fashion

Fashion
27.10.17

Gimme 5: Bondi Goodboy

Kami berkesempatan bertemu dengan salah satu personil unit ini, Bondi Goodboy dan menanyakan 5 produk Adidas terbaik versinya.

13.10.17

Gimme 5: Yogha Prasiddhamukti

Sebagai seorang vokalis yang tergabung pada unit alternatif pop, Skandal, Siddha memiliki karakter dan persona yang cukup menarik perhatian baik di atas panggung maupun penampilan sehari-hari. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini kami menanyakan siapakah 5 terbaik versinya, yang menginspirasi Siddha dalam berpakaian. Sejak pertama kali mengenal hingga mengidolakan Beastie Boys, mereka selalu terlihat keren di mata saya. Dari musik sampai penampilan, trio seminal ini secara estetika punya karakter yang sangat kuat dan berdampak vital bagi saya sampai sekarang dan mungkin seterusnya. Saya bolak-balik ke seperti Pasar Senen, Pasar Baru, atau di mana saja karena terinspirasi dari apa yang dikenakan oleh Beastie Boys. Termasuk fanatisme saya terhadap hingga topi atau seperti dan jeans yang juga memang saya sering kenakan sehari-hari. Secara sadar maupun tidak, semuanya dipengaruhi oleh Ad-Rock, Mike D, dan MCA. Mereka juga yang membuat saya jatuh hati dengan seperti Puma Suede. Entah bagaimana, gaya dan cuek mereka selama 3 dekade ini, selalu definitif dan cocok untuk saya. Menurut saya Earl Sweatshirt adalah tipe manusia yang kekerenannya sudah menjadi bakat alami. Sepaket komplit audio (musik) dan visual (penampilan). Walaupun bukan yang tertampan, anak muda ini punya bahasa tubuh yang didukung dengan penampilan sederhana yang membuat saya kagum. Topi, kaos, Seperti halnya Beastie Boys, bagi saya lagi tukang celoteh yang juga merupakan seorang produser berusia 23 tahun ini adalah salah satu persona yang gayanya saya jadikan referensi untuk diterapkan sehari-hari. Fungsional dan tidak perlu berusaha terlalu keras. Saya dengan senang hati akan menjawab Bob Nastanovich jika ditanya perihal siapa personel favorit dari grup sinting tersebut. Selain bermacam peran pentingnya bagi band tersebut, penampilan dan apa yang selalu dikenakan sangat mampu mencuri perhatian serta sedikit banyaknya menginspirasi saya. Salah satu contohnya adalah ketika beliau memakai kaos Minutemen, dan bermain tamborin sambil bernyanyi di acara televisi tengah malam tahun 1994. ( karena saya masih bisa mengakses penting seperti ini di era sekarang). Penampilannya adalah representasi jelas dari istilah Sejak melihat video itu, sampai sekarang saya selalu terpengaruh (hingga kadang meniru) cara dan gaya beliau ketika bermain tamborin. Tentu saja, saya merasa berhutang banyak kepada mereka, khususnya Bob Nastanovich. Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarkan Dinosaur Jr., tapi yang jelas ketika melihat bentuk mereka, J Mascis, saya jadi makin mengidolakan band ini. Dari sekian banyak gaya beliau yang ingin saya tiru-tiru sedikit, penampilannya ketika muncul di dokumenter “1991: The Year Punk Broke,” membuat saya ingin menggunakan punya topi kuning. Menurut saya, J Mascis adalah satu dari sedikit yang membuat paduan topi dan rambut gondrong itu enak dilihat. Hingga hari ini gayanya masih keren meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, entah itu memakai kaos band hardcore punk yang seangkatan dengan bandnya dulu atau yang lainnya. Jika nanti sudah tua, beruban banyak, berkumis-janggut, dan memutuskan untuk memanjangkan rambut, saya sudah tahu siapa yang akan saya jadikan kiblat penampilan. Saya sudah cukup lama mengidolakan musisi jazz yang merangkap sebagai fotografer dan legendaris satu ini. Dengan sederhana, pembawaannya menyenangkan dan penampilannya pun punya ciri tersendiri plus mudah untuk saya adopsi. Kaos atau lengan pendek atau panjang, dan Vans - terutama Half Cab. Terlihat tidak berlebihan, dan tidak akan termakan tren apapun, menurut saya. Semua itu menariknya juga jadi kombinasi yang saat beliau sedang bermain gitar atau sedang berseluncur dengan -nya.

09.10.17

Retrospeksi Industri Clothing Bandung

Tren datang, pergi dan datang lagi seiring perkembangan zaman. Namun saat tren tersebut bertransformasi menjadi sebuah budaya, ia akan tinggal di sana. Salah satunya terjadi pada industri clothing Bandung yang ikonik itu.

12.08.17

Pembebasan Lewat Pakaian

Proyek terbaru dari seorang desainer asal Inggris, Johanna-Maria Parv, menjadi sebuah pembuktian baru bahwa tidak selamanya pakaian memiliki fungsi untuk ‘membatasi’ sesuatu. Parv mencoba menyuguhkan sebuah bentuk baru dari konsep berpakaian; bahwasanya pakaian yang menyelimuti tubuh selayaknya bisa tetap memberikan ‘ruang gerak’, khususnya bagi perempuan. Dengan mengkombinasikan tren mode era akhir 1800-an hingga awal 1900-an dengan nuansa pakaian untuk bersepeda, mungkin butuh upaya sedikit lebih keras untuk memahami alterasi-alterasi potongan pakaian yang dibuat Parv untuk menyamankan pemakainya. Melalui sebuah karya yang memang memiliki keunikan dan karakternya tersendiri, Parv mencoba mengeksplorasi ide bahwa liberasi bisa dimulai semudah dari cara pakaian disuguhkan bagi perempuan. Mungkin keindahan yang ada dalam koleksi Parv terletak pada ekspresinya yang luar biasa. Terinspirasi dari feminisme dan fungsi sosial, peleburan potongan pakaian klasik dan aksesoris yang tidak lazim ini memang layak dilihat sebagai sebuah gerakan progresif terhadap persepsi akan keharusan berpakaian bagi perempuan. Bahwasanya seiring berjalannya waktu, mungkin sebuah kebiasaan harus bisa berjalan bersamanya.

13.07.17

The Rising Hype (And Price) for LV x Supreme

Joining the ever-growing series of collaborations in the high-fashion industry, Louis Vuitton and Supreme announced their collaboration just earlier this year. A release of their line of hoodies, bags, shoes, and such with mostly the vibrant red color of Supreme’s, with both brand’s logos splashed across most items marks the possible end of a bad-blood tension originating from back in 2000 when Supreme released decks with LV’s prints on them, which were then soon called-off by LV. While the collaboration itself might come as a surprise to most due to both brands’ history, what might be more foreseen is are the tags on the collection which costs 3,500 up to 50,000 euros for each item. This still doesn’t stop the crowd’s anticipation to the collection’s launch, though. Because apparently, super bright red hood jackets and sunglasses with huge prints of the brands splashed across them costing thousands of euros are still worth the hype. Funnily enough, some of the crowd queuing to enter a pop-up launch in London claimed to be waiting not to actually purchase the insanely priced items, but rather to simply experience the ‘vibe’. This certainly speaks a lot about the length nowadays’ crowd is willing to go to simply experience all the hype and buzz of a trend, which may trigger the question of whether this is about having deep and devoted passion for fashion, or just a very frank and cringe-worthy proof of consumerism getting out of control. Nevertheless, doesn’t mean that the collection is still not to marvel at. Even though some aspects of the collaboration may be subject to eyebrow-raising for some, the combined work of high fashion’s most esteemed luxury brand and cult favorite’s skater label should still deserve the anticipation it’s getting.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.