Responding to the current growing popularity of films like Hokum (2026), Backrooms (2026), and Obsession (2025), in this Open Column submission, Agnes Giovanni argues that the horror genre’s shift in focus from supernatural fears to dangerous men foreshadows an even darker (and realistic, yet dire and deeply personal) depiction of misogyny in cinema and real life.
Dalam submisi Open Column ini, M. Haryo Hutomo menafsirkan bagaimana seni yang kritis dalam suatu pameran itu turut diiringi oleh sensitivitas bahwa ia terus-menerus bernegosiasi dengan kekuasaan, selagi menekankan pentingnya kritik demi mengamini nafas seni yang panjang.
Dalam submisi Open Column ini, Febrian Adinata Hasibuan mendedah bagaimana perspektif dekolonisasi dalam Biennale Jogja 18 menimbulkan lebih banyak tanya—yang banyak diberatkan kepada tata kelola pameran.
In this Open Column submission, Aris Setyawan suggests a couple of points for attention, only if the Indonesian Music Conference wishes to translate their aspirations into tangible achievements.
In this Open Column submission, Aldo Kaligis questions how the arrest of Delpedro Marhaen, a human rights activist and Director of Lokataru Foundation, seems to disregard an international human rights standards framework, as well as the age-old saying regarding messengers.
Dalam submisi Open Column ini, Kirana Anjani Ariella Lugijana menyandingkan novel Ketika Senja Jatuh di Nara (2025) dengan pembacaannya terhadap Alkitab, dan dengan segala yang terjadi dalam iklim alam dan politik hari ini di Indonesia.