Apa jadinya jika seseorang harus melepaskan segala hal yang ia punya untuk menjalani hidup lebih sederhana - lebih minimalis? Itulah premis yang dibahas dalam sebuah film dokumenter berjudul Minimalism. Mengingat paham tersebut sebenarnya telah diaplikasikan oleh para biksu terdahulu, nyatanya kini minimalisme dalam konteks modern membutuhkan usaha lebih besar.
Dokumenter yang menyajikan paham atau gaya hidup minimalis ini hadir dengan ragam “teks,” mulai dari mereka yang hidup sendiri, berkeluarga, hingga yang hanya hidup dari 2 buah Adanya dari kondisi Black Friday dan bahkan ketika Apple membuka toko untuk meluncurkan iPhone terbaru menunjukkan bahwa publik terbiasa untuk hidup konsumtif dan membeli hal yang mereka anggap penting walau nyatanya mereka tidak atau belum membutuhkannya. Ironis menjadi kata tepat yang bisa menggambarkan kondisi publik hari ini, berdasarkan refleksi hidup para “minimalist” di film ini.
Selain menggambarkan akar dari konsumerisme, lewat Minimalism, penonton juga akan dihadapi dengan penjelasan logis dari para pakar dan peneliti yang membuktikan bahwa hidup minimalis dapat meningkatkan hubungan sosial antara sesama hingga kesehatan seseorang. Walau terdengar klise dan mungkin pengambilan sikap untuk hidup sederhana ini baru muncul jika seseorang dihadapi oleh sebuah masalah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengesampingkan komentar orang - karena sesungguhnya tidak ada memperhatikan ketika Anda hidup selama 3 bulan dengan 33 buah saja dan pergi ke kantor untuk bertemu banyak kolega.
Minimalism: A Documentary About the Important Things (2016)
Sutradara: Matt D'Avella
Sinopsis: Bagaimana caranya hidup Anda jadi lebih baik dengan sedikit barang? Minimalism: A Documentary About the Important Things membahas segala hal tentang minimalisme dengan membawa penonton ke dalam hidup para mulai dari keluarga, arsitek, seniman, jurnalis, peneliti dan bahkan mantan Wall Street yang mencari makna hidup lewat minimalisme. (rottentomatoes.com)
Bagi penyuka serial favorit klasik Twin Peaks, mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Ialah seorang David Lynch, kejeniusan artistik di balik fenomenalitas Twin Peaks, Mulholland Drive, dan segelintir karya lainnya. Kini, semua benih kepenasaranan akan perjalanan yang mengantarkan Lynch kepada puncak kreativitasnya bisa mulai terjawab, melalui dokumenter yang dibuat untuk merayakan jejak artistiknya sejak awal, bertajuk David Lynch: The Art Life.
Dokumenter garapan Jon Nguyen yang berorientasi pada hari-hari awalnya sebagai seorang seniman melukis ini rencananya akan rilis pada 14 Juli mendatang. Sebuah kesempatan untuk mengintip sumber inspirasi besar terawalnya, seniman Bushnell Keeler, yang pertama kali membuka kekagumannya akan kemungkinan baginya menjadi seorang pelukis.
Mengintip sisi yang cenderung jarang diketahui tentang Lynch ini mungkin yang diperlukan untuk bisa lebih memahami karakteristik-karakteristik yang menjadikan serangkaian karyanya kental akannya. Sebuah eksplorasi apresiatif terhadap relung terdalam dari Lynch yang meluap akan kekayaan imajinasi, yang menjadikan kita bisa berterimakasih padanya untuk segelintir karya yang tidak hanya menghibur, namun juga jelas meninggalkan bekasnya tersendiri.
Rilisan tahun 2013 karya Mouly Surya ini memang benar-benar mengeksplorasi hal-hal yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta. Mungkin sudah biasa jika melihat film-film bertemakan romansa yang menggambarkan indahnya maupun sakit hati atas kandasnya jatuh cinta, berpacaran, menikah, , dan tipikal-tipikal sudut pandang romansa lainnya. Karya Mouly satu ini memang patut diacungi jempol atas keberaniannya memasuki ‘dunia’ baru akan romansa lewat penggambarannya (yang terkadang cukup eksplisit) tentang dinamika percintaan yang unik.
Dengan mengisahkan kehidupan pribadi sehari-hari beberapa individu yang tunanetra, Mouly melalui What They Don't Talk About When They Talk About Love mencoba menunjukkan sisi-sisi dari percintaan yang mungkin menjadi kurang nyaman atau kurang konvensional untuk dibahas. Mouly menampilkan realita dan hal-hal di balik layar lainnya yang biasanya menjadi tersembunyi ketika menyajikan romansa yang ditujukan untuk sekadar menghibur. Selain itu, ia juga menunjukkan adanya hal-hal yang mungkin berada diluar batas pengertian banyak orang tentang apa itu cinta dan romansa, bahwa mungkin ada bentuk-bentuk cinta lainnya yang tidak diduga ada.
What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)
Sutradara: Mouly Surya
Sinopsis: Berkisah tentang beberapa individu tunanetra dalam suatu institusi sekolah dan perjalanannya masing-masing baik dalam mengejar kedewasaan, mimpi, maupun keinginan untuk dicintai.
A feast for the eyes is certainly one way of describing this 2014-released film directed by Jon Favreau, which also stars himself. A journey of passion, dream chasing, all in the midst of a mid-life-crisis-led epiphany, Favreau takes us diving into a world of culinary creativity, while showing us how equivalent to art food may be, and also how ageless passion is.
Favreau definitely did his homework by turning himself into a seemingly experienced cook with what anyone would guess to be years of experience, which came just as natural as the dimensions of emotions that the film tried to show. Following the titular Chef’s struggles in getting back onto his feet after being publicly humiliated and fired from his job, this one would probably make you think twice about settling for just about anything.
Overall, Chef makes a pleasing delivery of its storyline, which is further ‘spiced up’ by its choice of soundtracks (that you probably would feel like dancing to), and of course with generous amounts of screen time for the seemingly savory delights featured in it. Be careful not to watch it on an empty stomach though!
Chef (2014)
Directed by Jon Favreau
Synopsis: Chef follows the journeys of a struggling chef trying to re-explore his love for cooking, while also juggling the ups and downs of his personal life.
Kristen Stewart merupakan aktris yang berbakat. Dunia mengenalnya sebagai penerus tahta Julia Roberts atau bahkan Naomi Watts. Tapi sayangnya, ekspektasi publik terhadap dirinya terlampau berlebihan dan membuat karirnya naik turun; memainkan vampir amatiran, pemburu salju, dan tunawisma dengan penampilan biasa saja.
Seiring berjalannya waktu, entah dirinya sadar atau disadarkan, Kristen Stewart mencoba memulai karir aktingnya lagi dengan membintangi deretan film yang selektif. Bakat aslinya mulai muncul di The Cafe Society besutan Woody Allen di mana ia berhasil memerankan pengkhianat cinta bersama Jesse Eisenberg. Tak lama berselang, kebangkitannya membuahkan hasil ketika ia memainkan tokoh utama di Personal Shopper yang delusional sekaligus penuh ketegangan fiksi.
Personal Shopper merupakan film garapan Olivier Assayas yang menceritakan mengenai dinamika konflik kepergian dan penolakan atas kehilangan saudara tersayangnya. Stewart sukses menghidupkan dua dimensi bersamaan antara asisten selebriti ternama penuh gemerlap urban, serta seorang saudara perempuan yang menanti kedatangan kedua saudara laki-lakinya dari kematian tiba-tiba.
Di tengah usahanya berkomunikasi dengan sang saudara, berlimang tekanan psikologis kuat, rasa gelisah maupun was-was, ketegangan perlahan muncul; ia menerima pesan masuk dari orang asing yang mengetahui banyak tentang dirinya. Apakah itu memang orang asing? Atau jangan-jangan saudara kembarnya, Lewis yang menuliskan pesan? Tak ada yang pernah tahu.
Secara garis besar Personal Shopper berjalan menarik. Assayas bisa dibilang memasak bumbu konflik dengan takaran pas. Bagaimana ia memadukan kondisi realita dengan kepercayaan spiritual perihal kembalinya Lewis adalah kekuatan utama Personal Shopper, ditambah aksi Stewart yang mampu membantu memberi nyawa pada interpretasi naskah Assayas. Dan akhirnya kita harus mengakui; Stewart bisa memperoleh panggung penebusan kesalahannya di masa silam.
Personal Shopper (2016)
Sutradara: Olivier Assayas
Sinopsis: Personal Shopper bercerita tentang Maureen (Kristen Stewart), seorang gadis muda Amerika yang sedang berada di kota Paris, yang mencari nafkah dengan menjadi seorang ahli belanja pribadi untuk para selebriti. Namun dibalik itu, Maureen diam-diam merasa dirinya sedang mengalami kekuatan psikis sama seperti saudara laki-lakinya yang juga merasakannya, dan dia mulai menerima berbagai macam pesan dari sumber-sumber yang membingungkannya. (posfilm.com)
Dikenal sebagai salah satu penulis besar sepanjang masa, perjalanan Hemingway dipenuhi gelombang psikologis yang bergejolak. Hal tersebut dapat dilihat dari rentetan kreasi yang menggambarkan dinamika pribadinya hingga diakui Nobel, sebelum akhirnya mengakhiri hidup secara tragis. Whiteboard Journal memilih 8 buku terbaik karya Ernest Hemingway.