Pada 7 Oktober hingga 7 Desember 2016 mendatang, Indonesian Contemporary Art & Design menggelar pamerannya yang ke-7 dengan tajuk “Seven Scenes.” Dengan menggunakan ruang-ruang di grandkemang Hotel, pameran ini membuka pintunya selama 24 jam untuk mengajak pecinta seni melihat Kemang sebagai salah satu sudut kota yang mempengaruhi relasi yang terbentuk di masyarakat.
Melihat esensi peta fisik di era digital bersama Pertigaan Map. Berisikan informasi penting yang dibagi menjadi tiga area, karya Anitha Silvia dan Celcea Tifani mengajak publik untuk mengenal lebih dekat Kota Surabaya beserta segala kehangatannya.
Portofolio adalah salah satu fitur pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Thinking*Room dari Jakarta yang hadir untuk merespon tantangan yang ada di industri desain grafis dengan mengangkat semangat dan otentisitas desain grafis.
Setelah sekian lama menggodok novel yang telah membuatnya hilang dari peredaran, Yusi Avianto Pareanom merilis Raden Mandasia Si Pencuri Daging di bulan Maret lalu. Sontak banyak respons menarik mengenai dongeng yang ia angkat dengan humor ironis membuat pembacanya meringis kegirangan.
Digelar sebagai perayaan dari pergerakan desain grafis Indonesia, Seek A Seek mengumpulkan karya desain terbaik dari penjuru negeri untuk ditampilkan dalam sebuah pameran bersama. Merupakan salah satu agenda dari Dia.Lo.Gue Artspace, Seek A Seek bisa dikunjungi setiap hari hingga pertengahan Juni 2016.
Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.”
Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata.
Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik.
Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya. Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.