Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.
Mendengarkan ode dan kegelisahan Oscar Lolang yang ia nyanyikan di album pertamanya. Sembari memahami pandangannya mengenai folk lokal, hingga keinginannya berkolaborasi dengan Vira Talisa.
Ikuzumi Kitazawa atau lebih dikenal dengan nama panggungnya sebagai KZA adalah seorang DJ asal Jepang yang tergabung dengan unit Force of Nature bersama DJ Kent. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami menemuinya di Mondo by the Rooftop untuk menanyakan lima lagu terbaik di tahun 2017 versinya.
Sebenarnya, sebelum menemukan lagu inipun sudah tertarik untuk mendalami musik R&B, namun entah kenapa baru pada saat musim panas tahun inilah kemudian saya banyak mendengarkan lagu-lagu R&B yang berpotensi. Kemudian setelah itu baru mulailah mencari tahu lagu-lagu lainnya.
Kurang lebih jawabannya mirip dengan alasan untuk lagu pertama (tertawa).
Sebenarnya lagu ini pertama kali keluar di tahun 80-an dan di re-edit tahun 2017. Saya mendapatkannya pun lewat email promosi dan langsung menyukainya. Lagu inipun sebenarnya adalah Saya menyukai lagu ini karena terdengar atau terasa seperti memiliki dan rasanya cocok untuk anak muda zaman sekarang yang kebanyakan sangat melankolis dan mendayu-dayu.
Saya tahu lagu ini karena sempat menjadi jawara di antara semua musik-musik Balearic lainnya. Biasanya musik-musik Balearic cenderung sangat tetapi tidak untuk lagu ini. Menurut saya lagu ini sangat pas dan karena itu saya menyukainya.
Lagu ini sangat saya rekomendasikan untuk didengarkan di tahun 2017. Karena terdengar and sehingga terkesan bahaya. Saya pribadi sangat suka lagu ini.
Saksikan penampilan DJ KZA di Never Too Disco 3rd Anniversary!
-
8 September 2017
21:00
the SAFEHOUSE
KZA (Force Of Nature/JP)
Gerhan
Omar
Belda
Kuartet musik eksperimental asal Jepang, Saicobab, akan segera merilis album debut mereka yang sudah lama dinanti-nantikan pada tanggal 20 Oktober. Saicobab membawa musik yang terinspirasi dari musik tradisional Jepang, tradisional India, kerohanian, dan numerologi kuno. Ditemukan pada tahun 2001 oleh pemain Sitar Yoshita Daikiti dan vokalis serta multi-instrumentalis asal Boredom dan OOIOO, Yoshimi Yokota, grup ini sekarang digabungi oleh Akita Goldman dan Motoyuki Hamamoto
Album debut mereka akan diberi nama Sab Se Paruni Bab, yang berarti “bayi perempuan yang paling kuno” dalam Bahasa Hindi. Saicobab sendiri terdiri dari dua kata dari bahasa Jepang, Saico yang artinya “paling kuno” dan Bab yang artinya “bayi.” Menurut unit ini, koneksi antara kedua nama itu adalah refleksi dari hubungan antara musik tradisional India dan Jepang. Hal ini yang membuat Saicobab terinspirasi dengan musik tradisional Jepang dan India, di mana mereka berencana membuat sebuah karya dengan kedua unsur tradisional itu di dalam ranah modern yang kreatif.
Album ini direncanakan akan dirilis dalam bentuk CD dan vinyl format 2 x LP dengan tambahan gratis serta eksklusif lagu “AWAWAW” oleh Cevdet Erek. Untuk beberapa pertama bisa juga mendapatkan vinyl berwarna yang terbatas. Sab Se Paruni Bab akan dirilis secara lewat Thrill Jockey, dan sudah bisa di di sini.
Sebagai salah satu kota besar di Australia, Perth adalah destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan alam hijau, melainkan skena musik menarik dan progresif lewat perkembangan festival musik dari waktu ke waktu. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.
Tidak banyak yang tahu kalau DJ yang tergabung dalam Diskoria ini memiliki referensi musik lebih luas dari disko. Sempat tergabung dalam Whoopdemfunk dan band pop Sweaters dan sekarang menjadi bagian dari PTT Family membuat dirinya terpapar ragam genre musik. Berdasarkan hal tersebut, kami menanyakan lima lagu terbaik versinya, di Gimme 5 kali ini.
Pertama kali dengar ini di Prins Thomas di Blowfish sekitar tahun 2010. ini muncul setelah Thomas menghipnotis satu dengan instrumental tanpa selama 4-5 menit di jam-jam setelah . sudah penuh, ada yang sudah dan malah dikasih lagu tanpa , saat itu lumayan sih (tertawa). Begitu drum lagu ini masuk, semua orang langsung mulai joget lagi, termasuk saya tentunya. Saya sampai kirim Facebook berkali-kali ke Thomas untuk menanyakan ini, karena tahun itu belum ada Shazam (tertawa) sampai akhirnya berhasil dapat lagu dan piringan hitamnya. Baru setelah saya dapat ini, Thomas akhirnya membalas DM () saya dan bilang saat itu dia belum mau judulnya karena masih berstatus
Pertama kali dengar ini juga di set Prins Thomas Blowfish tahun 2010, ini salah satu yang berhasil 'nyangkut' dan setiap dengar -nya masuk langsung bikin ingin joget. Jadi lumayan sering saya mainkan kalau lagi mengisi disco/house.
Sebenarnya saya tidak terlalu suka Bag Raiders, tapi pas dengar lagu ini pertama kali dimainkan kalau tidak salah di Love Garage tahun 2012, saya ingat langsung joget dan pulang-pulang langsung cari ini saking sukanya. Apa yang saya suka dari ini mungkin karena sangat dan ada mistisnya sedikit - mungkin dari perkusi yang mirip gamelan dan suara suling -nya di tengah-tengah lagu. Tapi ya itu tadi, berhasil membuat saya joget-joget.
Satu yang agak beda dengan sebelumnya, karena lebih lebih mengarah ke ; sub-genre yang sebenarnya jarang saya kulik. Tapi ya gitu, buat saya musik bagus ya musik bagus saja, apapun genre dan batasan lainnya. Saya pertama dengar ini di salah satu di Potato Head Garage, kalau tidak salah Dipha Barus yang memutar. Kebetulan saya kerja di sana dari awal buka sampai akhirnya tutup, jadi lumayan bermacam musik di luar zona aman saya (tertawa). Saya tanya ke dia ini lagu remix siapa dan ya itu, begitu dapat, langsung saya cari -nya karena ini berhasil bikin saya joget tiap mendengarnya.
Satu Indonesia yang emang selalu ingin saya mainkan di DJ pas pertama kali dengar, karena dan juga Liriknya juga khas musik Indonesia zaman itu, puitis dan banyak menggunakan kosakata yang tidak biasa. Lumayan bisa bikin orang joget juga sih kalo dipasang sama Diskoria (tertawa), apalagi teman kami; Munir dari Midnight Runners bikin versi -nya yang jadi lebih
-
Dengarkan Merdi bersama Diskoria di sini.