Music

29.07.17

Perjalanan Melankolis Matthew Dear

Kiranya semula menjadi membingungkan untuk membayangkan sebuah musikalisasi berisi ‘intipan’ ke dalam pengaruh substansi dengan dosis tertentu. Namun melalui “Modafinil Blues,” Matthew Dear memberikan kemungkinan untuk mengintip tersebut, yang disertai dengan vibrasi melankolia yang makin menuju kegelapan, namun juga dibumbui dengan sedikit humor. Terlepas dari penilaian akan kelaziman dari kondisi yang mengarah kepada terbentuknya “Modafinil Blues,” perlu diakui bahwa ia berhasil menghantui pendengar dengan sensasi seakan terjebak di dalam seluk beluk kerumitan dunia buatannya. Sebuah alunan goth yang mengalur secara perlahan, mungkin kebutuhan untuk bersantai dan meringankan suasana tidak bisa dipenuhi dengan lagu satu ini. Namun, bukan berarti kemampuan Dear dalam mengalterasi sebuah ‘perjalanan’ yang tidak berakhir dengan mulus ke dalam sebuah alunan tidak perlu diakui. “Modafinil Blues” mengundang pendengarnya untuk juga menarik kesimpulan sendiri terkait pesan yang ingin disampaikannya. Tapi bukankah itu letak keindahannya?

28.07.17

Kombinasi Mematikan Donato dan Donatinho

Mungkin yang begitu kuatnya turut berkontribusi terhadap keserasian yang dihasilkan oleh Joao Donato yang sudah tidak asing lagi namanya dalam skena musik Brazil, yang menggandeng anaknya Donatinho dalam menyajikan Sintetizamor. Sebuah kolaborasi yang tidak segan-segan menunjukkan warna jazz dan funk elektronika yang selama ini memang menjadi identik dengan karya Donatino sendiri, khususnya dalam album legendarisnya Quem e Quem. Kelahiran kembali Donatino dengan rekan barunya ini tidak mengecewakan sejarah sumbangsihnya dalam skena musik Brazil selama ini. Dengan eksplosi warna-warna yang penuh keceriaan dan dentuman yang begitu menggoda untuk dinikmati, sajian-sajian dalam Sintetizamor mungkin memang sedang dalam perjalanannya mengejar keluarbiasaan Quem e Quem.

28.07.17

Nuansa Pop 80-an dengan Chaz Bundick

Mungkin bisa menjadi sebuah suguhan yang unik dan tidak biasa bagi mereka yang rindu sensasi bernostalgia dengan alunan-alunan khas dekade 80-an. Melalui album terbarunya, Boo Boo, Chaz Bundick alias Toro Y Moi tidak hanya mampu menyulap suasana seolah berada di dekade penuh warna tersebut, namun juga menyelaraskan tema kaget tenar dan patah hati menjadi kesatuan dalam Boo Boo. Alunan suara Bundick memang perlu diacungi jempol dengan bentangan nada yang impresif, dengan transisi halus yang seolah melebur dengan latar yang tidak kalah patut dinikmatinya. Pengendalian emosi yang antara perlu dipertanyakan atau semata-mata mengesankan, hampir sulit untuk mengabaikan vokal dari Bundick yang sama sekali tidak terdengar sebagai seseorang yang sedang dilanda patah hati. Rasa kenyamanan dan familiaritas yang ditawarkan tiap lagu dalam album ini menjadikannya hanya semakin perlu untuk diberi kesempatan

26.07.17

Boogarins: Psych-rock ala Brazil

Bagaimana jadinya apabila komposisi psychedelic dimainkan oleh sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada takdir memainkan bola sepak di negara terbesar Amerika Selatan? Satu kata yang mampu menggambarkannya; menggairahkan. Secara pondasi, psychedelic sendiri sudah menyediakan tingkat adiksi luar biasa tatkala telinga perlahan mendengarkannya. Lantas, lewat tangan keempat pemuda yang menamakan dirinya sebagai Boogarins ini, psychedelic dipoles dengan aroma tropis khas Samba. Sensual sekaligus memberi efek tak terkira. Boogarins pertama kali dikenal saat meramaikan Big Ears Festival di Knoxville, Tennessee. Publik langsung dibuat terpana oleh kemampuan mereka meramu musik yang langka dan penyampaian bahasa di luar kewajaran (Boogarins menggunakan bahasa Portugis di setiap lagunya). Hingga tiba masanya, euforia penggemarnya tetap terjaga dengan kabar rilisnya album mereka yang berjudul La Vem a Morte pada 9 Juni lalu. Corak musik mereka tetap berada di bawah orbit keaslian. Meski sempat membuat lagu berbahasa universal melalui “A Pattern Repeated On,” namun Boogarins kembali berpijar di akar rumput nenek moyang; Portugis. Walaupun demikian, keputusan Boogarins untuk bernyanyi dalam bahasa ibu bukan tanpa sebab. Boogarins ingin menegaskan bahwasanya di dalam semesta yang luas kita terkadang dihadapkan pada realita membingungkan. Termasuk ketika harapan tak jadi kenyataan. Oleh karena itu, lewat lagu-lagunya Boogarins mengajak kita untuk melihat cakrawala dalam perspektif luas seraya berkata; dunia tak sesempit itu.

24.07.17

Interpretasi Istanbul oleh Debruit

Sebuah emosi yang menghasilkan inspirasi memang tidak terbatas, ia bisa berasal dari mana saja dan datang kapan saja. Menginterpretasikan emosi dan jiwa dari Istanbul mendorong Xavier Thomas alias Debruit untuk menumpahkan ilhamnya ke dalam sebuah materi baru, Gelecek. ‘Warna’ kontradiktif dari Istanbul, yang merefleksikan kejayaan masa lalu dan optimismenya akan masa depan, serta keindahan dari sedikit bumbu kegelapan darinya menjadikan Instanbul sebuah komposisi yang multimensional sendiri. Sebuah pengaruh yang pada akhirnya menyulut imajinasi nan liar yang menyertai interpretasi akhir dari Debruit. Hasilnya ialah Gelecek yang turut mewariskan warna liar tersebut dalam tiap nada dan alurnya. Sebuah musikalisasi akan Istanbul yang tak berkata, namun tetap bisa dengan cukup jelas memberikan tidak sedikit goresan akan warna yang dimaksudkan Débruit di dalamnya di benak para pendengarnya. Gelecek sendiri bisa menjadi bukti bahwa memang tiap kota memiliki ‘kepribadian’-nya tersendiri, yang bisa menjadikan sebuah inspirasi bagi karya yang bisa ‘berbicara.’

22.07.17

Ode untuk Ibu Kota dari Oscar Lolang

terbaru dari album Oscar Lolang yang akan segera dirilis pada Agustus mendatang, Drowning in a Shallow Water ini tidak hanya kental dengan nuansa folk dan instrumental minim yang diimbangi dengan vokal lantang namun syahdu darinya, namun juga akan ironi dan kompleksitas dari ibu kota yang digambarkan di dalamnya. Barangkali tiada yang bisa benar-benar menerka bahwa tembang folk ini ialah karya lokal yang mengisahkan Jakarta saat Oscar menyanyikan di akhir lagu. Segala ‘warna’ yang dirasa pas menggambarkan Jakarta tercurah di dalam lagu “Clouds of Jakarta” ini; kebencian, kerinduan, tawa, dan tak lupa juga kesenjangan yang mungkin memang menjadi pengingat siapapun akan Jakarta. Kemampuan sang ibu kota dalam memikat namun tanpa menawarkan kehangatan, menurut Oscar, adalah hal yang menyebabkan “Banyak hal-hal yang masih tidak bisa saya sentuh, dan saya sudah tenggelam di sana (Jakarta).” Barangkali, menenggelamkan diri dalam tembang terbarunya ini, terlebih bagi pecinta nuansa musik ala Bob Dylan atau Simon & Garfunkel, adalah yang dibutuhkan untuk bisa memasuki relung lebih dalam dari berbagai fenomena yang melanda ibu kota.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.