Train to Busan adalah film yang sangat menghibur. Dengan cerita yang berpusat kepada penumpang-penumpang kereta yang berusaha untuk melarikan diri dari epidemic virus zombie, hasil karya sutradara Yeon Sang-ho ini patut dipuji, terutama karena ia mengambil sebuah tema (zombie) yang sudah cukup sering diangkat, namun membuatnya menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk ditonton tanpa perubahan signifikan pada formula jenis film ini.
Seperti film zombie lainnya, kisah Train to Busan berkisah mengenai bagaimana karakter-karakternya bisa bertahan hidup dan meloloskan diri dari malapetaka yang selalu mengejar mereka. Salah satu elemen yang membuat film ini seru adalah zombienya, tidak seperti zombie di film lain, disini mereka bisa berlari dan bergerak dengan cepat. Ketegangan di film zombie biasanya datang dari rasa paranoia pada monster-monster yang secara pelan mengejar tokoh utama - membangun sebuah atmosfir yang pelan-pelan tumbuh di kepala penonton sembari filmnya berlangsung. Dengan zombie yang bergerak sangat cepat dan berbondong-bondong, Train to Busan membuat setiap adegan melarikan diri seperti layaknya film action - tegang dan penuh adrenalin.
Tentunya, film ini tidak hanya menawarkan adegan action yang bertubi-tubi. Yeon Sang-ho memberi waktu istirahat dari adegan-adegan tegang serta memajukan plotnya melalui interaksi dan drama antar karakter. Seperti hubungan antar bapak dan anak, pasangan muda, dan hubungan antar karakter lain yang berkumpul dalam usaha melawan zombie. Meskipun adegan drama berhasil memberi ruang untuk istrahat dari dan juga mengamplifikasi bagian serunya, adegan tersebut kadang terasa berlebihan. Pesan-pesan moral klise tentang persahabatan, loyalitas, dan gotong royong yang menyolok dan memancing emosi penonton terasa terlalu dipaksakan. Sebelum Train to Busan, Yeon Sang-ho telah menyutradarai sejumlah film animasi, dan mungkin adegan drama yang pantas melalui animasi tidak berhasil diterjemahkan dengan baik pada film live-actionnya.
Tetapi secara keseluruhan, Train to Busan adalah film menyenangkan yang patut ditonton jika anda mencari film action yang menghibur. Suksesnya sudah terbukti dengan gosip bahwa akan ada sebuah sequel atau prequel yang akan menyusul di waktu yang dekat.
Train to Busan (2016)
Sutradara: Yeon Sang-ho
Sinopsis:
Takashi Miike terkenal sebagai seorang sutradara yang sangat produktif. Beberapa filmnya mengundang kontroversi dengan konten berisi kekerasan berlebih serta isu dan tema yang seringkali menantang kenyamanan penontonnya. Melalui karyanya, kita bisa melihat pandangan dan kritik Miike terhadap norma tradisional di kehidupan masyarakat Jepang yang terkadang terasa kaku.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih 8 film pilihan karya Tsai Ming-liang. Dikenal sebagai sutradara asal Taiwan dengan karakter filmnya yang bercerita mengenai refleksi diri manusia, film-filmnya Tsai Ming lekat dengan persoalan pribadi, sehingga menimbulkan lamunan akan arti kehidupan seusai menontonnya.
Film dengan judul pesimis cenderung mengajak penonton untuk tertarik mengintip ceritanya. Sutradara muda asal Canada, Xavier Dolan, merupakan salah satu yang dikenal menggunakan judul film simple namun mengena. Sering mengangkat setting subkultur yang membalut isu tabu sekitar ranah domestik dan sosial, Dolan kembali menggelitik rasa penasaran penikmat film dengan deretan aktor kawakan, dari Gaspard Ulliel hingga Vincent Cassel yang akan memainkan sebuah cerita berdasarkan adaptasi teater tahun 1990 karya Jean-Luc Lagarce, berjudul “It’s Only the End of the World.”
Banyak ulasan mengenai film ini yang mengatakan bahwa Dolan kembali menggasak sebuah isu yang dekat dengan kenyataan untuk mendistraksi kesempurnaan hidup, kali ini korbannya adalah hidup sebuah keluarga. Mengangkat tema keluarga, film ini tak hanya menunjukkan pesimisme di dalam judul tapi juga keseluruhan cerita. Bagaimana seseorang yang lama meninggalkan keluarganya memutuskan untuk kembali dengan berita bahwa dirinya sekarat menjadi premis utama. Mungkin di cerita lain sang tokoh utama akan dibawa untuk mendapati sisa akhir hidupnya dengan kesenangan yang sebelumnya tak bisa didapat karena berbagai batasan yang tersemat dalam hidupnya. Tapi di dunia Dolan, hal itu nampaknya bukan perkara penting.
Dengan mengajak penonton untuk terbawa dalam sebuah dunia yang ia ciptakan, Dolan merancang sebuah teks berupa mimpi buruk yang didesain secara detail. Sinematografi yang dekat dan seakan merekam emosi yang ada di cerita pun menambahkan drama di wajah tiap karakter dan jalan cerita. Dokumenter sebuah keluarga modern bisa jadi alias untuk film ini. Keluh kesah yang terlontar dari mulut anggota keluarga berkarakter berbeda pun menjelaskan intrik yang sejatinya akan selalu hadir dalam sekumpulan orang walau terkait dengan pertalian darah. Walau terlahir di tahun 1989, Dolan membuktikan dirinya patut dipertimbangkan sebagai lawan para sutradara ternama untuk menghadirkan pilihan film intens untuk penonton dan “It’s Only the End of the World” pun menjadi film yang ditunggu-tunggu tahun ini.
Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan film dari deretan film yang akan diputar di festival Europe on Screen 2016. Dikenal sebagai festival tahunan yang memutarkan beragam jenis film di beberapa kota besar di Indonesia, tahun ini Europe on Screen tak hanya menghadirkan film-film box office tapi juga arthouse yang menarik untuk disimak.
Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia.
XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange.
Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi.
Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com