film

26.06.17

Quick Review: Chef

A feast for the eyes is certainly one way of describing this 2014-released film directed by Jon Favreau, which also stars himself. A journey of passion, dream chasing, all in the midst of a mid-life-crisis-led epiphany, Favreau takes us diving into a world of culinary creativity, while showing us how equivalent to art food may be, and also how ageless passion is. Favreau definitely did his homework by turning himself into a seemingly experienced cook with what anyone would guess to be years of experience, which came just as natural as the dimensions of emotions that the film tried to show. Following the titular Chef’s struggles in getting back onto his feet after being publicly humiliated and fired from his job, this one would probably make you think twice about settling for just about anything. Overall, Chef makes a pleasing delivery of its storyline, which is further ‘spiced up’ by its choice of soundtracks (that you probably would feel like dancing to), and of course with generous amounts of screen time for the seemingly savory delights featured in it. Be careful not to watch it on an empty stomach though! Chef (2014) Directed by Jon Favreau Synopsis: Chef follows the journeys of a struggling chef trying to re-explore his love for cooking, while also juggling the ups and downs of his personal life.

19.06.17

Quick Review: Personal Shopper

Kristen Stewart merupakan aktris yang berbakat. Dunia mengenalnya sebagai penerus tahta Julia Roberts atau bahkan Naomi Watts. Tapi sayangnya, ekspektasi publik terhadap dirinya terlampau berlebihan dan membuat karirnya naik turun; memainkan vampir amatiran, pemburu salju, dan tunawisma dengan penampilan biasa saja. Seiring berjalannya waktu, entah dirinya sadar atau disadarkan, Kristen Stewart mencoba memulai karir aktingnya lagi dengan membintangi deretan film yang selektif. Bakat aslinya mulai muncul di The Cafe Society besutan Woody Allen di mana ia berhasil memerankan pengkhianat cinta bersama Jesse Eisenberg. Tak lama berselang, kebangkitannya membuahkan hasil ketika ia memainkan tokoh utama di Personal Shopper yang delusional sekaligus penuh ketegangan fiksi. Personal Shopper merupakan film garapan Olivier Assayas yang menceritakan mengenai dinamika konflik kepergian dan penolakan atas kehilangan saudara tersayangnya. Stewart sukses menghidupkan dua dimensi bersamaan antara asisten selebriti ternama penuh gemerlap urban, serta seorang saudara perempuan yang menanti kedatangan kedua saudara laki-lakinya dari kematian tiba-tiba. Di tengah usahanya berkomunikasi dengan sang saudara, berlimang tekanan psikologis kuat, rasa gelisah maupun was-was, ketegangan perlahan muncul; ia menerima pesan masuk dari orang asing yang mengetahui banyak tentang dirinya. Apakah itu memang orang asing? Atau jangan-jangan saudara kembarnya, Lewis yang menuliskan pesan? Tak ada yang pernah tahu. Secara garis besar Personal Shopper berjalan menarik. Assayas bisa dibilang memasak bumbu konflik dengan takaran pas. Bagaimana ia memadukan kondisi realita dengan kepercayaan spiritual perihal kembalinya Lewis adalah kekuatan utama Personal Shopper, ditambah aksi Stewart yang mampu membantu memberi nyawa pada interpretasi naskah Assayas. Dan akhirnya kita harus mengakui; Stewart bisa memperoleh panggung penebusan kesalahannya di masa silam. Personal Shopper (2016) Sutradara: Olivier Assayas Sinopsis: Personal Shopper bercerita tentang Maureen (Kristen Stewart), seorang gadis muda Amerika yang sedang berada di kota Paris, yang mencari nafkah dengan menjadi seorang ahli belanja pribadi untuk para selebriti. Namun dibalik itu, Maureen diam-diam merasa dirinya sedang mengalami kekuatan psikis sama seperti saudara laki-lakinya yang juga merasakannya, dan dia mulai menerima berbagai macam pesan dari sumber-sumber yang membingungkannya. (posfilm.com)

19.06.17

Seleksi Karya: Ernest Hemingway

Dikenal sebagai salah satu penulis besar sepanjang masa, perjalanan Hemingway dipenuhi gelombang psikologis yang bergejolak. Hal tersebut dapat dilihat dari rentetan kreasi yang menggambarkan dinamika pribadinya hingga diakui Nobel, sebelum akhirnya mengakhiri hidup secara tragis. Whiteboard Journal memilih 8 buku terbaik karya Ernest Hemingway.

14.06.17

Quick Review: Her

Well, here’s a fresh yet somewhat twisted intake of how romance—both platonically and sexually—can be. Set in the near future, Spike Jonze tries to portray to us the ups and downs of being romantically hooked to a piece of machine. Through Her, Jonze definitely challenges his audience in redefining their understanding of how broad the term ‘modern love’ may be. And how literal—as he’s involving an actual product of modern technology into the equation. Perhaps we’ve heard it countless times; how it’s possible for human relationships to develop and somehow change in this modern, digitalized age. However, Jonze actually takes us through the course of this movie to show how a lonely man can have a relationship through a machine; not with another person on the other side, but with the artificial intelligence of the machine itself. It definitely opens up our imaginations to realize not only how technology may have very far improvements in the future, but also how on a certain state of loneliness one might feel due to feeling alienated from one’s surroundings, one may actually consider having sex with an artificial intelligence—the details of which you may witness yourself by watching the film. Overall, Her gives an explorative perspective and a whole new understanding of modern love. Presented in a poetic, calming, and beautifully written storyline, this one from Jonze definitely has what it takes to be considered a well curated and relevantly eye-opening piece of art, especially in a time where it becomes more necessary to understand the possibilities and difficulties of engaging in modern love. Her (2013) Director: Spike Jonze Synopsis: A young man who feels lonely and empty with his life develops a romantic relationship with an operating system, only to discover that the relationship may not be so picture-perfect after all.

Human Interest
14.06.17

Mengabadikan Budaya bersama Rahung Nasution

Semangatnya untuk memperluas mindset masyarakat Indonesia tentang travel dan pangan membuat Rahung Nasution dikenal sebagai koki gadungan dan videographer. Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai sustainable travel dan bagaimana ia berkeliling pulau di Indonesia untuk mencari rempah sembari mendengar cerita tentang masyarakat yang direpresi.

07.06.17

Quick Review: Prisoners

Menyimak jalannya film besutan Denis Villeneuve ibarat menyaksikan kondisi global hari ini yang sering muncul di kanal media berbayar ataupun warta cetak setempat - dipaksa tegang mengamati dan tak paham bagaimana akhir dari yang terjadi. Menggunakan premis sederhana untuk filmnya, publik pun menerima Villeneuve dengan tangan terbuka dan hal tersebut memang tak bisa dipungkiri karena ia bukan sekadar sutradara kemarin sore yang menonjol di layar pertama. Villeneuve adalah hasil proses yang ditempa ribuan ide secara terus-menerus dengan durasi tak sebentar, dan lewat film pertamanya, Prisoners, ia membuka mata dunia mengenai potensinya. Film ini menuturkan misteri hilangnya sepasang anak dari dua keluarga di Pennsylvania pasca merayakan kunjungan Thanksgiving. Tanpa disadari, tanpa jejak, tanpa pertanda, keberadaan mereka lenyap dan seketika menimbulkan serangan panik bagi sang orang tua. Dari awal film, penonton diajak menyelusuri intrik yang membingungkan logika dengan apik lewat akting Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal berusaha membalap jalan waktu untuk menemukan anak yang hilang. Prisoners kiranya berhasil mengawali langkah perhitungan seorang Denis Villeneuve. Walaupun kritikan perihal monotonnya film ini sejak babak mula terdengar di sekitar telinga, tapi keseluruhan berkata bahwa Prisoners hadir mengesankan. Dari sini kelak kita menyaksikan dan perlahan memahami isi otaknya yang ditumbuhi keliaran menyoal mafia narkoba di film Sicario, abstraknya konflik sci-fi di Arrival, dan menerka-nerka kerumitan humanisme pada Blade Runner 2049. Prisoners (2013) Sutradara: Denis Villeneuve Sinopsis: Dari menit beralih ke jam, panik adalah satu-satunya yang ada dalam diri Dover. Sementara petunjuk hanya ada lewat RV bobrok yang tadinya di parkir di jalan mereka. Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) telah menangkap pengendara RV itu, Alex Jones (Paul Dano). Tetapi penangkapan itu masih kurang bukti untuk menjadikan Alex seorang tersangka. Mengetahui nyawa putrinya sedang terancam, Dover memutuskan tidak ada pilihan lain kecuali menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri. (Film Bioskop)

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.