film

26.04.16

Europe on Screen 2016

Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia. XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange. Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi. Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com

26.04.16

Di Balik Keindahan Mentawai

Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai. Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis. Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.

19.04.16

Jadwal Film Kinosaurus Bulan April 2016

Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung. “Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia. Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man. Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya. - Kinosaurus Jl. Kemang Raya No.8B Mampang Prapatan Jakarta

Ideas
13.04.16

Ekosistem Film Alternatif bersama Meiske Taurisia

Meiske Taurisia adalah salah satu pegiat dunia film yang sangat aktif dalam menggerakkan kehidupan subkultur ini. Melalui aktivitas sebagai produser film, inisiator Kolektif, dan ruang film alternatif, Kinosaurus. Kami berbincang dengan Meiske Taurisia mengenai dunia film, sensor dan acara Film Musik Makan yang juga lahir dari pemikirannya.

11.04.16

Seleksi Karya: Kalyana Shira Films

Kalyana Shira Films dikenal melalui rilisan filmnya yang selalu menyuarakan gagasan-gagasan kritis dan cukup sering menyasar masalah feminisme serta beberapa isu sosial yang sering terlewatkan dari radar rumah produksi lain. Di episode Seleksi Karya kali ini, Whiteboardjournal memilih beberapa karya terbaik Kalyana Shira yang harus ditonton.

Ideas
30.03.16

Seni Multimedia bersama Henry Foundation

Henry Irawan adalah seorang seniman yang telah menjelajahi berbagai medium dalam karyanya. Dikenal sebagai Henry “Betmen” Foundation, ia telah menciptakan musik, video musik dan beberapa karya lain yang cukup khas. Whiteboardjournal mengunjungi kediamannya untuk berbincang mengenai medium berkarya, karakter ciptaannya dan film panjang sebagai obsesi terbarunya.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.