A symbol of new talents, perspectives, and definitely a new scene, Russia’s ‘dawn’ of skateboarding named Paccbet ventures out to California. In this search for freedom and inspiration, new vibes for Paccbet’s creative endeavors, California’s urban skateboarding landscapes definitely didn’t disappoint, as a collaborative film was shot with peers from the American skate-scene.
Paccbet itself may be seen as a realization of how urban sports such as skateboarding doesn’t stray far from the search of creativity and inspiration. With its aim to grow past borders, perhaps its apparent aim to turn the world into its very own playground through the search of endless new scenes shows just how inspiration comes from the present, not the past. And perhaps this is the way Paccbet as an urban community evolves itself and fusions with its own definition of creativity.
There’s no doubt that nowadays, it’s becoming a more and more common to see young CEOs starting up their own businesses. This urban phenomenon is what eventually drove Fendi to create a business-executive-themed collection for their SS18 runway debut. The office-themed runway, which ironically took place in Fendi’s HQ office, featured rather casual office wear pieces.
Fendi also took everyday items such as telephones, sink taps, martini glasses, and so on to create patterns that further portray the everyday essentials of a corporate life. It’s clearly an unusual sight for the eyes to find everyday items that can be considered rather dull or ordinary to be the essence of a high-fashion brand’s collection. Fendi’s take on the young start-up CEO phenomenon may actually be Fendi’s way of catching up with the future, as they stated that “you have young kids who are the head of start-ups and then become multi-billion companies in a few years, and so the attitude is changing and I think our life is changing.”
In that case, Fendi has certainly succeeded in incorporating society’s dynamics into high fashion; which adds a whole new level into the understanding of what ‘contemporary’ fashion is. Fashion that, while defying the common conception that runway collections are usually far from being wearable, relatable, and are for aesthetic purposes only, also makes it its point to illustrate urban society. Fendi finding inspiration within youth in society may also be proof that not only does fashion take actual part in society, but also that fashion can be made of almost anything, even society’s seemingly mundane and dull everyday activities known as the ‘corporate life’.
The debut collaboration between Christopher Bailey of Burberry and Gosha Rubchinskiy, whose label is owned by Comme des Garcons may be the fresh new step Burberry needs. Referring to the dilution the brand has been suffering from for a significant period of time now, with Burberry’s signature pattern being ‘stolen’ by many other productions and becoming printed in various objects, including Burberry frauds.
This collaboration may be witnessed as ‘classic meets modern’, where modern everyday vibe channeled through Rubchinskiy’s street wears mixes with Burberry’s British classic, somewhat conservative signature tone. It may also be seen as a fashion ‘catch-up’, where yesterday’s fashion trends meet today’s newest contemporaries. Lastly, it may be seen as how fashion is merely a huge and developing loop, in which pieces of style from time to time not only experience developments but also comebacks.
Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher.
Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang
Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang.
Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.
Bisnis di industri fashion semakin menantang. Para desainer dan rumah mode besar dunia pun kini mesti bersaing ketat dengan toko-toko ritel penjaja pakaian dengan tren yang bergulir sangat cepat dan murah. Belum lagi di sisi lain mereka juga harus bersaing dengan baru yang menggabungkan citra dengan harga yang lebih terjangkau.
Alhasil berbagai strategi bisnis pun digencarkan. Terakhir, rumah-rumah mode kenamaan dunia berlomba-lomba menerapkan model bisnis yang memungkinkan pengunjung dapat langsung membeli koleksi tersebut di tempat. Namun, metode untuk ternyata membutuhkan investasi yang terlalu besar.
Jalan lainnya adalah melalui kolaborasi dengan , meski tidak signifikan. Selain menguntungkan karena biaya produksi yang tak setinggi produksi koleksi mereka sendiri, kolaborasi juga tentu akan membuat desainer dan rumah mode besar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya Comme des Garcons yang akan mengeluarkan kolaborasi terbarunya bersama Supreme pada Mei mendatang.
Ini bukan yang pertama bagi Supreme untuk berkolaborasi dengan mewah. Sebelumnya Supreme juga sempat menjajal Paris Menswear Fall 2017 Fashion Week bersama dengan Louis Vuitton. Namun kolaborasinya dengan Comme des Garcons ini berbeda. Jika dulu Louis Vuitton membawa Supreme ke level melalui koleksi kolaborasi mereka, dalam kolaborasinya kini Supreme membumikan Comme des Garcons ke jalanan. Tentu saja, bukan suatu hal yang buruk.
Berkat karakternya yang kuat dan ketertarikannya pada tema horor dan fantasi, Natasha Gabriella Tontey (NGT) melahirkan sebuah toko fiksi sebagai karya residensi di Koganecho Bazaar Yokohama, Japan pada tahun 2015. Menggunakan gedung yang dulunya berupa ia menawarkan dunia alternatif sembari mengkurasi berbagai hal terkait ketakukan dan cerita-cerita horor warga setempat untuk dijual pada sebuah toko fiksi yang dinamai “Little Shop of Horrors”
Masih dengan palet warna khas neon dan pink yang menjadi identitas karyanya, kali ini NGT kembali menghadirkan “Little Shop of Horrors” untuk diperkenalkan di Jakarta. Konsep yang diangkat sama yaitu toko fiksi, namun pada kesempatan ini barang-barang yang akan dijual berupa bentuk kolaborasi bersama Footurama Freeform Fabrication, yakni koleksi spesial yang mengeksplorasi
Jika sebelumnya Sonotanotanpenz diajak oleh NGT untuk merespon ide dan tulisan NGT, kali ini Ken Jenie dan Dipha Barus diajak untuk meresponnya dalam format kaset berisi lagu-lagu yang menghadirkan nuansa horror. Pada malam pembukaan akan dimeriahkan pula dengan penampilan spesial dari Ken Jenie & Krazy Kosmic Kid, serta musik dari Baldi, Bergas, Mar, dan Moustapha Spliff -
Tidak hanya itu, “Little Shop of Horrors” juga akan disertai dengan bertajuk ‘‘FRESH FLESH FEAST’ atau ‘Makan Mayit’. Lewat proyek ini, NGT bersama Chandra Drews dan Elia Nurvista mencoba untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang untuk menjadi kanibal, dengan mencicipi hidangan-hidangan pilihan, yang mana menurut NGT, hasrat kanibalisme sebetulnya memang sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup.
Gala ini hanya terbatas untuk 13 partisipan, dengan membeli tiket seharga Rp. 295.000,- sebelum acara, dan Rp. 350.000,- saat acara, yakni pada hari Sabtu, 28 Januari 2017, jam 19:00.
-
21 Januari 2017
17:00
Footurama
COMO Park
Jl. Kemang Timur Raya no. 998
Jakarta