film

04.05.17

Quick Review: Tschick

Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan. Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan. menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana. Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan. Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016

19.04.17

Ide dan Film bersama Lola Amaria

Setelah memenangkan ajang pemilihan model, Lola Amaria merambah perfilman lokal dengan peran kuat dalam film Ca-bau-kan. Walau tidak memiliki latar belakang sekolah film, ia memiliki ketertarikannya untuk membuat film dengan tema dekat dengan dirinya. Whiteboard Journal menemuinya di studio untuk membahas kritik akan support system perfilman di Indonesia.

17.04.17

Seleksi Karya: Agnes Varda

Agnes Varda adalah sutradara perempuan berkebangsaan Perancis yang telah menciptakan beberapa karya penting pada karirnya. Selain menemukan gaya visual dan narasi yang kuat, tema individual dan kemanusiaan yang ia sematkan pada tokoh dalam ceritanya membuat sinema Perancis saat itu dikenal sebagai bentuk mutakhir dan berpengaruh. Agnes membawa gelombang new wave dalam filmography sebagai gairah kesenian yang baru pada era post-war.

13.04.17

Quick Review: Get Out

Get Out menjadi salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Terutama pasca trailer super intens yang memberikan gambaran sehoror apa film ini jika disaksikan secara utuh. Melalui debut kesutradaraannya ini Jordan Peele menunjukkan kekayaan referensinya, mulai dari It Follows sampai Manderlay. Namun, hal paling menarik dari film ini adalah isu rasisme yang dibawanya, mengingat film-film dengan isu rasisme biasanya berkutat pada kisah-kisah otobiografi atau menjadikan sejarah perbudakan orang kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan horor dari Peele mampu memberikan premis baru dan menjadikan Get Out film horor sosial dengan banyak lapisan. Film ini bercerita mengenai sepasang kekasih, Rose (perempuan kulit putih) dan Chris (laki-laki kulit hitam), yang berencana berakhir pekan di rumah orang tua Rose, Skeptisme Chris mengenai penerimaan keluarga Rose terhadap dirinya kemudian terjawab dengan cara yang paling horor. Peele berhasil mempertahankan ketegangan film ini sampai bagian paling akhir. Meski tak bisa dipungkiri ada pula logika-logika tak masuk akal khas film horor dalam film ini. Namun pada akhirnya penonton akan terlalu ketakutan untuk terdistraksi hal-hal tersebut. Hal lainnya yang juga esensial dari film ini adalah pemilihan pemain yang berhasil menjaga intensitas film dari awal hingga akhir. Terbukti bahwa sebagai film horror, Get Out tidak hanya memompa adrenalin, tetapi juga memberikan pendekatan baru terhadap diskursus rasisme. Quick Review Get Out: 4/5 Sutradara: Jordan Peele Sinopsis: Film horor berjudul “Get Out” ini merupakan film yang bercerita tentang perjalanan kekasih berbeda ras, Rose yang berkulit putih dan Chris yang berkulit hitam, ke rumah keluarga Rose. Sesampainya di Armitage House, rumah keluarga Rose, Chris mulai mengalami berbagai kejadian aneh nan menyeramkan maka tak ada jalan lain bagi Chris selain untuk menyelamatkan diri.

11.04.17

Tes Ombak Studio Ghibli pasca Hiatus

The World of Ghibli Jakarta bisa jadi kabar bahagia untuk banyak penggemar Studio Ghibli, tidak cuma di Jakarta, tapi juga di Indonesia. Rangkaian acara ini akan terdiri dari tiga fase dan pemutaran 22 film Studio Ghibli di 45 layar bioskop di Indonesia. Pertama adalah pemutaran lima film all time favorite karya Hayao Miyazaki selama lima bulan ke depan yaitu: Spirited Away, My Neighbor Totoro, Ponyo, Princess Mononoke, dan Howl’s Moving Castle yang akan ditayangkan bergilir dari bulan April-September 2017. Menonton film-film Ghibli tentu menjadi sesuatu yang istimewa untuk penggemarnya di Indonesia. Bagaimana tidak, film-film Ghibli hampir tidak pernah diputar di bioskop-bioskop tanah air. Sehingga untukk kita-kita di Indonesia yang terbiasa menikmati warna-warni cerita film Ghibli via vlc media player, askes menontonnya di bioskop menjadi suatu kemewahan tersendiri. Belum cukup dengan lima film yang ditayangkan selama lima bulan ke depan, The World of Ghibli Jakarta juga menggelar pameran yang akan memajang berbagai hal dari set film-film Ghibli yang ikonik. Mereka semacam ingin memanjakan penggemarnya lebih lagi dengan membawa mereka masuk ke dalam dunia Ghibli yang magis. Pameran ini kemudian juga menjadi fase kedua dari rangkaian acara tersebut dan berlangsung dari 10 Agustus-17 September 2017. The World of Ghibli Jakarta ini kemudian akan ditutup dengan pemutaran 22 film Studio Ghibli sampai Maret 2018. Di sisi lain, rangkaian acara ini juga bisa dilihat ajang Studio Ghibli untuk menguji antusiasme pasar Indonesia terhadap film-film Studio Ghibli mengingat Studi Ghibli kini sedang melakukan proses developing pasca hiatus 2015 lalu. Sambutan hangat terhadap The World of Ghibli juga dapat dikatakan sebagai lampu hijau bagi pasar Studio Ghibli di Indonesia nantinya. Tapi terlepas dari apakah pameran besar-besaran Ghibli di Indonesia ini hanya sekadar untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya di Indonesia atau memang ajak cek ombak, kapan lagi bisa nonton film Ghibli di bioskop?

29.03.17

Konteks dalam Film bersama The Mo Brothers

Di sela kesibukannya sebagai salah satu filmmaker di Indonesia, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (The Mo Brothers) berhasil kami temui di lokasi shooting film terbarunya, untuk membahas regulasi pemutaran film, konteks film serta sensor di Indonesia.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.