
Silampukau: Satu-satunya pesan yang bisa ditawarkan adalah peringatan kecil ini: pastikan negaramu sendiri tidak jatuh ke level Arkipelagia
Merespons rilisan terbaru Silampukau, Radit Mahindro mengobrol dengan Kharis Junandharu untuk membedah proses bermusik dan berlirik, hingga melacak detail domestik dan dinamika cipta semesta band ini, Arkipelagia.
Words by Whiteboardjournal
Words: Radit Mahindro
Image: Iqbal Tawakkal; Reno Surya
Menembus perbatasan negara salah kelola Arkipelagia bukanlah perkara mudah. Negara kepulauan ini tengah berada di titik nadir sosiopolitik dan ekologisnya: sebuah wilayah geopolitik yang luas namun ringkih, di mana ruang hidup warganya menyusut drastis akibat kemiskinan struktural ekstrem dan kemarau panjang yang membuat tanah retak meranggas. Sentrapolis memang menjadi pusat komando rezim yang bising, manipulatif, dan represif, namun keputusasaan yang sesungguhnya telah merembes hingga ke daerah paling ujung melalui kelaparan yang sunyi.
Di tengah gaslighting struktural dari rezim Sentrapolis yang terus menyiarkan optimisme palsu inilah Orkes Silampukau bertindak sebagai unit intelijen kultural. Melalui Stambul Arkipelagia—dengan Volume 1, 2, dan 3 yang telah beredar secara klandestin sepanjang akhir 2025 hingga sekarang 2026—mereka menyusun sebuah berkas dokumentasi setebal tiga babak. Karya ini bukan sekadar album musik; ini adalah dokumen perkara. Ditambah sketsa-sketsa selundupan dari Redi Murti yang menangkap anatomi kemuraman Arkipelagia, karya baru ini menjadi inspirasi nyata bagi para pendengar setia Orkes Silampukau.
Sebagai kawan lama dari masa sekolah di Surabaya yang menyaksikan metamorfosis kreatif mereka, saya menggunakan pendekatan interogatif untuk menyeret motor penggerak Orkes Silampukau: Kharis Junandharu, kembali ke jangkar masa lalu di Surabaya, membedah proses bermusik dan berlirik, hingga melacak detail domestik dan dinamika Arkipelagia.
Lebih dari satu dekade lalu, Dosa, Kota, & Kenangan (2015) itu sukses menuai rasa hormat dari para penikmat musik maupun lintas sirkuit kritikus: masuk jajaran album terbaik di Rolling Stone Indonesia, majalah Tempo, dan beragam publikasi kelas berat lainnya. Secara psikologis, apakah tumpukan penghargaan masa lalu itu sempat bertindak sebagai hantu yang meneror proses kreatif kalian?
Tentu saja. Ada semacam kelegaan dan ketakjuban yang saya rasakan ketika mendapati album realisme urban yang kami kerjakan dengan penuh keterbatasan produksi pada tahun 2014–2015 itu bisa menemukan apresiasi dan masih saja menemukan pendengar barunya sampai tahun 2026 ini.
Beberapa tahun setelah album itu dirilis, ketika mulai santer pertanyaan dari orang-orang terdekat—bahkan yang tidak dekat sekali pun—tentang kapan album baru dirilis, saya mulai cemas. Saya punya firasat buruk bahwa saya gak akan terlalu berminat melanjutkan eksplorasi realisme urban. Kondisi kenyataan harian kita niscaya akan berkorelasi dengan kebijakan politik yang diambil pemerintah, dan menceritakan realisme secara dekat justru akan membahayakan kewarasan mental saya. Jadi, bagaimana solusinya?
Antitesis konseptual secara total. Saya putuskan untuk memasuki teritori baru yang justru membebaskan proses kekaryaan dari bayang-bayang ekspektasi masa lalu.

Sebelas tahun Dosa, Kota & Kenangan.

Sebelas tahun Dosa, Kota & Kenangan.

Sebelas tahun Dosa, Kota & Kenangan.
Kalau kita tarik garis mundur ke masa-masa aman di Surabaya dulu, tantangan utama seringkali berkisar di jam pelajaran yang membosankan dan dinamika sosial masyarakat di jalanan. Sekarang, kalian bertindak sebagai interogator sosiologis ulung bagi sebuah negara yang sedang kolaps. Bagaimana proses adaptasi psikologis kalian dari anak daerah menjadi kronikus utama kehancuran nasional negara kepulauan Arkipelagia?
Konsep ‘anak daerah’ itu barangkali hanya relevan di buku pelajaran sejarah lawas. Saya tidak pernah merasa perlu melakukan adaptasi psikologis apa pun. Di Arkipelagia, entah Anda hidup di Sentrapolis atau di pinggiran pesisir, nasib Anda sama-sama dikendalikan oleh kebijakan yang sentralistik. Saya sekadar mendokumentasikan kesuraman itu.
Namun, jika pertanyaan ini tentang adaptasi psikologis dari penulisan realisme urban ke distopia negara-bangsa, prosesnya malah cenderung membebaskan. Ditambah kami memakai strategi narasi ultimate fiction, yang artinya tidak hanya ceritanya yang fiktif, musiknya pun sama fiktifnya. Konsekuensinya, kami bisa bereksperimentasi hingga ke batas-batas yang bahkan belum pernah kami ketahui sebelum ini.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada geografi dan demografi Arkipelagia hari ini? Bagaimana situasi di Sentrapolis dan nasib warga di wilayah pesisir dan rural?
Arkipelagia adalah lanskap ekstraktif yang menyaru sebagai negara, di mana kebijakannya sangat sentralistik. Tentunya mudah untuk membayangkan situasi dan takdir harian bagi warga kepulauan selebihnya. Di area urban atau di hinterland, selalu ada “bayang-bayang bengis yang menyeringai sadis pada seisak tangis, pada rintik gerimis, pada kobaran murka, pada serobek luka, pada s’gala malapetaka.”
“Ai, ya, sayang / beginilah nasib bonus demografi / Nirdaya kala diperdaya negara / pakan infernal invertebrata neraka / Nirsuara kala dirudapaksa negara / “Korban kolateral,” sabda Kadal Asia.” Siapa atau apa sebetulnya Kadal Asia ini?
Kadal Asia adalah perwujudan metaforis dari para demagog dan elit penguasa zalim. Mereka mengandalkan tipu-daya diabolikal yang diorkestrasi bersama elit lainnya semata untuk melanggengkan kekuasaan; menganggap ketidakberdayaan warga sebagai bukti yang tak terbantahkan atas kekuasaan mereka; dan memandang warga yang nirdaya semata-mata sebagai kolateral dari agenda kemajuan rezim.

Arkipelagia. (Image via Reno Surya)
Ada kata “Stambul” yang kalian sematkan di judul besar proyek trilogi ini. Tolong jelaskan apa itu Stambul dan kenapa harus Stambul?
Pada dekade-dekade akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1891, Komedie Stamboel lahir di kota pelabuhan Surabaya melalui inisiatif seorang seniman Indo-Eropa bernama Auguste Mahieu, dengan dukungan kapital dari seorang pemodal Tionghoa, Yap Goan Thay. Teater ini merupakan bentuk seni pertunjukan hibrida pertama di Nusantara yang secara sadar mengawinkan elemen-elemen budaya eksotis Islam dari Timur Tengah, tradisi pertunjukan lokal, dan dramaturgi Barat. Dalam masa transisi menuju modernisasi kolonial yang penuh dengan eksploitasi, Stambul pada masanya sukses menjembatani berbagai instrumen dan harmoni dunia untuk memperkaya daya khayal publik yang menontonnya, memberi identitas kultural baru bagi kelas bawah dan kaum peranakan Eurasia yang terpinggirkan oleh segregasi rasial.
Pada perkembangannya di dekade 1920-an dan 1930-an, tradisi teatrikal ini diteruskan, disempurnakan, dan diradikalisasi oleh kelompok The Malay Opera Dardanella yang dipimpin oleh Willy A. Piedro (Augustus Piedro) dan tokoh-tokoh seperti Tio Tek Djin, hingga masuknya sutradara Andjar Asmara yang membawa pertunjukan Dardanella untuk mengkritik fenomena zaman, alih-alih sekedar menggelar pertunjukan. Dardanella mentransformasi komedi stambul tradisional menjadi tonil—sebuah bentuk teater yang jauh lebih modern, profesional, dan mulai bertindak sebagai medium pencerahan intelektual serta kritik sosial yang berani di tengah depresi ekonomi global (The Great Depression) yang memukul Hindia Belanda saat itu.
Sependek yang saya tahu, musik jarang sekali merupakan demokrasi.
Keputusan kami untuk mengadopsi identitas “Orkes” dan menamai trilogi distopia ini sebagai Stambul Arkipelagia merupakan sebuah manuver estetik yang sangat disengaja untuk menyambung genealogi teater rakyat tersebut pada abad ke-21. Jika Komedie Stamboel dan Dardanella di masa lalu merespons kecemasan masyarakat kolonial yang gagap menghadapi mesin kapitalisme, maka kami mencoba menggunakan medium dan strategi fusion-folk yang sama untuk merespons krisis stadium lanjut dari kapitalisme birokratik, ekosida, dan otoritarianisme gaya baru di sebuah negara-bangsa distopik.
Secara musikal, konsekuensi dari pergeseran format ini juga menjadi sangat masif. Lanskap bunyi yang dahulu hanya diisi oleh petikan gitar akustik ganda dan harmonisasi vokal, kini diekspansi melalui masuknya instrumen-instrumen lain seperti piano, drum, terompet, biola, cello, dan juga teknik sound design modern lainnnya, karena bagaimana pun juga, Stambul Arkipelagia adalah produk dari dekade kedua abad ke-21.
Arkipelagia saat ini tidak hanya dihantam represi, tapi juga krisis eksistensial akibat kemarau panjang yang bikin waduk-waduk nasional kering kerontang dan debu beterbangan di mana-mana. Di tengah kemiskinan yang meroket dan perut warga yang keroncongan akibat inflasi pangan, bagaimana kalian memotret kesejahteraan—atau keputusasaan—masyarakat kelas bawah ini? Apakah lagu-lagu kalian di album ini mencoba menjadi sebotol air bersih yang menenang-nebaskan, atau justru sengaja meniupkan debu kekeringan langsung ke muka pendengar agar mereka sadar bahwa Arkipelagia sedang sekarat?
Entahlah.
Keduanya adalah metafora yang terlalu puitis untuk kenyataan yang brutal. Kami bukan penyuplai air bersih, apalagi mesin peniup debu. Kalau setelah mendengarkan album ini publik merasa kelilipan debu atau justru kehausan, ya itu urusan mereka dengan realitas negaranya, bukan dengan lagu kami.
Bagi saya, Arkipelagia berfungsi sebagai catatan kesaksian atas bencana yang sifatnya struktural dan sistemik. Tradisi sastra kita pernah punya hal semacam ini, semacam sastra kebencanaan (disaster literature), barangkali karena sastra adalah cara mujarab untuk mengingat, dan bencana adalah hal yang penting sekali untuk diingat agar tragedi dan deritanya tidak senantiasa berulang. Contoh, Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh.
Ditulis hanya berselang dua bulan pasca-letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883, Syair Lampung Karam merupakan dokumen jurnalistik dan sastrawi tertulis pertama yang dihasilkan oleh perspektif warlok yang merekam apokalips alamiah dan sosial secara langsung. Teks yang aslinya ditulis menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu) dan diterbitkan di Singapura ini tidak mengeksploitasi bencana demi sensasionalisme. Sebaliknya, karya tersebut berfungsi ganda: sebagai reportase jurnalisme tingkat tinggi dari warga atas musnahnya lanskap agraria serta peradaban lokal, sekaligus sebagai sarana katarsis untuk melepaskan trauma eskatologis melalui permohonan keadilan kepada sang Pencipta.
Jika melihat manifesto karya Stambul Arkipelagia di website resmi kalian, ada cetak biru estetika yang sangat ketat. Bagaimana gagasan besar ini diterjemahkan secara sonik (dan lirik) agar menjadi satu tubuh karya yang utuh? Instrumen atau aransemen apa yang kalian sepakati untuk menjadi palet musik yang kontekstual tanpa membuatnya terdengar seperti album pertama dengan ongkos produksi yang barangkali (atau memang) lebih mahal?
Sebenarnya definisi itu tidak meleset terlalu jauh kok. Beberapa track di Dosa, Kota, & Kenangan menggunakan instrumen selain gitar. Track “Si Pelanggan” malah duet piano dan vokal pada studio version, dan “Doa 1” menggunakan instrumentasi tambahan secara meriah. Saya sendiri juga heran kenapa album DKK identik dengan album folk gitar-vokal indie folks, padahal lanskap soniknya melampaui gitar-vokal. Jadi jika Arkipelagia ini dituduh sebagai kelanjutan sonikal dari album pertama, saya tidak ada masalah. Blueprint Silampukau-sound memang seperti ini. Dan kali ini, biar sedikit beda, metode produksinya dikerjakan dengan lebih profesional.

Proses rekaman. (Image via Iqbal Tawakkal)

Proses rekaman. (Image via Iqbal Tawakkal)

Proses rekaman. (Image via Iqbal Tawakkal)

Proses rekaman. (Image via Iqbal Tawakkal)

Proses rekaman. (Image via Iqbal Tawakkal)
Menelaah isi rekaman di Vol. 1, 2, dan 3, ada anomali yang tertangkap oleh radar kami: vokal Kharis lebih mendominasi, sementara suara Eki yang biasanya terdengar ‘bijaksana’ dan teduh malah sangat jarang terdengar. Kenapa bisa begitu?
Menarik bahwa publik sering mengasosiasikan suara Eki dengan keteduhan. Pada DKK, porsi vokal saya sebenarnya lebih banyak ketimbang Eki, dan di Arkipelagia keteduhan adalah ilusi.
Arkipelagia adalah negeri yang tengah mengalami sesuatu, yang oleh Émile Durkheim disebut sebagai anomie—sebuah keadaan di mana norma masyarakat runtuh, dan warga kehilangan pegangan. Dalam situasi yang kalap, nirdaya, dan dipenuhi represi rezim ini, menampilkan vokal Eki yang menurut Anda lekat dengan ‘kebijaksanaan’ dan ‘keteduhan’ justru akan menjadi sebuah paradoks. Suara rasional dan menenangkan tidak memiliki tempat di tengah masyarakat yang perutnya keroncongan akibat bencana yang difabrikasi secara sistemik.
Jadinya saya terpaksa harus ambil peran jadi lead singer di Stambul Arkipelagia, karena tiap cerita di album ini tampaknya memang harus dinyanyikan secara sinis, neurotik, dan hyper-personal untuk merepresentasikan anomie tersebut. Tapi tenang aja, saya juga sebetulnya bosen kok nyanyi sendirian terus. Makanya saya maksa Eki untuk nyanyi “Gerimis Malam Kemarau” di Vol. 2. Dan untuk Vol. 3, saya juga memberanikan diri meminta Cholil Mahmud dan Natasya Elvira sebagai vokalis tamu.
Sebetulnya, nulis lagu sekaligus jadi lead singer sambil main gitar itu adalah hal yang menyebalkan buat saya pribadi, karena di bayangan saya, jadi lead-singer itu mesti punya tanggung jawab dan disiplin tinggi untuk menjaga vokal; singkatnya, lifestyle-nya terlalu demanding. Tapi, saya jarang punya pilihan lain.
Memecah karya menjadi tiga bagian di tengah situasi nasional yang tidak stabil adalah keputusan yang berani namun juga mencurigakan. Apakah ini murni strategi komunikasi agar pesan kalian lebih bisa disimak masyarakat secara gradual?
Eh, kenapa kok mencurigakan? Bahkan jika ini memang merupakan “strategi komunikasi agar pesan kalian lebih bisa disimak masyarakat secara gradual” saya rasa itu bukanlah sesuatu yang salah dan memalukan. Namun, kecurigaan itu memang tidak terlalu sesuai dengan keseluruhan nuansa yang terjadi.
Dan jujur saja saya sangsi ada kata-kata yang mampu menggerakkan hati para elit di sana.
Perilisan secara gradual ini tentunya disebabkan oleh keterbatasan modal dan ide. Ketika memulai project di awal 2025, saya belum tahu apa yang akan saya tulis berikutnya. Pendeknya, saat garap Vol. 1 saya gak tahu Vol. 2 akan seperti apa, dan saat garap Vol. 2 saya gak tahu Vol. 3 akan jadi seperti apa. Awal 2025 itu saya juga memproyeksikan akan menulis 12 lagu untuk keseluruhan volume, dan ternyata sekarang jumlah total tracknya ada 20. Foley tracks juga masuk sebagai ide pada detik-detik akhir, ketika Vol. 1 sudah masuk fase mastering. Letupan-letupan inspirasi yang menghiasi sepanjang proses Stambul Arkipelagia adalah hal-hal yang membuat kami begitu menikmati eksperimen ini.
Silampukau sekarang berevolusi menjadi Orkes Silampukau dan resmi berjalan dengan formasi lima personel, bukan lagi duo dinamis dengan musisi cabutan. Apakah ini adalah format demokratis yang nyata ataukah lebih mirip duo diktator imigran Omar Rodriguez-Lopez dan Cedric Bixler-Zavala di The Mars Volta, dan Walter Becker dan Donald Fagen yang merupakan figur inti Steely Dan?
Sependek yang saya tahu, musik jarang sekali merupakan demokrasi. Satu-satunya argumen penyanggah untuk kemutlakan band leader adalah Jazz, sebab dia berusaha menyeimbangkan kebebasan ekspresi individu dengan cara mendengarkan dan mempercayai pemain lainnya dalam satu framework yang sama.
Silampukau faktanya sudah sangat jarang bermain dalam bentuk duo, bahkan dari launching party album DKK, kami sudah bermain dalam format ansambel kecil dengan terompet dan brass sects. Barangkali, adalah kemalasan untuk melakukan reidentifikasi diri yang membuat kami terjebak dan pada akhirnya masih dianggap berbentuk duo, sekalipun dengan predikat tambahan “dinamis”.
Sebab, kalau dipikir-pikir, kami jarang sekali benar-benar bermain dalam format duo. Karena terasa seperti band, saya jadi cenderung berpikir bahwa Silampukau ini adalah sebuah band, atau kelompok orkes.
Bagaimana rasanya berbagi ruang rekaman dengan lima kepala?
Terasa sangat wajar sebetulnya. Fungsi masing-masing instrumen, termasuk vokal, dalam Stambul Arkipelagia adalah pencerita dalam lakon musikal. Jadi ya memang harus direkam, karena jika dikurangi satu saja elemennya, cerita akan terasa tidak lengkap.
Mari kita bicarakan Redi Murti, sosok misterius yang memegang kendali atas bagaimana publik melihat musik kalian lewat sketsa dan ilustrasinya sejak awal terbentuknya Silampukau. Di proyek se-konseptual Stambul Arkipelagia, seberapa awal Redi dilibatkan dalam proses kreatifnya?
Meskipun Vol. 1 baru dikerjakan di studio pada Maret 2025, saya sudah mulai ngobrol dengan Redi Murti untuk konsep art-nya sejak akhir Desember 2024. Saya kesurupan ide untuk memelintir Mooi Indie, Hindia Molek. Tapi harus dengan cara yang lebih radikal ketimbang yang dilakukan Pidi Baiq. Naturalisme untuk memotret lanskap alam yang hancur. Kami sebut konsep jahanam ini sebagai Saai Indie, Hindia Kisut.

Arkipelagia. (Image via Redi Murti)
Guratan garis ilustrasi Redi Murti untuk proyek ini berbagi kemiripan dengan gaya pelukis lanskap perang Eropa klasik a la Giuseppe Pietro Bagetti atau Frans Post yang merekam jejak kolonialisme, dan punya tekstur kusam dan pekat yang sangat distingtif. Kenapa Redi bergeser ke arah estetika palagan Eropa abad lawas itu? Apakah Redi sengaja mencampur tinta gambarnya dengan abu rokok kretek sisa semalam atau air genangan got Sentrapolis demi mendapatkan kemuraman warna yang presisi? Seberapa jauh kalian membiarkan “kotoran” visual Redi itu merembes dan menodai kerumitan aransemen musik yang kalian susun setengah mati?
Jika menghitung dari 2015, artinya kami sudah 12 tahun bekerja sama dengan Redi Murti sebagai visual artist untuk banyak karya kami. Anehnya, selama ini saya tidak pernah merasa ada kemutlakan asosiatif antara grafis dan lagu. Maksud saya begini, pada album DKK, Redi memilih menggunakan teknik cukil untuk album yang jelas-jelas menceritakan realisme. Bagaimana membacanya? Cukil seharusnya bukan pilihan alamiah untuk narasi realisme. Namun itu yang membuatnya menarik. Bagaimana realisme itu bertransformasi menjadi karikatur potongan kehidupan kampung untuk gambar sampul, menebalkan elemen ‘satir’ di dalamnya, mengencerkan aib urbanisme yang berceceran di sepanjang album.
Kemudian, karena artwork di tiap volume Stambul Arkipelagia sudah melewati serangkaian diskusi dan perdebatan, sampai akhirnya disepakati untuk dikerjakan, asumsi kecemasan yang ada pada pertanyaan itu tidak pernah terjadi.

Arkipelagia. (Image via Redi Murti)

Arkipelagia. (Image via Redi Murti)
Rilis mencicil lewat Vol. 1, Vol. 2, hingga sekarang Vol. 3 tentu menyebarkan fragmen emosi yang terputus-putus. Ledakan narasi macam apa yang sengaja kalian tahan untuk dilepaskan di Stambul Arkipelagia Vol. 3 nanti?
Ini barangkali akan lebih menarik saya jawab setelah teman-teman selesai mendengarkan Stambul Arkipelagia secara utuh. Barangkali, saya akan dapat insight tentang bagaimana fragmen-fragmen aib aural ini bekerja membentuk bayangan sebuah negeri khayali di benak para pendengarnya. Bagaimana pun, Arkipelagia memang tidak dirancang memiliki resolusi naratif yang happy ending. Narasinya saya tutup dengan sebuah lagu yang sebetulnya lebih masuk akal untuk dijadikan preludium album, semacam kata pengantar pada buku, untuk memberi efek infinite loop.
Saya pribadi diberi kesempatan untuk mendengarkan Stambul Arkipelagia, Vol. 3 lebih awal (terima kasih ya!). Ada satu trek instrumental berjudul “Pandemonium Ekosida” yang masih terus berputar di kepala saya hingga saat ini. Bisa dijelaskan sedikit inspirasi dan proses kreasi trek ini?
Ini salah satu happy accident di proses pengerjaan Vol. 3. Melodi piano pada track ini sebenarnya adalah alternate intro untuk “Stambul Rindu” yang akhrinya tidak jadi kami gunakan karena terasa terlalu gelap dan megah untuk lagu duet ini. Saya simpan dulu saja lah, barangkali nanti ada kesempatan untuk mengembangkan tema ini jadi sesuatu.
Kemudian, waktu seluruh instrumen untuk track yang berbentuk lagu sudah selesai direkam, saya merasa bahwa ceritanya masih belum lengkap. Album ini masih perlu tambahan kisah lain. Toh, kami juga sudah terlanjur gagal memenuhi tenggat waktu yang kami tetapkan sendiri untuk rilis album ini. Jadi ya sudah, sekalian saja. Rilis akhir tahun juga tidak akan jadi masalah buat siapa pun.
Saya merasa masih perlu mengembangkan tema kehancuran lingkungan di Vol. 3, dan musti lebih mencekam ketimbang volkslieder macam “Gerimis Malam Kemarau.” Masalahnya saya benar-benar yakin bahwa saya tidak—dan tidak akan—punya skill sastra yang cukup untuk menggambarkan pembantaian ekosistem semacam ini. Jadi, pendekatan kekaryaannya harus dilakukan lewat cara yang lain. Insting saya cenderung ke musik instrumental, dan firasat saya mengatakan KUNTARI akan cocok sekali untuk diajak berkolaborasi mengembangkan ini. Untung Tesla bersemangat menyambut tawaran ini.
Karena beda kota, workshop untuk track ini kami lakukan secara virtual. Pada workshop pertama itu, saya mempersilakan Tesla untuk mengembangkan draft melodi piano tadi sebebas-bebasnya, seliar-liarnya.
Tesla mengirimkan draft respons dari melodi piano yang kami kirimkan. Isinya menakjubkan. Agak melebihi ekspektasi saya, sejujurnya. Saya langsung melihat potensi pengembangan alur musikal dari draft itu. Kami langsung online meeting keesokan harinya untuk menajamkan alur dynamic terompet dan memoles alur musikalnya. Selama proses mixing, track ini masih saya biarkan tidak berjudul.
Pada sesi mastering, saya menemukan puzzle terakhir yang membuat lanskap distopia ini terasa lengkap. Saya meminta Pras untuk memberi sentuhan terakhir pada track ini dan menambahkan suara api pada bagian akhir. Hari itu, track yang menggambarkan lolongan terakhir hutan hujan purba, sesaat sebelum kematiannya datang atas nama pembangunan dan kemajuan, saya beri judul “Pandemonium Ekosida.” Dua hari kemudian, di semua kanal berita online, muncul berita menyesakkan tentang karhutla Kalimantan.
Kalian sebelumnya merilis sebuah trek kolaborasi lepas berjudul “Stambul Rindu” yang kalian bawakan bersama penyanyi jazz Natasya Elvira. Bagaimana kronologi kolaborasi ini?
Saya menulis “Stambul Rindu” pada Ramadhan ‘26 ini, ketika konflik Iran–Israel pecah, dan kecemasan meledak di seluruh sosial media. Perang dunia akan segera pecah, kata mereka. Situasi penuh kecemasan itu memberi inspirasi bagi saya untuk menulis lagu ini. “Stambul Rindu” adalah lagu kecil tentang sepasang kekasih yang terjebak dalam konflik yang magnitudonya tidak seberapa mereka pahami, yang menjadikan kerinduan sebagai satu-satunya alasan untuk terus bertahan hidup. Meskipun dirilis sebagai single, lagu ini memang sejak awal ditulis untuk dimasukkan dalam Vol. 3.
Lagu ini mutlak memerlukan female singer dengan style dan technique bernyanyi yang vintage, agar benang merah konseptualnya masih terjaga. Kami temukan itu pada Natasya Elvira. Karena kami gak ada yang kenal dengan Natasya, kami putuskan buat untung-untungan sekalian saja lah. Kami DM di IG, menawarkan kolaborasi.
Diskusi singkat secara online untuk koordinasi teknis rekaman dan brief tipis-tipis, dan ya sudah, proses rekaman vokalnya selesai dengan sangat lancar.
Antusiasme pendengar untuk menghadiri listening session Stambul Arkipelagia, Vol. 3 begitu besar, apa yang akan terjadi setelah Vol. 3 rilis? Apakah nantinya ketiga volume terpisah ini akan melebur secara sonik dan naratif untuk membentuk satu album Stambul Arkipelagia yang kohesif?
Bisa jadi. Merilis keseluruhan volume Stambul Arkipelagia sebagai album penuh adalah ide yang menarik, walaupun kami belum terlalu yakin akan melakukannya dalam waktu dekat.
Jika seandainya malam ini kalian berdua berhasil meretas pemancar radio propaganda Sentrapolis, apa pesan yang ingin kalian siarkan langsung kepada para pemimpin Arkipelagia?
Arkipelagia ini terletak pada masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus. Sebuah limbo ontologis. Jadi saya tidak membayangkan hanya ada satu pemancar tunggal, pasti ada pemancar cadangan, sebagaimana pasti ada backup server. Dan jujur saja saya sangsi ada kata-kata yang mampu menggerakkan hati para elit di sana.
Pertanyaan penutup untuk menjaga kewarasan kolektif: Bagaimana cara warga Arkipelagia tetap merawat harapan tanpa terkesan naif atau delusif saat menghadapi represi rezim dan perut yang lapar? Kontribusi nyata apa yang bisa kami lakukan untuk membantu memperbaiki kesejahteraan sesama warga Arkipelagia di sekitar kami? Apakah solidaritas itu cukup dirawat di level gang sempit dan layar kaca media sosial, atau ada metode sabotase kultural lain yang kalian sarankan?
Pertanyaan ini mengasumsikan masih ada kemewahan bernama ‘harapan’ di Arkipelagia. Kenyataannya, ketika instrumen hukum sekadar menjadi alat pukul penguasa, realitas hariannya murni survival of the fittest. Membicarakan sabotase kultural atau solidaritas yang heroik di tengah masyarakat yang sudah terbiasa saling memangsa itu justru delusif.
Tidak ada figur mesias atau tatanan sosial baru yang akan menyelamatkan mereka, karena rentetan sejarah di sana membuktikan hal itu tak pernah terjadi. Pada akhirnya, Arkipelagia hanyalah sebuah negara amit-amit. Satu-satunya pesan—itu pun jika hal semacam ini layak disebut sebagai sebuah pesan—yang bisa ditawarkan adalah peringatan kecil ini: pastikan negaramu sendiri tidak jatuh ke level Arkipelagia.
Namun secara musikal, saya sangat berharap bahwa groove yang ada di album ini, dari volume 1–3, dapat berfungsi sebagai ruang yang mengasyikkan untuk berjoget sembari menertawakan dan meneriakkan kegetiran ini bersama-sama.



