W_LIST: Best Local Music of 2025 So Far
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Semua orang memiliki kemampuan dan potensi untuk membuat karya. Tapi salah satu hal yang utama dalam berkarya adalah keberanian untuk menciptakan karya yang berani dan berbeda. Bekerja sama dengan Lenovo Yoga, tulisan ini mengkompilasikan beberapa seniman dengan semangat #Goodweird untuk menjadi inspirasi dalam berkarya kepada pembaca.
Joko Anwar adalah nama yang tidak asing bagi penggemar film. Sebagai sutradara dia pintar bercerita lewat medium film dan teater, dan Dia juga berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai seorang aktor. Kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Joko Anwar di Reading Room pada suatu sore dimana kami membahas karya pribadinya dan pendapatnya mengenai industri film Indonesia.
Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Wani Ditata adalah sebuah pameran yang bertajuk kepada riset dan pengalaman perempuan menghadapi dunia seni. Dikurasi oleh Angga Wijaya, Wani Ditata menampilkan karya dari 8 seniman perempuan yaitu Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina dan Yaya Sung.
Tromarama adalah sebuah kolektif animasi dengan karakter yang unik, dibangun dari gabungan gagasan tiga kepala, Bebi, Ebet, Ruddy, unit ini telah menciptakan karya-karya animasi yang tak hanya berkualitas, namun juga memiliki karakter tersendiri dengan pemilihan medium dan pendekatan yang berbeda dengan kebanyakan. Whiteboard Journal berbincang dengan Tromarama mengenai eksplorasi mereka dalam menjelajahi dunia animasi.
Dalam rangka JermanFest 2015, Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta dan Retrofuturisten dari Berlin berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan berjudul "Senlima". Kami sempat menonton pertunjukan yang bertema perbatasan dalam konteks budaya ini di Salihara, dan berikut adalah review kolaborasi dua kolektif puppeteer ini.
Disebut-sebut sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer, dan mendapat pujian dari media internasional, Eka Kurniawan berada dalam garda terdepan representasi sastra nasional. Whiteboard Journal mengunjungi Eka Kurniawan di tengah kesibukannya di Dewan Kesenian Jakarta untuk berbincang mengenai dunia literatur, pasar internasional, dan kualitas sastra lokal.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.