Music

28.07.17

Nuansa Pop 80-an dengan Chaz Bundick

Mungkin bisa menjadi sebuah suguhan yang unik dan tidak biasa bagi mereka yang rindu sensasi bernostalgia dengan alunan-alunan khas dekade 80-an. Melalui album terbarunya, Boo Boo, Chaz Bundick alias Toro Y Moi tidak hanya mampu menyulap suasana seolah berada di dekade penuh warna tersebut, namun juga menyelaraskan tema kaget tenar dan patah hati menjadi kesatuan dalam Boo Boo. Alunan suara Bundick memang perlu diacungi jempol dengan bentangan nada yang impresif, dengan transisi halus yang seolah melebur dengan latar yang tidak kalah patut dinikmatinya. Pengendalian emosi yang antara perlu dipertanyakan atau semata-mata mengesankan, hampir sulit untuk mengabaikan vokal dari Bundick yang sama sekali tidak terdengar sebagai seseorang yang sedang dilanda patah hati. Rasa kenyamanan dan familiaritas yang ditawarkan tiap lagu dalam album ini menjadikannya hanya semakin perlu untuk diberi kesempatan

26.07.17

Boogarins: Psych-rock ala Brazil

Bagaimana jadinya apabila komposisi psychedelic dimainkan oleh sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada takdir memainkan bola sepak di negara terbesar Amerika Selatan? Satu kata yang mampu menggambarkannya; menggairahkan. Secara pondasi, psychedelic sendiri sudah menyediakan tingkat adiksi luar biasa tatkala telinga perlahan mendengarkannya. Lantas, lewat tangan keempat pemuda yang menamakan dirinya sebagai Boogarins ini, psychedelic dipoles dengan aroma tropis khas Samba. Sensual sekaligus memberi efek tak terkira. Boogarins pertama kali dikenal saat meramaikan Big Ears Festival di Knoxville, Tennessee. Publik langsung dibuat terpana oleh kemampuan mereka meramu musik yang langka dan penyampaian bahasa di luar kewajaran (Boogarins menggunakan bahasa Portugis di setiap lagunya). Hingga tiba masanya, euforia penggemarnya tetap terjaga dengan kabar rilisnya album mereka yang berjudul La Vem a Morte pada 9 Juni lalu. Corak musik mereka tetap berada di bawah orbit keaslian. Meski sempat membuat lagu berbahasa universal melalui “A Pattern Repeated On,” namun Boogarins kembali berpijar di akar rumput nenek moyang; Portugis. Walaupun demikian, keputusan Boogarins untuk bernyanyi dalam bahasa ibu bukan tanpa sebab. Boogarins ingin menegaskan bahwasanya di dalam semesta yang luas kita terkadang dihadapkan pada realita membingungkan. Termasuk ketika harapan tak jadi kenyataan. Oleh karena itu, lewat lagu-lagunya Boogarins mengajak kita untuk melihat cakrawala dalam perspektif luas seraya berkata; dunia tak sesempit itu.

24.07.17

Interpretasi Istanbul oleh Debruit

Sebuah emosi yang menghasilkan inspirasi memang tidak terbatas, ia bisa berasal dari mana saja dan datang kapan saja. Menginterpretasikan emosi dan jiwa dari Istanbul mendorong Xavier Thomas alias Debruit untuk menumpahkan ilhamnya ke dalam sebuah materi baru, Gelecek. ‘Warna’ kontradiktif dari Istanbul, yang merefleksikan kejayaan masa lalu dan optimismenya akan masa depan, serta keindahan dari sedikit bumbu kegelapan darinya menjadikan Instanbul sebuah komposisi yang multimensional sendiri. Sebuah pengaruh yang pada akhirnya menyulut imajinasi nan liar yang menyertai interpretasi akhir dari Debruit. Hasilnya ialah Gelecek yang turut mewariskan warna liar tersebut dalam tiap nada dan alurnya. Sebuah musikalisasi akan Istanbul yang tak berkata, namun tetap bisa dengan cukup jelas memberikan tidak sedikit goresan akan warna yang dimaksudkan Débruit di dalamnya di benak para pendengarnya. Gelecek sendiri bisa menjadi bukti bahwa memang tiap kota memiliki ‘kepribadian’-nya tersendiri, yang bisa menjadikan sebuah inspirasi bagi karya yang bisa ‘berbicara.’

22.07.17

Ode untuk Ibu Kota dari Oscar Lolang

terbaru dari album Oscar Lolang yang akan segera dirilis pada Agustus mendatang, Drowning in a Shallow Water ini tidak hanya kental dengan nuansa folk dan instrumental minim yang diimbangi dengan vokal lantang namun syahdu darinya, namun juga akan ironi dan kompleksitas dari ibu kota yang digambarkan di dalamnya. Barangkali tiada yang bisa benar-benar menerka bahwa tembang folk ini ialah karya lokal yang mengisahkan Jakarta saat Oscar menyanyikan di akhir lagu. Segala ‘warna’ yang dirasa pas menggambarkan Jakarta tercurah di dalam lagu “Clouds of Jakarta” ini; kebencian, kerinduan, tawa, dan tak lupa juga kesenjangan yang mungkin memang menjadi pengingat siapapun akan Jakarta. Kemampuan sang ibu kota dalam memikat namun tanpa menawarkan kehangatan, menurut Oscar, adalah hal yang menyebabkan “Banyak hal-hal yang masih tidak bisa saya sentuh, dan saya sudah tenggelam di sana (Jakarta).” Barangkali, menenggelamkan diri dalam tembang terbarunya ini, terlebih bagi pecinta nuansa musik ala Bob Dylan atau Simon & Garfunkel, adalah yang dibutuhkan untuk bisa memasuki relung lebih dalam dari berbagai fenomena yang melanda ibu kota.

21.07.17

Gimme 5: Xandega Tahajuansya

Sebelum dikenal sebagai Polka Wars dan salah satu penggerak kolektif Studiorama, Xandega Tahajuansya adalah anak kelas 5 SD yang membentuk band untuk membawakan lagu Linkin Park. Untuk mengenang kepergian Chester Bennington hari ini, Gimme 5 mengundang Dega untuk memilih lima lagu Linkin Park yang membekas di hatinya. “Hybrid Theory”, album pertama Linkin Park adalah pengalaman pertama saya untuk mendengar album secara utuh, sebelumnya hanya mendengarkan lagu-lagu secara terpisah. “One Step Closer” lebih populer, tapi benar-benar kena banget itu pas di lagu “Papercut” yang juga jadi pembuka album. Ditambah videoklipnya juga keren sih. Ini adalah lagu pertama di side B kaset “Hybrid Theory”. Pas suatu hari dengerin kaset ini ketiduran, dan saat kaset masuk side B langsung kebangun. Bagi saya ini adalah salah satu lagu mereka yang paling dengan pola Ditambah lengking teriakan Chester itu, langsung terpikir, “Anjir, ini dia nih yang seru. Gahar banget dan banget lagi!”. Lagu ini pernah saya bawakan di band pertama saat kelas 5 SD. Bawain ini karena gitarnya keren, porsi rap-nyanyi - dan teriakannya pas. Breakdown pas di bagian itu asik banget. Pas itu main bukan jadi tapi jadi vokalis ala Chester gitu. Bahkan sempat ingin punya tato di pergelangan tangan seperti punya Chester. Awal dengar lagu ini agak kecewa, karena lagunya nggak kenceng kayak lagu Linkin Park yang lain. Kok kalem gini? Tapi setelah didengarkan lagi, baru terasa kalau ini adalah salah satu lagu Linkin Park yang paling dan gitu. Bagusnya tetap terasa sampai sekarang. Setelah album “Hybrid Theory” yang seru banget, saya sangat menunggu album kedua Linkin Park. Tapi pas “Meteora” muncul dengan “Somewhere I Belong” itu kecewa, karena terasa materinya nggak se dan album sebelumnya. Mungkin ini bentuk pendewasaan mereka, tapi saya kadung cinta mati sama Hybrid Theory dan susah “Faint” nyantol di kepala karena masih di nuansa yang sama dengan album sebelumnya. Di album ini cuma suka “Faint” sama “Lying From You”. Dengar karya Xandega bersama Polka Wars di berikut. https://soundcloud.com/polkawarsmusic Ikuti berita terbaru mengenai Polka Wars di Instagram mereka. https://www.instagram.com/polkawars/

18.07.17

Tentang Keharmonisan Semesta dalam Parakosmos

Sekilas, mungkin tidak terduga ada apa sebenarnya dibalik album terbaru dari Bottlesmoker. Namun, sebuah telaahan lebih jauh akan menemukan suatu kompilasi kisah mengnai keharmonisan yang ada dalam alam semesta, yang isinya sendiri tergabung dari berbagai sudut di Indonesia. Pasalnya, dalam penyatuan materi demi Parakosmos Anggung Suherman dan Ryan Adzani dari Bottlesmoker berkolaborasi dengan seorang etnomusikolog asing dalam melakukan field recording atas berbagai kesenian dan alat musik daerah. Sebuah harmonisasi asli atas keberagaman dan kekayaan semesta di Indonesia inilah yang bisa ditemukan hasilnya dalam Parakosmos. 10 judul di dalamnya merangkum perjalanan yang diceritakan dalam Parakosmos, dimana berbagai dimensi dari unsur yang menjadikan semesta dirayakan, mulai dari keberlawanan yang mewarnai semesta hingga perannya dalam menjadi seimbang dan menjadikan harmoni. Dengan mencakup pula beberapa motif dan pola permainan musik daerah hingga motif Tarawangsa untuk menghasilkan ritme yang repetitif, barangkali perjalanan menjumpai berbagai lapisan semesta Nusantara ini juga bisa dirasakan para pendengarnya.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.