Hampir semua anak pasti pernah mengalami perploncoan ketika memasuki perguruan tinggi - setidaknya bagi mereka yang memilih untuk mengikutinya. Prosesi ini seringkali mempraktekkan beragam hal kekanak-anakan atau tidak masuk akal, seperti memakai harus menunduk ketika bertemu senior, menggunakan seragam khusus, hingga memakan ginjal kelinci - seperti di film Raw karya Julia Ducournau.
Menggunakan genre horor kanibal untuk menyampaikan cerita, Julia memvisualisasikan film ini ala film Eropa, yakni dengan eksplorasi identitas diri seseorang yang dibayangi oleh keluarganya hingga elemen seksualitas dan kematian yang mengibaratkan kebebasan.
Mengutip perkataan Julia, kanibalisme yang ditunjukkan di film ini ditujukan untuk menyinggung hal personal dan pada diri manusia - tepatnya pada zaman ini. Hadir dengan visual Julia mencoba mengangkat isu bagaimana hasrat tersembunyi dalam tubuh seseorang dapat menyeruak ketika ia ditempatkan pada suatu situasi. Detail-detail seperti raut wajah dan gestur sang pemeran utama pun mampu memotret gejolak hasrat dan dalam waktu bersamaan hadir dengan penuh interpretasi: apakah ia mencoba untuk menahan hasratnya atau mencari cara terbaik untuk melampiaskannya secara manusiawi.
Terlepas dari jalan cerita yang penuh dengan intensitas dan nuansa erotis, sayang, pengemasan film terasa singkat bahkan meninggalkan kejanggalan dikarenakan masih banyak hal yang belum tergambarkan. Namun, mengingat ada beberapa orang yang pingsan ketika film ini diputar pada ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2016, nampaknya masih banyak yang belum paham maupun dapat memposisikan konsep kanibalisme dalam sebuah konteks, dan hal ini menjustifikasi jalan yang dipilih oleh Julia untuk membuat kemasan film ini lebih terasa “pop.”
Raw (2016)
Sutradara: Julia Ducournau
Sinopsis: Raw (2017) menceritakan tentang seorang mahasiswi vegetarian muda mengikuti sebuah ritual inisiasi, yang kemudian merubahnya menjadi seorang kanibal. (sumber: Film Bioskop)
Jim Jarmusch, lewat karya terbarunya bertajuk Paterson, sengaja memberikan keleluasaan tafsir mengenai kisah pasangan di sebuah kota kecil. Tidak berbeda secara esensi dibanding film-film terdahulunya, Paterson menawarkan eskapisme, namun kali ini lebih berkat cerita.
Seiring bergulirnya waktu, kedua tokoh utama dihadapkan pada kondisi di mana kenyamanan yang selama ini dirasakan dihadapi dengan fase kemustahilan. Film ini menangkap relasi intim antara keheningan-keheningan yang biasa dialami oleh manusia dalam keseharian, tanpa harus menambahkan tendensi sebagai bentuk artistik.
Lewat film ini, Jim Jarmusch membuktikan kepiawaiannya dalam mentranslasi skenario menjadi mudah dinikmati penonton dari segala kelas. Didukung dengan dan alur yang tepat, Paterson menjadi film yang dapat ditonton berulang kali dengan sudut pandang berbeda.
Paterson (2016)
Sutradara: Jim Jarmusch
Sinopsis: Berfokus pada Paterson, seorang pengemudi bus di kota Paterson, New Jersey. Setiap hari, Paterson selalu melakukan aktivitas yang sama dalam rutinitasnya yang sederhana, dia mengendarai busnya di rute yang sama, melihat kiri kanan kota itu melalui spion busnya sambil mendengar orang-orang berbicara di sekitarnya. Dia menulis syair di dalam laptopnya, berjalan bersama anjingnya, lalu berhenti di sebuah bar dan minum bir dan tepat hanya satu gelas saja, kemudian dia pulang ke istrinya Laura. Namun berbeda halnya dengan hati Laura; baginya dunia terasa terus berubah. Sebuah mimpi baru selalu hadir dipikirannya setiap hari. (Film Bioskop)
Mitos itu terlahir kembali. Setelah dibuat kali pertama pada 35 tahun yang lalu, mereka datang membawa penerusnya; Blade Runner 2049. Perlu diketahui, Blade Runner adalah pendobrak batasan. Kita mungkin tak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika kompleksitas sci-fi digabungkan bersama dimensi noir yang . Namun Ridley Scott sudah memikirkan di kepalanya. Lewat Blade Runner, Ridley Scott seakan mengingatkan umat manusia tentang krisis bernama mempertanyakan kehidupan. Apabila semesta tak lagi bertumpu humanisme, lantas apa yang ingin diharapkan?
Apabila di film pembuka topik berputar di sekitar perburuan serta kemelut identitas, kali ini Blade Runner 2049 mengambil latar waktu 30 tahun pasca 2019 di mana Opsir K (Ryan Gosling) dari kesatuan LAPD dihadapkan pergulatan serius mengenai kemanusiaan yang mendekati kemusnahan. Ia memutuskan untuk menelusuri pangkal permasalahan sekaligus menuntunnya pada sosok legenda, Rick Deckard (Harrison Ford).
Dalam trailer resmi berdurasi 3 menit tersebut, suasana serta sangat terasa seperti premis terdahulu. Kekacauan membayangi setiap jengkal rutinitas di balik deru modernitas maupun dominasi mesin-mesin transformasi massal. Tatapan Gosling yang sulit diterka, ketakutan Ford, hingga makna ganda ketenangan Leto meramaikan fragmen demi fragmen. Menyimpan banyak misteri yang sengaja diacuhkan atau menunggu untuk dipecahkan.
Di seri keduanya, Ridley Scott menyerahkan tongkat estafet penyutradaraan kepada Dennis Villeneuve (Prisoners, Sicario, Arrival). Nampaknya Ridley percaya bahwa karya emasnya bakal berkembang apabila diserahkan pada tangan yang tepat. Melihat reputasi Villeneuve yang dikenal pintar memainkan plot, Ridley tak perlu khawatir buah hatinya jatuh di pasaran. Ditambah pula keberadaan Roger Deakins sebagai pengambil gambar maupun Hampton Fancher selaku penulis naskah, membuat Blade Runner 2049 pantang dilewatkan di bulan Oktober.
Jatuh hati tak mengenal situasi. Ia dapat lahir dalam bilik ketidakmungkinan, perkara ketidaksengajaan, ruang keraguan, di antara kepadatan ruas jalan, penduduk yang saling berkejaran menimbun masa depan, hingga gedung bertingkat dan rumah-rumah kumuh tanda kesenjangan.
Saajan Fernandes (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur) adalah dua orang yang tak saling mengenal. Saajan bergelut dengan dunia akuntan dan rencananya untuk pensiun dari jabatan. Sedangkan Ila, hanya ibu rumah tangga yang berupaya mendapatkan perhatian dari suaminya. Sampai akhirnya, kotak makanan menghubungkan hari-hari keduanya.
The Lunchbox merupakan drama romantis yang mengisahkan ikatan personal dari tokoh yang melawan keadaan. Apabila kebanyakan alur semacam ini berujung klise yang mudah ditebak, tidak demikian dengan The Lunchbox. Menggunakan medium yang unik, mereka merekatkan hubungan hangat sekaligus intens. Bercerita tentang keseharian maupun kehidupan, lalu terbawa arus yang menghanyutkan perasaan di balik lezatnya samosa dan parata. пинап казино есть большое количество азартных игр. В лобби сайта можно найти более 3000 классических и современных слотов, которые поражают своей графикой и увлекательными сюжетами. Все игровые автоматы имеют отдачу до 98%, что позволяет гемблеру выигрывать yang terlampau memekakan telinga. Tapi dengan menyaksikan The Lunchbox, kita musti sadar bahwa India mahir dalam memainkan urusan sederhana yang sering terlewat di depan mata; dan kita tak pernah menyadarinya.
The Lunchbox (2013)
Sutradara: Ritesh Batra
Sinopsis:
Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu.
Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat.
Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah.
Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.
Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan.
Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan.
menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana.
Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan.
Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016