film

21.05.16

It’s Only the End of the World

Film dengan judul pesimis cenderung mengajak penonton untuk tertarik mengintip ceritanya. Sutradara muda asal Canada, Xavier Dolan, merupakan salah satu yang dikenal menggunakan judul film simple namun mengena. Sering mengangkat setting subkultur yang membalut isu tabu sekitar ranah domestik dan sosial, Dolan kembali menggelitik rasa penasaran penikmat film dengan deretan aktor kawakan, dari Gaspard Ulliel hingga Vincent Cassel yang akan memainkan sebuah cerita berdasarkan adaptasi teater tahun 1990 karya Jean-Luc Lagarce, berjudul “It’s Only the End of the World.” Banyak ulasan mengenai film ini yang mengatakan bahwa Dolan kembali menggasak sebuah isu yang dekat dengan kenyataan untuk mendistraksi kesempurnaan hidup, kali ini korbannya adalah hidup sebuah keluarga. Mengangkat tema keluarga, film ini tak hanya menunjukkan pesimisme di dalam judul tapi juga keseluruhan cerita. Bagaimana seseorang yang lama meninggalkan keluarganya memutuskan untuk kembali dengan berita bahwa dirinya sekarat menjadi premis utama. Mungkin di cerita lain sang tokoh utama akan dibawa untuk mendapati sisa akhir hidupnya dengan kesenangan yang sebelumnya tak bisa didapat karena berbagai batasan yang tersemat dalam hidupnya. Tapi di dunia Dolan, hal itu nampaknya bukan perkara penting. Dengan mengajak penonton untuk terbawa dalam sebuah dunia yang ia ciptakan, Dolan merancang sebuah teks berupa mimpi buruk yang didesain secara detail. Sinematografi yang dekat dan seakan merekam emosi yang ada di cerita pun menambahkan drama di wajah tiap karakter dan jalan cerita. Dokumenter sebuah keluarga modern bisa jadi alias untuk film ini. Keluh kesah yang terlontar dari mulut anggota keluarga berkarakter berbeda pun menjelaskan intrik yang sejatinya akan selalu hadir dalam sekumpulan orang walau terkait dengan pertalian darah. Walau terlahir di tahun 1989, Dolan membuktikan dirinya patut dipertimbangkan sebagai lawan para sutradara ternama untuk menghadirkan pilihan film intens untuk penonton dan “It’s Only the End of the World” pun menjadi film yang ditunggu-tunggu tahun ini.

02.05.16

Seleksi Karya: Europe on Screen 2016

Pada edisi seleksi karya kali ini, Whiteboard Journal memilih delapan film dari deretan film yang akan diputar di festival Europe on Screen 2016. Dikenal sebagai festival tahunan yang memutarkan beragam jenis film di beberapa kota besar di Indonesia, tahun ini Europe on Screen tak hanya menghadirkan film-film box office tapi juga arthouse yang menarik untuk disimak.

26.04.16

Europe on Screen 2016

Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia. XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange. Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi. Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com

26.04.16

Di Balik Keindahan Mentawai

Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai. Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis. Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.

19.04.16

Jadwal Film Kinosaurus Bulan April 2016

Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung. “Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia. Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man. Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya. - Kinosaurus Jl. Kemang Raya No.8B Mampang Prapatan Jakarta

Ideas
13.04.16

Ekosistem Film Alternatif bersama Meiske Taurisia

Meiske Taurisia adalah salah satu pegiat dunia film yang sangat aktif dalam menggerakkan kehidupan subkultur ini. Melalui aktivitas sebagai produser film, inisiator Kolektif, dan ruang film alternatif, Kinosaurus. Kami berbincang dengan Meiske Taurisia mengenai dunia film, sensor dan acara Film Musik Makan yang juga lahir dari pemikirannya.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.