film

16.05.17

Quick Review: The Lunchbox

Jatuh hati tak mengenal situasi. Ia dapat lahir dalam bilik ketidakmungkinan, perkara ketidaksengajaan, ruang keraguan, di antara kepadatan ruas jalan, penduduk yang saling berkejaran menimbun masa depan, hingga gedung bertingkat dan rumah-rumah kumuh tanda kesenjangan. Saajan Fernandes (Irrfan Khan) dan Ila (Nimrat Kaur) adalah dua orang yang tak saling mengenal. Saajan bergelut dengan dunia akuntan dan rencananya untuk pensiun dari jabatan. Sedangkan Ila, hanya ibu rumah tangga yang berupaya mendapatkan perhatian dari suaminya. Sampai akhirnya, kotak makanan menghubungkan hari-hari keduanya. The Lunchbox merupakan drama romantis yang mengisahkan ikatan personal dari tokoh yang melawan keadaan. Apabila kebanyakan alur semacam ini berujung klise yang mudah ditebak, tidak demikian dengan The Lunchbox. Menggunakan medium yang unik, mereka merekatkan hubungan hangat sekaligus intens. Bercerita tentang keseharian maupun kehidupan, lalu terbawa arus yang menghanyutkan perasaan di balik lezatnya samosa dan parata. пинап казино есть большое количество азартных игр. В лобби сайта можно найти более 3000 классических и современных слотов, которые поражают своей графикой и увлекательными сюжетами. Все игровые автоматы имеют отдачу до 98%, что позволяет гемблеру выигрывать yang terlampau memekakan telinga. Tapi dengan menyaksikan The Lunchbox, kita musti sadar bahwa India mahir dalam memainkan urusan sederhana yang sering terlewat di depan mata; dan kita tak pernah menyadarinya. The Lunchbox (2013) Sutradara: Ritesh Batra Sinopsis:

09.05.17

Melihat Sex dalam Kacamata Seni

Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu. Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat. Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah. Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.

04.05.17

Quick Review: Tschick

Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan. Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan. menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana. Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan. Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016

19.04.17

Ide dan Film bersama Lola Amaria

Setelah memenangkan ajang pemilihan model, Lola Amaria merambah perfilman lokal dengan peran kuat dalam film Ca-bau-kan. Walau tidak memiliki latar belakang sekolah film, ia memiliki ketertarikannya untuk membuat film dengan tema dekat dengan dirinya. Whiteboard Journal menemuinya di studio untuk membahas kritik akan support system perfilman di Indonesia.

17.04.17

Seleksi Karya: Agnes Varda

Agnes Varda adalah sutradara perempuan berkebangsaan Perancis yang telah menciptakan beberapa karya penting pada karirnya. Selain menemukan gaya visual dan narasi yang kuat, tema individual dan kemanusiaan yang ia sematkan pada tokoh dalam ceritanya membuat sinema Perancis saat itu dikenal sebagai bentuk mutakhir dan berpengaruh. Agnes membawa gelombang new wave dalam filmography sebagai gairah kesenian yang baru pada era post-war.

13.04.17

Quick Review: Get Out

Get Out menjadi salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Terutama pasca trailer super intens yang memberikan gambaran sehoror apa film ini jika disaksikan secara utuh. Melalui debut kesutradaraannya ini Jordan Peele menunjukkan kekayaan referensinya, mulai dari It Follows sampai Manderlay. Namun, hal paling menarik dari film ini adalah isu rasisme yang dibawanya, mengingat film-film dengan isu rasisme biasanya berkutat pada kisah-kisah otobiografi atau menjadikan sejarah perbudakan orang kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan horor dari Peele mampu memberikan premis baru dan menjadikan Get Out film horor sosial dengan banyak lapisan. Film ini bercerita mengenai sepasang kekasih, Rose (perempuan kulit putih) dan Chris (laki-laki kulit hitam), yang berencana berakhir pekan di rumah orang tua Rose, Skeptisme Chris mengenai penerimaan keluarga Rose terhadap dirinya kemudian terjawab dengan cara yang paling horor. Peele berhasil mempertahankan ketegangan film ini sampai bagian paling akhir. Meski tak bisa dipungkiri ada pula logika-logika tak masuk akal khas film horor dalam film ini. Namun pada akhirnya penonton akan terlalu ketakutan untuk terdistraksi hal-hal tersebut. Hal lainnya yang juga esensial dari film ini adalah pemilihan pemain yang berhasil menjaga intensitas film dari awal hingga akhir. Terbukti bahwa sebagai film horror, Get Out tidak hanya memompa adrenalin, tetapi juga memberikan pendekatan baru terhadap diskursus rasisme. Quick Review Get Out: 4/5 Sutradara: Jordan Peele Sinopsis: Film horor berjudul “Get Out” ini merupakan film yang bercerita tentang perjalanan kekasih berbeda ras, Rose yang berkulit putih dan Chris yang berkulit hitam, ke rumah keluarga Rose. Sesampainya di Armitage House, rumah keluarga Rose, Chris mulai mengalami berbagai kejadian aneh nan menyeramkan maka tak ada jalan lain bagi Chris selain untuk menyelamatkan diri.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.