film

11.04.17

Tes Ombak Studio Ghibli pasca Hiatus

The World of Ghibli Jakarta bisa jadi kabar bahagia untuk banyak penggemar Studio Ghibli, tidak cuma di Jakarta, tapi juga di Indonesia. Rangkaian acara ini akan terdiri dari tiga fase dan pemutaran 22 film Studio Ghibli di 45 layar bioskop di Indonesia. Pertama adalah pemutaran lima film all time favorite karya Hayao Miyazaki selama lima bulan ke depan yaitu: Spirited Away, My Neighbor Totoro, Ponyo, Princess Mononoke, dan Howl’s Moving Castle yang akan ditayangkan bergilir dari bulan April-September 2017. Menonton film-film Ghibli tentu menjadi sesuatu yang istimewa untuk penggemarnya di Indonesia. Bagaimana tidak, film-film Ghibli hampir tidak pernah diputar di bioskop-bioskop tanah air. Sehingga untukk kita-kita di Indonesia yang terbiasa menikmati warna-warni cerita film Ghibli via vlc media player, askes menontonnya di bioskop menjadi suatu kemewahan tersendiri. Belum cukup dengan lima film yang ditayangkan selama lima bulan ke depan, The World of Ghibli Jakarta juga menggelar pameran yang akan memajang berbagai hal dari set film-film Ghibli yang ikonik. Mereka semacam ingin memanjakan penggemarnya lebih lagi dengan membawa mereka masuk ke dalam dunia Ghibli yang magis. Pameran ini kemudian juga menjadi fase kedua dari rangkaian acara tersebut dan berlangsung dari 10 Agustus-17 September 2017. The World of Ghibli Jakarta ini kemudian akan ditutup dengan pemutaran 22 film Studio Ghibli sampai Maret 2018. Di sisi lain, rangkaian acara ini juga bisa dilihat ajang Studio Ghibli untuk menguji antusiasme pasar Indonesia terhadap film-film Studio Ghibli mengingat Studi Ghibli kini sedang melakukan proses developing pasca hiatus 2015 lalu. Sambutan hangat terhadap The World of Ghibli juga dapat dikatakan sebagai lampu hijau bagi pasar Studio Ghibli di Indonesia nantinya. Tapi terlepas dari apakah pameran besar-besaran Ghibli di Indonesia ini hanya sekadar untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya di Indonesia atau memang ajak cek ombak, kapan lagi bisa nonton film Ghibli di bioskop?

29.03.17

Konteks dalam Film bersama The Mo Brothers

Di sela kesibukannya sebagai salah satu filmmaker di Indonesia, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (The Mo Brothers) berhasil kami temui di lokasi shooting film terbarunya, untuk membahas regulasi pemutaran film, konteks film serta sensor di Indonesia.

17.12.16

Potret Kota Jakarta oleh Vincent Moon

OK. Video - Indonesia Media Arts Festival adalah penyelenggara festival seni media dua tahunan sejak tahun 2003, juga merupakan salah satu divisi dari ruangrupa yang kini tergabung di dalam wadah seni dan budaya Gudang Sarinah Ekosistem sejak tahun 2015. Selain berperan dalam menjalankan sebuah Festival Seni Media dan Festival Video Musik, OK. Video juga melakukan aktivitas seperti membuat lokakarya seni media di kota-kota Indonesia, produksi dan distribusi karya seni media Indonesia, serta mengelola dan penyimpanan bagi karya-karya tersebut Tahun 2016 ini OK. Video merilis subfestival yang berfokus pada karya-karya video musik yang diberi nama Festival MuVi Party. Nama festival ini diambil dari sebuah video musik yang dilakukan oleh ruangrupa di tahun 2002 yang melibatkan seniman, mahasiswa, dan sutradara film di Indonesia untuk menemukan bahasa visual alternatif dalam produksi video musik Indonesia. Menampilkan sekitar 250 video musik di dalam sebuah pameran dan penayangan yang diperoleh dari sistem aplikasi terbuka pada Oktober-November 2016. Festival MuVi Party dihadirkan sebagai upaya untuk melacak, melihat, dan mengukur perkembangan terkini dari karya video musik yang tumbuh beriringan dengan perkembangan musik digital dan teknologi audio-visual di masyarakat. Yang menarik lainnya pada gelaran perdana MuVi Party, setelah 5 tahun, akhirnya pada tahun 2016 ini independen asal Perancis yang dulu diundang untuk berpartisipasi dalam OK. Video Festival 2011, menyelesaikan sebuah proyek tentang kota Jakarta yang dikerjakannya bersama ruangrupa. Setelah proses selama 8 hari di Jakarta, Vincent Moon sempat menetap di Indonesia selama 2 bulan dan mengisinya dengan berkeliling Pulau Jawa, Sulawesi, Bali dan kembali lagi ke Jakarta untuk mencoba menyelesaikan kerja editing dari proyek tersebut. Tidak hanya melibatkan ruangrupa, Vincent Moon juga menggandeng para muda untuk mendiskusikan hasil editing proyeknya yang diberi nama JAKARTA JAKARTA! Potret kota Jakarta yang coba divisualisasikan oleh Vincent lewat filmnya kali ini menampilkan deretan musisi seperti Sore, White Shoes & Couples Company, Morfem, The Trees and The Wild, Senyawa, Marjinal, Zeke Khaseli, Terbujur Kaku, Keroncong Tugu Cafrinho, dan lainnya. Nama-nama ini dirasa bisa mengilustrasikan bagaimana kota Jakarta dengan segala keberagamannya. Pemutaran Perdana JAKARTA JAKARTA! akan ditayangkan di ruang terbuka ala layar tancap Gratis dan Terbuka Untuk Umum. Pemutaran Perdana JAKARTA JAKARTA! Sebuah karya film oleh Vincent Moon Diproduksi oleh Vincent Moon dan ruangrupa MuVi Party 2016 Sabtu, 17 Desember 2016 19:00 Gudang Sarinah Ekosistem Jl. Pancoran Timur 2 No. 4 Jakarta

16.12.16

Menghilangkan Ekspektasi, Menelaah Film di Movie Mystery Club

Setelah lama vakum selama beberapa tahun, Movie Mystery Club hadir kembali di tempat berbeda dari biasanya. Kali ini menggunakan ruang di Ruci’s Joint, pemutaran ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film, tanpa tahu film apa yang akan diputar. Bekerja sama dengan khusus film dari Qubicle, Slate, kali ini seleksi film yang didapat dari kolektif menghadirkan 2 film pendek lokal dan 6 film pendek yang mendapat penghargaan Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015. Absurditas dan rasa kemanusiaan menjadi tema yang dapat ditarik dari seleksi film kemarin. Dibuka dengan film pendek dari Slate berjudul “The Hotel’s Water,” atmosfer pemutaran dibuat absurd melalui jalan cerita seorang pembersih kamar di sebuah hotel yang menemukan seorang perempuan terlelap, namun tidak bergerak saat diganggu. Setelah dipertunjukkan aksi tidak biasa dari sang pembersih kamar, penonton dihadapkan dengan penyebab sang perempuan terlelap, yakni air yang disediakan di samping tempat tidur. Tak cukup dengan pembuka yang membuat penonton bingung, deretan film pemenang Jury Prize Sundance Film Festival 2015, “SMILF” hadir dengan daya kejut tidak kalah tinggi. Jika, isu mengenai umur dan perempuan menjadi Anda, film ini memberikan tamparan cukup pedas kepada mereka yang senang menghakimi dan tidak memahami fase hidup yang dialami perempuan. Dengan dialog padat, film karya Frankie Shaw ini memiliki banyak alasan mengapa bisa memenangkan Jury Prize Sundance Film Festival 2015. Dilanjutkan dengan “Obiekt,” narasi atau dialog yang nihil di sini. Fokus pada visualisasi dan yang timbul setelah menontonnya, film dokumenter ini hadir dengan cerita penyelamatan seorang penyelam dengan 2 sudut pandang. Sebagai film debut Paulina Skibinska, penonton diajak untuk memperhatikan emosi dan pesan yang disampaikan dari raut wajah dan situasi yang ditangkap kamera. Setelah dibuat dengan dan cerita film sebelumnya, animasi dari Paul Cabon “Storm Hits Jacket” menampilkan petualangan 2 orang peneliti dan konsep masa depan dibalut warna mencolok. Penonton kemudian diajak mengikuti ritme pemutaran film, ketika “Oh Lucy!” diputar. Menggambarkan isu kultur, Atsuko Hirayanagi memotret hidden desires pada seseorang yang hadir dengan konsekuensi besar. Varian dari Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015 pun hadir dari Ukraina dengan “The Face of Ukraine: Casting Oksana Baiul.” Mengangkat sosok idola Oksana Baiul - atlet -, sang sutradara; Kitty Green, menjahit deretan tanpa menambahkan komentar untuk memberikan emosi yang ada dalam ruang Mengangkat premis sederhana, film ini mengeksplorasi perempuan dan perubahan sosial di negara konflik. Film selanjutnya datang dari Don Hertzfeldt yang dikenal berkat animasi “World of Tomorrow” menjadi film dengan durasi terlama pada Movie Mystery Club kali ini. Menghadirkan genre sci-fi, animasi ini menjelaskan keindahan semesta dan kegagalan manusia dalam mengantisipasi perang yang ada di dunia. Absurditas malam itupun ditutup dengan film dari Edwin, “Hulahoop Sounding,” penonton dihadapkan dengan kata-kata vulgar yang mengisi tiap Tidak hanya inti cerita yang unik, simbol dan gestur yang melengkapi film ini menjadi alasan mengapa beberapa orang tersipu malu ketika menontonnya. Dalam rangka menawarkan konsep alternatif akan ritual menonton film, Movie Mystery Club hadir dengan seleksi film unik yang mampu melebihi ekspektasi. Hadir dengan varian genre, Movie Mystery Club akan digelar tiap bulan untuk membawa penonton ke dalam pengalaman yang menyenangkan. Sampai Jumpa di Movie Mystery Club yang akan datang!

09.12.16

Movie Mystery Club is Back!

Setelah vakum selama beberapa tahun, program film bulanan Movie Mystery Club kembali hadir! Berangkat dari keinginan untuk menikmati film secara ringan dan menyenangkan, program ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film yang tidak biasa. Di Movie Mystery Club, penonton tidak akan tahu film apa yang akan main sampai filmnya mulai diputar! Seleksi film akan selalu unik dan menghibur, baik itu komedi, drama, horor, ataupun Film-film yang pernah diputar di Movie Mystery Club antara lain, “What They Don't Talk About When They Talk About Love” karya Mouly Surya, “The Act of Killing” dari Joshua Oppenheimer, dan seleksi film pendek dari berbagai negara. Pemutaran yang bersifat gratis ini berhasil mendapat pengunjung yang terus bertambah tiap episodenya berkat kurasi film yang dibuat. Bekerja sama dengan film dari Qubicle, Slate dan ekosistem film alternatif, kolektif, episode kali ini akan memberikan dan pilihan film menarik yang dapat ditonton bersama pecinta film di ibu kota. Tuan rumah acara ini adalah Ruci Art Space, tempat ini menawarkan atmosfer film yang santai dengan pilihan ragam makanan dan minuman yang tersedia di Ruci’s Joint di lantai satu dan galeri seni yang terdapat di lantai dua. Movie Mystery Club Rabu, 14 Desember 2016 start: 19:00 No Outside Food & Beverages Ruci Art Space Jl. Suryo No. 49 Kebayoran Baru Jakarta

Art
07.12.16

Menguak Misteri bersama Gosho Aoyama

Salah satu sosok yang terkenal di dunia manga, Gosho Aoyama adalah pengarang salah satu serial yang paling sukses di dunia, yaitu Detective Conan. Selama 22 tahun, kisah detektif dan misteri ini sudah mencapai 90 volume, diterjemahkan dalam 21 bahasa, dijadikan serial televisi, dan 20 film-panjang. Kami berkesempatan untuk berbicara dengan Gosho Aoyama di antara kesibukan beliau di Singapore Writers Festival.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.