Music

22.07.17

Ode untuk Ibu Kota dari Oscar Lolang

terbaru dari album Oscar Lolang yang akan segera dirilis pada Agustus mendatang, Drowning in a Shallow Water ini tidak hanya kental dengan nuansa folk dan instrumental minim yang diimbangi dengan vokal lantang namun syahdu darinya, namun juga akan ironi dan kompleksitas dari ibu kota yang digambarkan di dalamnya. Barangkali tiada yang bisa benar-benar menerka bahwa tembang folk ini ialah karya lokal yang mengisahkan Jakarta saat Oscar menyanyikan di akhir lagu. Segala ‘warna’ yang dirasa pas menggambarkan Jakarta tercurah di dalam lagu “Clouds of Jakarta” ini; kebencian, kerinduan, tawa, dan tak lupa juga kesenjangan yang mungkin memang menjadi pengingat siapapun akan Jakarta. Kemampuan sang ibu kota dalam memikat namun tanpa menawarkan kehangatan, menurut Oscar, adalah hal yang menyebabkan “Banyak hal-hal yang masih tidak bisa saya sentuh, dan saya sudah tenggelam di sana (Jakarta).” Barangkali, menenggelamkan diri dalam tembang terbarunya ini, terlebih bagi pecinta nuansa musik ala Bob Dylan atau Simon & Garfunkel, adalah yang dibutuhkan untuk bisa memasuki relung lebih dalam dari berbagai fenomena yang melanda ibu kota.

21.07.17

Gimme 5: Xandega Tahajuansya

Sebelum dikenal sebagai Polka Wars dan salah satu penggerak kolektif Studiorama, Xandega Tahajuansya adalah anak kelas 5 SD yang membentuk band untuk membawakan lagu Linkin Park. Untuk mengenang kepergian Chester Bennington hari ini, Gimme 5 mengundang Dega untuk memilih lima lagu Linkin Park yang membekas di hatinya. “Hybrid Theory”, album pertama Linkin Park adalah pengalaman pertama saya untuk mendengar album secara utuh, sebelumnya hanya mendengarkan lagu-lagu secara terpisah. “One Step Closer” lebih populer, tapi benar-benar kena banget itu pas di lagu “Papercut” yang juga jadi pembuka album. Ditambah videoklipnya juga keren sih. Ini adalah lagu pertama di side B kaset “Hybrid Theory”. Pas suatu hari dengerin kaset ini ketiduran, dan saat kaset masuk side B langsung kebangun. Bagi saya ini adalah salah satu lagu mereka yang paling dengan pola Ditambah lengking teriakan Chester itu, langsung terpikir, “Anjir, ini dia nih yang seru. Gahar banget dan banget lagi!”. Lagu ini pernah saya bawakan di band pertama saat kelas 5 SD. Bawain ini karena gitarnya keren, porsi rap-nyanyi - dan teriakannya pas. Breakdown pas di bagian itu asik banget. Pas itu main bukan jadi tapi jadi vokalis ala Chester gitu. Bahkan sempat ingin punya tato di pergelangan tangan seperti punya Chester. Awal dengar lagu ini agak kecewa, karena lagunya nggak kenceng kayak lagu Linkin Park yang lain. Kok kalem gini? Tapi setelah didengarkan lagi, baru terasa kalau ini adalah salah satu lagu Linkin Park yang paling dan gitu. Bagusnya tetap terasa sampai sekarang. Setelah album “Hybrid Theory” yang seru banget, saya sangat menunggu album kedua Linkin Park. Tapi pas “Meteora” muncul dengan “Somewhere I Belong” itu kecewa, karena terasa materinya nggak se dan album sebelumnya. Mungkin ini bentuk pendewasaan mereka, tapi saya kadung cinta mati sama Hybrid Theory dan susah “Faint” nyantol di kepala karena masih di nuansa yang sama dengan album sebelumnya. Di album ini cuma suka “Faint” sama “Lying From You”. Dengar karya Xandega bersama Polka Wars di berikut. https://soundcloud.com/polkawarsmusic Ikuti berita terbaru mengenai Polka Wars di Instagram mereka. https://www.instagram.com/polkawars/

18.07.17

Tentang Keharmonisan Semesta dalam Parakosmos

Sekilas, mungkin tidak terduga ada apa sebenarnya dibalik album terbaru dari Bottlesmoker. Namun, sebuah telaahan lebih jauh akan menemukan suatu kompilasi kisah mengnai keharmonisan yang ada dalam alam semesta, yang isinya sendiri tergabung dari berbagai sudut di Indonesia. Pasalnya, dalam penyatuan materi demi Parakosmos Anggung Suherman dan Ryan Adzani dari Bottlesmoker berkolaborasi dengan seorang etnomusikolog asing dalam melakukan field recording atas berbagai kesenian dan alat musik daerah. Sebuah harmonisasi asli atas keberagaman dan kekayaan semesta di Indonesia inilah yang bisa ditemukan hasilnya dalam Parakosmos. 10 judul di dalamnya merangkum perjalanan yang diceritakan dalam Parakosmos, dimana berbagai dimensi dari unsur yang menjadikan semesta dirayakan, mulai dari keberlawanan yang mewarnai semesta hingga perannya dalam menjadi seimbang dan menjadikan harmoni. Dengan mencakup pula beberapa motif dan pola permainan musik daerah hingga motif Tarawangsa untuk menghasilkan ritme yang repetitif, barangkali perjalanan menjumpai berbagai lapisan semesta Nusantara ini juga bisa dirasakan para pendengarnya.

18.07.17

Merayakan Sisi Sentimentil Big Thief dalam Capacity

Jika ada yang mampu menggabungkan pesona Interpol, The Fleetwood Mac, sampai Wilco dalam satu waktu, maka kuartet indie-rock asal Brooklyn bernama Big Thief adalah jawabannya. Berlebihan? Mungkin saja. Akan tetapi tahan segala keraguan dan segera dengarkan saja keseluruhan lagu mereka. Terlebih pada Masterpiece (rilis di tahun 2016) yang menunjukan bahwa kualitas mereka memang berbahaya. Kali ini, di album terbarunya bertajuk Capacity, Big Thief menampilkan kesan berbeda. Apabila di Masterpiece mereka menumpahkan keresahannya secara kolektif, di Capacity porsi sang vokalis Adrianne Lenker lebih mencolok. Hampir semua lagu mengisahkan guratan kegundahannya; depresi, ingatan masa kecil, hingga relasi dua kutub yang membingungkan. Dibalut begitu personal ditambah capaian vokalnya yang getir sekaligus lantang membuat kita berasa mendengarkan jalinan cerita satir. Lagu-lagu terbaik Capacity dapat disimak lewat “Great White Shark” yang penuh kontemplasi, “Mythological Beauty” yang membaurkan distorsi kasar bersama lirik sensitif, atau “Black Diamonds” yang sarat penyesalan di samping menyimpan harapan layaknya nostalgia. Baik Buck Meek, Max Oleartchik, maupun James Krivchenia kiranya sepakat membuat komposisi yang proporsional guna menemani letupan emosional Lenker merupakan prioritas. Dan hal tersebut berhasil dituntaskan. Capacity adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan Big Thief pasca melepas Masterpiece. Mereka tak terjebak melankolia ketika meramu hal-hal bersifat pribadi dalam naungan mesin efek, melodi minimalis, hingga gebukan drum yang teratur. Rasanya tak terlampau terkejut tatkala di masa depan mereka meraih nama besar karena dua hal utama sudah dilakukan; album berbobot serta konsistensi tiada bertepi.

17.07.17

Menggali Lebih Jauh Project ••|||

Jika kita menyimak adanya segala dinamika dan perkembangan yang mewarnai skena musik Indonesia, maka akan sulit untuk mengabaikan munculnya sebuah tren kolektif baru yang mulai marak penikmatnya dari berbagai kalangan lokal. Kolektif asal Bali, Project23 menjadi salah satu kolektif baru yang muncul dengan cerita menarik. Hadir dengan konsep ‘menyembunyikan’ siapa sebenarnya wajah dan identitas di balik semua talenta yang akan ditampilkan, proyek ini mencoba menyuguhkan suatu pendekatan baru dalam menilai suatu karya secara objektif. Project23 juga akan menjadi suatu eksplorasi berbagai lapisan genre musik yang mewarnai skena lokal, termasuk melodisasi dari sebuah suara. Dengan munculnya suatu keresahan akan adanya sebuah diskoneksi dari segala unsur kreativitas lokal yang memerlukan sebuah payung pemersatu, kelahiran konsep unik inipun dibarengi rencana merutinkan proyek besarnya, dan beberapa proyek dari waktu ke waktu di seluruh Indonesia. Lebih lanjut lagi, Project23 mencoba mengembangkan massanya untuk menyediakan suatu wadah demi meningkatnya rekognisi akan talenta lokal. Lewat berkreasi dalam berbagai bentuk aktivitas unik guna menciptakan suatu gerakan dan budaya kreatif yang baru, kolektif ini memberikan ruang gerak bagi talenta-talenta lokal yang tersembunyi dan membesarkannya di skena lokal. Project23 akan mengadakan installment pertamanya berupa pada 2 September mendatang dengan menampilkan segelintir musisi elektro dan DJ lokal seperti Zat Kimia dan Pariwisatan. Facebook Instagram

17.07.17

Ragam Ekspresi dalam Hip Hop

Setelah mengalami masa kejayaan di tahun 90-an, hip hop kembali menyemarakkan skena musik Indonesia. Hadir dengan warna baru dan didukung dengan tren subkultur yang ada, hip hop hari ini mampu merepresentasikan para emerging artist yang ingin menyuarakan kegundahan dan menunjukkan passion dalam bentuk karya padat referensi.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.