Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut.
Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika.
Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge.
Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017.
Pemain dan Kru Produksi:
Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma
Penulis Skenario: Kamila Andini
Penata Kamera: Anggi Frisca
Penata Artistik: Vida Sylvia
Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus
Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko
Musik: Yasuhiro Morinaga
Pada bulan Juli kemarin, para pendatang Comic Con di San Diego ditunjukan trailer terbaru dari reboot film horor “It”. Trailer ini merupakan yang paling detail sejauh ini, menunjukan lebih banyak adegan dan memberikan lebih banyak klip tentang sang antagonis, Pennywise.
Seperti yang diperlihatkan di dalam trailer kedua ini fokus kepada sebuah kelompok anak muda yang akan bertemu dengan sosok kejahatan yang besar di dalam kota fiksional Derry, Maine, di mana banyak kasus anak-anak yang menghilang. Ada sedikit kekecewaan terjadi untuk para penggemar Stephen King. Di dalam salah satu adegannya yang ikonik, yaitu saat Georgie bertemu dengan Pennywise di dalam selokan, Pennywise akan mengatakan dialog dengan intonasi yang berhasil menghantui sebuah generasi. Anehnya, di trailer tersebut terlihat Georgie yang mengatakannya, dan hasilnya tidak begitu
Walau begitu, banyak yang memprediksi dari trailer tersebut bahwa reboot ini akan menjadi peningkatan dari originalnya pada tahun 1990. Satu hal yang pasti adalah horor yang digunakan akan berbeda dari sebelumnya. Alih-alih hanya menggunakan monster dan hantu, Andres Muschietti, sang sutradara ingin mencari rasa takut yang lebih dalam, seperti trauma masa kecil.
Film “It” mulai rilis di Amerika Serikat pada 8 September.
Menuangkan cerita yang berkaitan dengan alam gaib, dunia misteri, serta keganjilan-keganjilan yang tak masuk akal ke dalam layar sinema memang menjadi ketertarikan umum bagi para penggiat film. Selain suburnya narasi-narasi semacam itu, pengangkatan tersebut juga dilandasi motivasi banyaknya penonton yang akan datang menyaksikan. Namun apakah kualitasnya dapat menjadi jaminan? Jangan samakan dulu persepsi Anda sebelum menonton film terbaru Na Hong Jin, The Wailing.
The Wailing berkisah mengenai polemik atas kematian beberapa warga di sebuah desa secara misterius. Para korban mendadak berubah brutal; dimulai dengan menghabisi anggota keluarganya sebelum akhirnya tumbang membawa noda-noda penuh darah. Satuan kepolisian lokal yang dipimpin Jong-Goo (Kwak Do-won) pun dipaksa menelan rasa bingung dan frustasi. Menerka apa penyebab tragedi pahit tersebut hingga akhirnya prasangka terhadap orang asing dari Jepang (Jun Kunimura) digunakan sebagai dalil; ia dalang atas semua perkara.
Yang menarik dari The Wailing adalah bagaimana Na Hong Jin membungkus konflik berlandaskan asumsi, dugaan, omongan dari mulut ke mulut tanpa paham betul kenyataan masalah, kemudian menyembunyikan aktor sebenarnya di balik teror menyeramkan. Walaupun realitanya memang sosok roh jahat yang berdiri menghancurkan kehidupan damai warga desa, Na Hong Jin mengaburkannya dengan samar-samar di antara gadis lugu bernama Moo-Myeong (Chun Woo-Hee), cenayang beridentitas II Gwang (Hwang Jung-min), atau mungkin kiranya orang asing dari Jepang. Sayangnya, menjelang akhir Na Hong Jin merusak investigasi dengan sekenanya dan meninggalkan sejuta tanya di kepala.
Menyaksikan The Wailing di lain sisi menampar keras kebiasaan kita selaku Kita tak jarang larut dalam pusaran masalah berdasarkan perkataan orang ke orang tanpa melihat jernih yang terjadi sebenarnya. Dari kegelisahan itu, Na Hong Jin mencoba menyelipkan pesan humanis kepada khalayak ramai. Dalam balut kisah menyeramkan, nyatanya muncul keteguhan sikap guna menjaga nalar manusia agar tak menelan semuanya mentah-mentah.
The Wailing (2016)
Sutradara: Na Hong-jin
Sinopsis: Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo. (kakaeynotes.com)
Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya.
Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis.
Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood.
Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend.
Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar.
Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda.
Lihat juga karya Adythia Utama di sini.
Apa jadinya jika seseorang harus melepaskan segala hal yang ia punya untuk menjalani hidup lebih sederhana - lebih minimalis? Itulah premis yang dibahas dalam sebuah film dokumenter berjudul Minimalism. Mengingat paham tersebut sebenarnya telah diaplikasikan oleh para biksu terdahulu, nyatanya kini minimalisme dalam konteks modern membutuhkan usaha lebih besar.
Dokumenter yang menyajikan paham atau gaya hidup minimalis ini hadir dengan ragam “teks,” mulai dari mereka yang hidup sendiri, berkeluarga, hingga yang hanya hidup dari 2 buah Adanya dari kondisi Black Friday dan bahkan ketika Apple membuka toko untuk meluncurkan iPhone terbaru menunjukkan bahwa publik terbiasa untuk hidup konsumtif dan membeli hal yang mereka anggap penting walau nyatanya mereka tidak atau belum membutuhkannya. Ironis menjadi kata tepat yang bisa menggambarkan kondisi publik hari ini, berdasarkan refleksi hidup para “minimalist” di film ini.
Selain menggambarkan akar dari konsumerisme, lewat Minimalism, penonton juga akan dihadapi dengan penjelasan logis dari para pakar dan peneliti yang membuktikan bahwa hidup minimalis dapat meningkatkan hubungan sosial antara sesama hingga kesehatan seseorang. Walau terdengar klise dan mungkin pengambilan sikap untuk hidup sederhana ini baru muncul jika seseorang dihadapi oleh sebuah masalah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengesampingkan komentar orang - karena sesungguhnya tidak ada memperhatikan ketika Anda hidup selama 3 bulan dengan 33 buah saja dan pergi ke kantor untuk bertemu banyak kolega.
Minimalism: A Documentary About the Important Things (2016)
Sutradara: Matt D'Avella
Sinopsis: Bagaimana caranya hidup Anda jadi lebih baik dengan sedikit barang? Minimalism: A Documentary About the Important Things membahas segala hal tentang minimalisme dengan membawa penonton ke dalam hidup para mulai dari keluarga, arsitek, seniman, jurnalis, peneliti dan bahkan mantan Wall Street yang mencari makna hidup lewat minimalisme. (rottentomatoes.com)
Bagi penyuka serial favorit klasik Twin Peaks, mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Ialah seorang David Lynch, kejeniusan artistik di balik fenomenalitas Twin Peaks, Mulholland Drive, dan segelintir karya lainnya. Kini, semua benih kepenasaranan akan perjalanan yang mengantarkan Lynch kepada puncak kreativitasnya bisa mulai terjawab, melalui dokumenter yang dibuat untuk merayakan jejak artistiknya sejak awal, bertajuk David Lynch: The Art Life.
Dokumenter garapan Jon Nguyen yang berorientasi pada hari-hari awalnya sebagai seorang seniman melukis ini rencananya akan rilis pada 14 Juli mendatang. Sebuah kesempatan untuk mengintip sumber inspirasi besar terawalnya, seniman Bushnell Keeler, yang pertama kali membuka kekagumannya akan kemungkinan baginya menjadi seorang pelukis.
Mengintip sisi yang cenderung jarang diketahui tentang Lynch ini mungkin yang diperlukan untuk bisa lebih memahami karakteristik-karakteristik yang menjadikan serangkaian karyanya kental akannya. Sebuah eksplorasi apresiatif terhadap relung terdalam dari Lynch yang meluap akan kekayaan imajinasi, yang menjadikan kita bisa berterimakasih padanya untuk segelintir karya yang tidak hanya menghibur, namun juga jelas meninggalkan bekasnya tersendiri.