Pada bulan Juli kemarin, para pendatang Comic Con di San Diego ditunjukan trailer terbaru dari reboot film horor “It”. Trailer ini merupakan yang paling detail sejauh ini, menunjukan lebih banyak adegan dan memberikan lebih banyak klip tentang sang antagonis, Pennywise.
Seperti yang diperlihatkan di dalam trailer kedua ini fokus kepada sebuah kelompok anak muda yang akan bertemu dengan sosok kejahatan yang besar di dalam kota fiksional Derry, Maine, di mana banyak kasus anak-anak yang menghilang. Ada sedikit kekecewaan terjadi untuk para penggemar Stephen King. Di dalam salah satu adegannya yang ikonik, yaitu saat Georgie bertemu dengan Pennywise di dalam selokan, Pennywise akan mengatakan dialog dengan intonasi yang berhasil menghantui sebuah generasi. Anehnya, di trailer tersebut terlihat Georgie yang mengatakannya, dan hasilnya tidak begitu
Walau begitu, banyak yang memprediksi dari trailer tersebut bahwa reboot ini akan menjadi peningkatan dari originalnya pada tahun 1990. Satu hal yang pasti adalah horor yang digunakan akan berbeda dari sebelumnya. Alih-alih hanya menggunakan monster dan hantu, Andres Muschietti, sang sutradara ingin mencari rasa takut yang lebih dalam, seperti trauma masa kecil.
Film “It” mulai rilis di Amerika Serikat pada 8 September.
Menuangkan cerita yang berkaitan dengan alam gaib, dunia misteri, serta keganjilan-keganjilan yang tak masuk akal ke dalam layar sinema memang menjadi ketertarikan umum bagi para penggiat film. Selain suburnya narasi-narasi semacam itu, pengangkatan tersebut juga dilandasi motivasi banyaknya penonton yang akan datang menyaksikan. Namun apakah kualitasnya dapat menjadi jaminan? Jangan samakan dulu persepsi Anda sebelum menonton film terbaru Na Hong Jin, The Wailing.
The Wailing berkisah mengenai polemik atas kematian beberapa warga di sebuah desa secara misterius. Para korban mendadak berubah brutal; dimulai dengan menghabisi anggota keluarganya sebelum akhirnya tumbang membawa noda-noda penuh darah. Satuan kepolisian lokal yang dipimpin Jong-Goo (Kwak Do-won) pun dipaksa menelan rasa bingung dan frustasi. Menerka apa penyebab tragedi pahit tersebut hingga akhirnya prasangka terhadap orang asing dari Jepang (Jun Kunimura) digunakan sebagai dalil; ia dalang atas semua perkara.
Yang menarik dari The Wailing adalah bagaimana Na Hong Jin membungkus konflik berlandaskan asumsi, dugaan, omongan dari mulut ke mulut tanpa paham betul kenyataan masalah, kemudian menyembunyikan aktor sebenarnya di balik teror menyeramkan. Walaupun realitanya memang sosok roh jahat yang berdiri menghancurkan kehidupan damai warga desa, Na Hong Jin mengaburkannya dengan samar-samar di antara gadis lugu bernama Moo-Myeong (Chun Woo-Hee), cenayang beridentitas II Gwang (Hwang Jung-min), atau mungkin kiranya orang asing dari Jepang. Sayangnya, menjelang akhir Na Hong Jin merusak investigasi dengan sekenanya dan meninggalkan sejuta tanya di kepala.
Menyaksikan The Wailing di lain sisi menampar keras kebiasaan kita selaku Kita tak jarang larut dalam pusaran masalah berdasarkan perkataan orang ke orang tanpa melihat jernih yang terjadi sebenarnya. Dari kegelisahan itu, Na Hong Jin mencoba menyelipkan pesan humanis kepada khalayak ramai. Dalam balut kisah menyeramkan, nyatanya muncul keteguhan sikap guna menjaga nalar manusia agar tak menelan semuanya mentah-mentah.
The Wailing (2016)
Sutradara: Na Hong-jin
Sinopsis: Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo. (kakaeynotes.com)
Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya.
Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis.
Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood.
Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend.
Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar.
Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda.
Lihat juga karya Adythia Utama di sini.
Apa jadinya jika seseorang harus melepaskan segala hal yang ia punya untuk menjalani hidup lebih sederhana - lebih minimalis? Itulah premis yang dibahas dalam sebuah film dokumenter berjudul Minimalism. Mengingat paham tersebut sebenarnya telah diaplikasikan oleh para biksu terdahulu, nyatanya kini minimalisme dalam konteks modern membutuhkan usaha lebih besar.
Dokumenter yang menyajikan paham atau gaya hidup minimalis ini hadir dengan ragam “teks,” mulai dari mereka yang hidup sendiri, berkeluarga, hingga yang hanya hidup dari 2 buah Adanya dari kondisi Black Friday dan bahkan ketika Apple membuka toko untuk meluncurkan iPhone terbaru menunjukkan bahwa publik terbiasa untuk hidup konsumtif dan membeli hal yang mereka anggap penting walau nyatanya mereka tidak atau belum membutuhkannya. Ironis menjadi kata tepat yang bisa menggambarkan kondisi publik hari ini, berdasarkan refleksi hidup para “minimalist” di film ini.
Selain menggambarkan akar dari konsumerisme, lewat Minimalism, penonton juga akan dihadapi dengan penjelasan logis dari para pakar dan peneliti yang membuktikan bahwa hidup minimalis dapat meningkatkan hubungan sosial antara sesama hingga kesehatan seseorang. Walau terdengar klise dan mungkin pengambilan sikap untuk hidup sederhana ini baru muncul jika seseorang dihadapi oleh sebuah masalah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengesampingkan komentar orang - karena sesungguhnya tidak ada memperhatikan ketika Anda hidup selama 3 bulan dengan 33 buah saja dan pergi ke kantor untuk bertemu banyak kolega.
Minimalism: A Documentary About the Important Things (2016)
Sutradara: Matt D'Avella
Sinopsis: Bagaimana caranya hidup Anda jadi lebih baik dengan sedikit barang? Minimalism: A Documentary About the Important Things membahas segala hal tentang minimalisme dengan membawa penonton ke dalam hidup para mulai dari keluarga, arsitek, seniman, jurnalis, peneliti dan bahkan mantan Wall Street yang mencari makna hidup lewat minimalisme. (rottentomatoes.com)
Bagi penyuka serial favorit klasik Twin Peaks, mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Ialah seorang David Lynch, kejeniusan artistik di balik fenomenalitas Twin Peaks, Mulholland Drive, dan segelintir karya lainnya. Kini, semua benih kepenasaranan akan perjalanan yang mengantarkan Lynch kepada puncak kreativitasnya bisa mulai terjawab, melalui dokumenter yang dibuat untuk merayakan jejak artistiknya sejak awal, bertajuk David Lynch: The Art Life.
Dokumenter garapan Jon Nguyen yang berorientasi pada hari-hari awalnya sebagai seorang seniman melukis ini rencananya akan rilis pada 14 Juli mendatang. Sebuah kesempatan untuk mengintip sumber inspirasi besar terawalnya, seniman Bushnell Keeler, yang pertama kali membuka kekagumannya akan kemungkinan baginya menjadi seorang pelukis.
Mengintip sisi yang cenderung jarang diketahui tentang Lynch ini mungkin yang diperlukan untuk bisa lebih memahami karakteristik-karakteristik yang menjadikan serangkaian karyanya kental akannya. Sebuah eksplorasi apresiatif terhadap relung terdalam dari Lynch yang meluap akan kekayaan imajinasi, yang menjadikan kita bisa berterimakasih padanya untuk segelintir karya yang tidak hanya menghibur, namun juga jelas meninggalkan bekasnya tersendiri.
Rilisan tahun 2013 karya Mouly Surya ini memang benar-benar mengeksplorasi hal-hal yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta. Mungkin sudah biasa jika melihat film-film bertemakan romansa yang menggambarkan indahnya maupun sakit hati atas kandasnya jatuh cinta, berpacaran, menikah, , dan tipikal-tipikal sudut pandang romansa lainnya. Karya Mouly satu ini memang patut diacungi jempol atas keberaniannya memasuki ‘dunia’ baru akan romansa lewat penggambarannya (yang terkadang cukup eksplisit) tentang dinamika percintaan yang unik.
Dengan mengisahkan kehidupan pribadi sehari-hari beberapa individu yang tunanetra, Mouly melalui What They Don't Talk About When They Talk About Love mencoba menunjukkan sisi-sisi dari percintaan yang mungkin menjadi kurang nyaman atau kurang konvensional untuk dibahas. Mouly menampilkan realita dan hal-hal di balik layar lainnya yang biasanya menjadi tersembunyi ketika menyajikan romansa yang ditujukan untuk sekadar menghibur. Selain itu, ia juga menunjukkan adanya hal-hal yang mungkin berada diluar batas pengertian banyak orang tentang apa itu cinta dan romansa, bahwa mungkin ada bentuk-bentuk cinta lainnya yang tidak diduga ada.
What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)
Sutradara: Mouly Surya
Sinopsis: Berkisah tentang beberapa individu tunanetra dalam suatu institusi sekolah dan perjalanannya masing-masing baik dalam mengejar kedewasaan, mimpi, maupun keinginan untuk dicintai.