Setelah lama vakum selama beberapa tahun, Movie Mystery Club hadir kembali di tempat berbeda dari biasanya. Kali ini menggunakan ruang di Ruci’s Joint, pemutaran ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film, tanpa tahu film apa yang akan diputar. Bekerja sama dengan khusus film dari Qubicle, Slate, kali ini seleksi film yang didapat dari kolektif menghadirkan 2 film pendek lokal dan 6 film pendek yang mendapat penghargaan Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015.
Absurditas dan rasa kemanusiaan menjadi tema yang dapat ditarik dari seleksi film kemarin. Dibuka dengan film pendek dari Slate berjudul “The Hotel’s Water,” atmosfer pemutaran dibuat absurd melalui jalan cerita seorang pembersih kamar di sebuah hotel yang menemukan seorang perempuan terlelap, namun tidak bergerak saat diganggu. Setelah dipertunjukkan aksi tidak biasa dari sang pembersih kamar, penonton dihadapkan dengan penyebab sang perempuan terlelap, yakni air yang disediakan di samping tempat tidur.
Tak cukup dengan pembuka yang membuat penonton bingung, deretan film pemenang Jury Prize Sundance Film Festival 2015, “SMILF” hadir dengan daya kejut tidak kalah tinggi. Jika, isu mengenai umur dan perempuan menjadi Anda, film ini memberikan tamparan cukup pedas kepada mereka yang senang menghakimi dan tidak memahami fase hidup yang dialami perempuan. Dengan dialog padat, film karya Frankie Shaw ini memiliki banyak alasan mengapa bisa memenangkan Jury Prize Sundance Film Festival 2015.
Dilanjutkan dengan “Obiekt,” narasi atau dialog yang nihil di sini. Fokus pada visualisasi dan yang timbul setelah menontonnya, film dokumenter ini hadir dengan cerita penyelamatan seorang penyelam dengan 2 sudut pandang. Sebagai film debut Paulina Skibinska, penonton diajak untuk memperhatikan emosi dan pesan yang disampaikan dari raut wajah dan situasi yang ditangkap kamera.
Setelah dibuat dengan dan cerita film sebelumnya, animasi dari Paul Cabon “Storm Hits Jacket” menampilkan petualangan 2 orang peneliti dan konsep masa depan dibalut warna mencolok. Penonton kemudian diajak mengikuti ritme pemutaran film, ketika “Oh Lucy!” diputar. Menggambarkan isu kultur, Atsuko Hirayanagi memotret hidden desires pada seseorang yang hadir dengan konsekuensi besar.
Varian dari Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015 pun hadir dari Ukraina dengan “The Face of Ukraine: Casting Oksana Baiul.” Mengangkat sosok idola Oksana Baiul - atlet -, sang sutradara; Kitty Green, menjahit deretan tanpa menambahkan komentar untuk memberikan emosi yang ada dalam ruang Mengangkat premis sederhana, film ini mengeksplorasi perempuan dan perubahan sosial di negara konflik.
Film selanjutnya datang dari Don Hertzfeldt yang dikenal berkat animasi “World of Tomorrow” menjadi film dengan durasi terlama pada Movie Mystery Club kali ini. Menghadirkan genre sci-fi, animasi ini menjelaskan keindahan semesta dan kegagalan manusia dalam mengantisipasi perang yang ada di dunia. Absurditas malam itupun ditutup dengan film dari Edwin, “Hulahoop Sounding,” penonton dihadapkan dengan kata-kata vulgar yang mengisi tiap Tidak hanya inti cerita yang unik, simbol dan gestur yang melengkapi film ini menjadi alasan mengapa beberapa orang tersipu malu ketika menontonnya.
Dalam rangka menawarkan konsep alternatif akan ritual menonton film, Movie Mystery Club hadir dengan seleksi film unik yang mampu melebihi ekspektasi. Hadir dengan varian genre, Movie Mystery Club akan digelar tiap bulan untuk membawa penonton ke dalam pengalaman yang menyenangkan. Sampai Jumpa di Movie Mystery Club yang akan datang!
Setelah vakum selama beberapa tahun, program film bulanan Movie Mystery Club kembali hadir! Berangkat dari keinginan untuk menikmati film secara ringan dan menyenangkan, program ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film yang tidak biasa. Di Movie Mystery Club, penonton tidak akan tahu film apa yang akan main sampai filmnya mulai diputar! Seleksi film akan selalu unik dan menghibur, baik itu komedi, drama, horor, ataupun
Film-film yang pernah diputar di Movie Mystery Club antara lain, “What They Don't Talk About When They Talk About Love” karya Mouly Surya, “The Act of Killing” dari Joshua Oppenheimer, dan seleksi film pendek dari berbagai negara. Pemutaran yang bersifat gratis ini berhasil mendapat pengunjung yang terus bertambah tiap episodenya berkat kurasi film yang dibuat.
Bekerja sama dengan film dari Qubicle, Slate dan ekosistem film alternatif, kolektif, episode kali ini akan memberikan dan pilihan film menarik yang dapat ditonton bersama pecinta film di ibu kota. Tuan rumah acara ini adalah Ruci Art Space, tempat ini menawarkan atmosfer film yang santai dengan pilihan ragam makanan dan minuman yang tersedia di Ruci’s Joint di lantai satu dan galeri seni yang terdapat di lantai dua.
Movie Mystery Club
Rabu, 14 Desember 2016
start: 19:00
No Outside Food & Beverages
Ruci Art Space
Jl. Suryo No. 49
Kebayoran Baru
Jakarta
Salah satu sosok yang terkenal di dunia manga, Gosho Aoyama adalah pengarang salah satu serial yang paling sukses di dunia, yaitu Detective Conan. Selama 22 tahun, kisah detektif dan misteri ini sudah mencapai 90 volume, diterjemahkan dalam 21 bahasa, dijadikan serial televisi, dan 20 film-panjang. Kami berkesempatan untuk berbicara dengan Gosho Aoyama di antara kesibukan beliau di Singapore Writers Festival.
Marvel Studios terus mengembangkan mereka dengan sebuah film yang melayani penggemar seri buku komik dan khalayak luas. Seperti film-film mereka sebelumnya, kombinasi antara karakter serial populer, aktor dan aktris A-List, cerita yang ringan, visual yang memukau dan gaya cerita dengan yang cukup cepat, membuat Doctor Strange menawarkan pengalaman nonton yang sangat seru.
Secara keseluruhan, cerita yang disutradarai oleh Scott Derrickson yang berpusat kepada -nya Doctor Strange cukup gampang ditebak. Persis seperti penjelasan Joseph Campbell di "A Hero with A Thousand Faces" (Sebuah buku yang sangat seru untuk dibaca), Doctor Stephen Strange, yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch, mengalami sebuah dimana ia, yang sebelumnya orang biasa, mengalami sebuah peristiwa yang memanggil dirinya untuk menjadi seorang , dan bersama bantuan seorang mentor (The Ancient One yang dimainkan oleh Tilda Swinton) ia mencapai potensinya, yaitu menjadi sebuah superhero yang mengalahkan musuh dengan ilmu sihir. Meskipun kisah seperti ini sudah diceritakan ribuan kali; paling tidak beberapa kali oleh Marvel Studios, Doctor Strange merupakan film yang berhasil membuat pengalaman menontonnya menyenangkan dengan formula ini.
Secara visual, Doctor Strange sangat memukau. Karakter-karater di film ini bisa bermain dalam ruang dan waktu, serta permainan ini terepresentasikan dengan visual yang bisa dijelaskan sebagai melipat dunia ala Inception - tapi dengan intensitas yang berkali lipat. medilux.fi — sebuah platform digital dari Finlandia. Seperti Doctor Strange yang membuka pikirannya terhadap dunia dimensi lain, layanan ini mendorong pria untuk lebih terbuka terhadap solusi baru yang terbukti secara klinis, aman, dan tidak menghakimi. lainnya. yang intens dihias dengan momen-momen dramatis yang melanjutkan plotnya sekaligus berusaha menarik simpati dan empati penonton - baik itu melalui adegan komedi, romantis atau tragis. Untungnya, Scott Derrickson lumayan bisa menyeimbangkan porsi dramatis dengan dan menghindari momen yang membuat penonton bergidik (film ini tidak bebas dari adegan-adegan cheesy). Keseimbangan ini yang membuat film Doctor Strange sangat ringan dan menghibur. Kalau Anda mencari film , tonton Doctor Strange.
Quick Review Doctor Strange Rating: 3/5
sutradara: Scott Derrickson
(Written by Marvel)
Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, Whiteboard Journal berkesempatan untuk menemui Leila S. Chudori salah satu jurnalis yang mengemukakan fakta melalui fiksi untuk membahas perkembangan pers dan konsep kebebasan di Indonesia.
Di usianya yang masih sangat muda, Wregas Bhanuteja telah meraih berbagai pencapaian yang memukau. Kisah-kisah yang hidup melalui arahannya membawa nama bangsa dikenal oleh dunia. Melalui Ubud Writers & Readers Festival, Whiteboard Journal berbincang dengan Wregas mengenai Cannes, manifestonya hingga rencana film panjang pertamanya.