
W_LIST: Best Music of 2025
Sepilihan lagu-lagu terbaik dari 2025, per redaksi Whiteboard Journal.
Words by Whiteboard Journal
Jika album adalah dunia, maka lagu adalah momen ketika dunia itu membuka diri. Daftar ini berangkat dari keyakinan sederhana: satu lagu cukup untuk membuktikan segalanya. Yang terasa kuat dari daftar ini adalah keberagamannya. Punk yang bandel, shoegaze yang sendu, soul yang hangat, hardcore yang bereksperimen, hingga lagu-lagu yang sulit diberi nama genre tanpa terasa menyederhanakan.
Lagu-lagu ini tidak berusaha menjadi representatif; mereka hanya ingin terdengar seperti diri mereka sendiri. Dan mungkin, itu sudah cukup.
Flowr Pit – Air (feat. Winona Amabel)
Saya tak akan lelah untuk mengangkat bagaimana Alfath adalah salah satu penulis lagu terbaik yang kita punya. Permainan gitar dan melodi vokal yang ia cipta di Flowr Pit adalah tesis yang sulit dibantah. Dan, alhamdulillah, kita bisa mendengarkan dua lagu baru di tahun 2025 kemarin. Dua-duanya bagus, tapi “Air” punya depth yang agak nggak ketebak, spoken word yang well-executed digabungkan dengan sebuah pertanyaan, what if The Fly are a bit into post-hardcore? [MH]
Blue Morning – Deep Sweep
“Do you ever feel like a plastic bag?” Yes! Kalau bisa digambarin, denger lagu ini kayak lagi masak dalam mimpi di tengah hutan berkabut, sambil… dikejar-kejar? Tiap-tiap progresi yang ada di sini – dari yang awalannya cuma gitar, masuk bass, drum, vokal, sampe segala suara-suara cosmic-y yang ada – mereka sengaja tuang ingredients tersebut satu-satu sebelum akhirnya lengkap… dan lagunya habis. Sisanya, cuma tombol on-loop di Apple Music yang bisa jadi bystander gua. [RN]
Nusa Fantasma – Filastine & Nova (Kasimyn Remix)
Tahun 2025 menjadi kali pertama melihat Filastine & Nova secara langsung di atas panggung. Sebagai aktivis climate change dan kemaritiman, Nova & Filastine debut menjadi duo performer bersamaan dengan berlayarnya kapal mereka Arka Kinari di tahun 2019. Nusa Fantasma tetap sejati pada musik-musik yang telah mereka rilis atau mainkan di panggung sebelumnya. Terdengar seperti sinden futuristik, sentuhan remix oleh Kasimyn juga memperkaya fluiditas dari musik Filastine & Nova yang menjadi wadah bagi orkes gambus, Melayu, bahkan musik mid-century yang biasanya ditemukan dalam film-film India. [JP]
Cherish – Favorite Bar
Mungkin karena IV-V-iii selalu punya spot khusus bagiku, atau karena mood mendung biru dari denting piano dan basahnya ‘Favorite Bar’ ini pekat mengingatkanku akan Jogja di bulan-bulan Q4. Selalu menyenangkan juga untuk mengikuti lagu yang ditulis ‘tidak jauh-jauh dari rumah’ – notice bagaimana band memulangkan kita kembali ke ‘I’ ketika masuk chorus (misal, seperti yang disambut di chorus kedua dengan lirik di ‘Where I belong,’) dan ketika lagu selesai di ‘I know where we think / we’ll be okay.’ – juga bagaimana rising action dalam verse dibangun dengan sincere berkat hihats yang lebih dibuka dan vokal yang dipecah, semua demi menekankan lirik yang ingin diceritakan. Semoga bisa menyempatkan menonton Cherish di ‘Favorite Bar’ ketika lagi mampir ke Jogja (atau favorite cafe?). [GF]
Bin Idris – TO ENDURE
Gabungan instrumentasi yang minimal tapi atmospheric dengan lirik yang kontemplatif adalah formula yang berhasil membuat lagu ini jadi one of the standout song of the year. Lewat liriknya, Bin Idris berhasil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat kita ragu dan bertanya ke diri sendiri, what if we planted a seed that would never grow? [HA]
Adrian Yunan, Cholil Mahmud – Nikmat Sepanjang Umur
Meskipun mereka yang “di atas” berkata lain, tapi 2025 merupakan tahun yang #gelap, dari awal sampai akhir. Sulit rasanya, menjaga syukur dikala banyak hal yang harusnya kita kutuk. Kalaupun ada, mungkin salah satunya adalah pertemanan Mas Adrian dan Mas Cholil yang dirawat baik, sehingga lagu ini lahir. Lagu yang terdengar seperti mimpi indah para “utopis”, terlepas dari fakta bahwa kita lebih dekat dengan distopia. Kalau mereka berdua berani “bermimpi indah” seperti ini, harusnya kita semua juga harus berani bermimpi seindah ini. [RP]
Themilo – The Lights
Photograph dari Themilo sampai saat ini masih menjadi album shoegaze/dreampop penting di linimasa musik kita. Dengarkan melankolia yang pekat menyeruak di isian gitarnya, lalu cermati bagaimana isian keyboardnya membuatnya menjadi semakin melodramatik. Lalu, bayangkan bahwa format-format terbaik itu dilipatgandakan, maka jadilah The Lights. Mungkin kita memang suka yang sendu-sendu. [MH]
Pathetic Trivia – Kota Gelap
“Oblivion” by Grimes but make it Bandung indie-pop/punk. Lagu yang menyoroti gimana malam hari, semaju dan seprogresif apa pun kota yang kita tinggalkan, dapat dengan sangat cepat berubah jadi labirin gelap dipenuhi rasa takut, terutama bagi banyak perempuan. Bunyi-bunyian yang disajikan pun cukup jujur dan halus mengingat topik suar yang diangkat – yang sayangnya masih amat relevan. Vokal deadpan oleh Gia juga memperkuat kesan alienasi. Bersama debut EP-nya, yang masih dengan judul yang sama, Pathetic Trivia jadi salah satu band yang gua nggak sabar untuk lihat bakal ke mana perkembangannya. [RN]
Prontaxan – SUNDA MEGATHRUST
Dengan gaya funkot khas mereka, Prontaxan berhasil menciptakan sebuah track yang terasa konsisten bagi mereka namun pantas menjadi prime time club-banging track dengan balutan lirik dan suling Sunda yang terasa hypnotic. Tanpa harus mengikuti tren hipdut yang merajalela di tahun ini, Prontaxan berhasil menjaga relevansi dengan cara mereka sendiri. [HA]
Puremoon, Marryanne – Stay
Mengenang resensiku di artikel ini pada tahun lalu, temanku yang berinisial RP memang sempat mengomentari tabiatku untuk menaruh lagu-lagunya si Puremoon atau Ftlframe dalam daftar pilihan tahunan redaksi. Karena itu, sempat terlintas juga, “Keseringan sih, memang…” Cuma, setelah mendengarkan album ketiga mereka ini berkali-kali selagi menimbang kesan tersebut, aku akhirnya punya sikap.
Naufal “Pale” Ikhsan adalah orang yang ada di kedua outfit asal Bandung tersebut, dan sepertinya telah kutemukan sosok yang memiliki songwriting styles dan sonic textures yang kupikir sangat berkarakter di generasi ini. Temukan leburan drums yang luas (serta pukulannya yang kerap mengecoh dalam mode bengong), laser sharp-yet-warmly wet lead guitar melodies, dan all around mood yang seperti mengingatkan bagaimana 2025 sempat melihat terma ‘longing’ yang dilempar ke sana dan sini. [GF]
Jo Soegono – Dunia
Album Prof Jo semakin menguatkan posisi Jo Soegono sebagai musisi bossanova. Lagu “Dunia” terasa berbeda, dengan sentuhan bending dari electric guitar yang dominan di akhir lagu. Semisal ada album kompilasi “Bossanova” di Indonesia, Lagu ini wajib masuk, mungkin setelah Rafika Duri dan Indra Lesmana. Atau mungkin, ketiganya bisa bikin lagu bareng? [RP]
Tarrkam – Tentara
Siapa yang menyangka kalau naivety ala Anggun Priambodo bisa lebih nendang kalau dibawakan dalam adat punk. Di lagu ini, Tarrkam menunjukkan odd adalah interchangeable dengan egg dalam terma egg-punk. Dan, bandelnya lagi, mereka menggunakan pembawaan ini untuk lagu yang bercerita tentang bagaimana kita semua sial, ini bukan hariku, saat militerisme semakin nyata terornya di sekitar kita. Tak cukup di situ, mereka kemudian menambah layernya dengan bernyanyi dengan dialek Betokaw di beberapa bagian. Benyamin Sueb akan bangga. [MH]
Mad Madmen – Saran dan Keluhan
Balik lagi ke sini dari Best Local Music kami di tengah tahun lalu. Ya, gua selalu menemukan diri gua balik dengerin dan humming lagu berisik, heboh, yang temponya lompat-lompat ini. Nyangkut. Lebih konvensional (dan pop?) dari rilisan-rilisan sebelumnya, tapi jazzy-jazzy ciamiknya dan ngutak-ngatiknya masih dapet banget. Gua cuma bisa berharap, semua saran dan keluhan yang kami lemparkan ke para “mereka” di 2025 bisa didengar dan terdengar sebagus ini di kuping. [RN]
Rrag – Samar
Hampir gak ada track yang flop di album Rrag yang terbaru menurut gue pribadi, tapi track ini salah satu yang paling mencuri perhatian dengan komposisinya yang terasa simpel tapi tetap catchy. Suasana familiar yang dibangun di track ini bikin kita gak perlu effort pas dengerin. [HA]
SATCF – Keep it Moving
Eksis sejak akhir ‘90an, SATCF membuktikan bahwa 30 tahun berlalu, dan mereka masih bisa bergerak maju, dan di saat yang sama, menawarkan pada musik punk lokal tawaran baru (jika belum, coba dengarkan album self-titled SATCF yang juga forward thinking itu). Di antara beatdown yang menyerbak layaknya wabah, SATCF menunjukkan bahwa groove itu lebih keren daripada crowdkilling paling bengis sekalipun. Iya, Turnstile keren, tapi Slope juga mantep (coba dengerin “Freak Dreams”). Lirik “started from the bottom now we here” yang diulang memang tak original, tapi membawakannya dalam pembawaan musik hardcore-adjacent menunjukkan bahwa Drake memang lebih baik diingat semata sebagai masa lalu. [MH]
room – White
Di 2026, mungkin undangan acara-acara ibu kota nggak perlu lagi nulis “Ruang ini dihadirkan untuk napas sejenak” karena mereka bisa langsung putar lagu ini. Soalnya kalau kemaren Pantone pilih putih Cloud Dancer sebagai warna 2025 dengan alasan melambangkan kanvas kosong dan cara berpikir baru (despite all the backlash), “White” dari room rasanya sejalan dengan itu. Secara suara, lagu ini berhasil ngalir jadi satu mood utuh. Cukup tebal dalam penggunaan segala reverbnya, cuma nggak sampai menenggelamkan detail. A standout gem in the gem-filled EP, Home-listening Plaza. [RN]
Wukir Suryadi, Jaydawn, Morgue Vanguard – Parancah (The Spell)
Setelah putaran samples dan konstruksi tekstur tepat berguna dalam memanggil dan membangunkan pendengarnya, maka pendengar pun menjadi lebih terbangun dengan semburan Morgue Vanguard. Diperkenalkan oleh temanku bagaimana Ucok selalu menafaskan liberation dalam tulisannya, dan baru kuketahui juga bagaimana kata ‘parancah’ mengartikan mantra penolak bahaya, membuat seruan “United we stand, divided we crumble,” menjadi pengingat yang semakin tajam dan penting untuk hari ini. [GF]
Kinder Bloomen – 2nd Groove
Sesuai judulnya, this is one of Kinder Bloomen’s grooviest. Track ini bisa menggambarkan bagaimana Kinder Bloomen mendewasa secara musikalitas. Beda dengan track-track mereka 2–3 tahun lalu, kini mereka hadir dengan komposisi yang terasa lebih polished dan permainan antara 6 instrumen (7 dengan vokal) yang terasa saling melengkapi satu sama lain membuat mereka terdengar berprogres secara signifikan. Penasaran kalau lagu ini dibikin lebih panjang bakal kayak gimana ya? [HA]
Jugo Djarot – Derau
Kalau EP Altar mendapat nilai 100, saya yakin 60 persen nya berasal dari lagu ini. Berkerja sama dengan Sinatrya Dharaka dari Thee marloes, lagu ini kental akan nuansa soul-nya. Dentuman bass dan drum mengisi ruang di lagu ini, tapi di saat bersamaan masih menyisakan space untuk vokal Jugo berdiri di tengah. Tidak lupa juga flute yang menjadi dekorasi minimalis tapi memberi highlight. [RP]
Showbiz – I’ll Love You ‘Till The Day I Die
Dibangun dari bassline yang akan membuat Robert Smith bangga, Showbiz adalah bukti bahwa ada sesuatu di kantin sekolah Pangudi Luhur. Karena sekian dekade berselah setelah mereka lulus (eh pada lulus kan?), Iyub dan Merdi masih megang kalo bikin lagu bareng. Walau kayaknya kalau soal nama band mereka bisa belajar lagi sih. [MH]
LOFT. – Getting This Over
Dalam kamusku, ‘angst’ masih menjadi adjektiva yang selalu menyapa pertama dalam mengenyam berbagai hal. Kebetulan, “Getting This Over” has an unadulterated, unapologetic bulk in its package. Menyegarkan bagaimana LOFT. langsung menawarkan dirinya dengan seutuhnya dari detik-detik awal lagu, mendengar drums, cymbals, dan instrumen lainnya yang seperti di-tune agar benar keluar segala angst-nya (menurutku), dan menyegarkan juga bagaimana pembawaan mereka membuatku membayangkan dan teringat betapa menyenangkannya proses songwriting yang apa adanya – which, I feel, rings a lot more dire in the age of GenAI-everything! [GF]
Prontaxan – PRAU LAYAR (Kapal Selam Version)
Prontaxan is back 💥THIS IS PRAU LAYAR🚣Well, Prontaxan dan funkotnya nggak ada habisnya di tahun 2025. Remix lagu karya Ki Narto Sabdo ini menjadi cara mereka untuk menyindir bagaimana dunia bekerja saat ini. Prau Layar menceritakan tentang dua kekasih yang bermain di perahu, melalui remix ini, tempo yang repetitif serta ‘hiperaktif’ menjadi cara mereka menyindir dunia yang bergerak secara cepat tanpa aba-aba dan meninggalkan kita kelelahan. Liburan di pantai (maupun di laut) menjadi konsep yang jauh dari pikiran kita dan hanya bisa kita temukan di media sosial aja karena kita terlalu ‘burned out.’ [JP]
Telly Blue – On Marissa’s Mind
Tahun ini banyak diingatkan bagaimana kepiawaian itu bersemi dalam penceritaan ide dan perasaan yang sulit menjadi alamiah dan jujur. Lagu yang berputar di atas dua chords ini pun demikian. Banyak yang bisa kita rasakan selama band mengitari tempat yang familier – dari vokal-vokal yang seperti berestafet, dinamika “On Marissa’s Mind” yang mengalun dan dibangun dengan intently tender (sampai secara desain suara pun), sampai harmonika yang manis serta tepat guna. Pribadi, nggak jarang terpikir kenapa harus terkungkung akan progresi yang itu-itu saja. Ternyata pemikiran tersebut bisa disurutkan oleh nomor kedua dari maxi-single Tender ini. [GF]
Terbujurkaku – Keong Racing
Jauh sebelum amen break menjangkit berbagai subkultur (halo jungle-infused midwest emo), Phleg dengan Terbujurkaku sudah mengacak-acak genre ini sejak satu dekade yang lalu (masih ingat bagaimana salah satu rilisan Terbujurkaku memicu debat panjang dengan dedengkot dnb di salah satu forum musik online?). Layaknya messiah, Phleg bangkit kembali dan menunjukkan bagaimana dia masih salah satu yang paling nganu melalui lagu ini. Simak judulnya yang ngehe “Keong Racing” (apakah ini respons paling nampol dari Indo untuk Motomami-nya Rosalia?), juga judul albumnya yang tak kalah ngehe (Amen Paling Serius). Mindblown is an understatement. [MH]
Temukan daftar lengkapnya di playlist Apple Music kami. Selamat mendengarkan.



