
Artist on Artist: Toton Januar interviews Natasha Tontey, Allysha Nila, Zara Zahrina, and Cissylia on What It Means to be Future-proof in Arts and Crafts
Fashion designer Toton Januar ngobrol dengan beragam tokoh dari koridor yang berbeda demi terciptanya panduan dalam menavigasi masa depan yang tidak menentu.
Words by Whiteboard Journal
Bagaimana kita menghadapi masa depan yang rasanya seperti terus menemukan dirinya di luar dugaan kita? Di tengah gempuran segala ketidakpastian global itu juga, bagaimana caranya kita tetap berkarya seutuhnya diri dan identitas yang kita genggam?
Pertanyaan tersebut juga terlintas dalam benak fashion designer Toton Januar. Menjawab itu, kami pertemukan dirinya dengan beberapa tokoh dari koridornya masing-masing demi terciptanya sudut pandang yang ramai dan kaya – from a fellow fashion stylist, artist, lecturer, to DJ.
Seperti kata Toton sendiri, “Perhaps, the method in madness is not about finding order, but learning to read its rhythm. And within that rhythm, we dress.”

Image via Ikmal Awfar
Allysha Nila
Dalam praktik kreatifmu, sejauh mana identitas sebagai orang Indonesia membentuk cara kamu melihat, merasakan, dan menerjemahkan dunia ke dalam karya? Apakah hubungan itu berubah seiring waktu?
First of all, thank you so much for your engaging questions! I am so honored to receive them, as I respect you and your work so much. I hope that my answers are satisfactory, or more.
Identitasku sebagai orang Indonesia: it’s everything and also nothing, simultaneously. I grew up privileged with parents who leaned into globalization, but my late grandfather ensured I was connected to Indonesian material objects. Dulu kami selalu naik angkot atau metromini kalau jalan-jalan, dan dia cuma mau beliin mainan lokal. Aku yakin ini berpengaruh pada preferensi visualku yang sangat kontras dan berwarna. A lot of it is driven by memory. Ada kontradiksi dari cara mengasuh ini yang membuahkan suatu ketegangan yang jelas terlihat dari karyaku, and even the way I speak, ha!
Identitas bagiku sangat personal, multidimensional dan sentimental. Sure, our lived experiences shape us, tapi ada hal instingtual atau bahkan spiritual yang menata ini semua. Mungkin kurang bisa aku jelaskan, tapi banyak orang Indonesia yang paham betul soal ini. Sejak kedua eyangku (dari mama) meninggal di tahun 2018 dan 2023 silam, I felt this tectonic shift, seakan-akan memori dan naluri kami menyatu, jadi aku melihat dunia tidak hanya lewat mataku sendiri lagi. I love what mas Novi (Angkasapura) does. His paintings encapsulate some sort of merge with the beyond—he’s tapped into the metaphysical realm in his own unique way. Kalau mas lihat karya dia, that’s what I’m talking about. Seiring bertambahnya usiaku, sensitivitas terlihat lebih jelas—setidaknya untukku—namun bentuknya abstrak.
Sementara, sekarang ada tuntutan besar untuk membuktikan atau memperlihatkan ke-Indonesia-anku secara sosial. Menurut aku ini lucu, padahal, gak hanya ada satu cara untuk mengekspresikan identitas, kan? Apakah aku harus selalu memakai kebaya atau batik untuk mengisyaratkan bahwa aku senang hal-hal berbau budaya? Apa berarti visual yang aku berikan wajib berbau Indonesia? We tend to fall into clichés and boxes the same way our colonizers enforced us, when wanting to express our identity. Dan hasilnya, orang Indonesia itu sering banget loh, othering people, to the point that policing becomes ‘natural’. I think being Indonesian simply means embracing vastness, either in the mind or physically. I’m more driven to give light to what is overlooked or undermined rather than to debate whether it’s cultural.
Bagaimana kamu memandang seni, kriya, dan tradisi visual Indonesia hari ini? Apakah sebagai sesuatu yang perlu dijaga, diinterpretasi ulang, atau justru terus dinegosiasikan bentuknya?
Seni, kriya dan tradisi visual adalah hal yang interaktif dan berevolusi, dan aku selalu tertarik oleh sudut pandang yang baru karena inilah yang membawa bentuk-bentuk baru. Di area musik, misalnya, ke-Indonesiaan menjadi unsur yang sangat dominan, mau penerjemahannya centil, suburbian, avant-garde, atau apa pun bahasanya. It’s important to shapeshift to give the work’s intention its suitable form. Ini semua ada kaitannya dengan perkembangan teknologi dan Internet, pastinya—tapi aku merasa semakin sulit untuk keep up dengan hal yang current, bahkan hanya untuk mengingat nama. Maybe I need to go out more, tapi yang aku maksud lebih dari itu sih. Everything’s perishable in the industry. Aku lebih tertarik dengan domain yang lebih pribadi.
Khusus poin interpretasi ulang, aku melihat semacam kesombongan belakangan ini. Fashion schools provide specific cultural fashion briefs but provide little contextualization or time for deeper explorations. Sebagai pendidik, ini sangat meresahkan sekali, karena edukasi adalah ruang regenerasi di mana mindset terbentuk lewat eksperimentasi. There’s also a tendency to encourage AI as if the tool improves things in a cutting-edge way just because you’re reimagining something ancient with current aesthetics. Asal kata teknologi itu, ya, memang kriya (tekhne) dan menelaah (logia)—kalau ditarik lebih jauh, bahkan artinya menenun! Our ancestors were able to make something that lasts for hundreds of years; could we even make something that lasts a decade?
I think collisions are necessary, meskipun pandanganku lagi pesimis, sih: I’m just not sure where people’s integrity lies these days, dan aku semakin kurang tertarik dengan bagian visualnya. There’s always the narrative to move forward, ‘for the culture’, but what sort of culture are we pushing? Where everyone overworks and has little equity? Where people have to choose the lesser of two evils?
Kita hidup di masa ketika batas budaya, teknologi, dan identitas terasa semakin cair. Dalam situasi domestik maupun global yang penuh ketidakpastian dan absurditas, bagaimana perubahan-perubahan itu mempengaruhi bahasa visual, bunyi, atau pendekatan artistik yang kamu bangun?
I think it affects the way I do things more than aesthetically. I try to work with seamstresses and tailors as much as I can—times are really hard! As I’m writing this, bensin baru naik hampir Rp. 4000. Biaya hidup semakin naik, tapi pendapatan semakin gak pasti, jadi aku selalu coba support penjahit, mau mereka di rumah, atau di Pasar Mayestik, atau Kreo. Banyak loh yang mahir, dan kadang hanya perlu ngobrol aja supaya mereka bisa ngetes ide-idemu. Dampaknya, aku bisa membuat baju yang mungkin belum tersedia dari desainer, specifically karena storytelling is so important to me.
Tapi aku juga harus bilang ini: dengan cara orang membuat produksi yang serba cepat dan murah, custom work dengan penjahit malah menjadi channel fast fashion dan membuat mereka semakin rentan. I feel so complicit as a stylist, and as I get older, I get more depleted defending. That I need more time, more resources, as if asking for better conditions means that I’m not good enough.
Banyak perubahan hadir tanpa bisa kita kendalikan; baik secara sosial, politik, teknologi, maupun personal. Bagaimana kamu merespons perubahan tersebut dalam proses kreatifmu? Apakah karya menjadi ruang untuk bertahan, beradaptasi, atau justru mempertanyakan perubahan itu sendiri?
Tapi apakah itu betul bahwa banyak perubahan tidak bisa kita kendalikan? Lihat negara ini, kondisi sangat memprihatinkan justru bukan karena tidak ada kendali, tapi karena pilihan yang dibuat tidak dilandasi rasa tanggung jawab atau kepedulian atas orang lain. Not to mention there are so many incompetent people who have power intentionally making those decisions while giving everyone else the illusion that it can’t be helped. It’s the same with AI. We have agency in the things that we do. I’ve just always been someone who refuses to accept things the way they are, just because, and I’m tired of people forcing me to believe that only one way is possible. Creation for me is my resistance. Being a stylist allows me to give visibility through my work and to weave threads between multiple disciplines, but I don’t think what I’ve done is anything close to enough.
Mungkin karena itu, di tahun 2024, aku lebih fokus ngajar. Pertama, aku ngadain styling bootcamp, kemudian aku ngajar tiga batch berbeda untuk lima materi: styling; visual culture; fashion image and technology; and final year project consultations. I was the most creative in this period, doing pedagogical stuff, forming my own material, dan aku ngajarin ratusan orang. Banyak hal yang aku amati dan minati justru lebih pantas untuk dibagi dan didiskusikan bersama generasi yang baru secara lebih kritis. I guess, after grieving from death and sickness in my family, I just wanted to do something else and was seeking support being with other people. It didn’t involve so many approvals in the creative process. Dan akhirnya di 2025, malah kebalik lagi; I needed to be away from people, and my creative process became solitary.
Apa bentuk seni budaya yang muncul belakangan ini yang menarik perhatianmu?
I feel like I’ve been in a timeless vacuum because I’ve been spending so much of my time at home reading and clipping Indonesian magazines from the 1930s all the way to the 1990s to find fashion material—that’s a new area I’m tapping into. Everything is private at this stage. Jadi aku sangat tertarik dengan orang yang berurusan dengan publikasi dan pengarsipan, mau itu desainer grafis, penulis, publisher, pemilik toko buku, pustakawan—atau bukan, karena banyak peminatnya mungkin kerjanya di area yang berbeda. They are all preserving memory. Indonesia needs more of that, bukan hanya karena nenek moyang kita lebih memiliki tradisi oral dibandingkan teks, tapi juga karena banyak memori yang akhirnya hilang atau dihilangkan. Belum lama ini aku kenalan sama Zhen dari Arsip Militer/ Frownland Archive yang ngoleksi seragam militer. Zine dia yang mengompilasikan semua materinya aja sampai dimintain Kostrad, karena mereka nggak ada pengarsipan. That blows my mind! I was also very happy to work with Jordan Marzuki on a ‘newspaper’ for Two Stitches, karena aku udah bertahun-tahun gak nulis untuk sesuatu yang printed.
Menurutmu, ke arah mana evolusi budaya kita sedang bergerak? Ketika seni, kriya, gaya hidup, dan identitas terus mengalami percampuran dan transformasi, bentuk budaya seperti apa yang mungkin lahir di masa depan?
The illusion of order, seakan semuanya baik-baik saja, has definitely broken—boroknya institusi sudah sangat jelas dan semakin banyak orang aware akan itu. We can’t romanticize things anymore. I went to Sadiah’s talk about decoloniality, and I think younger people will be heavily invested in this line of work, karena Indonesia tidak mengambil langkah ini. Academia will be a huge component. Maksudku di sini bukan cuma soal sekolah, kuliah, atau riset profesional, tapi banyak orang yang lebih kompeten akan berkumpul dan menuntut substansi sebagai reaksi terhadap incompetence yang merajalela di berbagai area. Critical approaches in fashion masih belum cukup ditampung, tapi aku juga ingin memberikan wadah untuk itu karena fashion material di Indonesia masih minim. We’re all chronically online, so physical means of art will draw us back. Sebenarnya, itu kenapa orang sekarang pada main mahjong, right? It’s so tactile. Books and printed material are exactly that. Tapi aku juga khawatir akan soft powers yang ngerangkul semua orang; I just hope people, myself included, are not easily swayed.

Image via Leandro Quintero
Natasha Tontey
Dalam praktik kreatifmu, sejauh mana identitas sebagai orang Indonesia membentuk cara kamu melihat, merasakan, dan menerjemahkan dunia ke dalam karya? Apakah hubungan itu berubah seiring waktu?
Semakin saya melakukan perjalanan pulang ke tanah leluhur saya di Minahasa, semakin saya melihat Indonesia bukan sebagai identitas yang otomatis, netral, atau menyatukan semua orang secara setara.
Akhir-akhir ini saya memikirkan ulang gagasan Sam Ratulangi (b. 5 November 1890 – 30 June 1949) tentang Indonesia di mata Pasifik, yang membuka kemungkinan untuk membayangkan Indonesia bukan hanya dari pusat di Jawa, tetapi juga dari wilayah timur, laut, dan hubungan dengan dunia Pasifik. Dalam cara pandang itu, Minahasa bukan pinggiran, melainkan titik penting untuk melihat Indonesia secara lain.
Sejarah Permesta juga penting bagi saya, karena sering dibaca secara hitam-putih sebagai pemberontakan atau ancaman terhadap negara. Padahal, jika mendengar cerita para pejuang Permesta, sejarah itu jauh lebih kompleks: ada tuntutan desentralisasi, kekecewaan terhadap sentralisasi kekuasaan, dan trauma kekerasan pasca-kemerdekaan RI. Dalam beberapa kesaksian, kekerasan itu juga mencakup kekerasan seksual terhadap perempuan Minahasa oleh tentara pusat. Saya merasa sejarah ini masih relevan dengan situasi sekarang, ketika perdebatan tentang hubungan pusat dan daerah, distribusi sumber daya, serta siapa yang berhak menentukan arah pembangunan masih terus berlangsung. Bagi saya, Permesta bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi juga cara untuk memahami bagaimana ketimpangan kekuasaan dan rasa keterwakilan tetap menjadi persoalan yang belum sepenuhnya selesai.
Saat ini saya merasa identitas kultural saya lebih dekat dengan Minahasa, sementara Indonesia saya pahami sebagai identitas geografis dan politik yang harus terus dipertanyakan. Ketika kita berbicara tentang Indonesia, siapa yang sebenarnya diwakili, siapa yang dikorbankan, dan Indonesia untuk kebaikan siapa?
Bagaimana kamu memandang seni, kriya, dan tradisi visual Indonesia hari ini? Apakah sebagai sesuatu yang perlu dijaga, diinterpretasi ulang, atau justru terus dinegosiasikan bentuknya?
Menurut saya seni, kriya, dan tradisi visual Indonesia perlu dilestarikan, tetapi juga terus diinterpretasi ulang dan dinegosiasikan. Tradisi tidak bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang beku, sakral, atau hanya dijaga sebagai bentuk visual. Kalau begitu, ia mudah berubah menjadi dekorasi budaya, identitas nasional yang siap dikonsumsi, atau eksotisme belaka.
Tradisi menjadi hidup ketika seniman atay komunitas bisa membacanya dengan cara masing-masing: mengkritik, mengganggu, memelintir, atau bahkan menolaknya sebagian. Pelestarian tidak selalu berarti menjaga bentuk lama apa adanya. Kadang pelestarian berarti memberi ruang agar tradisi berubah tanpa harus terus menjadi bukti moral, identitas, atau kewajiban sosial.
Kita hidup di masa ketika batas budaya, teknologi, dan identitas terasa semakin cair. Dalam situasi domestik maupun global yang penuh ketidakpastian dan absurditas, bagaimana perubahan-perubahan itu mempengaruhi bahasa visual, bunyi, atau pendekatan artistik yang kamu bangun?
Saya tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang selalu futuristik, tetapi sebagai medium yang bisa membawa ingatan, trauma, spiritualitas, dan pengetahuan yang sering dianggap tidak rasional.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, realisme saja terasa tidak cukup. Dunia hari ini sendiri sudah absurd: identitas semakin cair, tetapi kekuasaan tetap keras. Karena itu saya tertarik pada bahasa visual yang berlebihan, camp, grotesque, seperti sinetron atau B-movie — bukan untuk lari dari kenyataan, tetapi untuk membuat absurditas itu lebih terasa.
Bagi saya, visual dan bunyi bekerja seperti dunia yang bocor: antara ritual dan teknologi, leluhur dan layar, tubuh dan mesin, yang sakral dan yang profan.
Banyak perubahan hadir tanpa bisa kita kendalikan; baik secara sosial, politik, teknologi, maupun personal. Bagaimana kamu merespons perubahan tersebut dalam proses kreatifmu? Apakah karya menjadi ruang untuk bertahan, beradaptasi, atau justru mempertanyakan perubahan itu sendiri?
Saya tidak langsung menerima perubahan sebagai kemajuan. Banyak perubahan hari ini datang sebagai tekanan: harus cepat, produktif, relevan, dan mudah dibaca. Dalam proses kreatif, saya lebih tertarik mempertanyakan tekanan itu.
Karya bagi saya menjadi ruang untuk bertahan, tetapi juga untuk mengganggu cara kita memahami perubahan. Ia bisa menjadi tempat mengolah kecemasan, trauma, dan absurditas tanpa harus menjadikannya rapi atau selesai. Saya tidak selalu ingin beradaptasi dengan dunia yang berubah; kadang saya ingin menunjukkan bahwa perubahan itu sendiri perlu dicurigai.
Apa bentuk seni budaya yang muncul belakangan ini yang menarik perhatianmu?
Saya tertarik pada bentuk seni budaya yang muncul dari percampuran antara tradisi, subkultur, fashion, teknologi, musik, ritual, dan budaya populer. Misalnya praktik belajar ulang Bahasa Makatana, pendekatan sinetron 90-an, arsip bacaan masa kecil, atau sesuatu yang sangat vernakular, tetapi dipakai untuk membicarakan tubuh, gender, trauma, ekologi, dan sejarah.
Saya juga tertarik pada praktik yang tumbuh dari komunitas kecil, ruang independen, arsip personal, cerita lisan, atau bentuk-bentuk yang ganjil dan sulit dikategorikan. Bagi saya, yang menarik justru ketika budaya tidak terlalu rapi, tidak mudah dikemas, dan tidak berusaha tampil sebagai representasi “nasional”.
Menurutmu, ke arah mana evolusi budaya kita sedang bergerak? Ketika seni, kriya, gaya hidup, dan identitas terus mengalami percampuran dan transformasi, bentuk budaya seperti apa yang mungkin lahir di masa depan?
Saya rasa budaya kita sedang bergerak ke arah yang semakin hibrid, meskipun tidak selalu harmonis. Seni, kriya, gaya hidup, teknologi, dan identitas terus saling menyerap, tetapi proses ini juga membawa risiko: tradisi bisa berubah menjadi komoditas, identitas menjadi branding, dan budaya lokal kembali dipakai sebagai eksotisme.
Di saat yang sama, kita hidup di era ketika emosi, keyakinan, dan narasi sering kali lebih kuat daripada fakta. Batas antara kenyataan, fiksi, propaganda, dan hiburan semakin kabur. Karena itu, seni dan budaya perlu tetap kritis terhadap bagaimana kebenaran diproduksi, disebarkan, dan dipercaya. Tetapi seni juga seharusnya tetap menjadi ruang untuk berpikir sebebas-bebasnya, tanpa harus langsung dihakimi atau disederhanakan.
Saya membayangkan budaya masa depan sebagai sesuatu yang tidak murni: spiritual tapi teknologis, lokal tapi global, tradisional tapi nakal, personal tapi politis. Yang penting bukan mempertahankan budaya agar tetap sama, melainkan memastikan ia tetap hidup, bisa dipertanyakan, dan tidak terputus dari komunitas yang melahirkannya.

Image via Zara Zahrina
Zara Zahrina
Dalam praktik kreatifmu, sejauh mana identitas sebagai orang Indonesia membentuk cara kamu melihat, merasakan, dan menerjemahkan dunia ke dalam karya? Apakah hubungan itu berubah seiring waktu?
Sebagai seorang DJ dan event organizer di Indonesia, kadang aku merasa jauh sekali dari lanskap musik elektronik global yang sayangnya masih sangat Barat-sentris. Banyak diskursus dan resources mengenai industri ini, mulai dari panduan inklusivitas, manajemen risiko, hingga konsep safer space yang tampaknya tidak bisa diaplikasikan begitu saja dalam konteks Jakarta di mana aku tinggal dan bekerja. Menyelenggarakan pesta di sini menuntut keluwesan dalam menavigasi regulasi sosial dan budaya. Ditambah lagi, club culture masih sering dipandang sebelah mata oleh narasi dominan masyarakat di sini. Karena tidak ada cetak biru yang valid untuk konteks lokal ini, saya harus belajar untuk membongkar paradigma Barat-sentris yang termasuk berhenti mencoba menduplikasi mentah-mentah apa yang dianggap “ideal” oleh skena global.
Bagaimana kamu memandang seni, kriya, dan tradisi visual Indonesia hari ini? Apakah sebagai sesuatu yang perlu dijaga, diinterpretasi ulang, atau justru terus dinegosiasikan bentuknya?
Bagi saya, tradisi visual Indonesia adalah entitas yang hidup, organik, dan dinamis. Upaya menjaga tradisi tentu sangat penting, tetapi perlu diingat bahwa tradisi tidak hidup dalam sebuah ruang hampa. Identitas budaya Indonesia sendiri adalah hasil dari adaptasi dan akulturasi selama berabad-abad. Tradisi dan seni terus beradaptasi sesuai dengan konteks sosial budaya. Menolak interpretasi dan negosiasi berarti menghentikan proses evolusi budaya tersebut.
Kita hidup di masa ketika batas budaya, teknologi, dan identitas terasa semakin cair. Dalam situasi domestik maupun global yang penuh ketidakpastian dan absurditas, bagaimana perubahan-perubahan itu mempengaruhi bahasa visual, bunyi, atau pendekatan artistik yang kamu bangun?
Dengan meleburnya batasan-batasan budaya dan geografis berkat perkembangan teknologi, aku merasa bahwa genre terasa semakin tidak relevan dengan cara kita berpikir, menciptakan, dan mengonsumsi musik. Label genre yang pada awalnya merupakan bentuk kategorisasi untuk memudahkan pendengar mendefinisikan karya seorang musisi kini jadi makin sulit untuk ditempelkan ketika karya tersebut telah dipengaruhi oleh beragam influence yang tidak termasuk dalam satu genre tertentu. Baik dalam DJ set atau kurasi penampil dalam acara yang kubuat, aku cenderung mengkategorikan musik berdasarkan energi atau vibe dibanding label genre tradisional.
Banyak perubahan hadir tanpa bisa kita kendalikan; baik secara sosial, politik, teknologi, maupun personal. Bagaimana kamu merespons perubahan tersebut dalam proses kreatifmu? Apakah karya menjadi ruang untuk bertahan, beradaptasi, atau justru mempertanyakan perubahan itu sendiri?
Proses kreatif dalam nightlife adalah sebuah dialog aktif dengan zaman. Kehadiran algoritma, perubahan cara orang mengonsumsi musik, hingga menyusutnya attention span audiens generasi baru menuntut fleksibilitas tinggi dalam menyusun narasi sebuah acara. Format acara dibuat lebih fleksibel, kolaborasi lintas disiplin diperluas, dan musik yang dimainkan terus bervariasi agar kami tetap relevan dan mandiri secara ekonomi. Di tengah gempuran ketidakpastian politik atau tekanan sosial, aku berharap pesta dan musik yang kubuat dapat menjadi ruang bagi audiens untuk merasakan kembali arti menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Apa bentuk seni budaya yang muncul belakangan ini yang menarik perhatianmu?
Live coding sebagai bentuk pertunjukan musik dan visual.
Menurutmu, ke arah mana evolusi budaya kita sedang bergerak? Ketika seni, kriya, gaya hidup, dan identitas terus mengalami percampuran dan transformasi, bentuk budaya seperti apa yang mungkin lahir di masa depan?
Bukan tidak mungkin bahwa bentuk-bentuk ekspresi budaya akan makin cair dan memasuki ruang-ruang yang sebelumnya saling tidak berkaitan. Akhir-akhir ini aku sering melihat DJ set di konteks ruang yang pada umumnya tidak berkaitan dengan club culture sama sekali–contohnya penutupan acara lari di sebuah coffee shop di pagi hari. Dalam contoh ini, ada percampuran sekaligus kontradiksi dari meningkatnya kesadaran atas gaya hidup sehat dengan nightlife. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kita tidak lagi memandang identitas sebagai entitas yang kaku atau saling menegasikan, melainkan sebagai elemen yang terkurasi dan multidimensional. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa tahu mana kurasi yang otentik dan mana yang performatif?

Image via Cissylia
Cissylia
Dalam praktik kreatifmu, sejauh mana identitas sebagai orang Indonesia membentuk cara kamu melihat, merasakan, dan menerjemahkan dunia ke dalam karya? Apakah hubungan itu berubah seiring waktu?
Sebagai seorang marketer, identitas saya sebagai orang Indonesia sangat memengaruhi cara saya melihat dan menerjemahkan dunia ke dalam karya. Walaupun saya banyak mencari referensi dari kampanye global untuk memperluas perspektif dan mengasah creative output, saya percaya tidak ada kampanye yang benar-benar relevan tanpa insight yang dekat dengan keseharian audiensnya.
Seiring waktu, saya justru semakin sadar bahwa kekuatan sebuah ide sering kali ada pada pemahaman terhadap konteks lokal, cara orang Indonesia berpikir, berinteraksi, bercanda, sampai apa yang mereka anggap penting dalam hidup. Referensi global bisa menjadi titik awal, tapi insight lokal adalah yang membuat sebuah karya terasa lebih nyata dan bermakna. Jadi, buat saya, identitas sebagai orang Indonesia bukan sesuatu yang membatasi kreativitas, melainkan perspektif yang membantu saya menciptakan karya yang lebih autentik dan lebih mudah terkoneksi dengan orang-orang yang menikmatinya.
Bagaimana kamu memandang seni, kriya, dan tradisi visual Indonesia hari ini? Apakah sebagai sesuatu yang perlu dijaga, diinterpretasi ulang, atau justru terus dinegosiasikan bentuknya?
Menurut saya, seni, karya, dan tradisi visual Indonesia tetap perlu dijaga karena di dalamnya ada banyak nilai yang membentuk identitas kita sebagai bangsa.
Budaya adalah fondasi yang membuat kita unik sebagai orang Indonesia, dan itu sesuatu yang patut dibanggakan. Tapi di saat yang sama, kita juga tidak bisa stuck in the past ketika dunia terus berkembang. Jadi, selain dijaga, tradisi juga perlu diinterpretasikan ulang agar tetap relevan dengan konteks zaman sekarang. Perkembangan digital, perubahan sosial, politik, hingga ekonomi ikut memengaruhi cara kita berpikir dan mengonsumsi karya hari ini.
Menurut saya, justru di situlah tantangannya bagi para pekerja kreatif, bagaimana menghormati esensi dan nilai dari sebuah tradisi, tanpa takut mengeksplorasi bentuk-bentuk baru. Karena ketika tradisi bisa terus jalan bersama dengan zamannya, tradisi tidak hanya bertahan, tapi juga tetap hidup dan dekat dengan generasi berikutnya.
Kita hidup di masa ketika batas budaya, teknologi, dan identitas terasa semakin cair. Dalam situasi domestik maupun global yang penuh ketidakpastian dan absurditas, bagaimana perubahan-perubahan itu mempengaruhi bahasa visual, bunyi, atau pendekatan artistik yang kamu bangun?
Menurut saya, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, dengan informasi, tren, teknologi, AI, bahkan cara kita memandang identitas yang terus bergeser, justru semakin penting untuk tetap stay true to ourselves.
Ada begitu banyak hal yang terjadi setiap menitnya, dan mudah sekali untuk ikut terbawa arus atau merasa harus terus mengikuti apa yang sedang relevan. Bagi saya, kondisi ini memengaruhi pendekatan kreatif dengan cara yang cukup mendasar, saya jadi semakin menghargai keautentikan. Entah itu dalam karya, kampanye, atau pembuatan konten, saya lebih tertarik untuk menyampaikan sesuatu yang benar-benar saya yakini dan dekat dengan keseharian . seperti pengalaman hidup, empati, dan sudut pandang personal, menjadi semakin berharga. Karena pada akhirnya, yang paling bisa bertahan di tengah begitu banyak perubahan bukan hanya sesuatu yang mengikuti tren, tetapi sesuatu yang jujur dan memiliki sudut pandang yang jelas.
Bukan berarti kita menutup diri dari perkembangan dunia. Justru sebaliknya, kita tetap perlu terbuka terhadap perspektif baru dan perubahan yang terjadi. Tapi di tengah semua itu, memiliki kompas nilai dan suara yang autentik menjadi semakin penting.
Banyak perubahan hadir tanpa bisa kita kendalikan; baik secara sosial, politik, teknologi, maupun personal. Bagaimana kamu merespons perubahan tersebut dalam proses kreatifmu? Apakah karya menjadi ruang untuk bertahan, beradaptasi, atau justru mempertanyakan perubahan itu sendiri?
Bagi saya, proses kreatif dan pembuatan karya sehari-hari justru menjadi way to cope, cara untuk menghadapi ketidakpastian, kecemasan, dan situasi yang sering kali terasa di luar kendali. Berkarya membantu saya tetap berpikir positif dan menjadi ruang untuk bertahan secara mental di tengah dunia yang terus berubah.
Di saat yang sama, perubahan juga membuat saya lebih sensitif dalam menciptakan karya. Saya jadi lebih sadar untuk memastikan apa yang saya buat tidak tone-deaf, tetapi tetap memiliki empati terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kita. Mungkin di situlah peran kreativitas hari ini, bukan hanya sebagai ruang untuk bertahan, tetapi juga untuk terus beradaptasi dan merespons dunia dengan lebih peka.
Apa bentuk seni budaya yang muncul belakangan ini yang menarik perhatianmu?
Belakangan ini, yang menarik perhatian saya adalah munculnya girl group Indonesia seperti no na dan MARBLES. Saya senang melihat bagaimana industri musik, kreatif, dan fashion anak muda Indonesia mulai berani membuat gebrakan baru untuk bisa bersaing di tengah kuatnya pengaruh budaya K-pop yang begitu dipuja di Indonesia.
Bagi saya, kehadiran mereka seperti sebuah pernyataan bahwa Indonesia juga bisa menghasilkan karya dengan standar global tanpa kehilangan identitasnya. Yang paling menarik justru bagaimana mereka menyuntikkan elemen budaya dan tradisi Indonesia ke dalam DNA karya mereka baik secara visual, musikal, maupun dalam cara mereka membangun identitas. Seolah-olah mereka berkata, “We’re Indonesian, and we’re cool like that.”
Ini juga menjadi contoh konkret dari hal yang saya percaya, bahwa tradisi tidak harus diam di masa lalu. Tradisi bisa terus diinterpretasikan ulang secara kreatif agar tetap relevan dengan perubahan zaman, sekaligus menjadi sesuatu yang membanggakan bagi generasi baru.
Menurutmu, ke arah mana evolusi budaya kita sedang bergerak? Ketika seni, kriya, gaya hidup, dan identitas terus mengalami percampuran dan transformasi, bentuk budaya seperti apa yang mungkin lahir di masa depan?
Honestly, dengan perubahan yang terjadi begitu cepat, hal-hal yang dulu terasa mustahil kini bisa terjadi dalam hitungan detik, ditambah perkembangan teknologi yang melaju seperti kilat, rasanya sangat sulit untuk memprediksi ke arah mana evolusi budaya akan bergerak.
Tapi kalau ada satu hal yang saya percaya, justru di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi dan serba cepat, budaya yang memiliki human touch akan semakin dihargai.
Karya yang menghadirkan koneksi yang nyata, empati, dan terasa dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari akan lebih bermakna. Sesuatu yang mudah dipahami, jujur, dan tidak terlalu pretensius. Mungkin bentuk budaya di masa depan akan terus berubah dan bercampur antara tradisi dan teknologi, lokal dan global, fisik dan digital.
Tetapi pada akhirnya, saya rasa kita akan selalu mencari hal-hal yang membuat kita merasa lebih terhubung sebagai manusia. Karena itulah yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.



