film

Film
06.11.17

Quick Review: Zodiac

Bicara film yang diadaptasi dari buku fiksi maupun non-fiksi, kita tidak bisa jauh dari sosok David Fincher. Sutradara asal Amerika ini mampu mengadaptasi sebuah cerita, menarasikannya dengan lihai, serta menciptakan twist yang membuat penonton ingin melihat film-filmnya lagi. Di antara deretan film suksesnya seperti “Fight Club,” “Seven,” dan “The Girl with The Dragon Tattoo,” film “Zodiac” merupakan karyanya yang paling apik di genre ini. Diadaptasi dari buku non-fiksi yang ditulis oleh Robert Graysmith pada 1986, film ini mengisahkan pemburuan seorang pembunuh berantai yang menjuluki dirinya dengan nama "Zodiac”. Semenjak kasus perdananya pada 1969, investigasi “Zodiac” digencarkan oleh berbagai pihak kepolisian dan media, walaupun berhasil mendapatkan tersangka yang kuat, kasus ini tidak mendapatkan hasil, lantas diberhentikan. Sosok “Zodiac” tidak diketahui hingga kini. Film ini bisa dikatakan tidak memiliki tokoh utama, tapi fokus setidaknya pada 3 tokoh, yaitu kartunis dan penyelidik amatiran Robert Graysmith (Jake Gyllenhaal, penulis buku non-fiksi “Zodiac”), jurnalis Paul Avery (Robert Downey Jr.), serta inspektur David Toschi (Mark Ruffalo). best place to buy ammo online We will also advise you on what to look out for and what to be aware of when purchasing. lease bear with us. We may well be stating the obvious, but feel it is important to reiterate the benefits of buying ammo online Zodiac (2007) Sutradara: David Fincher Sinopsis: Pada akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an, San Fransisco diselimuti teror oleh pembunuh berantai bernama Zodiac. Jurnalis Robert Graysmith dan Paul Avery, beserta penyelidik David Toschi terobsesi untuk menguak identitas pembunuh. Selama masa penyelidikan, Zodiac terus mencari korban dan menebar ancaman.

Art
18.10.17

Hasrat dan Kreasi bersama Intan Paramaditha

Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan menemui penulis dan akademisi Intan Paramaditha saat berkunjung ke Jakarta untuk membahas hasrat, fiksi, politik seksualitas hingga novel "Gentayangan."

25.09.17

Seleksi Karya: Woody Allen

Sebagai salah satu sutradara Hollywood yang tidak asing lagi karyanya di dunia layar lebar, Woody Allen tidak jarang menuai pujian maupun kritikan atas filmnya yang kental dengan ciri khasnya; di mana ia sendiri pun hampir selalu mengambil peran, yakni kisah-kisah dengan nuansa lighthearted dan komedi yang dibumbui dengan gaya quirky.

18.09.17

Quick Review: Baby Driver

Setiap orang pasti memiliki deretan-deretan lagu favorit yang selalu siap menemani di berbagai kondisi, seperti halnya karakter Baby di film Baby Driver karya Edgar Wright. Diperankan oleh Ansel Elgort, Baby adalah seorang anak muda yang dipekerjakan sebagai dan dipercaya untuk membawa kabur para kriminal setelah aksi bobolnya. Uniknya, di setiap saat, termasuk pada saat mengemudi, Baby digambarkan selalu mengenakan untuk mendengarkan lagu dari iPod-nya. Wright menjadi salah satu kunci pada film ini. Kalau biasanya sutradara menyerahkan urusan musik/lagu kepada , di Baby Driver justru tidak. Wright sendirilah yang memilih dan menentukan deretan lagu pada film ini, yang kemudian dijadikan acuan untuk setiap adegan yang ada pada film tersebut. Wright berhasil memperlihatkan bagaimana peran lagu-lagu hasil kurasinya sukses membangun dan menegaskan setiap secara akurat serta presisi antara pergerakan pemain dan ritme lagu. Menyaksikan Baby Driver di lain sisi terasa seperti sedang mendengarkan lagu-lagu favorit saat berada di kamar tidur, halte bus ataupun sesederhana menyaksikan Usaha Wright selama 2 tahun untuk mengurus 32 lagu pilihannya sangat setimpal dengan hasil yang didapatkan olehnya. Seperti bagaimana lagu “Bellbottom” oleh The Jon Spencer Blues Explotions melatari intensitas dan ketegangan pada awal film, yang kemudian dilanjutkan lagu Bob & Earl berjudul “Harlem Shuffle” yang menjadi latar ketika Baby menyusuri jalan menuju Hingga lagu “Brighton Rock” oleh Queen yang menjadi versi Baby sebagai latar lagu untuk aksinya saat mengemudi. Lagu-lagu populer seperti “Let’s Go Away for a While” - The Beach Boys, “Debra” - Beck, “Intermission” - Blur juga turut mengisi daftar lagu pada film ini. Secara garis besar, film ini menceritakan kehidupan Baby yang menjadi seorang karena berhutang kepada seorang bos berdarah dingin (Kevin Spacey) dan satu-satunya cara untuk melunasi hutangnya adalah terlibat dalam aksi pembobolan. Hal tersebut berubah ketika Baby bertemu dengan seorang gadis bernama Debora (Lily James) yang membuat dirinya terdorong untuk segera lepas dari pekerjaannya tersebut, karena membahayakan keselamatan Debora. Meskipun ide dari cerita Baby Driver bukanlah hal baru, namun pemilihan lagu yang Wright lakukan pada film ini, mampu menjadikannya sebagai salah satu pilihan film yang wajib ditonton, karena pastinya akan memberikan pengalaman baru bagi para serta para penikmat musik. Sutradara: Edgar Wright Sinopsis: Kecelakaan Baby sewaktu kecil yang membuat ia menderita suatu kelainan pada gendang telinganya sekaligus menjadikan ia memilki kepekaan yang tinggi. Baby bekerja sebagai supir pada kelompok penjahat yang dipimpin oleh Doc. Pertemuannya dengan Debora membuat Baby ingin mengubah garis hidupnya.

08.08.17

The Seen and Unseen

Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut. Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge. Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017. Pemain dan Kru Produksi: Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma Penulis Skenario: Kamila Andini Penata Kamera: Anggi Frisca Penata Artistik: Vida Sylvia Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko Musik: Yasuhiro Morinaga

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.