yang secara akurat memampangkan sebuah potret sosial.
Tantangan demi tantangan yang memicu adrenalin dan mengundang kegelisahan sementara adalah tema yang hendak dieksplor melalui "I Dare You" oleh The xx yang disertai oleh video yang mengilustrasikannya. Dalam video klip yang di antaranya dibintangi beberapa artis ternama dari serial Stranger Things dan film Moonlight berdurasi 6 menit ini, tersajikan pengisahan yang lebih dari sekadar ilustrasi dari lagu. Semula bisa diduga sebagai sebuah karya film pendek tersendiri, usaha dan estetika yang ditangkap dalam video klipnya perlu diberikan rekognisi yang lebih.
Sebuah kolaborasi yang turut menggandeng Raf Simons dari Calvin Klein dan Alasdair McLellan, video klip ini menampilkan kisah pendek sekumpulan anak muda yang mencoba menaklukan tantangan-tantangannya sendiri. Kemampuannya untuk memikat perhatian sejak menit pertama mungkin bisa mendorong keinginan untuk melihat lanjutan kisahnya. Lebih dari itu, video ini bisa mengundang kita untuk merasakan segala kehangatan dari sebuah momen yang bisa membuat kita tergila-gila untuk menghidupkannya kembali dalam nostalgia di lain waktu.
Musisi dance/electronic asal Monako, Jennifer Cardini membuat gebrakan baru. Lewat labelnya, Correspondant, ia merilis album kompilasi seri lima yang turut serta mengajak Man Power, Marvin & Guy, sampai Red Axes.
Album kompilasi tersebut memuat total 15 repertoir yang tak hanya dimainkan oleh artis Correspondant macam Red Axes atau Javi Redondo melainkan juga menarik para kolaborator lain seperti Fort Romeu dan Jonathan Kusuma hingga pendatang baru layaknya Marvin & Guy, Khidja, Kempes, sampai Colli Alban.
Tercatat album kompilasi ini merupakan keluaran yang kelima dari Correspondant dalam kurun waktu enam tahun. Lewat beragamnya pengisi yang dibawa, baik Jennifer maupun Correspondant ingin menegaskan satu hal pada dunia bahwa dengan semangat gerakan punk, mereka mampu mendorong semarak musik disko elektronik ke ujung tak terbatas.
Daftar lagu
01. Man Power - "Perserverencia"
02. Khidja - "Gelatine"
03. Borusiade - "Not Harmed"
04. Jonathan Kusuma - "Motor Melodies"
05. V - "2001"
06. Zombies In Miami - "Mithril"
07. Kempes - "Sentimental Idiot"
08. Marvin & Guy - "Juba Dance"
09. Colli Alban - "Walking In The Night"
10. Javi Redondo - "Heroin"
11. Uriah Klapter - "Tone"
12. Yovav - "Andiamo"
13. Red Axes - "Earth Core"
14. Fort Romeau - "Over Water"
15. Underspreche - "Drumz"
Kompilasi ini dilepas pada tanggal 7 Juli 2017.
Kebanyakan orang tahu Ratta Bill dari bandnya bernama Bedchamber, tapi mungkin sedikit yang tahu kalau dia juga adalah desainer grafis dan sudah pernah mendesain album sampai poster konser. Nah, pada Gimme 5 kali ini, kami menanyakan hal selain musik, yakni - tentu saja - 5 album yang cukup dalam menginspirasinya sebagai desainer grafis.
Memang banyak seniman visual yang oke di Amerika dan Eropa, namun langkah menarik diambil oleh Flying Lotus saat ia justru memilih komikus horror Jepang Shintaro Kago untuk mengerjakan nya. Dengan gaya horornya yang dan , seakan , hasil benar-benar mengesankan dan dengan kesan yang ingin disampaikan oleh musiknya. Kalau di atas masih kurang, mungkin bisa cek bagaimana tiap disajikan dengan seri yang brutal di internet.
Ini personal, tapi dari dulu saya memang mengagumi mbak Claire Boucher dengan segala ambisi dan idealisme yang ia tumpahkan pada proyek solo elektronik popnya, Grimes. Ia mempunyai visi artistik yang kuat, baik dari segi musik dan visual, dan untuk meraih ideal tersebut seringkali ia turun langsung untuk memproduksi karya-karyanya semuanya sendiri. Pada yang ia kerjakan ini, ia meminjam gaya horor Jepang () dengan layout yang menarik untuk merepresentasikan album kedua Grimes yang memiliki spektrum cukup luas baik dari segi referensi dan tema. Mari ambil waktu sejenak untuk mengapresiasi detail pada desain panel merahnya
Parquet Courts adalah band art rock yang paling menarik saat ini. , lihat saja bagaimana musik mereka sangat selaras dengan yang dikerjakan sendiri oleh -nya, Andrew Savage. Artistik, , penuh humor dengan penataan yang seenaknya, seakan Savage sudah menelan semua materi kelas seni dan desain matang-matang untuk kemudian dimuntahkan lagi bersama Parquet Courts. Etos punk bermain tidak hanya pada musiknya, namun juga pada kontribusi nya.
Seringkali karya terkesan membosankan, bahkan terasa sebagai jalan pintas karena malas menggali ide yang lebih dalam. Namun saya tidak bisa memungkiri betapa berhasilnya Rage Against The Machine memparodikan karya Love oleh Robert Indiana menjadi “Rage.”
Sulit rasanya untuk menemukan band hardcore punk yang memiliki gaya visual sekuat Black Flag. Tema ofensif dan garis yang tegas, beberapa artwork hasil garapan Raymond Pettibon seperti Slip It In, Police Story dan Jealous Again benar-benar membentuk karakter Black Flag hingga menjadi band hardcore punk paling pada masanya. Kejanggalan proporsi yang menunjukkan bagaimana ia tidak pernah mengambil pendidikan seni justru membuat kesan karyanya semakin kuat sebagai salah satu representasi skena musik di Amerika era 80an, tapi tolong jangan bicarakan tentang dari album terakhir Black Flag.